KelaMalam

Erwin membawa nampan terakhir dari dapur. Berisi satu bongkah ayam panggang utuh yang warnanya berkilat merah gula jawa, dari kecap manis tentunya. Menggoda. Senyum tak lupa tersungging di bibirnya yang merah tirus.

Diletakkannya nampan terakhir itu ditengah persis meja makan putar berukuran besar itu. Beberapa penganan pendamping dia letakkan mengitari masakan masterpiece tadi. Lengkap dengan beberapa lilin yang ditata dalam tatakan bergaya kolosal. Cocok dengan lampu temaram yang dia nyalakan di tiap sudut ruangan.

Satu ember berisi balokan es dia letakkan di samping kanan kursi duduknya. Sebotol anggur merah buatan chile tergeletak agak miring di dalam ember itu. Leher botolnya terlihat berembun, terlihat segar meski sebenarnya menghangatkan.

Tiga kursi sudah dia persiapkan untuk acara dinner malam ini. Untuknya, ayah dan ibunya. Masing-masing tempat sudah dia tata rapi. Dari piring lebar diapit beberapa jenis sendok, garpu dan pisau, juga dua jenis gelas. Untuk wine dan untuk air mineral. Serbet kaku putih dia letakkan dalam bentuk segitiga di atas piring yang sudah dia atur menengadah.

Dia begitu sumringah. Tentu saja. Jarang sekali dia bisa menyatukan orang tuanya dalam moment yang bersamaan untuk dinner bersama semacam ini. Dinner yang utuh, meski dengan cara paksa. Ibunya yang memang sudah dari keturunan entah keberapa sudah terkodrat sebagai wanita kaya raya, dan ayahnya yang mendompleng membuat usaha kecil menengah, hasil meminta modal dari ibunya.

Keduanya kelewat sibuk, untuk didudukkan dalam waktu yang sama, di meja yang sama pula.

Memang harus dipaksa.

Di hadapannya, serong ke kanan, duduk ayahnya, yang tak henti memandangi Erwin dengan tatapan yang belum bisa dia terjemahkan. Di hadapannya, serong ke kiri, duduk ibunya, yang kerap kali memandang Erwin dengan beragam arti pandangan. Entah.

Erwin mendentingkan gelas wine kristalnya dengan sendok kecil. Memulai acara makan malam itu. Sedikit bunyi “plukk” elegan ketika dia membuka botol wine-nya, sebelum akhirnya menuangkannya di tiga gelas yang telah dia siapkan.

Erwin terlihat begitu bahagia selama prosesi makan malam itu. Begitu lepas. Membicarakan banyak hal sambil sesekali menyuap irisan ayam panggang buatannya. Di sela mengiriskan sepotong besar bagian dada untuk ayahnya. Di sela mengambilkan salad kesukaan ibunya. Di sela menuangkan lagi wine ke gelas kosong milikinya.

Dia begitu banyak bercerita. Cerita-cerita kecil dalam hidup yang sudah begitu lama dia ingin ceritakan. Karena orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.

Ayah dan ibunya hanya mendengarkan. Hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan satu pun kata. Sesekali ibunya menitikkan air mata di bagian cerita Erwin yang meski santai tapi mengharukan. Sesekali ayahnya membelalak ketika cerita Erwin mencapai pada bagian-bagian yang mendebarkan.

Hangat. Sehangat wine yang tersaji dingin.

Renyah. Serenyah gorengan kulit ikan yang dia buat.

Dingin. Sedingin malam.

Melap bibir setelah suapan terakhirnya, Erwin berdehem. Diteguknya dulu gelas wine-nya sebelum menghela napas, panjang.

“Ayah… Terutama Ibu… Aku mau bercerita. Cerita yang sedikit rumit dan panjang. Bisa jadi ini juga sebuah pengakuan, dan pembukaan. Simak saja. Aku tak menerima pertanyaan dalam bentuk apapun kali ini”, buka Erwin. Sambil membenarkan posisi duduknya. Menegakkan punggungnya agar segaris dengan punggung kursi, untuk kemudian menuangkan lagi wine ke dalam gelas cembungnya.

“Cerita bermula dari Ibu, ketika menikahi Ayah, 7 tahun lalu. Berapa usiaku waktu itu, Bu? 15 tahun ya, Bu. Yah… sekitar segitu, lah”, mulai Erwin. Tanpa menunggu jawaban ibunya. Yang mengangguk lemah meski sebenarnya tak diperlukan Erwin.

“Gak tau ya, Bu. Insting Erwin dari dulu khan memang kuat. Sama kuatnya dengan ketika Erwin mengucapkan pada Ibu bahwa Erwin merasa ada sesuatu yang salah dengan Ayah ini, yang waktu itu masih calon bagi Ibu. Tapi, yah… watak keras Ibu memang susah ya diajak kompromi. Sekarang Erwin tak heran ketika akhirnya Ayah meninggalkan Ibu, mati karena penyakit hati, dan terkutuk meninggalkan Erwin juga di tempat besar tapi sepi ini”, tutur Erwin. Ibunya hanya memandanginya dengan tatapan sedih, dan letih.

“Dan Erwin benci mengatakan ini. Ketika insting Erwin akhirnya benar-benar terjadi. Iya, Bu. Ayah menggagahi Erwin, untuk pertama kalinya”.

Ibunya terkesiap. Matanya yang bolak-balik mengedar pandang antar putra dan suaminya, tak hentinya menganak sungai. Sedangkan Ayahnya hanya melotot, paduan antara keterkejutan, mengancam dan memohon.

Erwin tak menggubris mereka sama sekali.

“Padahal dari awal khan sudah aku bilang, Bu. Tatapan lelaki ini lebih bergairah melihat pantatku yang saat itu padahal tumbuh saja masih baru, daripada melihat payudara Ibu. Tapi ibu malah Cuma menganggapnya omongan anak kecil yang tidak mau mendapat bapak baru. Erwin bisa apa, saat itu?!”, lanjutnya.

Disesapnya wine. Menyalakan sebatang rokok sebelum melanjutkan cerita.

“Sejak saat itulah, Bu, deritaku di mulai. Baik derita bathin, maupun fisik. Ayah luar biasa brengsek binal dalam urusan seks. Ah, aku tak perlu menceritakannya pada Ibu betapa beringasnya Ayah, khan? Dia melaksanakan tugas sebagai suami, khan?!”, tanya Erwin, yang hanya dijawab anggukan lemah berkawan air mata dari ibunya.

“Akhirnya aku mulai terbiasa, bukan karena suka, tapi karena bisa apa. Ayah ini brengsek yang pintar mengancam, Bu. Mungkin juga karena aku terlalu pengecut juga, jadi dipakai sebagai senjata olehnya. 6 bulan, Bu, Erwin rutin digagahi pria ini, suami Ibu. Entah karena apa dia jadi jarang menggagahiku. Mungkin karena ibu yang sudah lihai mengimbanginya, atau jangan-jangan malah dia sudah menemukan bocah lain. Yang kedua ya, Yah?”, tanya Erwin, sambil menghembuskan kepulan asap, hanya melirik sedikit ke arah Ayahnya. Dia tak butuh jawaban.

“Akhirnya aku mendapat kebahagiaan kecil di rumah ini, Bu. Iya, kebahagiaan kecil yang sebenarnya salah. Ah, tak perlu membicarakan benar salah di rumah ini. Tak bermutu”, lanjut Erwin. Lagi meneguk sisa wine dalam gelasnya, lalu mengisinya penuh hingga tetes terakhir dari botol yang sudah separuh tenggelam dalam air es yang sudah mencair.

“Kebahagiaan kecil itu bermula ketika Ibu mempekerjakan Joko. Iya. Tukang kebun kita  itu, Bu. Pemuda yang gagah ya, Bu. Ah, dari awal melihatnya saja aku sudah bisa merasakan ketenangan kalau berada di pelukannya. Aku jadi melow seperti ini ya, Bu? Jadi berhasrat dengan lelaki ya, Bu? Salahkan saja pria di hadapan ibu sekarang ini”, tutur Erwin.

“Dan entah bagaimana, Bu. Dekapan Joko memang menenangkan. Kupancing sedikit sudah bisa diajak bermain ranjang. Tahukah, Bu, saat itu aku bahkan berfikir bahwa Joko inilah jodohku. Aku bahagia. Bahagia sekali. Rumah ini terasa hidup kembali. Meski Ibu tak pernah ada di sini”, kata Erwin. Sekilat cahaya riang menyusup di matanya, yang limat detik kemudian kembali dingin.

“Tapi bahagia sepertinya memang bukan hak-ku ya, Bu. Kemarin, tepat sebulan sebelum ini, neraka datang lagi. Dan lagi-lagi pria brengsek suami ibu ini yang membawanya”.

Erwin meneguk satu tegukan besar dari gelas wine-nya. Mungkin untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Ayahnya sibuk juga menenangkan diri. Terlihat dari gerak matanya yang sibuk memohon kepada Erwin untuk menghentikan semuanya. Ibunya hanya sesenggukan, sambil sesekali menggelengkan kepala.

“Fiuh… bulan lalu, pulang dari sekolah rampung ujian akhir, neraka itu nampak di depan mata, Bu. Bayangkan perasaan Erwin ketika melihat pria ini melenguh ditindih Joko, di ranjang Joko yang padahal itu bagai istana bagi Erwin. Bayangkan, Bu!”.

Erwin menyelesekkan puntung dengan emosi ke asbak di sebelah kanannya.

“Belum cukup pria brengsek ini merenggut kewarasan Erwin hingga tak mampu lagi berdiri melihat perempuan, sekarang masih bisa memakan juga Joko, yang sudah menjadi obat bagi sakitnya Erwin. Dahsyat… pria pilihan ibu ini memang brengsek luar biasa”.

“Maaf ya, Bu. Erwin sudah tidak lagi bisa berfikir bagaimana baiknya. Karena memang bagi Erwin sudah tidak ada baiknya”.

“Ibu pasti heran, sudah seminggu ini Joko tidak terlihat di rumah. Ah… paling ibu juga tidak pernah menyadari bahwa Joko ada di rumah ini, dulu. Pembantu kita mengundurkan diri saja ibu tak pernah tahu”.

Erwin beranjak dari kursinya. Menuju satu sudut di belakang kanannya. Menarik satu kelambu, lalu menjentik saklar di atasnya. Menyalakan lampu sorot kecil pada tubuh yang terduduk di kursi di hadapannya.

“Joko ada koq, Bu. Mungkin dia juga mendengarkan seluruh pembicaraan kita malam ini”, terang Erwin, sambil berjalan kembali menuju kursinya.

Ibunya menjerit tertahan melihat sosok yang duduk di kursi yang baru saja ditunjukkan Erwin. Sedangkan ayahnya makin pias dengan keadaan itu.

“Bu, Erwin membunuh Joko bukan karena tak lagi mencintainya. Justru karena aku cinta sama Joko, aku tak mau dia semakin rusak dengan oleh pria keparat ini. Kupikir ini jalan satu-satunya. Semoga”, lanjut Erwin, datar dan kelam. Dibuka serbet yang tertata rapi di atas sebuah piring ukuran tanggung di sebelah kiri set makannya.

Benda berlaras kecil terlihat mengkilat ditimpa cahaya lilin.

Ibunya makin sesenggukan. Ayahnya sudah pontang panting berusaha berdiri, meski tahu itu sia-sia.

“Fiuh… Ya sudah. Erwin pamit, ya Bu. Bukan, bukan untuk menyusul Joko. Toh Erwin yakin setelah ini pria ini duluan yang menggasak Joko. Bukan, Bu. Erwin mau ke tempat Ayah saja. Ayah yang meski brengsek juga karena sudah meninggalkan Erwin duluan, tapi semoga di sana dia sudah berubah, selayaknya seorang Ayah”.

“Anda…”, kali ini Erwin tak menggunakan kata ayah lagi kepada pria di hadapannya.

“Silakan susul Joko. Gagahi dia, lagi”, lanjutnya.

Dua dentuman kecil meletup dengan suara terkedap. Dua bulir besi panas bersarang di jidat pria itu. Sejenak tegak, lalu kepalanya menunduk. Tertahan oleh ikatan kuat tali tambang yang mengikat tubuhnya ke punggung kursi.

“Ibu tak perlu khawatir. Borgol di tangan Ibu sudah Erwin pilihkan yang berkualitas wahid, menggunakan timer. Ibu sudah terlalu angkuh dengan kehidupan luar Ibu, juga tetangga kita. Jadi aku tak mau Ibu mati membusuk di sini karena Erwin yakin meski Ibu tak muncul sebulan pun tidak akan ada tetangga yang merasa curiga dan kehilangan. Ada untungnya juga Ibu menjatahku nominal besar-besaran setiap bulan. Jadi Erwin bisa membeli semua ini”.

“Erwin pamit ya, Bu. Semoga watak Ibu masih cukup keras untuk terus menjalani hidup setelah ini”, pamit Erwin.

Meneguk sekaligus wine yang tersisa di gelasnya, lalu dia beranjak. Mendekati ibunya, mencium kening sebagai tanda takzim terakhir.

Ibunya sesenggukan luar biasa, tanpa daya.

Satu letupan terakhir mengakhiri kelam malam itu.

Peran

Nyonya…

Akhirnya suamiku berangkat juga ke kantornya. Suami yang dulu kuanggap sebagai lelaki yang begitu ideal. Kaya raya di usia muda dan penampakan yang gagah, siapa yang tak menginginkannya?!

Itu anggapanku di bulan-bulan pertama perkawinan kami.

Sekarang?

Aku malah lega luar biasa kalau dia sudah berada di luar rumah. Persetan apa yang dilakukannya di luaran sana. Toh dia hanya bisa mencukupi kebutuhan duniaku. Sekedar menanyakan hal-hal kecil dalam obrolan ringan pun jarang. Hanya ketika dia baru saja mentransfer sejumlah uang dengan minimal 8 digit ke rekeningku. Uang belanja, katanya.

Tapi tak pernah dia sekalipun bertanya “puaskah kamu, sayang?”, ketika bercinta.

Lelaki!

Bahkan entah sudah berapa lama dia tak menjamahku sama sekali. Padahal akhir-akhir ini birahiku sedang besar-besarnya.

Sialan!

Derum halus mobil mercy suamiku terdengar memasuki pelataran. Sopir suamiku sudah pulang dari mengantar ke kantor, rupanya.

Entah dari mana datangnya, aku mengintip dari balik tirai jaring jendela kamar. Memperhatikan tindak laku sopir yang baru sekitar 2 bulan ini bekerja, menggantikan sopir lama yang mengundurkan diri karena lebih memilih mengurus sawah dan istrinya yang sedang hamil tua.

Selangkanganku mendadak ngilu.

 

Wanto…

Ibu memanggilku ketika baru saja aku mengunci mobil yang sudah kuparkir rapi di depan pintu garasi. Sengaja tak kumasukkan mengingat biasanya si ibu minta diantar entah ke mall mana siang hari nanti.

“Saya, Bu…”, sahutku dengan kepala tertunduk ketika menemuinya di depan pintu kamarnya. Menunduk antara segan, dan antara tak berani memandangi belahan dadanya yang terlihat begitu nyata di balik daster dengan belahan rendah itu.

Sekuat tenaga aku menahan laju jakunku.

“Tolong ambilkan saya koper yang ada di atas lemari”, kata si ibu sambil membukakan pintu kamarnya lebih lebar agar aku bisa masuk.

Aroma parfum yang entah memang gunanya mengundang libido atau memang fikiranku yang terlalu kotor, tercium begitu wangi. Aku bahkan tak berani menengok ke belakang ketika kudengar suara pintu yang tertutup.

“Naik ini, lemarinya tinggi, soalnya”, kata ibu sambil menyorongkan sebuah kursi kayu antik ke depan lemarinya.

Sungkan aku menaikinya.

“Yang mana, Bu?”, tanyaku. Mengingat ada 4 koper di atas sana dengan warna yang berbeda. Aku bahkan tak berani memandang ke bawah, yang pastinya belahannya akan tampak lebih jelas dari sini.

Aku tak mendengar jawaban si ibu. Aku hanya merasakan tangannya memegangi pinggangku, di bawah kemejaku. Jakunku naik turun makin hebat. Sebenarnya dia sedang memegangiku karena takut aku jatuh, atau memang merabaku?, pikirku.

Aku beringsut turun karena merasakan satu tarikan di celah sabuk celanaku. Mau tak mau aku menatap ke bawah, mencari tahu. Di sana, dia tersenyum dengan arti yang tak bisa kutemukan.

Aku tak bisa berfikir.

Yang aku tahu dia sudah menggigit lembut bibir atasku.

Yang aku tahu kemejaku sudah tak lagi ada di badanku.

Yang aku tahu tanganku sudah melucuti dasternya.

Yang aku tahu hawa AC kamar itu tak lagi terasa.

Yang aku tahu, lekuk tubuhnya ternyata memang sempurna.

Yang aku tahu, kami sedang bercinta.

Sejak itu ibu tak pernah lagi bermasalah dengan birahinya.

Dan beberapa lembar uang merah sudah tertekuk rapi di saku kemejaku.

 

Tuan…

“Salam buat Mama sama Papa, ya. Sampaikan salamku belum bisa ikut kesana. Pekerjaan sedang benar-benar tidak bisa ditinggalkan”, kataku sambil mengantar istri ke mobil yang sudah siap mengantarnya ke Soekarno Hatta, untuk selanjutnya terbang menuju Surabaya.

“Jaga diri, sayang. Kabari aku kalau ada apa-apa. Aku Cuma seminggu di rumah, koq”, jawabnya setelah menutup pintu, menjulurkan kepalanya di jendela yang kacanya sudah diturunkan.

Kudaratkan sebuah ciuman, di keningnya.

“Wanto… tak perlu terburu-buru, ya. Nanti saya ke kantor naik taksi saja”, pesanku pada sopir, yang dijawab hanya dengan anggukan sopan.

Ada kelegaan yang luar biasa ketika mobil itu keluar dari gerbang rumah ini. Yang seharusnya tidak kumiliki ketika istri meninggalkan seorang suami.

Persetan. Kalau bukan karena tuntutan ayahku yang ingin aku buru-buru kawin juga mana mau aku hidup serumah dengan orang yang baru kukenal kurang dari dua bulan. Wanita pula.

Bukankah gara-gara itu Fendi lebih memilih hengkang dari kehidupanku? Dan gara-gara perkara itu pula perkara seksualku sekarang lebih puas dengan tangan kanan. Aku harus benar-benar memaksakan diri untuk menyetubuhi istriku sendiri.

Sial!

Hari ini aku tak berminat sama sekali untuk ke kantor. Toh pekerjaan memang sudah kurampungkan dari kemarin lusa. Nanti sore saja aku berangkat kalau meeting regional sudah mau dimulai.

Aku rindu Fendi. Aku rindu lelaki.

 

Wanto…

“Loh, Bapak belum berangkat, ternyata? Kalau begitu saya siapkan mobil sekarang ya, Pak?”, aku kaget mendapati atasanku masih berada di rumah. Karena kalau tidak salah tadi dia bilang agar aku tak perlu buru-buru karena dia akan naik taksi saja. Aku jadi merasa tak enak tadi sudah mampir ke warung tegal untuk mengisi perut.

“Gak usah, Wan. Nanti sore saja kamu antar saya ke kantor kalau sudah dekat dengan jam meeting”, jawab nya sambil mematikan televisi yang tadi sedang ditontonnya. Bahkan dia sudah menanggalkan atasannya. Hanya mengenakan celana kerja berwarna hitam.

“Oh… kalau begitu saya pamit ke kamar saya, Pak”, pamitku.

“Eh, sebentar, Wan. Kamu bisa mijit?”, tanyanya.

“Kalau sekedar mijit ala kadarnya, bisa, Pak”, jawabku.

“Kalau begitu, tolong pijit saya bentar, ya. Badan saya pegal sekali”, katanya. Tanpa menunggu jawabanku langsung melangkah ke kamar. Aku mengikutinya, pun tanpa mengiyakan.

Dia melepas celana kerjanya, hanya mengenakan celana boxer-nya. Aku mengucapkan “permisi” dulu sebelum mulai memijatnya.

Atasanku ini punya badan yang bagus begini, tapi kenapa ibu malah bernafsu sama aku?!, bathinku sambil memijat punggungnya. Meski aku juga heran. Bagaimana bisa orang ini memiliki tubuh berotot seperti itu padahal kerjanya hanya duduk-duduk di depan meja kerja. Entahlah.

“Maaf ya, Wan. AC tidak bapak nyalakan. Soalnya kalau sedang telanjang seperti ini bisa masuk angin saya”, katanya. Padahal kupikir dia sudah tidur.

“Tidak apa-apa, Pak”, jawabku.

“Kamu kalau kepanasan, kalau memang mau buka baju juga tidak apa-apa, koq”, lanjutnya.

“Tidak perlu koq, Pak. Ndak apa-apa”.

Kemudian dia membalikkan badan. Minta dipijat bagian dada dan perutnya.

“Tuh khan, kamu sampai keringetan begitu. Sudah, buka saja kemejamu”, katanya, sambil membuka bajuku.

“Tidak usah, Pak. Gak apa-apa, koq”, jawabku sambil tetap melanjutkan pijatan. Entahlah, aku tak berani menghentikan tangannya yang masih membuka kancing bajuku.

Entah demi apa aku malah jadi salah tingkah begini. Memijat atasanku tanpa baju. Apalagi dia memandangiku terus.

Dan tiba-tiba saja dia menarik tubuhku, yang karena tak siap akhirnya terjerembab di atas badannya. Bahkan tanpa memberi jeda, dia langsung mendaratkan bibirnya di bibirku.

Dan aku tak kuasa berontak ketika dia memainkan lidahnya dalam mulutku. Antara bingung, jijik dan menikmati.

Dan aku tak kuasa menolak ketika dia mulai menjalari leherku sambil tangannya sibuk membuka sabuk dan celanaku.

Dan aku tak kuasa menahan lenguhan ketika bahkan seorang atasanku mendaratkan ciuman dan berbagai atraksi lainnya di area sakralku, di bawah pusarku. Kenikmatan yang benar-benar baru.

Dan aku tak tahu harus berkata apa ketika dia membalikkan tubuhku, mengolesi daerah bawahku dengan entah cairan apa aku tak tahu. Cairan dingin.

Dan bahkan aku hanya bisa menggigit bantal keras-keras untuk menahan sakit yang luar biasa ketika kurasa ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhku.

Aku tak lagi penasaran kenapa ibu menggarapku kemarin lusa.

Sejak itu atasanku tak pernah lagi bermasalah dengan birahinya.

Dan beberapa lembar uang merah sudah tertekuk rapi di saku kemejaku.

 

Di gedung sebuah bank…

“Selamat siang, Bapak. Ada yang bisa dibantu?”, sambut seorang security sambil membukakan pintu. Dengan bahasa yang terlampau sopan untuk seorang juru keamanan, malah lebih terkesan seperti bellboy di hotel-hotel besar yang pintunya bisa membuka sendiri.

“Saya mau mengirim uang, Pak”, jawab Wanto, sopan.

“Silakan ambil antriannya, Bapak. Lalu silakan tunggu di kursi-kursi itu”, security itu memberikan instruksi.

“Saya berdiri di sini saja ya, Pak. Capek duduk terus”, kata Wanto setelah mengambil tiket antrian, yang kemudian diiyakan oleh si security dengan seulas senyuman.

Wanto menghindari kursi. Selangkangannya masih terasa nyeri akibat hantaman palu godam sang atasan tadi pagi.

 

Di sebuah kampung kecil di antara tandusnya tanah Gunung Kidul…

“Bu, wau enjing Bapak SMS. Ngendikanipun sampun kirim arto. Ibu saget mundhut dinten niki. Bapak mangsuli kagem tumbas tivi kalih lemari”.

=- Bu, tadi pagi Bapak SMS. Katanya sudah kirim uang. Ibu bisa ambil hari ini. Bapak nyuruh untuk beli televisi dan lemari -=

Kaswan girang luar biasa. Anak yang masih baru kelas 6 SD itu akhirnya bisa punya televisi sendiri. Tak perlu hijrah ke tempat tetangga untuk sekedar menonton berita dalam dan luar negri, acara kesukaannya. Dia berharap ibunya juga bisa membelikannya buku cerita kalau memang masih ada uang sisa.

“Alhamdulillah yo, Le’. Dongakno ae bapakmu neng Jakarta gaweane gemi lan lancar terus rejekine. Ben awakmu iso sekolah sing duwur, dadi cah pinter, iso gawe seneng wong tua”, jawab ibunya. Seorang wanita desa yang meski tampak lusuh tapi masih bisa memancarkan aura cantiknya.

=- Alhamdulillah ya, Nak, doakan saja semoga bapakmu di Jakarta pekerjaanya rajin dan lancar terus rejekinya. Biar kamu bisa sekolah tinggi, jadi anak pintar, bisa buat orang tua senang -=

Keluarga kecil itu bahagia. Nanti sore, akan ada televisi dan lemari baru di rumah mereka, hasil “keringat” sang bapak di Jakarta…

Surat

Dear,

 

Hai Ayah… apa kabar? Sepertinya sudah lama sekali kita tidak pernah bicara. Iya, jika ada waktu yang paling kurindukan, itu adalah saat kita bisa menjadi sepasang teman, di luar konteks peran ayah dan anak. Dan celotehan tentang “kita adalah dua lelaki yang sanggup mengguncang dunia” masih aku pegang sampai sekarang, Ayah.

Sayang ya, Yah. Impian kita untuk membangun sebuah rumah panggung di tepi danau dekat kota kita tak bisa terwujud. Padahal itu (dalam rencana kita) akan menjadi markas keluarga yang paling ranum akan cinta dan kasih. Tak apa, aku masih bisa membayangkannya dengan sempurna, koq.

Bukan tak bisa, mungkin belum. Semoga.

 

Eh iya, Ayah. Aku betul-betul bahagia di sini. Kemarin Ibu menyambutku dengan gegap gempita (meski aku tahu beliau juga di rundung duka dan sedikit kecewa karena aku sudah tega memilih tinggal bersama ibu, daripada menikmati waktu bersama Ayah yang seharusnya kelak akan kujaga ketika tua).

Iya, beliau sempat heran karena aku bisa mengambil keputusan seperti sekarang. Tentu saja. Semua orang tahu persis bahwa aku memang selalu dekat dengan Ayah, lebih daripada ke ibu. Tapi setelah aku bercerita panjang lebar, beliau hanya tersenyum, lalu memelukku, erat.

Beliau mengerti, kurasa.

Ibu titip salam buat Ayah, juga untuk Mama.

 

Ayah tentu masih ingat dengan Ridwan, anak ujung gang yang pernah Ayah gunjingkan karena menurut ayah dia kehilangan sosok lelakinya. Terkubur dalam keluwesan dan kearifannya dalam menilai hidup.

Kasihan ya, Yah. Dia bahkan tak pernah mengenal sosok ayahnya seperti apa. Dia tak seberuntung aku yang memiliki sosok Ayah yang bisa kubanggakan pada siapa saja. Ayah yang memahami betul bahwa dunia tak pernah ramah bagi orang-orang yang tak punya keberanian untuk mengakrabinya.

Keadaan hidup seperti itulah yang membuat dia seperti itu, Yah. Dia tak pernah punya panutan bagaimana menjadi sosok lelaki yang menurut orang-orang adalah sewajarnya lelaki.

Eh, dia pernah loh Yah, begitu terkesima dengan hubungan yang kita punya. Dia merasa melihat keseluruhan isi dunia (lelaki) dari hanya memandangi kita yang sering berbincang di teras membicarakan pertandingan bola yang berlangsung semalam. (Bahkan terakhir kali aku bicara dengan dia, dia akan tetap menganggap bahwa kita adalah Ayah dan anak yang paling menginspirasi dalam hidupnya).

Dia pernah mengatakan bahwa aku adalah anak lelaki yang paling beruntung dengan keberadaan Ayah, dan aku kontan mengiyakan, tentunya.

Apa kabar dia sekarang, ya Yah?!

 

Tentu saja Ayah tidak akan bertanya-tanya bagaimana bisa aku begitu mengenal sosol si Ridwan ini, khan?!

Masih tergambar jelas rona murka Ayah ketika menemukan tulisanku yang seharusnya dibaca oleh mata sendu Ridwan, bukan mata tegar Ayah. Bahkan moment ketika dengan kekuatan yang entah darimana Ayah sudah membalikkan kursi, yang aku duduki saat itu.

Dan aku ingat betul….

Dari situlah keadaan kita berubah. Ayah mulai menganggap bahwa aku adalah kegagalan terbesar yang pernah Ayah lakukan.

 

Ayah, jangan menangis. Aku tak pernah membawa dendam sekecil apapun. Aku hanya tak ingin hal-hal manis yang masih bisa kukenang harus luntur dengan kesalahpahaman kita akhir-akhir ini. Kesalahpahaman yang kupikir memang tidak akan pernah menemukan titik temu dari pemikiran kita masing-masing.

Bahkan luka bekas cambuk dan tinju yang masih biru, tak sanggup menepis pemikiran bahwa kau Ayah terhebat, paling tidak bagiku.

Do’akan aku, Ayah.

 

Regards,

(i wish i still) Your son.

————*

 

Kertas itu sudah buram, terlalu banyak kubaca, kuremas, lalu kubaca lagi dengan berlinang air mata. Sesal. Kebencian akan masa lalu telah membunuh anakku. Darah dagingku.

Langkah Akhir

Pernyataan dan pertanyaan sederhana, tapi terasa menamparku bolak-balik.

Brengsek!

Bukan pertanyaan semacam itu yang kuharapkan. Semudah itukah kau menyerah pada hubungan yang sudah kita bina? Pada sifatku yang ternyata memang kekanak-kanakkan. Iya, baru kusadari itu sepuluh menit yang lalu. Sepuluh menit yang membawa kami dalam keheningan yang memuakkan.

Setengah dari diriku ingin mendekatinya, lalu mendaratkan satu atau mungkin dua pukulan agar dia sadar bahwa pembicaraan ini sudah salah arah. Seperempat dari diriku malah ingin aku segera beranjak dari tempat ini, pergi.

Seperempat yang lain sibuk membujuk mataku untuk berproduksi.

——————-*

 

Dia menangis.

Dan aku benci melihatnya.

Setelah berpuluh-puluh menit aku menunggu, dia hanya menjawab semuanya bahkan hanya dengan lelehan air mata tanpa suara? Ini bisa berarti apa saja.

Setengah dari diriku memaksa diriku untuk segera beranjak dari tempatku duduk, bukannya menjadi pengecut yang membiarkan dia, jantung hatiku, menangis dalam diam, dan hanya memalingkan muka ke langit-langit.

Tapi setengah dari diriku memaksaku untuk tetap kejam. Bukan, bukan kejam yang dia bisikkan, melainkan ketegasan. Sudah waktunya bagi dia untuk benar-benar mengerti bahwa hidup adalah tentang pilihan. Akan kemana pilihanmu membawa langkahnya.

——————-*

 

“Padahal aku mengharapkan lebih dari ini”, kalimat ini akhirnya terucap juga. Hanya itu yang kurasa bisa mewakili apa yang aku rasa, aku harapkan dan aku dambakan dari beberapa hari yang lalu.

Sebuah atensi.

Itu saja.

Tidakkah kau merasakannya?!

Aku hapus air mata yang menetes dengan sekali usapan di masing-masing pipi. Aku beranjak dalam kelesuan seperti penderita busung lapar. Menurunkan koper warna coklat dari atas lemari, membukanya perlahan.

Anak sungai menggaris lagi.

——————-*

 

Haruskah dia benar-benar pergi?

Haruskah aku tetap berdiam diri?

Seharusnya aku yang tadi duduk di kursi itu. Aku yang seharusnya dituntut untuk sebuah jawaban. Aku seharusnya yang mengadili diri sendiri.

Denyut jantungku mencengkeram air mata, mengalirkan duka.

——————-*

 

“Padahal tadinya aku begitu berharap kau akan setidaknya menamparku ketika aku berkata seperti tadi. Bukan malah menghunjamku dengan pilihan bodoh yang seharusnya tak perlu kau tanya pun kau sudah tahu pilihan mana yang akan kuambil”, sambil mengatur nafas, kulontarkan kata demi kata.

Lara.

——————-*

 

Aku beranjak dari dudukku. Pelan menghampirinya, menghentikan tangannya yang sedang dalam gerakan lambat menurunkan beberapa kemeja dari lemari kami.

Kami berhadapan.

——————-*

 

Pipi kiriku begitu panas ketika telapak kanannya menghantam. Sedetik dua detik pandanganku sempat nanar.

“I did it. I did it! Please don’t leave me…”, disela dengingan telingaku yang masih berresonansi atas tamparan tadi, aku mendengarnya. Terbata, penuh luka.

——————-*

 

Dia menghambur ke pelukanku. Mengkaitkan erat kedua lengannya di atas pundakku. Aku masih bisa merasakan aliran darah dipipinya ketika pipinya menyentuh pipiku. Desiran darah dari tamparanku tadi.

“Maafkan aku, maaf. Aku sudah melupakan arti kesederhaan yang sudah berulang kali kau ingatkan dalam hubungan kita”, bisiknya disela isak.

Mengusap pelan punggungnya adalah surga.

——————-*

 

“Maafkan aku juga, ya. Aku sudah lupa bahwa hidup bukan hanya tentang roda yang berputar cepat. Aku tak lagi mengindahkan peringatanmu bahwa roda memang kadang perlu diperlambat demi menikmati hidup”, ucapnya lembut, sambil mengusap punggungku. Usapan penuh cinta yang selalu berhasil membuatku luluh dengan kasihnya.

——————-*

 

Kubenamkan wajahku di lehernya. Menikmati aroma yang sudah begitu kukenal selama lebih dari 2 tahun belakangan ini. Kukecup pangkal lehernya, dengan segenap rasa yang masih bisa kuberikan.

Debaran hatiku, dan debaran hatinya menyatu dalam pelukan kami.

——————-*

 

Aku melonggarkan dekapanku, mentautkan kedua tanganku dan menambatkannya di belakang lehernya. Tangannya kokoh bersandar di panggulku.

Pandangan mata kami bertemu. Pandangan mata teduh yang kurindukan itu. Yang akhir-akhir ini telah direnggut dunia dariku. Aku menemukannya lagi.

Kusatukan desah nafas kami dengan ciuman. Desah nafas yang makin menit makin menderu.

——————-*

 

Aku menikmati setiap inci dari tubuhnya. Tubuh yang memang seharusnya milikku, utuh dan terjaga. Desah nafasnya makin membrutal, pun nafasku.

Karena gelora dan cinta, bagi kami adalah satu.

Peluhku dan peluhnya, kami bersama-sama menikmati dunia.

——————-*

 

“Liburanku dua hari lagi, ke Tidung?”, katanya sambil mendekap punggungku, menggigit kecil pundakku. Keringat masih membanjiri tubuh kami. Masing-masing enggan untuk beranjak, masih menikmati sensasi dekapan sisa kenikmatan tadi.

Aku berbalik, senyum lebar tersungging di bibirku, begitu dekat dengan bibirnya.

Aku melumat bibirnya, itu jawabanku.

Selanjutnya kami bercumbu, berpelukan erat dan bercinta, berpelukan lagi, bicara lewat hati, hingga petang menjelang.

 

*- End -*

Langkah – 3

“Welcome home”, sambutku ketika dia membuka pintu. Berusaha tak mengindahkan ekspresi wajahnya yang menggambarkan perpaduan antara kaget dan bingung.

“Eh….. kamu… bukannya…”, jawabnya, bahkan tanpa menjawab sambutanku.

“Iya. Sepertinya penyelinapanmu kali ini gagal, ya?! Maafkan aku kalau begitu”, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan intonasi sinis dalam setiap kata-kata yang kuucapkan, karena memang aku tidak punya niat untuk itu.

——————-*

 

Dia beranjak dari tempat duduknya semula. Pinggiran kasur kami yang sudah 4 malam tak pernah menerima sentuhan kulitku. Ranjang kami.

Dia bergerak santai seolah tak pernah ada masalah, berjalan melewatiku, menuju pintu yang ternyata masih kubiarkan terbuka saking kagetnya, menutupnya.

Dia beralih ke kursi kerja yang terletak berseberangan dengan tempat tidur kami. Membalikannya hingga menatap ke arah ranjang, lalu beranjak, duduk kembali di tepi ranjang, tempat dia duduk tadi.

“Lebih enak kalau ngobrolnya sambil duduk”, katanya, dengan senyum yang padahal tulus tapi justru malah kurasa menyesakkan. Gerakan kepalanya mempersilakan aku duduk di kursi yang digesernya tadi.

Sialan. Kursi pengadilan?!

——————-*

 

“Kamu kalau ada masalah, kenapa tidak berusaha untuk membicarakannya denganku? Menghindariku seperti ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah, asal kau tahu. Lagipula mau sampai kapan?!”, kataku begitu dia menghenyakkan pantat di kursi yang kusiapkan tadi.

“Lagipula, aku bukan dukun. Bagaimana aku tahu kalau kamu punya masalah denganku kalau kau tidak ngomong? Karena sejatinya aku sendiri bingung sebenarnya ada masalah apa antara kita? Kupikir kita adem ayem saja selama ini”, sambungku.

“Ada masalah?!”, tanyaku sambil menyorongkan badan, bertumpu pada siku yang kusandarkan di kedua pahaku.

Dan dia hanya diam. Terlihat sedang berfikir untuk melayani pembicaraan ini, atau untuk kabur, sepertinya.

“Aku siap mendengarkan. Dan aku tidak mau bolosku hari ini tidak membawa penyelesaian apapun dalam masalah kita. Kalau memang ada masalah”, lanjutku.

——————-*

 

It’s a crap entrapment. Aku bahkan tak siap untuk diskusi semacam ini.

Tapi memang mungkin ini saat yang tepat untuk kutumpahkan apa yang selama ini aku pendam dan membuatku kembali jerawatan.

Aku menghela napas panjang…

——————-*

 

“Kamu berubah. Dan aku tidak menyukai perubahan itu”, kalimat pertama yang muncul dari mulutnya, setelah sekian lama hening dengan aku yang sabar menunggu, terus memandanginya dengan syahdu dan rindu.

“Berubah? Aku benar-benar tidak paham”, jawabku, kernyitan di atas alis kanan tak bisa kutahan.

“Iya! Kamu berubah”, ketusnya.

“Berubah dalam hal apa yang sebenarnya kau maksud?”, tanyaku, benar-benar tidak mengerti kemana sebenarnya arah pembicaraan ini.

——————-*

 

“Kamu berubah semenjak kamu kerja di restoran itu! Kamu gak pernah punya waktu sama aku. Kamu selalu sibuk dengan kuliah dan kerjaanmu. Aku? Membusuk bosan di kamar kecil ini. Menunggumu pulang untuk sekedar berbagi kasih, yang ternyata harus menelan kekecewaan karena kau terlalu capek. Ya dari kuliahmu, ya dari kerjaanmu. Aku bukan manekin di kamar ini! Itu kalau kau masih menganggap aku ini orang, kekasihmu!”, meluap sudah rasa yang kutahan dari sebulan lebih ini.

Tatapan heran dan bingung makin kentara di wajahnya.

“Dulu kamu begitu asyik. Sering hangout bareng. Sering ajak aku ngobrol meski hanya sambil memandangi lampu kota di balkon lantai tiga. Antar jemput aku ke kampus. Sekarang? Kita Cuma dua badan yang benar-benar terpisah dalam kamar ini!”, bendungan hatiku benar-benar jebol.

——————-*

 

“Jadi ini masalahnya?”, tanyaku. Sejuta nada keheranan dalam suaraku kalau memang bisa dihitung.

“Fine bagi kamu mungkin masalah ini sepele. Tapi gak bagiku. Buat apa kita tinggal bareng kayak sekarang tapi nyatanya kita hidup masing-masing?! Ini bahkan lebih tidak mengenakkan daripada benar-benar hidup sendiri!”, semburnya.

“Tapi… bukankah dari awal kau juga setuju ketika aku hendak mengambil tawaran kerja ini? Dan kamu tahu bahwa kuliahku sekarang memang sedang sibuk-sibuknya. Kamu pun mahasiswa, seharusnya pasti tahu, khan bagaimana sibuknya mahasiswa di tingkat akhir?!”, tanyaku masih dalam nada kebingungan.

“Tapi seharusnya tidak sebegininya juga. Sekarang buatmu lebih penting mata kuliah busuk itu daripada ceritaku. Lebih penting slip gaji tak seberapamu itu daripada sekedar ngopi bareng sama aku!”.

Seperti sebuah granat yang ditarik pemicunya, emosiku langsung meledak. Merah padam aku menahan mulut untuk tidak terlalu banyak bicara yang menyakitkan satu sama lain.

“Oh… jadi sekarang masalahnya merambah pada siapa lebih penting daripada siapa? Apa lebih prioritas dari apa? Begitu maksudmu?”, aku masih berusaha meredam emosi.

“Iya!”, jawabnya ketus.

“Oh… haruskan kuingatkan lagi sama kamu kalau apa yang sedang kuusahakan sekarang dalam perkuliahanku adalah demi kita juga juga?? Dan apakah aku harus mengingatkan juga bahwa kondisiku sekarang memang tidak bisa seperti dulu? Apakah memang aku harus mengingatkan bahwa semenjak ayahku tiada, aku tidak lagi bisa sepenuhnya bergantung  ke orangtuaku? Haruskah?”, rentetku dalam emosi, dan sakit hati yang luar biasa. Kata memang tajam.

“Aku tak peduli!”, teriaknya, yang terlihat berusaha ia redam mengingat ini hanyalah rumah kost. Bukan rumah kontrakan yang sudah dia tinggalkan ketika memilih untuk berbagi ruang dengannku, 2 tahun yang lalu.

“Kamu… jangan sampai penilaianku terhadapmu bermanuver menjadi pemikiran-pemikiran buruk, ya!”.

“Kita sekarang harus sudah mulai sama-sama berfikir. Mau jadi apa kita nanti kalau kita terus-terus saja santai menjalani hidup. Ingat, aku bukan dalam posisimu yang masih bisa enak menikmati bangku perkuliahan tanpa memikirkan biaya hidup dan lainnya. Kita sekarang sudah jauh berbeda, dek. Dan jika kau memaksaku untuk tetap bertahan dengan gaya hidup kita dulu, kamu sudah tahu bahwa aku tak mampu, tanpa aku perlu memberitahukannya padamu”, cecarku. Gemeretakan gigiku ketika mengucapkannya, menahan agar volumeku tetap dalam keadaan tenang, tak naik.

“Toh itu juga tidak berpengaruh pada keadaan kita!”, kilahnya.

Hening kembali menyiksa di antara kami. Sama-sama mengendalikan emosi, sama-sama berkutat dengan pikiran masing-masing yang entah kemana, tak kunjung bertemu titik point-nya.

“Oh, OK. Jadi begini. OK. Fine. Maumu apa sekarang?”, tantangku, berusaha sebisa mungkin untuk kalem.

——————-*

 

Emosi benar-benar menyergapku saat ini. Entahlah, semua pembelaan yang dia lontarkan rasanya tak bisa kuterima. Seperti ada puluhan setan yang terus memanasiku.

“Kurasa sudah saatnya kita berpisah”, jawabku. Lebih memilih menujukan pandanganku pada televisi yang hening mati daripada menatapnya.

Hening yang menusuk di antara kami.

Aku tak sanggup untuk melihatnya, wajahnya.

You, please say something!

——————-*

 

Sakit yang kurasa makin menghunjam. Rasanya bambu-bambu yang kupancangkan sebagai landasan bagi rumah cinta kami, mendadak runtuk dan menusukku dari berbagai arah. Menghadiahiku ratusan nyeri, di ulu hati.

Aku masih mencerna kata-katanya yang sungguh diluar dugaanku. Di luar harapan yang pernah sama-sama kami tabur, dan berharap untuk dituai bersama.

Aku sibuk dengan hatiku sendiri, berusaha mendamaikannya.

“Aku… atau kamu yang harus pergi dari sini?”, satu kalimat sumbang terlontar dari mulutku. Memecah keheningan dengan suaraku yang bergetar, paduan antara emosi dan patah hati.

 

*Bersambung…

Langkah – 2

Biasanya aku bangun karena aroma kopi yang dia hidangkan bahkan sebelum aku bangun. Tapi pagi ini aku dibangunkan oleh raungan anak kecil di luar sana. Aku yakin itu anak si ibu kost yang masih 5 tahun, merengek-rengek entah minta apa.

Dia tak pulang, ternyata.

Sampai jam 9 pagi, dia belum juga pulang. Tak biasanya dia seperti ini. Seandainya pulsanya habis hingga tak bisa mengabariku, bukankah seharusnya dia bisa meminjam ponsel temannya untuk sekedar mengabariku bahwa dia akan menginap? Bahwa dia tak akan pulang tadi malam. Lagipula anak itu tidak akan mungkin berada dalam kondisi tidak punya pulsa.

Antara kecewa dan kesal. Kecewa karena aku sendiri bahkan tak tahu apa sebenarnya duduk masalah yang kami miliki. Kesal karena dia seperti sengaja membuatku cemas seperti ini. Dia tahu bahwa aku selalu gugup melakukan apapun ketika cemas.

Aku tak bisa menunggu lagi. Setengah jam lagi ada kelas penting yang tidak bisa kutinggalkan. Mata kuliah pokok.

Dengan berat hati aku berkemas.

Sempat kutuliskan memo sebelum berangkat

“Aku tahu kita sama-sama dewasa. Tapi bukan berarti orang dewasa pun tidak perlu dicemaskan, khan?! Setidaknya kabari aku. Semalaman aku menunggumu”.

——————-*

 

Aku sengaja pulang ke kost agak siangan. Sengaja agar aku tak perlu bertemu dengannya. Entahlah, keegoisankukah? Atau kemalasanku untuk sekedar bertukar pikiran dengannya? Akupun tak tahu. Yang aku tahu hanyalah sekarang aku sedang tidak ingin bertemu dengannya, apalagi berbicara.

Konyol ketika aku seperti mengendap-endap untuk masuk ke dalam kamar kost-ku sendiri!

Pintu kamarku terkunci. Itu berarti dia sudah berangkat. Aman.

Aku langsung menuju kamar mandi, kurang dari sejam lagi aku harus sudah berada di ruang kuliah dengan dosen yang tidak bisa menerima keterlambatan dengan alasan apapun.

Ketika aku hendak mengambil beberapa buku yang perlu kubawa. Aku melihatnya. Sebuah memo darinya.

Alih-alih aku mengabari melalui ponselku, aku malah membalas note itu. Satu garis lebih bawah dari memo singkat itu.

“Gak usah cemas. Aku Cuma sedang ingin sendiri. Nanti malam aku tak pulang lagi. Menginap lagi di tempat Rudi. Jangan susul aku.”

——————-*

 

Hari ini lancar menyenangkan. Tugas presentasi yang harus kubawakan di depan kelas mendapat nilai A- dari dosen. Tidak sia-sia juga aku mati-matian mengerjakannya. Tidak sia-sia juga aku berusaha sejenak menyingkirkan pemikiran tentangnya dari otakku.

Di tempat kerja pun, semuanya lancar tanpa hambatan meski beberapa kali rekan kerja mengingatkanku yang kedapatan sedang bengong, berfikir tepatnya. Bahkan kami satu team mendapat tipping yang lumayan besar, jauh dari biasanya.

Aku cengar-cengir bahagia sepanjang jalan pulang. Aku bisa mentraktir steak kesukaannya malam ini.

Cahaya samar terlihat dari kamarku ketika aku sampai di depan pintu. Paling lampu dapur yang tidak dimatikan. Itu kebiasaan kami kalau tidur. Agar tidak gelap gulita sama sekali.

Tapi masa dia sudah tidur jam segini? Lagi-lagi tumben.

Aku temukan jawabannya ketika aku masuk dan menyalakan lampu utama di kamar kami. Mengecewakan.

Kamar itu masih saja kosong.

Sebuah note di bawah memo yang kutinggalkan tadi pagi.

Memo yang akhirnya hanya bisa kuremas dengan kecewa, dan kulemparkan sekenanya ke sudut kamar.

——————-*

 

Kenapa aku tak membawa baju paling tidak untuk sekalian 3 hari ke depan, ya?! Bathinku dalam paduan antara kesal dan sesal. Kesal akan keteledoran diri sendiri, sesal karena berarti besok aku harus kembali mengendap-endap di area kost seperti maling kesiangan.

Crap!

——————-*

……………………..

——————-*

 

“Rud, gak perlu disampaikan apalagi ditanyakan sama anaknya. Gue Cuma mau nanya, pacar gue disitu baik-baik saja, khan?!”

Pesan yang baru saja kukirimkan ke Rudi. Sudah tiga malam aku tidak bertemu dengannya. Pun aku tidak tahu dia sebenarnya pulang atau memang sengaja menghindariku. Pengamatan dan perasaanku lebih condong pada kemungkinan kedua, melihat kondisi kost setiap kali aku pulang mendapati kamar kost kami kosong, hening, namun ada sedikit perubahan dibandingkan keadaan ketika kutinggalkan. Pun dengan adanya beberapa lembar baju kotor miliknya, dan raibnya beberapa potong pakaiannya.

“Dia di sini. Perkara baik atau tidaknya, gue gak tahu. Gue udah pernah nyoba nyuruh dia pulang tapi yang ada Cuma manyun trus cuekin gue”.

Pesan balasan dari Rudi yang akhirnya hanya kubalas dengan ucapan terima kasih.

Berarti memang ada masalah di antara kami.

Dan malam ini berarti aku akan tidur sendiri lagi.

——————-*

 

Jam sepuluh siang, mengingat jadwal yang kuingat, seharusnya dia sudah berangkat dari sejam yang lalu. Santai aku pulang dengan diantar ojek. Rudi ada perlu jadi tidak bisa mengantarku.

“Koq gak pernah kelihatan kayaknya, dek?”, sapa ibu kost yang kebetulan sedang menunggui anaknya yang masih berumur 5 tahun bermain sepeda mini di halaman kost-an kami.

“Iya nih, Bu. Dari kemarin kegiatan kampus sedang sibuk-sibuknya. Sampai harus menginap di tempat teman untuk menyelesaikan tugas-tugas”, dustaku, dilanjut dengan permisi. Aku sedang tidak ingin basa-basi.

Kumasukkan kunci, kuputar dan kubuka pintu kamarku.

Aku kaget, sekaligus kalut dengan apa yang kulihat di depan mataku. Haruskah aku berbalik dan lari meninggalkan tempat ini?

 

*Bersambung…

Langkah

Ah… mati listrik tadi memang merepotkan. Aku yang seharusnya bisa pulang dari tadi, jadi harus menunggu listrik menyala agar rekapan pekerjaanku bisa disetorkan. Dikerjakan besok pagi? Ah, aku sangat tidak ingin beradu pendapat dengan bos yang lebih sering tidak mau tahu dengan alasan dari karyawannya.

Kelar merapikan laporan singkat hasil kerja 1 shift, uang juga terhitung pas, kumasukkan semuanya ke dalam satu amplop yang memang disediakan khusus untuk laporan itu, simpan di kotak laporan. Saatnya pulang. Lapar, kantuk dan rindu dengan kekasihku, bercampur jadi satu.

Kost-an mungilku memang terletak tak terlalu jauh dari tempat kerjaku. Aku cukup berjalan kaki tidak lebih dari 15 menit. Mungkin orang berfikir ini agar sehat. Padahal tujuan utamaku sih untuk menghemat uang bensin. Lumayan.

Kamar kost-ku masih gelap ketika aku sampai. Tumben. Biasanya dia sudah di rumah, menungguku pulang, mempersiapkan makan malam sambil menonton tayangan sinetron dari televisi lokal. Saluran televisi kabel kami sudah lama dicabut, nunggak 3 bulan. Tak apalah, toh kami juga sama-sama jarang di rumah. Menghibur dirikah? Sepertinya begitu.

Kuputar kenop pintu. Terkunci. Untung aku membawa kunci motor.

Aku menyalakan lampu kamar. Satu-satunya lampu neon 30 watt yang kami rasa cukup untuk menyinari aktifitas kami dalam kamar kecil berukuran 4 x 5 itu. Di atas meja dapur dan dalam kamar mandi kami beri lampu neon kuning 5 watt saja. Cukup.

Sepi juga rasanya kalau tak ada dia.

Kukirim sebuah pesan singkat dari ponselku.

“Tumben belum pulang?!”.

——————-*

 

“Lagi sumpek di rumah. Ini di rumah temen. Gak usah ditunggu”.

Balasku.

“Masih BT sama pacar lo? Kayak anak kecil deh. Berantem pake acara minggat, bukannya diselesaikan dengan kepala dingin”, tanyanya sambil mengangkat gelas kopi kami yang sudah kosong, tinggal ampas.

“Gak ada masalah, koq sebenarnya. Cuma kadang merasa bosan aja dengan rutinitas yang ada. Dia gak pernah mau hangout kayak yang lain. Ya sibuk lah. Ya hemat lah. Hey… i want to enjoy my life also kayak yang lain”, kilahku.

“Sudah diomongin ama dia?”, timpalnya dari arah dapur, setengah berteriak biar terdengar olehku.

“Seharusnya dia paham, donk!!! Berulang kali gue ngajak dia jalan, tapi hampir gak pernah mau!”, jawabku.

“Sudah diomongin ke dia?”, tanyanya lagi.

“Gak perlu, deh!”, cetusku.

“Setahu gue sih pacar lo itu mahasiswa ekonomi, bukan mahasiswa jurusan perdukunan”, katanya enteng sambil menyalakan layar netbooknya.

——————-*

 

Tumben sekali. Ada apa gerangan dengan kekasihku? Aku mencoba mengingat kemungkinan ada masalah di antara kami, dan aku tidak menemukannya.

Mungkin dia memang sedang butuh waktu dengan teman-temannya. Aku mencoba berfikir positif. Sejenak merehatkan diri, aku duduk selonjoran di lantai, membuka file foto ketika kami sedang berlibur berdua ke Tidung, 5 bulan yang lalu.

Rindu membuatku semakin lapar.

Aku beranjak mandi. Tubuhku lengket karena beraktifitas dari pagi. Kuliah dan lanjut kerja. Setelah ini aku harus mencari warung untuk mengganjal perutku. Malas sekali rasanya membuat mie instan malam-malam begini.

Sebelum aku masuk kamar mandi, aku sempatkan mengirim pesan singkat lagi.

“Perlu kujemput?”.

——————-*

 

“Gak usah”.

Balasku singkat, sesingkat pertanyaannya.

“Gue menginap disini malam ini, ya? Males pulang”, kataku pada temanku yang masih sibuk dengan netbooknya.

Dia berbalik sejenak, memutar leherya, menatapku.

“Sejatinya gue tidak setuju dengan cara lo. Tapi, gue juga gak punya alasan untuk melarang lo”, jawabnya, lalu kembali ke keyboard netbooknya.

“Lo gi ngapain sih sebenernya? Masih betah aja sibuk sama blog cerpen stensilanmu itu?”.

Aktifitasnya terhenti. Kemudian dia memutar posisi duduknya, menghadapku.

“Lo orang sastra, khan?! Gak seharusnya lo ngomong kayak gitu. Meski bacaanmu elit macam Pramoedya, atau Moammar Emka, atau bahkan Stephen Hawkins bukan berarti bisa dengan enaknya merendahkan karya orang lain, khan?! Orang baca dan menilai, khan memang lebih mudah daripada menulis itu sendiri. Dan hey… it’s a blog. I don’t even ask somebody to read it. You like it, you read it. You don’t, then you know where’s the exit”, cerocosnya.

“Ya gak gitu juga kali…”, kataku, gagu.

“You have blog?”, potongnya.

“Emmm.. nggak”

“Then shame you to blame my writing”, katanya sambil membalikkan badan, kembali berkutat dengan keyboardnya. Membiarkan aku menikmati rasa canggung yang mendadak muncul ini.

“Kalau mau tidur, duluan aja. Gue masih pengen nglanjutin tulisan yang lo bilang stensilan ini”, katanya sambil terus mengetik, tanpa mengalihkan pandangannya.

Sial, aku menyesal sudah mengatakan hal tadi.

——————-*

 

Bahkan sampai berita tengah malah berakhir, dia belum pulang. Ada apa sebenarnya?

Sebenarnya aku mengantuk sekali, tapi aku memutuskan untuk menunggunya pulang. Siapa tahu dia minta dijemput. Paling tidak itu keputusan yang kuambil lima menit yang lalu.

Kantuk yang mendera sudah tak bisa kutahan.

Kukirimkan sebuah pesan singkat lagi sebelum aku tidur.

“Miss you here”.

 

Pesan singkat yang tak berbalas bahkan hingga keesokan paginya ketika aku bangun.

 

*Bersambung…

Tapal Batas

“Andi, kalau memang tidak ada yang sangat urgent untuk dikerjakan, kurangi jam lembur, ya”, tegur Pak Herman, kepala HRD yang lewat ruangan kantorku ketika hendak pulang.

“Tenang, Pak. Kelebihan waktu kerja yang saya jalani tidak saya masukkan di jam kerja, koq. Saya juga sudah absen pulang, 2 jam yang lalu”, jawabku, berusaha sekuat tenaga agar tidak terdengar sinis.

“Maaf. Bapak hanya menjalankan amanat dari atasan”, katanya sambil berlalu.

“Itu urusanmu, Pak”, bisikku lirih. Lebih ke menghibur diri.

 

Fiuh… sudah lebih dari sebulan aku seperti orang yang kehilangan arah. Lebih memilih menenggelamkan diri pada kerjaan, bahkan dengan sukarela mengerjakan pekerjaan lebih tanpa dihitung lemburan.

Karena memang bukan uang yang sejatinya kuinginkan, tapi lebih pada pengalihan pikiran. Gaji yang kudapatkan sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan. Badaniah.

 

Aku masih ingin disini. Berkutat dengan keyboard dan layar yang menyala satu-satunya di kantor yang sudah sunyi ini. Aku enggan pulang. Tapi badanku sudah memberiku sinyal. Dia merasa penat. Dia menuntut hak-nya untuk beristirahat.

Aku harus pulang.

—*—

 

Aku sudah menduganya. Dia pasti ada disana. Menungguku. Kembali meminta penjelasan atas akhir dari hubungan kami. Yang bahkan aku sendiri sudah bosan menceritakannya.

Dia yang membuatku bahkan malas untuk menginjakkan kaki di rumahku sendiri.

“Kau menghindariku?”, sambutnya, masih dalam duduknya di kursi terasku.

Aku menatapnya sejenak. Iba. Setengah dari diriku menginginkan untuk memeluknya. Mendekapnya dengan penuh kasih, seperti dulu. Tapi setengah yang lain memaksaku untuk tak melakukannya. Mendorong mulutku untuk malah berkata keji.

“Itu hanya perasaanmu, Dit”, jawabku, sambil duduk di kursi satunya. Memandang jalanan yang bahkan sudah lengang padahal baru jam delapan lebih.

“Itu analisaku, Ndi. Setahuku kau orang yang paling berdisiplin dengan waktu. Aku tak yakin bahwa ada kerjaan yang tak bisa kau takhlukkan sebelum waktunya sampai harus selalu pulang larut belakangan ini”, katanya, menghunjam.

“Aku memang sibuk, koq”, kilahku.

“Sibuk menghindariku, maksudnya?!”, cecarnya, memandangku dengan tatapan dingin.

“Demi apa aku menghindarimu, Dit? Aku bahkan tak pernah punya alasan untuk itu”, kilahku.

“Apakah salah, Ndi, kalau aku masih ingin menjalani kisah yang kita punya? Atau kalau memang aku sudah tak memiliki kesempatan itu, setidaknya beri aku alasan. Aku juga ingin tenang, Ndi”, katanya. Tatapannya yang tadi dingin, berubah menjadi sayu. Tatapan meminta jawaban.

Dit, kau menyiksaku.

“Haruskah aku terus mengulang penjelasan yang sama, Dit? Kalau kau tanyakan soal cinta padaku, kau sudah sepenuhnya tahu jawabanku. Bahwa cintaku padamu memang tak akan pernah terkikis oleh apapun. Tapi kita juga harus nalar, Dit. Perbedaan yang kita miliki sekarang terlalu jauh. Kamu tidak bisa terus begini, aku juga tidak bisa seperti orang gila seperti ini selamanya, Dit. Tolong, Dit… tolong mengertilah”, jawabku. Menghela napas, memandangnya tanpa tangis meski dada terasa perih. Semuanya dingin.

“Tapi, Ndi…”

“Pulanglah, Dit. Tolong. Aku butuh istirahat. Aku butuh tenang. Aku butuh sendiri”, potongku, enggan melanjutkan diskusi tanpa ujung ini.

Hening di antara kami. Hawa dingin yang menguar tidak bisa kuusir bahkan dengan jaket yang masih menempel di badanku.

Sunyi yang menghunjam.

“Ini malam terakhir aku menanyakan segalanya padamu. Jika memang benar kau masih cinta padaku, datang ke tempatku besok. Kutunggu kau dengan jawab dan hatiku”, Adit memecah kesunyian. Berdiri, memandangku sekejap, lalu berlalu meninggalkanku.

Aku memandangnya pergi.

Aku masuk rumah setelah dia tak terlihat lagi. Luka yang dari kemarin kujaga, kembali tertoreh. Aku menangis dalam diam.

—*—

 

“Pak, saya minta ijin untuk pulang lebih awal dari jam kerja. Boleh?!”, tanyaku pada Pak Herman, jam tiga sore waktu itu.

“Tumben minta pulang awal. Biasanya pulang lambat?”, dia membalas tanya.

“Pekerjaan saya sudah selesai semua, Pak. Daripada saya hanya bengong mainan komputer, sibuk dengan social media. Bukankah itu boros listrik dan boros kuota tanpa membawa guna?!”, jawabku sekenanya.

“Tidak perlu sinis begitu, Dit. Silakan kalau begitu”, katanya.

“Terima kasih, Pak”, kataku sambil berlalu meninggalkan ruangan HRD. Berkemas dengan peralatan kerjaku, lalu pergi.

—*—

 

“Dit, aku datang sesuai dengan permintaanmu semalam. Semoga ini bisa meyakinmu bahwa apa yang menjadi keputusanku adalah memang yang terbaik untuk kita berdua. Untukku dan untukmu. Bahkan untuk semuanya”.

“Jika memang ada luka yang tak bisa disembuhkan, maka kita sama-sama tahu bahwa luka itu adalah perpisahan kita, Dit. Sungguh. Tak perlu kuuraikan panjang lebar pun kau tahu bahwa kau satu-satunya orang yang bisa membuatku jatuh cinta. Bahkan sampai saat ini”.

“Tapi… jalan kita sekarang memang terlalu berbeda, Dit. Dengan cara apapun, itu adalah salah. Salah bagimu, apalagi bagiku. Jurang perbedaan antara kita sekarang terlalu menganga, Dit. Pahamilah. Bantu aku untuk ikhlas dengan semua ini”.

Aku diam sejenak. Menekan dada, berharap bisa membantu meringankan perihnya. Aku tak menunggu jawaban Adit, pun tak mengharapkannya.

“Dan aku benar-benar berharap, meski ini menyakitkan, tapi aku mohon, setelah ini, jangan kau datangi aku lagi, Dit. Karena kau harus tahu, setiap kedatanganmu hanya membasuh luka yang masih sangat berusaha kusembuhkan. Aku tahu kau mendengarnya, dan semoga kau bisa memenuhi permintaanku, permintaan terakhirku”.

Tangis yang sedari tadi kutahan, tumpah sudah. Perih yang kurasa makin menganga. Tapi nyatanya aku memang harus mengakhiri semua ini.

 

Kutaburkan bunga yang kubawa, di atas pusara itu. Hari ini tepat 40 hari Adit pergi.

“Semoga kau tenang disana, Dit”, pamitku, mengusap nisan kayu bertuliskan nama kekasihku, dulu, sebelum akhirnya aku pergi berlalu.