“Bukan” Tentang Diskriminasi

Hello gays, semoga masih indah menjalani hidup.

Kali ini gue mau bahas tema yang mungkin agak berat untuk diperbincangkan. Nantinya kalo emang pembaca memiliki pemikiran lain yang kompeten dengan tema ini, yang mungkin belum gue tulis di artikel ini, atau malah pembaca ada yang tidak setuju dengan beberapa atau keseluruhan pemikiran gue, silakan berkomentar, dan kita berdialog terbuka

:)

Disini gue mau bahas “diskriminasi”

Berat ya??!!
Gak berat kalo kita bahas dengan pikiran terbuka dan hati yang lapang

:)

Seperti yang kita tahu gays, banyak gembor-gembor di luar sana yang sibuk mengatakan bahwa kaum gay banyak terdiskriminasi oleh kaum straight. Bahwa dunia itu tak pernah adil pada kaum gay. Tanpa mereka sadari dan tahu persis apa sesungguhnya arti dari sebuah “diskriminasi” itu sendiri. Padahal, banyak dalam lingkup hidup masyarakat, bahkan mungkin, justru kita sendiri yang menciptakan diskriminasi itu sendiri.

Contoh kasus 1 :

Beberapa waktu yang lalu gue ada jalan di area pantai. Secara tak sengaja gue ada denger selentingan dari sekumpulan pria (yang bisa gue liat sih sekumpulan gay) nyeletuk pas liatin ada pasangan muda mudi sedang pacaran bergandeng mesra menyusuri pantai

A : ih enak ya jadi mereka. Bisa pacaran dengan mesra dimana aja. Coba kalo kita gandengan tangan di pantai dengan pasangan (cowok) kita di pantai, dah untung kita gak dihajar massa…

B : yah… dunia khan emang gak adil

C : iya ya Mari kita telaah kasus satu ini dulu.

Gays, perlu kita syukuri bahwa pemahaman masyarakat terhadap keberadaan kaum gay untuk sekarang ini sudah jauh jauh lebih baik daripada beberapa tahun sebelumnya. Kaum straight lebih bisa menghargai kita, menerima kita sebagai manusia yang pada umumnya. Dan sekarang juga sudah semakin banyak orang-orang yang bisa kita sebut dengan istilah “gay friendly” alias orang yang bisa dengan sangat welcome untuk bersosialisasi dengan gay meski mereka straight.

Nah, berangkat dari kenyataan ini, kita tak boleh terlalu berharap lebih lah dengan kondisi yang seperti ini. Mereka memahami dan menerima kita sebagai seorang gay, tapi bukan berarti mereka juga harus menyaksikan di depan mata mereka sendiri bagaimana kita berinteraksi dengan pasangan kita bukan?? Ingat gays, menerima bukan berarti mereka bisa dengan mudah melihat semata-mata apa yang mereka anggap dan pikir sebagai “koq bisa sih??” itu.

Cukup lah mereka menganggap bahwa kita tetap manusia. Cukup lah mereka memahami kita sebagai makhluk yang “ah mereka sudah dewasa, mereka tau apa yang mereka tentukan dalam hidup mereka”, tanpa harus membebani penerimaan mereka dengan tindakan-tindakan konyol macam bergandengan tangan di depan umum, apalagi sampai berciuman atau berpelukan mesra di depan mereka. Toh buat apa?? Ada kepuasan sendiri ketika kemesraan kalian terekspos dunia??? Oh kawan, kalau memang iya, periksakan kejiwaan kalian!!

Jangan sampai penerimaan mereka berbalik menjadi cibiran hanya karena tindakan-tindakan kecil yang tak seharusnya terjadi

:)

Contoh kasus 2 :

Bagi yang demen ama yang namanya kehidupan malam, dalam hal ini yang gue maksud adalah dugem / bar, mungkin akrab dengan yang namanya “Gay Nite” atau lebih sering disebut “G Nite”. Itu adalah malam dimana suatu bar / cafe dibuka khusus untuk kaum gay. Meski tidak tertutup kemungkinan bagi straight untuk masuk ke bar tersebut pada hari dimana “G Nite” itu digelar, namun secara gamblang hari itu memang diperuntukkan bagi para gay yang hobi dengan clubbing.

Gays, OK gue ngerti bahwa yang namanya ngelakuin suatu hobi dengan teman-teman yang memang memiliki satu kesamaan (apalagi kesamaan hati dan selera) memang jauh lebih mengasyikkan ketimbang kita berbaur dengan banyak orang yang kita tidak tau seperti apa mereka itu. Tapi gays, coba deh kita lihat dari satu sisi yang berbeda. Bukankah dengan adanya “G Nite” itu, seolah-olah kita memisahkan diri dari dunia straight?? Dunia sosial pada umumnya?? Dunia yang padahal sangat ingin kita akrabi dengan kondisi kita yang seperti ini??

Disinilah gue bisa bilang bahwa terkadang tanpa kita sadari, justru kita sendiri yang mendirikan tembok-tembok “diskriminasi” yang sering kita perbincangkan ketika kita sedang ngopi santai dengan teman-teman “sehati”. Come on, kurang asyik apa sih kita berclubbing ria dengan para straight?? Toh (mungkin buat gue dan sebagian kecil lainnya) tujuan clubbing khan bukan untuk ajang mencari teman ranjang atau sebagainya. Tapi lebih ke menikmati musik dan bergoyang akrab dengan orang lain, tanpa tedeng aling-aling, sekedar menikmati hidup. Gitu khan?? Lalu untuk apa musti dipilah-pilah seperti itu??

Dua contoh kasus itu Cuma bahasan kecil gays. Masih banyak pemikiran-pemikiran sempit dari kawan gay di luar sana, yang mengejawantahkan bahwa “dunia itu tak adil”, yang merasa selalu terintimidasi (dan kadang tanpa sebab yang pasti, hanya menuruti apa kata hati).

Be wise, dunia itu indah, dan terlalu indah untuk dilewati dengan kesuntukan hanya karena pemikiran-pemikiran bodoh kita tentang “diskriminasi”.

:)


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s