Ketika Memang Harus Berakhir

Akhirnya berkarya lagi di blog ini, setelah sekian lama vakum. Ah, penulis bukan sedang sibuk, hanya saja mungkin sedang miskin ide untuk sekedar menuangkan apa yang ada di fikiran penulis. Banyak item sebenernya, tapi mungkin lain kali saja J

Baru-baru ini, penulis mendapatkan beberapa curahan hati dari para sahabat tentang kehidupan cinta mereka. Dan hal itu pula yang ingin penulis angkat dalam postingan kali ini.

Kisah ini terjadi pada salah seorang sahabat yang berdomisili di area Depok, Jawa Barat. Sebut saja namanya Indra. Saat itu, dia tengah menjalin hubungan jarak jauh (hubungan yang untuk penulis pribadi merupakan hal tersulit untuk dijalani mengingat berbagai godaan yang ada saat ini, meski terus diimbangi dengan berbagai tekhnologi yang dirasa sanggup menjembatani masalah yang ada) dengan seseorang yang berada di Lampung, seberang pulau sana.

Ah, penulis tidak perlu membahas seperti apa mereka menjalani hubungan mereka. Toh, bukan itu inti dari postingan kali ini.

Nah, setelah sekian saat mereka membina hubungan asmara mereka (kalau LDR memang bisa disebut hubungan asmara), timbul prahara di antara mereka. Dan setelah sekian hari tak ada kabar berita dari lelaki di Lampung itu, Indra mendapat sebuah pemberitahuan. Pemutusan secara sepihak.

Dan entahlah, yang membuat penulis risi adalah bagaimana kata-kata yang dipakai untuk memutuskan hubungan yang sudah ada. Kurang lebih adalah seperti ini :

“ Indra. Maaf untuk beberapa hari ini mas tidak pernah memberi kabar apapun pada Indra. Mas menenangkan diri dari semuanya agar Mas mendapatkan pencerahan dari apa yang selama ini Mas pikirkan. Dan setelah berfikir baik-baik, Mas memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita yang Mas rasa salah ini. Mas ingin kembali pada eksistensi Mas sebagai seorang lelaki. Mas ingin mencoba kembali untuk menjadi normal mencintai seorang wanita. Mas juga tak sanggup untuk terus menerus memberikan janji palsu pada orang tua mas untuk segera membawakan mereka seorang wanit a yang menjadi jodoh Mas dan yang akan memberikan keturunan pada keluarga Mas. Mas juga ingin lebih mendekatkan diri pada Tuhan, karena Mas tahu bahwa apa yang kita jalani ini salah. Sekali lagi Mas minta maaf”

Oh my Gay… itu adalah alasan paling klise yang pernah ada di muka bumi yang pernah penulis temui. Dan naasnya, pemutusan itu hanya dikirim melalui sebuah SMS yang tarifnya tak lebih dari 350 rupiah per halaman!!!

FFYI, penulis justru pernah mengalami hal yang sama. Bahkan lebih naas karena penulis bukan menjalani hubungan jarak jauh, tapi hubungan nyata!!! Diucapkan secara langsung dengan nuansa sok-sok drama.

Ah sungguh klise,

Dan ending cerita sudah bisa ditebak. Seminggu kemudian penulis temui tu orang sudah bergandeng tangan mesra dengan pria lain. Kasihan Indra, harus menghadapi kisah yang sama dengan penulis. Dan penulis yakin banyak gay di luar sana yang mengalami kisah yang sama.

Come gay, sah-sah saja kalau kalian memang ingin mengakhiri hubungan dengan pasangan kalian. Tapi juga tak perlu cari alasan yang terlalu mengada-ada khan??!! Itu hanya akan menunjukkan pada orang-orang betapa bodoh dan munafiknya kalian.

Apalagi kalau sampai menjelek-jelekkan pasangan kita hanya untuk mencari masalah agar bisa mengakhiri hubungan kalian. Harap diingat bahwa cinta itu sulit diterka. Dan kalau suatu ketika kalian ternyata tidak bisa melupakan mantan pasangan kita itu?? Apa kalian tak malu untuk menjilat kembali ludah yang sudah terlanjur kalian keluarkan??

Putus tanpa bertele-tele justru lebih damai koq. Malah nantinya hubungan pertemanan kalian tak akan rusak karena tak ada satu diantara kalian yang merasa terkhianati.

So, be calm gays J


5 thoughts on “Ketika Memang Harus Berakhir

  1. diputusin secara sepihak memang menyakitkan. apalagi lewat sms. saya pun pernah mengalaminya. tapi ya sudahlah. life must goes on. kalo mau nangis-nangis, galau berkepanjangan trus bunuh diri kan cewek banget. haha :))

  2. dear abang sayang (lebay uda dear pake sayang pulak),

    jadi curiga ada apa antara abang dengan si “J” ???????

    di kalimat pembuka : “tapi mungkin lain kali saja J”

    di kalimat penutup : “So, be calm gays J”

    belum lagi di postingan abang yang “DURI” bulan febuari 2012 juga di akhir ada si “J”
    udah deh bang kenalin aja si “J” sama kita-kita.

    “FFYI, penulis justru pernah mengalami hal yang sama. Bahkan lebih naas karena penulis bukan menjalani hubungan jarak jauh, tapi hubungan nyata!!! Diucapkan secara langsung dengan nuansa sok-sok drama.” <<<———- bukan sama mantan abang yang nemuin ibu itu kan? ato ini si anton yah? curiga bukan juga….

    someday i wish abang mo tulis semua kisah cinta abang, amin.

    trus itu mas veno diatas yang bilang : "nangis-nangis, galau berkepanjangan trus bunuh diri kan cewek banget. haha :) " <<<——– konteks-nya bercanda kan??

    .sekian.

    1. Dear Dinda my lovely reader
      *ikhlas Tarjo nulisnya*

      hahahahahahayah
      itu cuma sekedar kesalahan pengetikan koqqqqq
      *Garuk2 ubin*

      nulis semua kisah cinta abang?
      waduhhh…. gak banyak. masih nyari yang bisa diajak bercinta
      #Lohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

      1. MWAAAAAAAAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA

        *ketawa sampe koprol sambil makan bubur tapi muka tetep kece plus masih bisa ngelirik gebetan disebelah*

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s