Sentuh Dulu Hatiku, Baru Kelaminku

Postingan 11-11-11
aish sedep!!!

Gays…
Jam sekarang ini, kesempatan seseorang untuk menjalani kehidupan pria-cinta-dengan-makhluk-yang-kelaminnya-sama itu lebih mudah, berterima kasihlah pada tekhnologi yang terus berkembang. Entah itu facebook, twitter, ym, bbm dan segudang social networking lain yang memungkinkan kaum sehati untuk lebih mudah menemukan kawan sehaluan.
Dan yang pastinya, setiap sesuatu pasti membawa efek buruk sebagai pendamping efek baiknya. Begitu pula dengan kemajuan tekhnologi komunikasi.

Ada cerita dari seorang kawan…

Aku mengenal sosoknya melalui chatting di facebook, beberapa hari yang lalu. Belum terlalu lama. Tapi gaya bahasa dan tutur sapa yang dia gunakan selama kita chat selalu saja mampu membuatku melambung, bahkan terkadang aku harus tersipu hanya karena melihat berderet-deret huruf yang dia kirimkan, puitis. Meskipun kadang juga dia terlalu larut dan (kuharap tak berniat) mengirimkan kata-kata erotis, yang menurutku tak perlu.
Kami melakukan janji temu malam itu. Ya, terpaksa aku atur agar kita bertemu malam saja. Karena siang aku harus masuk kuliah, toh dia juga harus kerja.

Kita bertemu di sebuah kedai kopi yang menjadi meeting point kita saat itu. Dan kuakui, pria yang duduk dihadapanku dengan secangkir kopi hangatnya, sungguh mempesona. Ditambah dengan betapa cerdas pembicaraan yang dia bawa. Ah, secepat inikah aku harus jatuh cinta??

Usai cofffee time kami, dia mengajakku untuk sekedar berkeliling kota. Dibuai rasanya ketika aku harus mencium  aroma tubuhnya diterpa angin.
Tak perlu banyak kuceritakan, malam berakhir dengan indah, dalam pelukan hangat di ranjangnya, puas setelah bercinta entah untuk keberapa kali, dan jujur aku menikmatinya. Aku (dan kuharap dia juga) sama-sama senang.

Ah… itu adalah kejadian seminggu yang lalu. Sekarang??? Jangankan untuk sekedar menyapa dengan kata sederhana macam “hai…” di facebook, belakangan aku malah tahu bahwa aku sudah di unfriend dan(mungkin) sudah di “report as spam”.

Bahkan nomor telepon yang dia berikan saat itu, entah sudah berapa ratus kali kucoba hubungi dan tak pernah aktif, mungkin hanya sekedar kartu perdana murahan yang dia pakai untuk bertemu denganku. Yang bisa dengan gampangnya dibuang setelah tak ada pulsa lagi.

Ah… ternyata aku hanya terlalu berharap lebih pada apa yang kualami malam itu. Aku tidak menyesal, toh saat itu aku menikmatinya. Aku hanya menyayangkan kenapa aku harus terlalu banyak menggunakan hati dalam hubungan satu malam itu. Mana aku tahu bahwa ternyata yang kutemui orang semacam itu?!!!

Tak ingin mengalami hal yang demikian khan???

Ubah dulu sikap dan pemikiranmu. Tanamkan pada diri kalian bahwa kalian itu “mahal”. Jangan pernah berfikir bahwa orang yang kau temui (atau yang kau harapkan) adalah Cuma ada satu-satunya di dunia ini hingga kau gampang untuk terlena.

Tanamkan selalu dalam otakmu prinsip “takhlukkan dulu hatiku, baru kau dapat tubuhku”. Toh, dengan begitu, nantinya ketika dia sudah resmi meminangmu sebagai kekasih (walau mungkin hanya ketika di kamar pribadi kalian, dengan kondisi kalian yang mungkin masih discreet), dia akan lebih menghargaimu, dan lebih menjaga perasaan satu sama lain.

Sadarilah, bahwa di luar sana masih banyak yang tidak mengerti apa itu sebenarnya kehidupan gay. Bagi mereka, gay tidak lebih dari sekedar urusan titit ketemu titit. Sama-sama senang, kemudian menghilang. Soal hati??? Tanyakan saja pada ranjang saksi kenikmatan tadi.

Ingat, dalam suatu hubungan, yang penting adalah rasa nyaman dan saling pengertian. Soal sex dan kenikmatan lainnya, anggap aja itu sekedar bonus yang pasti akan selalu ada.

Note:
Atau kalau kau memang ingin punya hubungan satu malam, go ahead. Tapi ya jangan pake perasaan. Nyakitin diri sendiri itu namanya. Hubungan semacam ini mah, Lo seneng, gue seneng, end. Yang penting main aman aja. Jangan pernah lupa untuk memakai kondom.


10 thoughts on “Sentuh Dulu Hatiku, Baru Kelaminku

  1. *pernah juga!
    Efek’na jadi jual mahal ke dia!
    Mungkin ada rasA sakit hati(nafsu bertepuk sebelah tangan, Gw mngharapkan episode ke dua, dia hanya episode pertama aja, ga dituntaskan)hikss
    Tapi bagi Gw, orang’nya baik,nice looking, tapi mini titit(pengalaman).
    Gw juga ga akan ada episode ranjang ke dua(enough!!! , Gw gregetan)
    Lebih baik jadi teman saja!
    Hubungan tanpa di dampingi dgn onderdil standards tdk akan jalan lama(bagi Gw).

    Tetap mencari yg baik,dan terbaik (gak ada ujung’nya neh)

    #sorry buat yg punya rumah, komen ‘panjanng ! Tapi panjang lebih enak Dr pd pendek koment

  2. Post yg ini bener banget. Belom sampe ke ranjang sih tapi ya gitu. Mungkin karena terlalu ke-ge’eran. Salahnya kebanyakan dari kita adalah mikir pake hati, ga mikir pake otak. Jadiin pengalaman aja kalo semuanya butuh proses. Harus bisa bedain apakah itu Lust or Love.

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s