Kita, Sutradara Untuk Kisah Kita

Memenuhi janji Tarjo sehubungan dengan tweet tempo hari…

@colourfullboy: Sapa bilang pacaran sesama cowok cuma urusan kelamin? Sapa bilang pacaran sesama cowok cuma kisah sedih penuh drama? Ah, nanti Tarjo cerita.

Tarjo tak mau naif, bahwa memang banyak luka yang tercipta ketika harus menuruti kata hati untuk mencintai sesama pria. Tapi tak adil pula jika Tarjo tak berkata bahwa kisah cinta semacam itu indah.

Terkenang suatu masa ketika Tarjo masih tinggal di suatu kota yang penuh dengan pelajar dari berbagai daerah, dimana cerita dimulai suatu sore di jembatan cinta.

-*-*-

Ketika itu, Tarjo hobi sekali jalan-jalan ke jembatan tinggi di pinggiran kota yang memang biasa dipakai mahasiswa untuk berlatih panjat tebing. Naik vespa tua sore-sore, sungguh kedamaian tersendiri.

Dan sore itu tumben jembatan itu ramai sekali. Usut punya usut ternyata sedang ada latihan bersama antar pecinta alam dari beberapa universitas. Great. Ditemani secangkir kopi dan beberapa klepusan, santai menikmati suasana.

Menjelang maghrib, Tarjo memutuskan untuk pulang. Toh anak-anak pecinta alam itu juga sudah mulai berkemas-kemas, pulang.

Panik melanda Tarjo ketika vespa itu ternyata tak bisa distarter. Sudah dicoba sampai kaki pegal tetap tak mau menyala.

Dan dia datang…

“kenapa boss??”, tanya pemuda tinggi itu sambil menggulung tali di pundaknya.

“gak tau ini vespa, mendadak ngambek gini. Perasaan tadi baik-baik aja pas berangkat”,  jawab Tarjo sambil tetap coba nyalakan vespa itu.

“Coba sini gue check!”, ucap pemuda itu. Meletakkan tali yang tadi sedang digulungnya, beralih ke vespa Tarjo.

Entahlah apa yang dia lakukan, yang Tarjo tau dia berterima kasih sekali ketika akhirnya vespa itu hidup juga. Dan perkenalan singkat pun terjadi. Beni, nama pemuda itu. Tukeran nomor handphone, Tarjo meluncur pulang dengan lega.

-*-*-

Sebulan setelah perkenalan yang singkat itu, sebulan yang intens berkomunikasi satu sama lain, Tarjo dan Beni makin akrab. Sering hangout bareng, ngopi bareng yang kebetulan mereka juga punya warung kopi langganan yang sama.

-*-*-

“Jo, aku tahu ada sesuatu yang sama antara kita. Tentang rasa yang sama-sama kita nikmati tiap kali kita jalan entah kemana, bahkan mungkin saat kita sama-sama diam. Ya, aku pria, kau juga pria, tapi aku pernah dengar bahwa cinta tak berkelamin. Dan aku cinta sama kamu Jo. Jadi, sudikah kau membagi cinta denganku Jo?”

Tarjo masih ingat saja kata-kata itu, dua bulan semenjak perkenalan itu, di sebuah taman di kaki gunung pinggiran kota itu.

-*-*-

Pernah, suatu ketika ada teman Tarjo yang bercanda “Aish… akur bener. Siapa bapak siapa emak nih?”.

“Kami gay, pria yang menjalin cinta dengan pria. Jadi tak ada istilah mana bapak mana emak di antara kami. Kami mencintai antar sesama pria. Itu saja”, jawab Beni kalem namun terkesan tegas yang saat itu sukses membuat Tarjo melambung.

Mungkin kalau saat itu ada yang bertanya, siapa orang paling beruntung di dunia, Tarjo akan dengan penuh semangat menjawab, bahwa dialah yang paling bahagia.

Bagaimana tidak?! Beni mencintai Tarjo secara wajar, bukan berlebihan seperti dalam telenovela atau kisah cinta romansa. Beni mencintai Tarjo apa adanya, sebagai seorang pria, yang mencintai pria.

-*-*-

Ada pertemuan, maka perpisahan adalah penutupnya.

Ya, satu ketika, Tarjo harus meninggalkan kota itu. Karena amanat yang mau tak mau harus Tarjo jalani.

“Ben, sorry kalo gue harus pergi. Dan kupikir, meski menyakitkan, mungkin lebih baik kita sudahi kisah ini. Karena esok, kita sudah terpisah jarak yang tak dekat. Gue bukan gak sayang Lagi sama Lo Ben. Hanya saja, aku lebih percaya pada realitas. Kita berdua mau tak mau juga butuh sesuatu di luar konteks cinta. Dan gue gak mau kisah cinta kita yang selama ini indah, kelak harus berakhir luka, entah karena Lo, atau bahkan mungkin gue. Jadi gue lebih memilih untuk sudahi disini, di tempat yang sama dulu Lo meminangku, dengan satu akhir kisah yang manis. Agar kelak, kita sama-sama ringan menjalani hidup, apapun kisah kita nantinya”.

Kata-kata perpisahan itu hanya berbalas cium dan pelukan hangat, di suatu malam di tempat yang sama ketika dulu Beni mengatakan cintanya.

-*-*-

Kisah cinta Tarjo menyedihkan??
Ah tidak juga. Bahkan dengan keputusan yang Tarjo ambil, Tarjo jadi bersyukur bahwa dari awal hingga akhir, kisah cintanya dijalani dengan manis. Tak diakhiri dengan pengkhianatan salah satu dari mereka.

Karena Tarjo sadar,  biasanya ketika sebuah kisah cinta diakhiri dengan luka, maka hal-hal manis yang pernah ada seakan tak terlihat, tertutupi oleh luka.

Dan Tarjo tak mau kisahnya dengan Beni harus mengalami hal serupa.

:)

So, gays
bukan siapa-siapa yang menentukan kisah kita. Semua kembali ke diri kalian sendiri. Kisah macam apa yang ingin kalian punya.

be happy with your love (and life), gays
:)


2 thoughts on “Kita, Sutradara Untuk Kisah Kita

  1. Aaaakkk.. Abaaang kisahnya so sweet bener ini!! (ʃƪ♥ﻬ♥) Meskipun sekilas tapi pesannya dapet. Oh, abang Beni.. Dimanapun kau berada tetaplah menjadi sosok gagah yang dulu menjadi pelabuhan dimana hati Bang Tarjo pernah bersandar. :”)

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s