Bahkan Jujur Pun Tak Mudah

Di negeri kita tercinta ini, kadang ingin menjadi orang jujur pun tak semudah mengucapkan sapaan “selamat pagi”. Dan aku punya cerita tentang itu.

 Beberapa hari yang lalu, saat itu, malam ketika aku harus menjemput salah satu relasi bisnis di sebuah bandara internasional di area dimana aku tinggal. Ah, tak perlu kuperjelas nama dan lokasinya juga.

Tepat jam 8 malam, pesawat yang ditumpangi orang yang harus kujemput, datang tanpa delay sama sekali. Bertutur sapa seadanya sekedar mengucapkan selamat datang, kubimbing mereka ke mobil yang kuparkir tak terlalu jauh dari terminal kedatangan.

 Saat membantu mereka memasukkan barang-barang bawaan yang lumayan banyak ke dalam bagasi, kutemukan seonggok tas hitam tepat di bawah pintu bagasi mobil yang kubawa.

 “Excusme me, is it from one of you guys??”, tanyaku pada orang-orang itu.

 “No, that’s not from me”, jawaban yang sama dari orang-orang itu.

 “Oh, i guess somebody forgot to take it. So, i think i’m gonna bring it to the airport security office. May i??”, tentu aku harus meminta permisi.

 “Oh, so sorry, but we’re in a rush to meet somebody. They have been waiting for so long for us. And also, internationally, you can just call for that kind of thing, and later the office will contact you when there’s somebody make a report about any lost”, jawab salah satu dari mereka yang dari awal nampak terburu-buru.

 Baiklah, aku juga tak bisa seenaknya ngeloyor pergi meninggalkan mereka tanpa ijin. Maka kupenuhi anjuran mereka.

Kuantarkan mereka ke tempat tujuan mereka, sebelum akhirnya aku pulang.

Sampai di rumah, aku periksa isi tas hitam itu. Berharap ada satu petunjuk yang bisa menunjukkan siapa pemilik tas itu, agar bisa kuhubungi.

 Sebuah laptop jadul tanpa charger, sekotak kecil anting, beberapa lembar kertas notulen yang penuh aksara korea tanpa aksara latin satu pun dan satu sachet kue bolu yang kemasannya juga beraksara korea. Itu saja. Tanpa kartu nama, tanpa identitas sama sekali.

 Mencoba lancang, aku menyalakan laptop itu. Mungkin saja bisa kutemukan suatu file yang menunjukkan siapa pemilik laptop itu. Ah… ternyata di password bahkan pada sistem BIOSnya. Hebat!!!

 Kumasukkan lagi semua barang-barang itu ke tempatnya semula.

 Sungguh, menemukan barang seperti ini bagiku justru bukan berkah, melainkan beban. Beban pikiran dan perasaan. Karena bagiku sendiri laptop itu teramat penting. Aku sendiri akan kelimpungan kalau harus kehilangan laptop. Tak bisa kubayangkan bagaimana gelisahnya pemilik laptop itu mencari-cari barangnya.

 Keesokan harinya, pagi sekali kuhubungi pihak bandara melalui line telepon (Ya, tempat tinggalku tak sedekat itu dengan bandara). Setelah melalui beberapa tahapan “silakan-tekan-nomor-layanan-yang-anda-inginkan”, akhirnya tersambung juga dengan divisi barang hilang, di kantor keamanan bandara.

 Kujelaskan semua yang kualami, dan sedikit dongkol juga karena teleponku dijawab dengan diselingi cekikikan yang entah apa maksudnya. Sedang sambil bercanda dengan rekan kerja, kupikir. Oh Pak, tak tahukan Anda bahwa tak semudah itu menghubungi nomor telepon ini dan sekarang Anda berbicara seenaknya??. Dan dari semua cerita yang kusampaikan, jawaban yang kudapat hanya “Baiklah Pak, terima kasih sudah menghubungi kami. Nanti akan kami hubungi kalau ada yang melapor”, dan tanpa basa basi langsung menutup telepon. Dongkol??? Tak usah ditanya!

 Tapi ya sudahlah, kuikuti aturan mainnya.

 Sampai siang, kutunggu telepon dari pihak bandara. Senyap tak ada kabar berita. Masa iya tak ada yang melaporkan kehilangan??

 Lewat siang, telepon masih sunyi senyap. Sungguh, ini malah aku yang jadi gelisah seperti ini. Memegang barang penting milik orang itu, sungguh tanggung jawab yang tidak mengenakkan!!

 Sore, aku tak bisa menunggu lagi. Aku telepon lagi pihak bandara, masih dengan tahapan belibet yang sama. Masih dengan jawaban yang sama pula.

Ah, sungguh aku kecewa.

 Esok harinya, aku kebetulan ada perlu untuk mengantarkan seorang teman ke bandara. Kesempatan, jadi aku bisa berkonsultasi langsung dengan divisi keamanan bandara.

Dan kelar aku ceritakan semua kejadiannya, aku shock demi petugas itu memaksa untuk meminta kartu identitasku. Apa-apaan ini Pak?? Aku tidak mencuri!!! Kalau memang aku mencuri, lalu untuk apa aku melapor kesini??? Dan aku memang sengaja tak membawa barang yang kutemukan, atas saran seorang teman yang sudah hapal tingkah petugas keamanan bandara.

 Dengan kekecewaan luar biasa, aku meninggalkan kantor itu, cuek. Sebelum aku pergi aku sempat bilang “Begini saja Pak. Saya tinggali nomor saya. Jadi tolong kalau nanti ada yang merasa, tolong bapak hubungkan orang itu dengan saya,  agar bisa saya atur untuk ketemu dimana atau bagaimana nanti”.

 Siangnya, ketika sedang beristirahat dari kerjaan yang bertumpuk, telepon berdering. Nomor lokal.

 “Halo selamat siang”

 “Selamat siang, Mas Tarjo”

 “Siapa ini ya Pak? Maaf”

 “Ini yang tadi pagi handle Mas Tarjo di divisi keamanan bandara Mas.”

 “Oh Bapak, ya… gimana Pak?? Sudah ada orangnya??”, aku mendadak antusias.

 “Sebelumnya maaf Mas Tarjo, saya menelepon bukan untuk memberitahu hal itu. Karena menurut prosedur kami seharusnya Mas membawa barang tersebut langsung ke kantor kami. Jadi, bagaimana??? Masih tidak mau membawa barang tersebut, Mas?”

 Damn!

 “Pak, maaf nih ya. Tapi bukannya obrolan semacam ini sudah kita bahas tuntas tadi pagi ya Pak? Bukan itu yang saya inginkan Pak. Saya maunya, kalau ada yang merasa kehilangan, mohon Bapak beri nomor saya atau bisa juga beri nomor orang itu pada saya”, sebisa mungkin kubuat nada bicaraku tak meninggi.

 “Lah kalau mas maunya begitu, berarti kita apa donk?? Perantara?? Biro jodoh?? Kalau Mas memang mau dengan cara seperti itu, ya seharusnya tidak menghubungi kami”, jawabnya.

 “Oh begitu. Ya sudah Pak. Kita tutup saja kasus ini. Biar saya cari sendiri dengan cara saya. Terima kasih banyak untuk bantuannya. Anggap saja saya tidak pernah laporan apa-apa mengenai hal ini”, seharusnya dia sadar aku dongkol!

 “Ya sudahlah, Mas Tarjo. Kita ngobrol yang lain saja. Boleh kenalan lebih??”

 “HAH???!!! Maaf pak, saya harus kembali kerja. Terima kasih sudah menghubungi saya Pak. Selamat siang”, tanpa menunggu jawabannya, kututup telepon itu.

 Oh My… mau jadi orang baik saja harus sesusah ini??? Mengerti sekarang, kenapa orang tak mau sungkan untuk berbuat tak sebaik itu. Karena memang kadang dipersulit oleh keadaan.

 

Dear you, whoever there

So sorry for all, but i did my best


2 thoughts on “Bahkan Jujur Pun Tak Mudah

  1. penuturan nya menarik, saya baca dari awal hingga akhir, walau kalimat penutup nya agak belibet, overall saya suka, bagi saya melalui tulisan itu kamu berhasil menyajikan cerita ringan menjadi hal yang nikmat untuk disantap..

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s