Harus Seperti Inikah Cinta???

Catatan pertama sebelum membaca kisah di bawah ini:

Tulisan ini dibuat tanpa ada niat untuk meng-underestimate-kan mereka yang memilih menjadi seorang bisex. Swear, i have my own respect for them who can make it good.

 

Sebelum memulai cerita ini, ada baiknya Tarjo ceritakan siapa saja tokoh dalam cerita ini agar pembaca lebih mudah mengikuti alur cerita ini.

 

***

Dulu, sebelum mengenal Tarjo, Anton dan Martin adalah pasangan gay yang mungkin bisa dibilang tidak terlalu mudah dalam menjalani kisah cinta mereka. Anton sendiri adalah seorang lelaki yang memang sudah memutuskan untuk hidup sendiri, menikmati semua yang dia punya dalam kehidupannya sebagai seorang gay. Sedangkan Martin, adalah seorang bisex dengan tiga orang putra.

Beda prinsip membuat mereka tidak bisa terlalu lama melanjutkan hubungan terlarang mereka. Anton sendiri sudah tidak bisa memahami Martin yang makin hari makin jauh melangkah dalam kehidupan bisexnya. Mengkoleksi banyak pria sebagai pemuas birahinya, alih-alih bermesraan dengan istrinya.

Berusaha untuk putus baik-baik, Anton berharap agar bisa tetap berteman dengan Martin, mutlak sebagai teman.

Beberapa bulan yang lalu, Martin mengadakan pesta perkawinan dengan istrinya, yang ketiga belas tahun. Sudah berhasil melewati masa kritis perkawinan, katanya.

Saat itu Anton diundang, dan dia meminta Tarjo untuk menemaninya ke pesta itu. At least sebagai teman ngobrol lah, berjaga-jaga kalau nantinya pestanya akan membosankan.

Datang ke pesta itu, ah sungguh bukan pengalaman yang menyenangkan. Dari sekian banyak tamu undangan, hampir setengahnya adalah pria-pria, yang kemudian dari Anton Tarjo tahu, bahwa itu semua “teman-teman-mantan-ranjang” si Martin.

Oh damn.

Di pesta ulang tahun perkawinan kalian sendiri kau mengundang “teman bercinta”mu???

Informasi yang Tarjo terima membuat Tarjo merasa risih. Ingin segera angkat kaki dari tempat itu. Tapi, Tarjo juga kebetulan kenal baik dengan istri Martin. Tak etis kalau aku harus memaksa Anton meninggalkan pesta sebelum acara berakhir.

Tarjo hanya bisa menahan diri. Berusaha tak melihat apa yang jelas-jelas Tarjo lihat.

Selang beberapa bulan dari pesta itu, Martin dan istrinya mengadakan makan malam di kediaman mereka. Anton yang saat itu diundang, lagi-lagi meminta Tarjo untuk menemani.

Makan malam itu diawali dengan cocktail evening, sebagai awalan. Suasana berlangsung meriah. Anak-anak Martin yang masih kecil-kecil dan umur mereka yang tak berjarak terlalu jauh, membuat Tarjo betah bercanda ria dengan mereka. Tak memperdulikan oborolan orang-orang dewasa di rumah itu.

Kemudian, datang tamu undangan lain. Satu keluarga dengan dua anak kecil mereka. Oh ingat, itu khan yang waktu itu ada di pesta ulang tahun perkawinan waktu itu. Si Nando.

Suasana makin meriah, 5 anak kecil bercanda bersama, ah serasa mudah kembali Tarjo.

Suasana mendadak buram ketika pada saat acara makan, Anton membisikkan kata-kata yang membuat Tarjo mual.

“Si Nando ini pacar si Martin sekarang. Kabarnya mereka sekarang semakin serius. Mantap menjalani kisah cinta mereka diantara 2 rumah mereka masing-masing. Kadang-kadang di rumah ini, kadang mereka yang hijrah ke rumah Nando untuk beberapa malam. Besok ini mereka juga mau liburan ke pulau sebrang. Tadinya sih mau berdua saja, tapi karena takut istri-istri mereka curiga, akhirnya mereka membawa istri dan anak mereka, tapi memesan satu kamar esktra tanpa setahu mereka. Tadi pas kamu bercanda sama anak-anak itu, Martin memberi tahu aku”

Buram!

Makanan hasil masakan istri Martin yang tadinya begitu menggoda iman untuk tak melahapnya terlalu banyak, sekarang terlihat begitu menjijikkan. Tak kuat kalau aku harus makan dalam aura kebohongan yang sungguh terlalu seperti ini.

Bayangkan… sementara istri-istri mereka saling bantu membantu mengurus dapur dan anak mereka, terus mereka asyik bercinta????

Oh damn!

Tanpa menunggu hidangan penutup disajikan, aku memaksa Anton pamit pulang duluan. Mendadak sakit kepala menjadi alasanku satu-satunya. Padahal sejatinya, aku merasa busuk sendiri karena harus menjadi orang yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

***

———-

Menjadi saksi untuk sesuatu yang kita pandang sebagai sesuatu yang bisa membuat kita bergumam “oh my, that’s not so me!!” memang menyebalkan. Mengganggu pikiran dan seringkali mempengaruhi emosi dan kestabilan jiwa.

 

Kemarin, tepat sehari setelah natal, Tarjo diminta untuk menemani Anton, untuk mengambil beberapa barang pesanan yang harus segera diambil, di kediaman Martin.

Fiuh…

Dengan segala cerita yang Tarjo dengar dari banyak orang dan juga dari Anton, juga beberapa kali kesempatan yang membuat Tarjo harus benar-benar menyaksikan apa yang orang bicarakan, sebenarnya Tarjo sangat malas mengiyakan permintaan Anton.

But he begged on me!

So, dengan berat hari Tarjo iyakan permintaan Anton. Bahkan sebelum berangkat Tarjo mensyaratkan untuk sesegera mungkin menyelesaikan urusan itu dan secepatnya pergi.

Dan Anton berani mengiyakan.

Jadi berangkatlah kita. Dengan penuh keengganan pastinya.

Sampai disana, malang tak dapat ditolak, untung juga tak bisa diraih. Rumah Martin terlihat sedikit ramai dengan beberapa mobil yang terparkir rapi di depan rumahnya. Jadi kita hanya bisa parkir di tanah kosong di sisi kanan rumah itu. Tak apalah.

Ada si Nando dan keluarganya. Hmmmm… dari istri Martin akhirnya Tarjo tau bahwa kedok mereka kali ini adalah “perayaan ulang tahun Wisnu (anak Martin) yang ke 2”

Oh come on… anak umur segitu?? Dan lagi ulang tahun tu anak itu sudah lewat sebulan yang lalu!!! Alasan kalian terlalu bodoh!

Kami terpaksa harus memaksakan diri untuk sedikit berbasa-basi dengan mereka. Tak sopan rasanya kalau kita harus buru-buru pergi padahal istri-istri mereka sudah menyiapkan kudapan untuk kita.

Di satu moment, Martin memanggil kami ke bagian belakang rumah, dimana ada taman kecil nan apik menjadi ruang kecil dari rumah itu. Kami pikir barang yang harus kami ambil ada disana jadi kami menyusul kesana.

Ternyata Cuma ada Martin dan Nando. Mengajak ngobrol tentang ini itu. Tentang betapa bahagianya mereka menjalani “triple family” seperti yang sedang mereka nikmati. Tentang bagaimana saling sayangnya mereka satu sama lain.

Muak!

Dan di satu moment, setelah celingukan kanan kiri untuk meyakinkan diri bahwa tak ada orang lain di taman itu selain kami, mereka berdua ciuman. Di depan kami.

Ciuman mereka sih biasa saja. Hanya bibir ketemu bibir, bukan french kiss yang brutal.

Tapi di rumah ini??? Di depan Anton yang notabene adalah mantan Martin??? Di depan gue???

Enough… !!!

tanpa kata Tarjo melenggang pergi, niatnya ke ruang tamu. Tak ingin melihat hal lebih daripada yang sudah terjadi itu.

Dan perasaan Tarjo makin amburadul ketika melewati area dapur. Dimana istri-istri mereka sedang saling bantu mempersiapkan keperluan pesta tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu.

Belum lagi ketika melewati ruang keluarga, melihat 3 anak Martin dan 2 anak Nando bercanda riang.

Miris!

Tapi apa yang bisa Tarjo lakukan??? Teriak-teriak kesetanan bahwa suami-suami mereka adalah pasangan????

Gak mungkin khan?!

Entah apa, Tarjo sudah tak kuasa lagi menahan emosi. Duduk di ruang tamu sedikit menenangkan diri, Tarjo kirim SMS ke Anton yang masih berada di taman belakang.

“Kalau emang Lo masih sanggup melihat semua kebusukan yang terjadi di rumah ini, silakan. Gue udah dah gak sanggup. Gue pergi! Kalo Lo emang masih mau disini, silakan, Lo pulang naik taksi!”

Ternyata Anton respek. Beberapa menit kemudian Tarjo lihat dia menyusul ke ruang tamu dan segera berpamitan dengan semua orang. Tarjo juga pamitan.

Seperti tak puas dengan ending cerita yang begitu saja, Martin dan Nando ikut mengantarkan  kita ke tempat parkiran, berpura-pura membantu membawakan barang yang kita ambil, padahal kita tidak butuh bantuan sama sekali, secara itu hanya sebuah kotakan kecil berisi beberapa kado natal.

Di parkiran, sebelum kita menutup pintu, di balik keremangan tanah kosong tak berlampu itu, Martin dan Nando bergandengan tangan sambil berkata

“Doakan kami ya biar urusan lancar. Bulan depan kita mau ke Australia, berdua. Yah… anggap saja bulan madu. Jadi nanti tolong kalau istri-istri kami bertanya, bilang saja kami ada exhibiton kesana, seperti yang kita bilang pada mereka juga”

Dan Tarjo hanya bisa jawab dengan senyum yang sebisa mungkin kutahan agar tak nampak sinis.

Mereka pergi masuk ke rumah.

Emosi Tarjo sudah tak bisa dibendung lagi. Banting pintu dengan emosi meluap-luap, Tarjo hanya bisa melampiaskan kekesalan dengan menggebuk-gebuk setir berulang kali.

Ya.. Tarjo menangis saat itu. Menangis membayangkan semua yang terjadi di dalam rumah yang nampak bahagia itu dari luar pagar. Menangis membayangkan istri-istri mereka yang akrab satu sama lain tanpa menyadari apa yang sebenarnya terjadi antara suami-suami mereka. Dan menangis untuk anak-anak mereka yang terkhianati tanpa pernah mereka sadari.

Tarjo menangis sepuasnya.

“LAIN KALI, ADA URUSAN APAPUN LO DENGAN MEREKA, JANGAN PERNAH BAWA-BAWA DAN LIBATKAN GUE DALAM LINGKUNGAN BUSUK INI!!!! PERNAH GAK SIH LO BAYANGIN PERASAAN ISTRI-ISTRI DAN ANAK-ANAK MEREKA?????????” Teriak Tarjo saat itu.

Bersyukur mobil itu kedap suara.

Selanjutnya Tarjo nyetir dengan emosi, air mata emosi dan iba sudah tak jelas kemana arahnya.

Sedangkan Anton di samping depan, hanya bisa diam membiarkan Tarjo meluapkan emosinya, tenggelam juga dalam rasa bersalah telah membuat Tarjo harus melihat hal-hal seperti itu.

Ucapan Anton yang beberapa kali meminta maaf tak sanggup meredam emosi Tarjo yang sudah kepalang meledak. TARJO BERDUKA BAGI ANAK DAN ISTRI MEREKA.

 

Sekian, tanpa ending. Tarjo Cuma bisa menunggu ending seperti apa yang sekiranya akan menjadi “final match” dari kisah mereka.

 

Catatan penutup:

I do believe that bisex have their own heart to feel, either.


4 thoughts on “Harus Seperti Inikah Cinta???

  1. jarang ada ending yang happy :'(
    kalo aku nonton film mereka yang bisex endingnya selalu tragis.
    ex : david birthday, undertow, forzen flower. <<<<——- semua endingnya TRAGIS.
    selalu ada yg dijadikan korban. sementara ada ga yang cewe ato cowo rela nerima pasangannya bisex dan hidup berumah tangga bertiga. sebel deh.

    1. Wahh
      Bisa dibilang permintaan yang susah ya kalo dinda minta ada keluarga bisex dimana si perempuan bisa menerima dan hidup bertiga.
      Swear, that’s never easy, especially fof the woman.
      Se-menerima2-nya seorang wanita terhadap gay, bukan berarti mereka menerima juga dalam kehidupan sex-nya
      Mungkin 1 diantara seribu :)
      Sejauh yang Tarjo tahu (karena ada salah satu teman yang menjalani) sih, ada yang karena saking cintanya dengan lelaki itu, sampai tak mau dicerai. Dia membiarkan suaminya tetap “mendua asal dengan pria lain, bukan wanita lain”, dan… TIDAK PERLU DIA (si wanita) TAHU *alias temen minta jangan sampe dia liat dengan mata kepala sendiri.

      Yang banyak terjadi???
      Masalah bukan pada wanitanya, tapi pria pasangan si bisex tadi.
      Biasanya ada yang berprinsip “silakan kamu menjalin relasi dengan wanita manapun, asal jangan pria lain”
      :)

      Semoga bisa menjawab :)
      Terima kasih

  2. ini mah sama aja yah… :

    “mendua asal dengan pria lain, bukan wanita lain”
    “silakan kamu menjalin relasi dengan wanita manapun, asal jangan pria lain”

    yang cewe bolehin asal sama cowo,
    yang cowo bolehin asal sama cewe.

    buat yang bisex sebaiknya dari awal open aja sama pasangannya biar bisa terima apa adanya. unconditionally love.

    oh what a life….

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s