Homophobia dan Discreet vs Open Gay

Topik yang berat sepertinya???

Ah, tergantung bagaimana cara kita memandangnya saja koq.

Ayoklah bahas satu persatu :)

 

Homophobia

Menurut wikipedia :

Homophobia adalah ketakutan, keengganan, atau diskriminasi terhadap individu homoseksual. 

Menurut Tarjo sendiri :

Keadaan dimana seorang gay belum bisa menerima keadaan dirinya sendiri sehingga cenderung mencari penyalahan-penyalahan terhadap dunia gay sekitarnya, hanya untuk sekedar pencitraan bahwa dia tidak termasuk di antara mereka.

Biasanya, sejauh yang Tarjo amati, seorang homophobia memiliki reaksi negatif yang terlalu berlebihan ketika membicarakan topik seputar dunia gay, atau ketika dia melihat sesuatu yang “hey.. that’s so gay”.

“eh sumpah ya itu jijik banget lihat si o–a. Homo banget dah gayanya”

Atau

“Ogah banget gue jalan ke tempat itu. Di sana khan banyak homonya”

Hahahahahahahaha… please dude, behave yourself, real straight don’t react such that way!!! It just show how denial you are!!!

And really sorry to say deh, homophobia itu kebanyakan adalah gay curious, yang penasaran banget seperti apa dan bagaimana nikmatnya kehidupan gay itu. Tapi mereka mencari tahu dengan cara mereka sendiri, sambil terus mengatakan pada diri sendiri “gue gak gitu”, tapi penasarannya juga jalan terus!!!

Homophobia just like a bomb, wait until your feeling will explode and in the end of story, you’ll say “oh damn, it’s really nice thing!!!”

Pasti tahu situs diskusi besar milik indonesia yang memiliki ribuan thread yang sangat informatif itu khan??? Tengok saja disana, bertebaran yang namanya homophobia. Dan coba lihat reaksi-reaksinya kalau mereka sedang membahas sesuatu yang mendadak bersinggungan dengan dunia gay.

Bakal kelihatan jelas mana yang straight, straight gay friendly, HOMOPHOBIA, dan yang “yes i am gay”

:)

Lanjut bahasan selanjutnya……………………………………………………

 

Discreet vs Open Gay

Discreet adalah kondisi dimana seorang gay berupaya untuk tak ada seorang pun tahu tentang ke-gay-an mereka (kecuali dengan pasangan mereka sendiri tentunya), sehingga memunculkan tindakan-tindakan yang dirasa perlu untuk dijadikan alibinya.

Discreet sendiri dibagi dalam dua jenis.

discreet  pertama, adalah discreet yang dikarenakan orang yang tidak terlalu mengenal kehidupan sosial sehingga di pikirannya, segala sesuatu yang dia lakukan dengan pasangannya seolah-olah bisa membuka tabir dirinya, seolah-olah bisa menjadi pengumuman tak bersuara seumpama “hey everybody, i am gay and we are couple!”

ketemu di lingkungan kampus sekedar menjemput, tidak mau, takut ketahuan katanya. Sekedar menerima telepon di tempat dimana ada orang yang dikenalnya, tidak mau, takut ketahuan katanya (hah? Gak di loudspeaker juga khan?!). ketemu pasangan Cuma pelukan biasa tanpa gairah, gak mau, takut ketahuan katanya.

Oh come on dear, straight do those kind of things!!! Gak ada salahnya tuh pria jemput temannya di kampusnya, atau pria telepon temannya menanyakan kabar, atau, gak pernah liat pria pelukan persahabatan dengan temannya ketika ketemu??!!

Poor you!

discreet yang kedua, adalah discreet yang dikarenakan dia sadar betul siapa dirinya dalam lingkungan masyarakat yang ditinggalinya, dan justru karena beragamnya manusia yang di kenalnya, yang dengan pertimbangan matang dan beralasan, membuat dirinya untuk discreet, sewajarnya.

Discreet jenis ini, lebih bisa dikatakan wajar karena orang yang begini memiliki lingkungan sosial yang luas sehingga mengerti benar apa yang wajar dilakukan oleh straight dan mana yang sudah cenderung “show it off”. Mereka tidak terkekang oleh ketakutan mereka untuk ketahuan karena mereka tahu bagaimana bersikap dengan batasan wajar, sekalipun dengan pasangannya.

Ada celetukan seperti ini

“ah… yang namanya di Indonesia, negara yang belum terbuka akan gay, ya pastinya lah orang itu pasti discreet. Ada gitu yang open?”

Huehehehehe… pemikiran seperti itu tidak bisa disalahkan, karena memang sedikit benar. Tarjo bilang sedikit karena tidak sepenuhnya benar.

Ada koq (dan tidak sedikit juga) yang memang terbuka tentang orientasi seks-nya.

Mungkin akan sedikit enak kalau kita bilang bahwa, yang membedakan antara orang satu dengan orang lainnya adalah tingkat ke-discreet-annya.

Contohnya, kita lihat lah tadi pada perumpaan untuk jenis discreet yang pertama. Discreet yang seperti itu bisa kita katakan discreet tingkat akut atau katakanlah secara numerik sudah mencapai skala 9. Segala tindakan kecil begitu dia khawatirkan karena dia tidak memiliki pergaulan yang terlalu luas, sehingga tidak menyadari bahwa hal yang dia takutkan sebenarnya adalah sangat wajar, di dunia straight sekalipun. Dan kalian tahu?? Kekikukkan mereka dalam bersikap itu justru yang semakin menunjukkan bahwa memang ada sesuatu yang beda di antara dia dan “temannya” itu.

Sebaliknya, kasus yang kedua mungkin bisa kita ibaratkan tingkat discreet-nya hanya mencapai angka 3. Wajar sewajar-wajarnya :)

 

Lalu,

Apakah tulisan ini menganjurkan pembaca untuk segera open yourself menjadi gay terbuka??

Eits.. jangan mengambil kesimpulan dulu.

Jadi ingat obrolan dengan seorang adik-ketemu-gede Tarjo suatu hari. Dia adalah seorang anak tunggal, anak laki-laki satunya di keluarganya.

“Kak… kadang aku itu iri dengan kakak, yang sudah terbuka dengan kehidupan yang kakak miliki, meskipun keluarga masih belum mengetahui. Tapi paling tidak teman-teman dan lingkungan sosial kakak sudah tahu siapa sebenarnya kakak, jadi kakak juga enak untuk bersikap dengan mereka. Begitu juga dengan mereka, tahu bagaimana bersikap dengan kakak. Kadang pengen ngaku aja kayak kakak… “, ucapnya ketika itu.

Dan Tarjo tersenyum, lalu menjawab  “Kita ini beda kondisi, gak bisa disamaratakan dengan jamak. Kakak khan di rantau dengan kondisi lingkungan yang kakak temui itu semuanya baru, wajar kalau kakak bisa berfikir, for what i keep myself discreet. Toh di lingkungan baru ini kakak bisa saja berujar, terima ya syukur, gak ya good bye. Sedangkan Ade’ disini khan lingkungan sesungguhnya Ade’. Keluarga kecil dan keluarga besar Ade’ ada disini semua, lagi, Ade’ dari kecil tumbuh kembang disini. Jadi untuk apa?? Sekedar mencari pembenaran diri agar bisa bebas bermesraan dengan pacar Ade’? Apa itu tujuan hidup Ade’??”

“Ya gak gitu juga sih, Kak”, sergahnya lirih.

“Menjadi gay yang terbuka di lingkungan sosialnya itu tak semudah yang kamu lihat sekarang ini De’. Butuh pertimbangan yang lebih dari sekedar “have fun and easy way to be loved”. Lagipula, untuk apa sih Ade’ pengen terbuka? Bukankah itu hanya membuat shock orang tua dan semua-semuanya. Ade’ gak boleh egois hanya memikirkan diri Ade’ donk”, jawab Tarjo.

“Tapi khan ada ketenangan tersendiri kalau udah ngaku, Kak. Gak perlu berbohong ke semua orang sehubungan dengan orientasi seks-nya”, ngeyelnya.

“Sekarang Kakak tanya deh, Ade’ ngejalanin hubungan kayak gini mau dibawa seserius apa?? Sampai menikah entah di negeri mana dan entah dengan lelaki mana??”, tantang Tarjo.

“Ya gak juga lah, Kak. Gak sampai sejauh itu”, jawabnya.

“Nah, kalau hubungan ini hanya untuk sekedar dinikmati berdua dengan pasangan, sampai batas waktu yang Ade’ pun belum tahu, bukan untuk kehidupan serius sampai jauh, kenapa harus mengambil resiko dengan berpikiran untuk terbuka pada semua orang?? Itu hanya akan membuat mereka sakit hati, dan tidak mustahil juga hanya akan membuat Ade’ kehilangan tempat di hati dan lingkungan mereka. Ingat itu”.

“Iya juga sih, Kak”.

“Nah, jadi untuk posisi Ade’ ini, sudahlah lupakan pemikiran itu.Cukup jalani dan nikmati apa yang sekarang Ade’ punya dengan pacar Ade’ sekarang. Toh kakak lihat kalian juga enjoy koq, berpuas diri lah, toh kalian juga masih bisa menikmati cinta kalian khan. Lagian cinta khan yang menikmati juga kalian berdua, gak perlu lah diumbar Cuma demi kepuasan semata”, jawaban Tarjo menutup pembicaraan.

 

See?!

Jadi kalau ada yang berfikir bahwa untuk menjadi gay terbuka hanya soal keberanian pribadi orang itu, SALAH.

Butuh lebih banyak alasan selain keberanian dan keinginan untuk bisa ber”kencan” dengan mudah.

Pertimbangkan seberapa besar pengharapan keluarga, seberapa besar keterbukaan wawasan lingkungan dimana kau berada, pertimbangkan efeknya bagi profesi kehidupanmu, dan banyak lagi pertimbangan lain.

Jangan sampai memutuskan untuk begitu terbuka hanya karena ingin merasa nyaman dan mudah untuk ditemukan sehingga mudah ketemu pasangan.

Oh come on, dear. Nyaman itu bisa diciptakan dengan cara yang tidak perlu menyakiti juga koq

Apalagi sekarang semakin banyak sosial media yang bisa mendukungmu untuk mencari teman sehati dengan mudah tanpa perlu meresikokan kehidupan pribadimu, kebutuhanmu untuk menjadi gay terbuka semakin kecil.

Dan kembali ke pribadi masing-masing, kebutuhan personal khan berbeda-beda tiap manusia.

Seperti Tarjo sendiri misalnya, di lingkungan ini sejauh ini dengan pertimbangan yang sudah dilakukan, memang dirasa tidak perlu terlalu tertutup, ya Tarjo terbuka. Simple

So, yang terbuka, hargai pilihan mereka-mereka yang memilih atau terpaksa memilih untuk tetap merahasiakan apa yang mereka rasakan. Dan yang sudah open, hargai juga pilihan mereka-mereka yang discreet dengan tidak bertingkah yang bagi mereka bisa membongkar segalanya

:)


17 thoughts on “Homophobia dan Discreet vs Open Gay

  1. quote and question :

    “….meskipun keluarga masih belum mengetahui…”
    “….ngejalanin hubungan kayak gini mau dibawa seserius apa?? Sampai menikah entah di negeri mana dan entah dengan lelaki mana??”
    “Sekedar mencari pembenaran diri agar bisa bebas bermesraan dengan pacar Ade’? Apa itu tujuan hidup Ade’??” <<<—– tujuan hidup abang jo sendiri kedepannya gimana?

    "sampai batas waktu yang Ade’ pun belum tahu, bukan untuk kehidupan serius sampai jauh, kenapa harus mengambil resiko dengan berpikiran untuk terbuka pada semua orang??" <<<—– bearti ada kemungkinan pada suatu titik akan berubah kembali untuk tidak gay atau bagaimana? jadi gay itu panggilan jiwa, bawaan lahir ato apa? *alis nyatu kening berkerut sekerut-kerutnya*

    "kenapa harus mengambil resiko dengan berpikiran untuk terbuka pada semua orang?? Itu hanya akan membuat mereka sakit hati, dan tidak mustahil juga hanya akan membuat Ade’ kehilangan tempat di hati dan lingkungan mereka. Ingat itu”. <<<<——- jadi maksudnya membohongi diri sendiri, (maap) muna?

    "Nyaman itu bisa diciptakan dengan cara yang tidak perlu menyakiti juga koq" <<<—- tapi dengan mengorbankan perasaan kalian sendiri? :((((((

    1. Wuih mantap pertanyaannya
      Coba dijawab ya :)

      1. Tujuan hiduo abang jo sendiri?
      –> maaf kata nih ya gak bisa dijawab :) paling tidak, gak di blog ini :)

      2. Berarti ada kemungkinan pada suatu titik akan berubah kembali untuk tidak gay atau gimana?
      –> tiap orang itu berbeda dalam menyikapi ke-gay-an mereka. Ada yang sebatas “now i enjoy and just doint it, later? Think later” namun ada pula yang memang untuk selamanya (jarang!). Nah yang buanyak terjadi, adalah type yang “sekarang gue gay, tapi suatu saat nanti paati gue nikah! Dengan cewek!”
      Please remind that here is (still) indonesia, dimana norma dan hukum sosial itu masih mahatinggi :)
      Dan di kasus contoh itu, adalah yang terakhir itu :)

      3. Gay panggilan jiwa, bawaan lahir atau apa?
      –> beda orang beda type, dear. Penelitian (yang pernah Tarjo baca bahkan) berani menyebuy bahwa gay ada faktor genetis juga.
      Tapi yang pasti, banyak faktor kenapa seseorang akhirnya berkata “OK, i’m gay”.
      Di antaranya: traumatik, lingkungan sosial tempat dimana dia bergaul, pekerjaan dan lain sebagainya
      :)

      4. Jadi, maksudnya membohongi diri? Muna?
      Bukan membohongi diri, bukan pula muna. Tapi memang pada dasarnya disini khan hal ini belum bisa diterima secara terbuka.
      Siapa sih yang gak pengen terbuka?
      Siapa sih yang gak pengen direstui?
      Siapa sih yang gak pengen dengan girangnya pamer “ini loh pacarku!”
      Gak ada!
      Pasti semuanya pengen.
      Tapi… pertimbangannya itu bukan sekedar “gue pengen…”, melainkan ada banyak faktor “kecintaan” lain yang musti dipertimbangkan.
      Orang tua, misalnya.
      :)

      5. Tapi dengan mengorbankan perasaan kalian?
      Sebenarnya kalo kita bijak pada diri sendiri, gak ada loh yang perlu dikorbankan.
      Apa? Urusan cinta dengan lelaki yang merasa “dikorbankan”?
      Ah come on
      Kami ini lelaki, yang tahu persis ketika kami mengambil keputusan, suka atau tidak, akan ada beberapa efek yang kita tidak harapkan.
      Mungkin itu ya yang dimaksud denngan “berkorban” ya??
      Dan kalaupun memang iya, darling… please note, kadang hidup itu memang perlu mengorbankan sesuatu, bahkan kadang sesuatu yang melebihi hidup kita sendiri.
      That’s life
      :)

  2. –> maaf kata nih ya gak bisa dijawab :) paling tidak, gak di blog ini :) -> so, dimana dong???

    “now i enjoy and just doint it, later? Think later” —-> temen aku tipe yg ini nih

    diantaranya: traumatik, lingkungan sosial tempat dimana dia bergaul, pekerjaan dan lain sebagainya :) —-> kalo abang?? (aura2nya sih maaf kata lagi inih… -___-)

    untuk point 5. harus kuat2 iman yah… :D

  3. Mas mau nanya, temen saya(dulunya pacar) umur 19taun, dia suka laki-lako dari tk katanya. Yang bawaan dari kecil gitu (bukan dari lingkungan atau kerjaan) itu apa bisa betubah? Tiap saya tanya sih dia katanya juga pengen nikah sama perempuan, pengen punya anak juga. Tp gimana ya ngeliat nya kok kayak gak serius gitu mau berubahnya.. Oiya keluarganya gak tau, tapi temen2nya sebagian besar tau.
    Nah terus dengan kapasitas saya sebagai temen, saya harus gmn terhadap dia? Ngedukung dia untuk berubah atau tetep ngebiarin dia enjoy dulu dengan keadaan yang kayak sekarang? Btw, saya perempuan.

    1. Dear Rayna,
      Terima kasih sudah mampir
      Tarjo coba jawab semampu Tarjo ya
      Kalo berdasar cerita Rayna, mungkin temen kamu itu termasuk yang bawain lahir/genetika
      (Genetika tak harus selalu karena ortunya ada gen untuk menjadi gay, ya)
      Dan yang begini lebih sulit untuk “diubah” orientasi seksualnya daripada gay dengan penyebab lain.
      Soal dia suatu hari pengen nikah, yakin itu “keinginan dari hati”nya?? Bukan karena tuntutan sosial dan sebagainya??
      Karena beda alasan beda penanganan :)
      Kapasitasmu sebagai teman, ya seharusnya bisa mendukung keputusan hidup yang dia ambil. Dan menjadi pengingat dari keputusannya itu.
      :)
      Sekian

      1. Iya, saa juga lernah baca sih kalau yang dari jecil itu susah berubahnya. Saya juga pernah bilang sama dia, tapi dia bilang “susah bukan berarti gak mungkin kan? Aku mau berubah, gak mau selamanya kaya gini. Aku juga mau berkeluarga nanti, punya istri punya anak” dia jawabnya gitu dan yaudah saya pikir mungkin memang dia mau berubah.. Kalau dulu dia gabung di komunitas gay gitu2 dari grup bbm nya, tapi sekarang dia udah gak pake bb lagi katanya mau ninggalin.. Apa iti juga satu bentuk keseriusan dia untuk berubah ya?
        Iya saya mah dukung aja dia sama keputusannya.. :)
        Maaf loh mas jadi curhat begini, maaf kalau ngerepotin :)

      2. Dear Rayna,

        Nah
        Berati, disini, kapasitasmu sebagai teman adalah mengingatkan dia, bahwa dia udah punya tujuan akhir yang seperti itu
        Tegur dia kalau dia sudah mulai “mundur selangkah” dari usaha yang dia lakukan.
        Ini bukan soal menyembuhkan karena memang tidak ada yang perlu disembuhkan, tapi mengambil keputusan.
        :)
        Jangan sungkan bertanya, ya :)

  4. Iya mas, saya juga suka sebel kalau ada orang yang bilang kalau gay ini “penyakit” yang suatu saat bisa “sembuh” soalnya menurut saya jjuga ini bukan penyakit kan…. -_-
    ih makasih bgt loh ini mas jadi terbuka pikiran.. Hihihi..
    Oiya menurut mas gimana gay yang macarin perempuan? Dia beneran pernah ada perasaan sama si perempuan itu atau cuma supaya terlihat sama dengan yg “normal”?

    1. Dear Rayna,
      :)
      Kalau soal gay macarin perempuan, harus ditelaah bener, gak bisa asal judge
      Benarkah dia gay? Atau memang biseks yang memang mencintai 2 gender?
      Beda kasus soalnya.
      Namun sayangnya, tak munafik apalagi menampik
      Di negeri kita yang kultur budaya dan norma-nya kuat, lebih banyak yang condong pada alasan kedua, memacari perempuan karena aturan “keberadaan sebagai pria”
      Begitu kurang lebihnya
      :)

      1. dia sih udah ngaku bener kalau dia memang gay dari kecil sama saya, tapi katanya pas kenal saya baru dia bisa suka sama perempuan, dan baru saya aja perempuan yang dia suka, selebihnya kesini-sininya dia suka sama laki-laki lagi.. kalau kayak gitu namanya apa tuh mas?

      2. maaf ini mas kalau saya banyak komen kayak gini.. habis gak ada yang bisa diajak cerita. orang-orang disekitar saya pikirannya pada gak kebuka.. takutnya kalau saya cerita ke mereka, saya dipaksa ngejauhin temen saya ini.. saya gak bisa ngejauhin dia soalnya… udah pernah nyoba ngejauhin tapi gak bisa tetep..

      3. Dear,

        Santai saja
        Itulah tujuan blog dibuat, khan?!
        Untuk ajang diskusi :)

        Soal dia, hmmmmmm…. Mungkin seperti yang dia bilang, cuma kamu yang dia “suka”. Suka nih ya, perkara cinta, itu lain soal.

        Gak usah dijauhi, dan juga gak usah terlalu dibawa serius. Toh cuma temen khan?!
        Udah bukan pacar lagi khan?!
        Ada waktu, silakan berkumpul, gak ya kembali ke kehidupan masing2. Yakin koq dia manusia dewasa yang (seharusnya) tau mana mana jalur yang musti dia ambil untuk hidupnya.
        Pun dengan konsekuensinya masing2
        Begitu, Rayna
        :)

  5. :’) bagus sekali mas jawabannya hihihii..
    Oiya, habis saya kasih tau kalau dia gay mungkin karena genetik.. Temen saya ini jadi berniat untuk periksa ke dokter katanya mas.. Dia mau periksa kromosom-kromosom gitu katanya, sama hormon-hormon gitu.. apalagi gitu, gak ngerti deh.. Tapi pas bilang itu mukanya excited dan serius. Nah saya bingung, emangnya bisa ya diperiksa ke dokter gitu?

    1. Dear,

      Periksa gen ke dokter??
      Check DNA maksudnya?
      Bwakakakakakakakakakaka
      What a morning laugh
      Please tell me that you’re joking

      Please note yes before you have mind to do that
      1. Waste your money. Don’t ever think that DNA test is cheap. Never and would never!
      2. Waste your time.
      3. Waste your life

      Lagian buat apa sih Rayna????
      Dipikir kaLo bisa tau gen-nya trus mau diLaser biar bener?
      Haahahahaha
      It isn’t cancer neither toumor!
      LoL!!!!!

      Masalah hati saja lahhh
      Being gay, then go ahead.
      Mau mencoba kembali jadi straight, ya bulatkan tekad.
      Just that simple :)

      Note:
      Thank you to make me laugh out loud this morning :D

      1. Gak tau tuh dia.. Bukan saya. Kan saya cuma nunjukin reply mas yg sebelumnya, eh dia malah bilang mau periksa gitu2. Saya juga bilang “buat apaan sih mas? Gak jelas ih” katanya dia “iya, aku kan juga pengen tau apaan yang salah sampe aku bisa kayak gini” *muka serius* terus saya jawab “gak ada yang salah sih mas… Ngapain sih ah udah gausah deh. Mending uangnya tabung buat nambahin kita liburan” tapi pas saya sampe rumah, dia sms dan masih bahas soal mau periksa itu.. Nih reply nya mas yg sekarang aku tunjukin ah ke dia biar dia gak serius mau periksa. Hehehee

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s