DURI

Adit gamang. Setengah botol vodka yang sudah ditenggaknya tanpa campuran, tak juga mampu menghilangkan ingatannya tentang peristiwa tadi sore. Badannya limbung, kepala berat, tapi hati dan rasa tetap saja nanar, bingar.

 Jiwa terluka sebagai kekasih, ingin menangis. Dilawan oleh sifat egonya sebagai lelaki yang lebih sering menganggap hina air mata, menyudutkannya pada pojok busuk di kamar sempit rumah kost-nya.

 “Kau sudah tahu konsekuensi dari hubungan yang kita miliki, dan kita sudah cukup waras untuk menerima keadaan yang demikian, tapi tiap kali masa-masa seperti ini datang, kau selalu saja menyudutkanku dengan perasaan terhinamu! Bukankah tanpa perlu kuminta pun seharusnya kau tahu bahwa memang kau harus pergi! Sudahi pertengkaran drama ini! Tak ada yang salah dengan cintaku padamu, tapi kenyataannya memang begini keadaannya!

 Seperti seorang pelacur. Selalu itu rasa yang sama ketika saat-saat yang paling dia benci di hidupnya datang. Saat-saat dimana Adit hanya bisa menahan sakit hati, cemburu, terhina…. dan sekali lagi, perasaan seperti seorang pelacur.

Dan rasa itu bukan muncul sekali dua kali

Tapi tiap kali moment-moment seperti ini harus datang.

 Di situlah Adit saat ini. Di pojok sepi kamar kecil rumah kost-nya, sendiri, sepi dan sakit hati.

Hanya berteman sebotol vodka yang sedari tadi gamang dia genggam, dan entah berapa puntung rokok yang sudah mengkerut terisap. Abunya bertebaran tanpa pola.

 

– * – * – * – * –

 

Mulanya cuma perkenalan biasa ketika dia, Reza, nimbrung ngobrol bersama kerumunannya. Belakangan dia tahu ternyata dia teman dari Joe, temannya yang saat itu berada di tempat yang sama.

 Perkenalan singkat itu pun berlangsung biasa saja. Sekedar tanya nama dan kegiatan sehari-harinya. Pertanyaan klasik yang umum. Meski sedikit merasa ada yang salah dengan tatapan Reza, tapi Adit berusaha untuk tak terlalu menanggapinya. Mungkin itu cuma perasaanku saja, pikirnya saat itu.

 Pemikiran yang terbukti salah keesokan harinya.

 

“Dit, si Reza minta nomor hapemu nih, aku kasih gak?”

Joe.

 

“Eh, ada apa nih? Kasih aja deh. Siapa tau emang dia ada perlu sama aku”

Sent.

 

“Hai Adit, makasih sudah ngijinin Joe ngasih nomormu. Apa kabar pagi ini? Hangover sudah lewat, khan?!”

Reza.

 

“Eh kamu Rez. Hangover apaan orang aku cuma minum segelas cocktail doank semalam. Hari ini ada kuliah jadi gak niat buat menggila semalam. Ada apa nih?”

Sent.

 

“Oh kirain. Gak ada apa-apa sih. Cuma pengen kenalan lebih dari obrolan basa basi semalam kalo boleh”

Reza.

 

“Hahahaha… ya boleh lah. Kirain ada apaan. Tapi sambung ntar ya. Aku mau berangkat kuliah dulu nih. Udah siang soalnya”

Sent.

 

“Seep seep. See you later”

Reza.

 

– * – * – * – * –

 

Dan perkenalan mereka hari itu ternyata berlanjut makin akrab tiap harinya. Reza seperti menyeret Adit pada kisah-kisah yang lebih dalam. Dan Adit menikmati. Keadaan dirinya adalah sendiri di tanah itu, juga kebiasaan-kebiasaan dulu ketika dia masih bersama kekasihnya dulu, membuat sosok Reza terlihat begitu indah adanya.

 

– * – * – * – * –

 

“Kau sinting ya, Dit! Aku pikir kau itu manusia cerdas yang jauh dari kata semacam desperate atau semacamnya. Kau baik-baik aja khan, Dit??” cerocos Joe.

 “Ini bukan desperate atau haus kasih atau apa, Joe. Please jangan sudutkan aku pada tempat sehina itu! Aku cinta dia, sayang dia, apapun kondisinya. That’s it!

 “Dengan melupakan kenyataan bahwa kau tau dia sudah punya cowok juga meski jauh di luar sana?? Dengan melupakan kenyataan bahwa arti hadirmu bagi dia itu tak lebih dari selingkuhan semata? Gitu?” Joe, brutal mencerca.

 “Tak perlu kau ingatkan, aku sudah mengetahuinya dari awal. Reza sendiri yang dengan gentle menceritakan semua kondisi tentang dirinya. Dan aku harus apa, Joe??? Awalnya aku juga merasa terhina ketika suatu malam dia menceritakan semuanya! Tapi aku juga tak bisa membohongi diri sendiri ketika keesokan paginya dengan pikiran kosong aku sudah berdiri di depan pintu rumahnya, mengetuk pintu dengan pikiran yang hanya terisi kata-kata “aku cinta padamu tanpa kecuali”. Salah?!”

 “Kau sinting, Dit!”

 “Sinting untuk mencintainya?? Sinting untuk hanya bisa menerima kenyataan bahwa dia dan pria tercintanya itu sudah menjalin rumah tangga selama 10 tahun dan tak mungkin aku goyahkan dengan kasih yang kuhamparkan??? Aku juga tak pernah berniat mengusik hubungan mereka! Aku cukup tahu diri untuk sekedar menjadi bayang ketika pria itu sejenak pergi dari kehidupan Reza. Aku sadar betul akan hal itu, Joe!!!”

 “Itu mutlak keputusanmu, Dit. Aku sebagai teman cuma sekedar mengingatkan dan mempertanyakan tentang apa yang terjadi di depan mataku. Itu karena aku peduli. Tapi kembali ke dirimu, aku yakin kamu sudah cukup dewasa untuk mengetahui setiap konsekuensi dari tindakan atau jalan yang kamu pilih. Tapi mau sampai kapan????”.

 “Entahlah, hanya pertanyaan itu yang belum bisa kujawab”.

 

– * – * – * – * –

 

Adit terpekur, masih di pojokan kamar sempit rumah kost itu. Botol vodka yang tadi digenggam, kini kosong, terkulai tak jauh dari kakinya.

Bahkan rokok yang tadi terselip di jemarinya, masih berada disana. Mati karena lupa tak terisap, atau sudah tak ada daya.

Adit tertidur

Karena mabuk

Karena lelah

Karena sakit hati

 

Besok dia akan terbangun dengan kepeningan yang dahsyat di kepalanya,

dan keheningan yang pekat di hatinya,

mengingat bahwa dia harus menahan diri untuk seolah tak pernah mengenal Reza dalam hidupnya.

Paling tidak selama seminggu

Paling tidak selama kekasih hati Reza sedang berada disana

Seminggu

Seminggu setelah malam ini, pelukan Reza akan menjadi miliknya, hanya miliknya

Mungkin untuk 2 bulan ke depan

Bisa jadi 3 bulan ke depan

Sebelum dilema semacam ini datang lagi, hari dimana kekasih Reza datang kembali, selama 7 hari

 

 

Note:

Based on true story

Kesamaan nama hanya kebetulan belaka, tak ada niat intimidasi J


4 thoughts on “DURI

  1. iya itu di tulisan terakhir abang “tak ada niat intimidasi J” J-nya itu saha?

    ga sengaja kepencet “J” ? jadi intimidasi J ato J dari Joe? tapi joe kan bukan tokoh utama disini. :/

    1. Dear,

      Wahhhhhh
      Gak sengaja kepencet
      Aduhhhh
      Maaf maaf
      Nanti kalo ada waktu dibuka pake PC
      Tarjo benerin deh
      Iya, Joe cuma cameo di kisah ini
      Makasih ya, Dinda
      :)

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s