First Love – Part 3 –

Di tribun supporter team, aku duduk kagum. Memandang sosok Anton yang bergerak lincah mempermainkan bola coklat.  Kadang konsentrasi terbelah, antara mengikuti jalannya pertandingan, atau fokus pada gerak gerik Anton di lapangan. Sialan!

Tadinya aku duduk menyempil di ujung atas tribun penonton umum, ketika akhirnya Anton mencariku, dan menyeret tanpa permisi ke tribun supporter team-nya ini. Dia mengenalkanku sebagai sahabat pada teman-teman team, yang langsung memberi satu kursi buatku.

Kadang diselingi rasa minder juga berada pada lingkungan hidup Anton yang sebenarnya. Anton dengan team basketnya yang kadang terlihat begitu “wah”, sedangkan aku? Tampak konyol dengan tampilan yang selalu saja asal-asalan, asal nyaman bagiku.

Tapi Anton tak pernah mempermasalahkannya. Dan dia pula yang sering membuat lupa hal sepele semacam itu, menumbuhkan kembali percaya diri yang kadang-kadang tanpa permisi pamit undur diri.

Pertandingan itu berlangsung seru. Selisih skor yang lumayan jauh mendekat akhir permainan, ditutup manis dengan sebuah lemparan 3 angka dari Anton di detik-detik terakhir sebelum peluit panjang penutup pertandingan menjerit.

“Bener, khan! Team-ku menang pertandingan hari ini. Brati kita lolos babak semifinal besok. Makanya aku bilang kamu buat bawa sekalian baju ganti. Nginep ya!”

“Halah songong! Besok itu baru semifinal, gak boleh sombong kalo belum laga final, tauk?!”, sahutku, sambil sedikit tinju di lengannya yang basah.

“Biarin. Jadi, kamu nginep khan?!”, cecarnya.

“Nginep dimana emang? Aku gak ada saudara di kota ini”.

“Di kamarku, lah. Tiap pemain di team ini dapat jatah satu kamar hotel selama kami bertanding di sini. Kayak gak tau aja team basket ini”.

“Songong!”, tukasku.

“Mau khan?! Awas kalau gak!”

“Ngancem koq hobi, sih?! Iya!”, sahutku.

Dan malam itu, tidurku tak nyenyak. Entahlah, menyadari ada seseorang yang seranjang denganku memang selalu membuatku gelisah. Dan menyadari orang di sebelahku itu adalah Anton, merupakan grogi ekstra. Dan tidur dengan otak yang tidak mau diajak berhenti berkeliaran adalah siksaan!

Paginya aku bangun seperti zombie. Kurang tidur!

——-*——-

Pertandingan semifinal justru terlihat membosankan. Atau mungkin ini efek aku masih terlalu ngantuk? Team lawan terlihat terlalu kepayahan hingga pertandingan berjalan timpang. Team Anton malah terkesan sedang membully team lawan.

Ditambah team cheerleaders yang sibuk cari perhatian Anton, makin membosankan. Eh, kenapa harus jengah??? Entahlah. Pemandangan menggelikan itu justru menambak kelopak mata semakin berat saja. Kalau bukan karena Anton, mungkin aku sudah pulang, tidur siang.

Sudah ditebak!

Pertandingan berakhir dengan skor yang terlalu timpang. Sedikit heran juga sebenarnya, karena kupikir team itu bermain lebih baik sebelum ini. Atau team Anton yang terlalu bersemangat? Entahlah, kantuk tidak mendukungku untuk nalar. Dan dengan kemenangan ini, berarti mereka masih tinggal di kota ini semalam lagi sebelum menghadapi laga final besok. Berarti aku harus menginap semalam lagi. Berarti aku harus tidur dengan gelisah semalam lagi.

Errr… membayangkannya saja sudah migrain!

——-*——-

Sore itu, tumben Anton tidak berkumpul dengan teman se-team-nya. Malah dia mengajakku ke sebuah kedai kopi di tengah kota itu. Aku santai mengiyakan. Selain aku memang butuh kopi untuk membuat mata ini tetap melek paling tidak sampai jam 10 malam nanti, toh, aku juga canggung kalau harus gabung dengan obrolan yang tak jauh-jauh dari seputar dribble bola dan Michael Jordan!

Sepanjang perjalanan, Anton senyap, terlalu konsentrasi pada setirnya, atau entah pada apa aku tak pernah tahu. Yang pasti aku tidak suka kesunyian semacam ini.

“Sepertinya kau tahu benar daerah ini?!”, aku membuka obrolan secara asal. Bosan juga lama kelamaan hanya mendengarkan alunan musik yang terdengar tak selaras dari radio mobil itu.

“Kamu ini grogi, bosan sampai tak konsen atau apa sih, Jo? Sampai bisa lupa ceritaku bahwa aku dan keluarga sempat tinggal lama di kota ini. Grogi jalan berdua doank sama aku?!”, jawabnya.

Sialan juga orang ini. Frontal tanpa ragu. Ingin rasanya membalas dengan tukikan yang sama tajam, tapi ternyata Cuma bisa mengeluarkan suara “Ohh” secara absurd sambil mengalihkan padangan ke sisi lain. Malu!

Perjalanan sampai. Ah, syukurlah…

“Gak usah heran, jam segini tempat ini memang masih sepi dari pengunjung. Maklum ini bukan weekend, jadi mungkin orang masih pada kerja. Mulai sekitar jam 8 malam-an baru orang-orang pada datang”, Anton menjelaskan tanpa kutanya demi melihat tatapan heranku pada tempat yang masih sepi itu.

Kulihat Cuma ada 2 pasang manusia yang duduk di lain meja. Sepasang di kursi panjang di area teras, sibuk dengan laptop mereka sambil mendiskusikan sesuatu yang aku tak ingin tahu itu apa. Sepasang lain agak minggir di ruangan utama, menikmati cangkir kopi mereka sambil berbincang serius.

Anton masuk duluan. Menuju satu tempat di pojok belakang yang berupa balai-balai dari kayu. Serupa gubuk yang dibuat asri dengan kayu coklat pekat dan atap ilalang. Aku mengikutinya sambil tetap melihat-lihat keseluruhan kedai itu. Konsep yang asyik.

Sepertinya tempat ini pernah jadi tempat nongkrong favorit Anton. Itu kesimpulanku ketika kulihat seorang pria menghampiri Anton dan berbincang akrab cukup lama, bertukar kabar. Sempat dikenalkan juga padaku. Dan belakangan aku tahu dari cerita Anton dia adalah pemilik kedai kopi ini. Wah salut, pria muda yang konseptualnya keren.

Kami memesan dua cangkir kopi dan sepiring cemilan untuk menemani. Coffe latte untukku dan mochaccino untuknya. Berbincang ringan yang tak terlalu serius seputar hal-hal kecil di lingkungannya, juga lingkunganku. Ah, menyenangkan melihatnya begitu santai seperti itu. Seolah begitu menikmati hidup, kadang terselip rasa iri.

Di satu moment ketika aku sedang menyeruput coffe latte manisku, Anton mengubah posisi duduknya dari duduk santai bersandar di tiang balai-balai, menjadi duduk bersila. Menatapku dengan pandangan yang sepertinya penuh pertimbangan antara iya atau tidak. Entah apa yang dipikirkannya. Dan itu sedikit banyak membuatku risik.

Disesapnya kopinya sebelum akhirnya dia berbicara.

Ada semacam firasat yang kurasakan ketika melihat gelagat Anton yang mendadak berubah. Entahlah, aku tak mau dan mampu menduganya. Sesuatu yang sepertinya terselip di antara pengharapanku, dan juga hal yang kutakutkan.

Dan dia mulai berbicara…..

——-*——-

*bersambung


2 thoughts on “First Love – Part 3 –

  1. Aaaaaabbaaaaaaaaaaaaaannnnggggggggg !!! Aaaaaaaaaarrrrrrrrrggggggghhhhhhhhhh!!!!!! PENASARAAAAAAAAAANNNNNNNNN TINGKAT INTERNASIONAAALLLLLL ENEEEHHHH !!!!! AAAAAAAAKKKKKKKKK!!!!! Cepetaaaaaaannn…. Huhuhuhuhuhuhuhu T.T

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s