First Love – Part 4 –

“Jo,  aku ingin berbicara serius. Tolong jangan dipotong sebelum aku selesai bicara”, dia membuka omongan.

Respek, aku pun mengubah posisi dudukku dari selonjoran santai, menjadi posisi duduk sopan sambil meng-“OK”-kan.

“Jo, aku tahu mungkin ini perkara baru buatmu. Tapi sepertinya aku sudah tak bisa untuk berpura-pura hanya menganggapmu teman. Toh aku merasa bahwa kau pun punya sesuatu yang sama yang aku rasakan ketika kita ngobrol, jalan bareng dan sebagainya. Aku gak bisa menganggapmu teman, atau sahabat, Jo. Karena, jujur, aku naksir sama kamu. Ya, inilah aku, Jo. Apakah kau punya perasaan yang sama buatku?!”, meluncurlah sudah semua kata-kata itu, tenang tanpa terburu-buru. Kadang berhenti mengambil nafas di beberapa bagian.

Oh my….

Rasanya coffee latte yang baru saja kuminum, seperti kembali naik ke atas. Membuatku tergagap dan akhirnya tersedak, batuk yang tak sopan.

Shock…

Tapi juga tak bisa menyembunyikan raut wajah yang sepertinya sudah bisa membuat telur langsung matang kalau diceplok di atas kepalaku. Sedikit merasa lega juga menyadari bahwa balai-balai itu terletak di pojokan belakang area kedai itu hingga obrolan ini benar-benar bersifat pribadi. Dan  sekarang aku tahu kenapa dia mengambil tempat itu!

Aku masih tergagap dengan semua ini. Kejadiannya begitu cepat, tak bisa kutanggapi dengan otakku yang belum mampu mencerna dengan baik apa yang sebenarnya terjadi antara kami. Ini benar-benar hal baru untukku. Aku memang sudah lama merasa “lebih nyaman dan lebih menyukai” sosok lelaki dalam hidupku, tapi tak pernah keluar dari hati. Terpendam rapi.

Dan hari ini Anton mewakili untuk mengungkapkannya…

Dan aku masih gamang hingga tak sanggup berkata apa-apa…

Aku merasa tolol…

Aku berkeringat dingin…

Anton menepuk punggung tangan kiriku yang mungkin sudah sedingin es…

“Aku tak memintamu untuk menjawab sekarang, Jo. Aku tahu kau butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Dan tenang saja, aku tak memberimu batas waktu”, ucapnya pelan, dengan senyum termanis yang pernah kulihat dari wajahnya.

Dan aku masih diam. Oh my…

Anton mengubah posisi duduknya, lagi. Kembali santai sambil senderan di tiang balai-balai itu. Santai menyalakan rokok, menyeruput kopi. Seolah tak ada hal besar yang baru saja terjadi.

Dan aku masih terdiam. Menelaah apa yang sebenarnya terjadi.

“Boleh aku minta rokokmu?!”, gamang aku meminta.

“Bukannya kau tidak merokok?”, sahutnya.

“Anggap saja mulai hari ini aku merokok”, sambil lalu aku mengambil satu batang rokok dari kotaknya, menyalakan tanpa menunggu ijinnya. Semoga dia tak menyadari bahwa aku sedikit gemetar. Tapi kurasa dia tahu…

Aku menghisap tembakau pertama dalam hidupku. Batuk. Cih… memalukan!

“Hahahahahaha… santai lah, Jo. Gak seperti itu caranya kau merokok”, sambil tertawa Anton meledekku. Sial!

“Aku tak perlu belajar darimu juga, khan, untuk urusan semacam ini?!”, cuek aku mencoba meneruskan.

“As you like dah, sweety”, kelakarnya.

“Sial kau! Jangan memanggilku dengan sebutan absurd semacam itu!”, timpalku sambil sekenanya melempar bungkus rokok ke arahnya.

Dan kami tertawa bersama.

Hingga kami melangkah keluar dari kedai kopi itu, aku masih tak memberikan jawaban. Anton juga sepertinya mengerti dan tidak menanyakannya lagi. Obrolan kami kembali santai seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi dia tak pernah tahu bahwa otakku sibuk berdesing, berdialog dengan hati.

——-*——-

 “Hey, sepertinya ini bukan jalan pulang ke hotel?”, tanyaku di mobil ketika kulihat dia mengambil jalan yang beda dengan yang sudah kami lalui ketika berangkat tadi.

“Tenang, Jo. Aku gak bakal culik kamu, lah. Aku Cuma pengen ngunjungin daerah atas. Melihat kota ini dari ketinggian dengan semua kerlap kerlip lampunya selalu jadi pemandangan keren, loh. Mumpung cuaca cerah juga. Gak keberatan, khan?!”, jawabnya.

“Oh… OK”, jawabku singkat.

Dan aku harus berterimakasih pada Anton sudah membawaku ke tempat sedahsyat ini. Sebuah tempat di lereng gunung Slamet, tempat dimana kami bisa memandang seluruh kota yang ada di bawah sana, dengan pendar-pendar lampu terhampar di bawah, dan kerlip jutaan bintang di atasnya. Sungguh indah.

Dan kami duduk dalam diam, duduk di atas pintu bagasi belakang mobil yang melandai. Anton dengan rokoknya yang mengepul pelan sambil santai menikmati malam, aku pun demikian. Dan dalam kesunyian itu, aku kembali memikirkan apa yang Anton bilang tadi sore. Siluet Anton yang kulihat dari sekelabatan mata, sepertinya meminta jawaban. Padahal tidak!

Lebih dari satu jam kita duduk disana, dalam diam. Obrolan yang terjadi Cuma ketika aku minta sebatang rokok, dan ketika Anton menanyakan apakah aku kedinginan atau tidak. Selebihnya kami saling berdiam diri. Sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Pulang yuk. Udah terlalu dingin disini. Kau juga harus istirahat. Ingat besok adalah pertandingan finalmu”, ajakku setelah sekitar satu setengah jam duduk di tempat  itu.

“OK”, jawabnya singkat, sambil dengan gerakan sedikit melompat menuruni bagasi tempat dimana kami duduk tadi.

Dan alunan musik dari radio setempat menjadi suara dominan dalam perjalanan pulang kami.

——-*——-

Makin mendekati hotel, rasanya aku makin gamang. Padahal Anton bersikap sangat biasa, sama seperti sebelum sore ini. Ah, kadang pikiran memang terlalu mengambil alih keadaan. Menyebalkan.

Aku pamit mandi dulu sementara Anton kembali bercengkerama dengan gerombolan temannya. Sedikit menyenangkan juga bisa bebas dalam kesendirian, meski Cuma hanya di dalam kamar mandi. Bah, perasaan apa pula itu. Toh aku juga harus berfikir, jawaban apa yang harus kuberi.

“Jo… kamu lama bener di dalam kamar mandi! Gak pingsan, khan?!”, teriak Anton sambil mengetuk pintu kamar mandi.

Sialan. Ternyata aku melamun terlalu lama dan tak sadar waktu.

“Iya, aku udah kelar. Bentar andukan!”, sahutku.

“Kau mandi apa tidur deh. Gila aja. Gak kedinginan kamu?”, sambil masuk kamar mandi Anton bertanya ketika aku keluar dari kamar mandi itu.

“Hahahaha… ketiduran bentar tadi. Ya maap”, jawabku sekenanya.

Aku menonton tivi sambil menunggu Anton kelar mandi. Tapi mungkin ternyata malah tivi yang menontonku. Pikiranku sendiri kosong.

Ahh… tidak bisa begini terus! Aku harus memberikan keputusan. Untuk diriku sendiri, dan untuk Anton.

Aku mengambil napas sedalam mungkin, mempersiapkan mental.

——-*——-

*bersambung


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s