First Love – Part 5 –

Aku mematikan tivi yang sedang kami tonton tanpa permisi. Sedikit mengejutkan Anton yang sedang asyik menonton sambil santai selonjoran di kasur. Aku sendiri duduk di sofa.

“Maaf gak sopan matiin tivi tanpa permisi. Aku perlu ngomong”, kataku sambil meletakkan remote.

“Santai. Monggo mau ngomong apa”, jawab Anton sambil bangun, duduk di tepi kasur.

“Aku mau bicara soal yang kau bicarakan tadi sewaktu kita di warung kopi”, sebisa mungkin aku menatap matanya, tak mau menjadi terlalu pengecut untuk diriku sendiri.

Kemudian dia berdiri. Melangkah ke arahku dan duduk di sofa sebelahku.

“Jo, aku tak memaksamu untuk menjawab sekarang. Aku punya waktu untuk menunggu jika kau memang perlu waktu untuk memikirkannya”, ucapnya lembut sambil memegang tangan kananku, tubuh sedikit membungkuk ke arahku dengan siku bertumpu di lututnya.

“Aku tak suka menunda sesuatu, Ton. Jadi akan kujawab sekarang pertanyaan itu”, kataku sambil melepaskan pegangan tangannya.

“Baiklah, aku siap mendengarkan”, ucapnya sambil menegakkan badan.

Sekali lagi aku mengambil nafas…

Aku berdiri, menatapnya, kemudian menarik tangannya agar dia berdiri, tepat di depanku.

Dan aku menciumnya. Merasakan lembut bibirnya di bibirku. Aroma pasta gigi dan sisa-sisa aroma rokok bercampur begitu wah, tak sanggup kudeskripsikan.

Dan ciuman itu berlanjut menjadi lebih dari sekedar bibir bertemu bibir. Nikmat.

17 tahun 3 bulan, ciuman pertamaku dengan pria.

Kutarik kepalaku, menghentikan ciuman ini sebelum berakhir brutal.

“Itu jawabanku untuk semua pertanyaanmu sore tadi”, bisikku.

Selanjutnya kami berpelukan dalam diam.

Malam itu kami tidur dengan perasaan yang berbeda. Berpadu dalam pelukan hangat. Merasakan desah nafas dan debaran jantung masing-masing.

17 tahun 3 bulan, kita jadian.

“Terima kasih, Jo”, bisiknya dalam pelukanku.

Kujawab dengan kecupan lembut di kening, memberinya satu senyum yang paling tulus yang aku bisa, dan kemudian memejamkan mata. Aku harus mencoba tidur!

——-*——-

Pertandingan final.

Kulihat Anton begitu bersemangat mengerahkan semua kemampuan yang dia punya. Aku geli sendiri. Tak mau membayangkan bahwa mungkin dia sedang bertingkah di depanku.

Sialan! Tak henti-hentinya aku harus menggelengkan kepala sambil senyum-senyum yang hanya aku yang mengerti.

Dan pertandingan berlangsung alot. Kedua team sama-sama kuat. Riuh pendukung berbalas-balasan dari kedua kubu. Hiruk pikuk dan sambung menyambung.

Seru.

Dan setelah teriakan-teriakan yang hampir menghabiskan seluruh stock suara, pertandingan berakhir dengan kekalahan tipis di pihak Anton.

Sedikit mengecewakan mengingat perjuangan mereka sudah sejauh ini. Tapi entahlah, tak kulihat rona kekecewaan dari wajah Anton. Memang sinting mungkin orang itu.

Dan prosesi penutupan dari keseluruhan pertandingan berlangsung lumayan lama. Biarlah, dia menikmati moment bersama teman-teman se-team.

Dan aku benar-benar penasaran dengan kesintingan orang itu.

“Okelah juara 2 emang gak terlalu buruk. Tapi kayaknya gak ada secuil pun raut kekecewaan di mukamu. Kamu baik-baik aja, khan?!”, tanyaku setelah dia kelar dengan semua hal di lapangan dan mendekatiku.

Dia menyorongkan badan ke arah telinga kananku, dan berbisik…

“Peduli setan dengan pertandingan ini. Toh aku sudah memenangkan hatimu”, dan kemudian dia melangkah pergi ke ruang ganti, mengedipkan mata sekali ke arahku, membiarkanku mematung melihatnya.

Sialan!!!!!!!!!!!!!!!! Ingin rasanya kuteriakkan kata itu padanya.

——-*——-

Aku melihatnya berkemas-kemas segala barang bawaannya. Aku sendiri sudah beres karena memang Cuma bawa beberapa baju, simple. Tinggal masukan sekenanya ke tas ransel. Dan dia memang orang paling bodoh dalam urusan packing. Segala baju kotor dan baju bersih dicampur sekenanya. Kubiarkan.

Setelah dia kelar dengan segala barang bawaannya, aku bersiap untuk keluar duluan dari kamar itu.

Dia menarik tanganku…

Membalikkan badanku hingga kita berhadapan.

Dan kami berciuman dalam diam, saling memeluk, hangat.

Perpisahan yang manis.

*bersambung


2 thoughts on “First Love – Part 5 –

    1. Dear Cole,
      thank you for your nice compliment
      but this blog is totally in Indonesian language
      so, how you can understand what i’ve talked here???

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s