First Love – Part 7 –

Enam pesan yang benar-benar harus kubaca berulang kali untuk bisa secara utuh mengetahui maksudnya.

“Kenapa kau putus telponku tadi? Gak kuat menghadapi kata-kataku yang belum seberapa itu atau gak siap menghadapi kenyataan bahwa dirimu Cuma seorang jalang perebut pacar orang?!”

“Aku gak kenal siapa kamu dan rasanya gak pernah berbuat salah sama kamu. Tapi bisa-bisanya kamu berbuat jalang seperti ini. Tapi kau harus tahu bahwa sampai kapan pun Anton akan tetap jadi milikku!”

“Aku Erwin dan aku pacar Anton. Jadi tolong, apapun yang terjadi antara kalian, akhiri sekarang juga atau aku akan bertindak terlalu jauh terhadapmu!”

“Atau begini saja. Kalau kau memang Cuma sekedar butuh sex, aku ada beberapa teman lelaki yang mungkin sesuai dengan kriteria yang kamu suka. Bisa dibilang lebih dari Anton. Tapi berjanjilah dulu untuk menyingkir dari kehidupannya”

“Balas SMSku!”

“Woy, njing. Gak punya pulsa? Atau belum dikirim oleh Anton?!”

Biadab!

Ingin rasanya telpon balik nomor itu dan memaki sekenanya. Tapi aku sadar itu tak akan bisa menjawab semua pertanyaan yang bercokol di otak dan hatiku. Dan penyaluran emosi tanpa membawa hasil, ah, aku tak pernah cakap untuk urusan bodoh semacam itu.

Kuforward semua SMS yang kuterima itu pada Anton.

“Jelaskan secara gamblang!”
Sent to: Anton

Dan aku harus kecewa. Karena sebenarnya itu sekedar pancinganku untuk Anton. Kupikir dia akan menelepon untuk menjelaskan secara gamblang, melalui SUARA. Ternyata dia hanya menjelaskan dengan banyak pesan teks! Aku tak pernah percaya pada pesan teks untuk urusan yang memang benar-benar membutuhkan kekuatan emosi dalam penyampaiannya. Aku butuh merasakan emosi dan keseriusan yang tertuang meski dalam sebentuk suara. Dan aku tak mendapatkannya. Aku menelpon dia? Tak sudi!

Malam itu aku hampir tak bisa tidur.

——-*——–

“Bangkai ini bakal terus membusuk kalau dibiarkan. Kita harus ketemu. Sabtu besok jam 2 siang, di pantai Log—-. Titik tengah dari jarak kita semua!”
Sent to: Anton, 0816428xxx

——-*——–

Jam 2 kurang 5 menit, aku sampai di tempat itu. Mereka sudah di sana. Duduk di pojokan area,di kursi setengah lingkaran yang terbuat dari bahan cor. Santai aku menghampiri mereka, duduk di ujung kursi, agar bisa menghadap mereka. Menikmati wajah Anton yang sibuk menunduk dengan raut paling tolol yang pernah kulihat. Kadang juga membuang pandangan entah kemana. Dan lelaki disampingnya, itu toh Erwin.

“Oh jadi ini, cowok ingusan yang kamu bela-bela sampai tak pernah mau angkat telponku? Tak pernah mau balas sms-ku dan bahkan tak pernah mau ketemu? Ini??”, cecar Erwin tanpa tedeng aling-aling.

“Win, berapa kali harus kuingatkan bahwa antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi??”, Oh… bisa ngomong juga si Anton ini.

“Itu hanya pertengkaran, Ton. Kita tidak pernah ada kesepatakan untuk menyudahi apa yang sudah kita mulai. Aku masih sayang sama kamu dan aku tahu kau juga masih sayang sama aku!”, Erwin makin terpancing, nada bicara semakin meninggi.

Aku diam saja, memandangi tingkah mereka, sebuah drama yang menggebu! Merasa payah juga demi menyadari bahwa aku pun ternyata salah satu tokoh dalam kisah itu.

“Oh, seperti ini caramu?? Menganggap diri seorang pangeran tampan yang akan diperebutkan banyak orang?!”,  Erwin mencapai puncak emosi.

“Dan kau, kau pikir kau siapa berani masuk dalam hubungan kami?”, lanjutnya sambil menuding ganas ke arahku, setengah berteriak lalu kemudian meludah dengan pongah.

Oh come on, ucapan apapun yang aku ucapkan tak akan berguna dalam keadaan emosi setinggi ini. Justru Cuma akan membuatku sama rendahnya dengan orang-orang di hadapanku sekarang ini, yang emosinya sedang meluap-luap. Jadi aku diam saja, senyum santai melihat mereka.

Sedikit menyesal juga sudah membuang waktu ke tempat itu. Tapi aku tetap mencoba berfikir positif. Setidaknya aku jadi tahu persis apa yang sebenarnya terjadi. Toh aku yang mengatur pertemuan itu.

Adu mulut makin dahsyat. Seperti orang yang baru saja kemalingan barang berharga yang paling dicintainya. Dan aku tetap diam bungkam. Stabil memasang senyum yang mungkin aku saja yang tahu artinya. Terserah apa persepsi mereka.

Dan makin lama, omongan mereka makin ngawur. Melantur ke bahasan-bahasan yang kuanggap terlalu pribadi. Sungguh memuakkan jika aku harus terus mendengar hal-hal semacam itu.

Aku berdiri…

“Aku pergi. Percuma mendengar omongan kalian yang tidak ada warasnya, omongan anak kecil meski umur kalian tak lagi belia. Dan, Ton, terima kasih sudah memberiku sekelumit kisah. Gak bakal begini jadinya kalau dari awal kau bilang bahwa kau sudah sama dia”, ucapku santai sebelum pergi.

Tak menunggu reaksi, aku siap pergi…

Anton berdiri

“Tapi Jo, please… aku cinta dan sayang sama kamu. Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Erwin. Please…”

Cuma kubalas dengan senyum tipis dan berbalik siap pergi.

BAAAMMMMMMMM………!!!

Aku kehilangan kendali atas diriku, dan emosiku. Tangan kanan kurusku yang sedari tadi mengepal sebagai peredam emosi, mantap mendarat di pelipis Anton ketika dia meraih pundak kiriku, berusaha menahanku agar tidak pergi.

Anton limbung…

Erwin kaget dengan kejadian mendadak itu…

“Dulu aku menjawab pertanyaanmu tanpa kata. Jadi, sekarang satu pukulan kurasa cukup mewakili apa yang perlu kuteriakkan. Dan kau, Win, tolong jaga mulutmu. Ancaman-ancamanmu itu ibarak taik, tak pernah ada artinya buatku. You don’t even know me!”

Berbalik, aku meninggalkan mereka yabg sayup-sayup masih beradu mulut. Peduli setan!

Aku meninggalkan tempat itu dengan semua kenangan yang ada. Membawa pulang sekeping hati yang remuknya entah seberapa parah, cukup aku saja yang tahu.

Jatuh cinta dan sakit hati yang pertama, impas.

Dusta juga kubilang aku tak merana, but life must go on.

Bagaimanapunm itu sebuah kisah, Pembelajaran :)

 

–* END *–


4 thoughts on “First Love – Part 7 –

  1. “Dusta juga kubilang aku tak merana”

    i wish that i had NEVER MET YOU.
    then there would be no need to impress you.
    no need to want you. No need for loving you.
    no need for crying over you.
    no need for heartbreaks.
    no need for pain or tears.
    no need for acting like you care.
    no need, for everything you’ve done to make me feel like absolutely nothing.

    “but life must go on”

    Thanks bang, for remind me (especially) or reminds us (generally) that (said proudly) :

    ” Bagaimanapun itu sebuah kisah, Pembelajaran :) ”

    *kiss kiss*

  2. Ceritanya keren bang Jo!! Tapi seperti ada yang perlu di eksplor lagi, tapi ga tau apa itu. Kurang panjang kali ya.. *die-hard-fans Cinta Fitri*

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s