I Love [kema]You – Seri 1

Nama aslinya Alex. Tapi dia lebih menikmati dengan panggilan Lexi. Lebih mengena di hati, katanya. Bujang 26 tahun yang tak pernah suka untuk tinggal di rumahnya sendiri. Bukan karena tak cinta dengan keluarganya, tapi cibiran tetangga selalu saja membuatnya jengah. Kalau tak perduli dengan keluarga, mungkin Lexi bisa santai-santai saja. Toh itu hanya sebuah cibiran yang baginya tak lebih dari sesuatu yang “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, atau bahkan mental”. Tapi dia tidak tega dengan orang tuanya.

Jadi disinilah dia berhijrah, kota pelajar, Yogyakarta. Menyelami kebebasannya dalam sebuah bilik rumah kost sederhana namun bersih dan nyaman. Meski sebenarnya jarak antara rumah dengan kerjaan hanya butuh waktu tempuh kurang lebih 45 menit dengan motor, Lexi tetap memilih tinggal di rumah kost. Jauh dari cibiran tetangganya yang sudah membuatnya ingin selalu menyumpal telinga setiap kali harus keluar rumah.

Di sinilah Lexi membangun dunianya sendiri. Tak pernah peduli cibiran orang selama itu hanyalah cibiran, yang tak merugikan dan membahayakan dirinya. Yang jadi pedoman hanyalah selama tidak mengganggu orang lain dan tidak menurunkan kualitas pekerjaan, this is who am i. Itu prinsip sederhananya.

Lexi selalu bilang, bahwa dirinya istimewa. Kalau tidak mau disebut banci, bencong, wandu dan segudang sebutan lain yang kerap kali dia dengar dari tetangganya. Ya, Lexi memang pemuda kemayu yang tingkah lakunya gemulai. Sebagai seorang pemuda, dia memang berbeda. Dia lebih mudah merasa untuk sesuatu yang menyentuh perasaan, lebih luwes dalam melakukan pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan, lebih ekspresif dalam mengungkapkan apa yang dia rasa, dan lebih “serba rapi” jika dibandingkan dengan pemuda kebanyakan.

Dan belum ada satupun yang mampu memahami pribadinya.

Tapi dia tak pernah mengeluh dengan segala yang ada di dirinya. Pembawaannya yang selalu ceria dan memang selalu diusahakan untuk ceria, menurutnya sedikit banyak mampu mengobati kesepian hati yang sebenarnya rindu untuk dibelai kasih. Pun, dia sudah sadar konsekuensi dengan segala perangai dan tingkahnya yang memang tidak sama dengan pemuda kebanyakan, jadi dia memaklumi, lebih untuk dirinya sendiri.

Kebutuhan sex?? Tentu saja dia tak menampik. Manusia mana yang tidak butuh sex. Tapi untuk memperolehnya dari orang yang memang mengasihinya, dia terlalu malas untuk mencoba. Lebih tepatnya malas untuk sakit hati. Chat dan ONS-lah satu-satunya pelarian. Penat juga dalam keadaan seperti itu. Dan masturbasi pun menjadi jalan yang kerap kali dilakukan, pilihan terakhir.

Pilihan getir.

 

Dan inilah sekelumit kisah tentang Lexi, pemuda kemayu yang selalu (berusaha) menikmati hidupnya…

 

*Bersambung


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s