I Love [kema]You – Seri 4

 

“Lex, nanti temenin Bapak nganter barang ke kolega. Juga ada beberapa administasi yang perlu kamu selesaikan disana”, kata boss Lexi.

“Iya, Pak”, ogah-ogahan Lexi mengiyakan. Sebenarnya hari ini dia benar-benar sedang malas untuk kemana-mana. Bahkan untuk turun makan siang yang hanya dua lantai saja dia terpaksa, demi cacing-cacing di perutnya.

Dan menanggapi cerita-cerita mutakhir sang boss tentang mobil kesayangannya, hayah… dongeng rutin tiap kali dia harus bepergian satu mobil dengan boss-nya. Aku tidak tertarik, Pak!!!, bathinnya. Tapi ya Cuma bisa diucapkan di bathinnya. Tanggapan sekenanya sudah cukup.

Untung saja urusan di tempat kolega sang boss tidak terlalu lama. Cuaca yang memang sedang panas membuat Lexi ingin secepatnya duduk di kursi nyaman di kantornya, dengan deru kecil mesin AC yang bertengger hening di atas kepalanya.

AC mobil yang dingin, ditambah dengan ocehan boss yang masih saja membahas seputaran betapa mutakhirnya tekhnologi yang tersemat di mobilnya, sukses membuat Lexi makin terkantuk-kantuk dahsyat. Kalau tidak karena respek, mungkin dia sudah bermimpi sampai pulau Bali.

“Lex, turun bentar ya. Ada beberapa modifan yang musti dikelarin. Cuma bentar, koq”, kata si boss ketika mobil berhenti di sebuah bengkel.

“Loh, Pak. Kirain kita balik ke kantor. Pekerjaan saya masih banyak loh, Pak!”, kata Lexi dengan sedikit kaget.

“Halah, besok-besok saja. Toh ini juga Cuma sebentar. Ayo turun!”, si boss sudah mematikan mesin mobilnya.

Lexi Cuma bisa pasrah, ogah-ogahan menuruni mobil itu dan mengambil tempat duduk tak jauh dari mobil itu, di teras bengkel.

Kantuk yang tadinya mendera Lexi bertubi-tubi, mendadak seperti air yang menguap di teriknya matahari, ketika Lexi melihat dengan siapa boss-nya berbicara. Itu Bagas!

Antara salah tingkah dan berusaha untuk cuek, Lexi berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin. Tidak berani memberikan gelagat yang terlalu kentara, paling tidak demi Bagas, pikirnya.

Tapi tanpa diduga, justru Bagas yang menyambangi dulu ketika sudah selesai memasang beberapa aplikasi entah apa yang Lexi tak tahu dan tak mau tahu di mobil bossnya.

“Apa kabar, Lex?”, sapa Bagas sambil mengelap tangannya yang kotor, tapi justru terlihat seksi.

“Hai, baik. Kau ndiri apa kabar?”, sebisa mungkin Lexi menyembunyikan kegrogiannya.

“Baik juga. Btw, aku masih nunggu SMS dari kamu, loh. Sampai sekarang”, kata Bagas santai, sambil berlalu masuk ke bengkel. Meninggalkan Lexi yang memandang punggungnya dengan bengong luar biasa. Ternyata yang ditunggu justru menunggunya??? Bodoh!

—-*—-

Sepanjang perjalanan pulang ke kantor, Lexi sibuk dengan pikirannya sendiri. Beruntung bahwa si boss juga sedang tidak terlalu banyak bicara. Memberi sedikit ruang waktu bagi Lexi untuk terus mencerna apa yang barusan didengarnya dari Bagas.

Lexi jatuh cinta setelah sekian lama dia tak pernah memberanikan diri untuk mengijinkan dirinya menaruh hati pada pria manapun.

Sisa hari itu, dia tak bisa konsen dengan pekerjaannya. Monitor yang biasanya bisa mengalihkan segala perhatiannya dari hal-hal di luar ruangan kantornya pun Cuma dipandang sekilas, tapi pikiran tetap seperti berada di bengkel. Membayangkan sosok Bagas.

Handphone sudah sedari tadi dibolak balik, putar kanan kiri. Otak dan hatinya berseteru, antara gambling dengan memberanikan diri untuk mengirim SMS duluan, atau tetap saja menunggu Bagas SMS. Tolol!

“Hai”
Sent to: Bagas Pramana

Akhirnya terkirim juga SMS itu. Sedikit merasa tolol ketika dia memeriksa ulang sent item dan membaca satu kalimat yang mungkin hanya diucapkan oleh anak SMP ketika mengenal cinta monyet.

Damn!

5 menit, handphone-nya hening tanpa ada dering pertanda SMS masuk. Kalut.

10 menit, handphone itu masih senyap. Lexi sampai memeriksa siapa tahu dia sedang mengaktifkan profile tanpa suara dan tanpa getar. Ternyata tidak. Makin kalut.

15 menit, Lexi sudah menjauhkan handphone itu dari jangkauan tangannya. Berusaha mengalihkan perhatian pada angka dan kolom yang tertera di monitor komputernya, yang sebenarnya tidak membawa hasil apapun karena hanya dipandangi tanpa mengetik satupun angka.

Ah sudahlah, mungkin ucapan tadi Cuma sebatas omong kosong obrolan biasa. Aku saja yang terlalu mendramatisir suasana, batin Lexi.

Sisa waktu Lexi mencoba menginput data perusahaan, dengan konsentrasi yang susah payah dikumpulkannya.

—-*—-

Tring…

Setengah jam sebelum jam bubaran kantor, hape Lexi berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk.

“Sorry, Lex. Tadi banyak banget pekerjaan jadi gak pegang hape sama sekali. Pulang kantor jam berapa?”
Received from: Bagas Pramana

Sore yang membosankan mendadak berbinar. Berulang kali Lexi membaca SMS itu untuk memastikan bahwa dia tidak salah baca. Ah, akhirnya balasan yang dia tunggu dari siang tadi muncul juga di layar hapenya.

“Gapapa, Gas. Toh aku juga tadi sibuk dengan kerjaan. Aku pulang kantor setengah jam lagi. Ada apa emang?”
Sent to: Bagas Pramana

“Pulang kerja, jalan yuk. Ngopi2 kek dimana gitu. Mau?!”
Received from: Bagas Pramana

Pucuk dicinta, ulam pun tiba!

“Eh, seru tuh. Boleh. Ketemu dimana?!”
Sent to: Bagas Pramana

“Aku jemput aja, boleh?!”
Received from: Bagas Pramana

Pucuk dicinta, bonus kedua datang!

“Boleh. Aku tunggu di depan kalau begitu. Sampai ketemu nanti”
Sent to: Bagas Pramana

Oh my… ajakan kencan-kah ini???

Dan itu adalah 30 menit paling salah tingkah yang mungkin pernah Lexi alami…

*Bersambung


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s