I Love [kema]You – Seri 5

Lexi merasa sangat tidak percaya diri sore itu. Hal yang mungkin tak pernah terjadi pada dirinya dimana dia selalu merasa percaya diri dengan apa yang ada pada dirinya. Bahkan tote bag yang biasanya dia tenteng kemana-mana, sore itu dia tinggalkan di kantor. Hanya beberapa barang penting yang dia bawa. Terlalu berlebihan nanti menurut Bagas kalau aku menenteng tote bag itu, pikirnya.

Dia hanya membawa dompet, sebungkus rokok dan koreknya, dan tentu saja, handphone. Sepertinya dia harus mulai belajar untuk menjadi “simple person” seperti itu. Demi Bagas, mungkin?!

Dia muncul, tetap dengan setelan kemeja yang membuatnya tampak begitu… indah.

“Lama nunggu?”, sapanya ketika motor sudah berhenti di depan Lexi.

“Gak koq, ini juga baru keluar dari kantor”, jawab Lexi.

“Ya udah langsung berangkat aja yuk. Kamu bawa motor gak?”

“Gak. Khan kost deket dari sini. Jalan paling 10 menit juga sampai”

“Bagus deh. Ayok”, ajak Bagas.

Dibonceng pria yang sempat bikin hati kelimpungan?? Hmmm… Lexi begitu menikmati moment itu. Menikmati aroma lelaki Bagas yang menguar. Sedikit ragu untuk berpegangan pada pinggang padahal struktur jok motor itu yang sudah dimodif membuat Lexi sedikit banyak harus benar-benar menjaga keseimbangannya.

“Pegangan pinggangku boleh koq, Lex. Daripada kamu susah gitu boncengnya”, kata Bagas sambil tetap mengemudikan motornya.

Ah… lelaki ini…

Dan kencan sore itu begitu penuh arti. Bagas banyak bercerita soal dirinya, juga banyak menanyakan tentang Lexi. Sedikit gamang juga bagi Lexi, takut Bagas memiliki anggapan miring tentang dirinya. Tapi seiring waktu dan obrolan yang terjadi, Lexi jadi makin nyaman untuk bercerita tentang dirinya.

Obrolan mereka terus berlanjut bahkan sampai makan malam. Seolah masing-masing tak ingin segera mengakhiri pertemuan itu. Manis.

Jam 10 malam baru Bagas pamit pulang setelah mengantarkan Lexi ke depan rumah kostnya. Setelah bertanya untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Malam itu Lexi tidur dengan mimpi indah, tanpa basah.

—-*—-

Intensitas pertemuan mereka yang makin sering, membuat jalinan yang terjadi di antara mereka makin akrab tiap harinya. Bahkan kadang Bagas menyempatkan diri untuk mengantar dan menjemput Lexi dari tempat kerjanya.

Rumour pun berkembang. Membuat Lexi selalu saja merona tiap kali teman kantornya sibuk ber”cie cie” padanya tiap kali Bagas datang menjemput. Memiliki lingkungan kerja yang mengerti keadaan dirinya memang membuat Lexi betah kerja di tempat itu. Dia merasa dihargai.

Bahkan hampir tiap kali ada kesempatan untuk berkunjung ke kost sahabat-sahabatnya itu, kerapkali mereka datang berdua. Menimbulkan sedikit kasak kusuk di kalangan teman-temannya. Biasa, hal seperti itu pasti selalu seru untuk diperbincangkan.

Tapi…

Makin hari  kedekatan mereka juga makin membuat Lexi bimbang. Dia seperti kehilangan jati diri. Sedikit merasa terkekang, tapi entah oleh apa. Usahanya untuk menimbulkan kesan baik pada Bagas sedikit banyak menyiksa dirinya.

Ini bukan aku, kata Lexi pada dirinya sendiri.

Tote bag yang biasanya selalu menemaninya kemana saja dia pergi, sekarang lebih sering teronggok tak berdaya di pojok kamarnya. Baju-baju dengan warna semarak yang biasanya jadi busana kesukaan pun makin jarang dia pakai, berganti dengan kaos-kaos biasa yang begitu-begitu saja, hitam, putih, biru dan warna-warna “wajar” lainnya.

Kebiasaan hidup juga berubah. Yang tadinya suka sekali ke salon hanya untuk sekedar creambath atau perawatan kecil tubuh, makin malas dia kerjakan. Bahkan untuk tergelak berlebihan ketika bersama Bagas pun dia kontrol.

Lexi mulai merasa kehilangan dengan semua itu…

Mulai ada perasaan-perasaan “seneng juga kalau kumpul sama teman-teman saja tanpa ada Bagas disini”, dimana dia bisa tergelak sesuka hati dengan lengkingan gaya apapun. Dimana dia bisa melambai dengan bebas ketika membicarakan sesuatu yang seru dengan teman-temannya. Atau mungkin bernyanyi sengau ketika ada lagu favorit yang diputar di warung kopi tempat dia dan teman-temannya nongkrong.

Semua itu mendadak lenyap kalau Bagas ada di sampingnya.

Tapi di satu sisi, Lexi juga tak ingin Bagas menyingkir darinya. Dia sudah terlanjur merasa nyaman dengan keberadaan Bagas yang selalu saja membuatnya merasa nyaman. Sedangkan ujung dari hubungan ini seperti tak pernah terbaca. Menimbulkan dilema yang kadang membuat jengah.

Kadang jaim memang menyiksa!

Lexi melupakan satu hal penting dalam hidupnya. Prinsip hidup yang selama ini dia pegang erat…

—-*—-

Lexi mengambil satu keputusan.

“Gas, nanti jam 8 malam kutunggu di kost ya. Gak usah jemput aku pulang kantor. Datang aja langsung ke kost. Aku ada beberapa perlu denganmu. Makasih”
Sent to: Bagas Pramana

“OK”
Received from : Bagas Pramana

—-*—-

Aku akan berjudi malam ini. Apapun yang terjadi setelah malam ini, aku siap. Daripada aku harus menyimpan tanya terlalu lama, batin Lexi malam itu.

Kelar mandi, dia memakai kaos tipis warna putih yang sedikit menerawang, kaos favoritnya dulu ketika masih mengagungkan kebebasan diri, sebelum ada Bagas dalam kisah hidupnya. Dipadu dengan hanya boxer kecil dari bahan katun yang nyaman.

Dan wangi.

Jam 8 lewat 10 menit Bagas datang.

“Sorry Lex agak telat. Tadi kebetulan ada ibu kost datang buat data anak kost-an” kata Bagas setelah menutup pintu kamar Lexi.

“Gapapa, koq. Aku juga santai”,  kata Lexi sambil mematikan televisi yang tadi sedang ditontonnya. Sedikit terlihat gugup dengan gerak geriknya.

“Tumben wangi bener ni kamar”, Kata Bagas, selonjoran sekenanya sambil sedikit rebahan ke kasur Lexi.

“Perasaan tiap hari selalu wangi, deh”, tukas Lexi sambil melangkah ke pintu, menguncinya.

Kemudian ada sedikit kecanggungan di antara mereka.

“Ada apa nih, Lex? Koq tumben?!”, tanya Bagas. Posisi duduknya yang tadi santai sekarang sudah tegak.

Dan tanpa ancang-ancang, Lexi duduk dekat di hadapan Bagas. Yang kemudian tanpa permisi mencium bibir Bagas.

Bagas shock. Antara menikmati dan masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Lexi makin memberanikan diri demi mendapati bahwa Bagas tak memberikan perlawanan dengan apa yang diperbuatnya. Direbahkannya dirinya di atas Bagas yang sudah sedikit terdorong ke belakang karena aksi Lexi.

“Lex.. Lex… stop Lex! Apa ini sebenarnya?????”, tanya Bagas ketika ciuman mereka semakin menderu seiring degup jantung mereka.

Lexi tak ingin menjawabnya. Dia hendak mencium bibir Bagas lagi namun tangan Bagas di dadanya menahan gerakannya.

“Lex… apa ini?”, Bagas mengulangi pertanyaannya.

“Sudahlah, Gas. Aku tahu koq, ini khan yang sama-sama kita inginkan selama ini?!”, jawab Lexi.

Tulang wajah Bagas terlihat menegang. Didorongnya pelan Lexi menjauhi tubuhnya. Dan dia berdiri sambil merapikan kemeja yang sudah mulai terbuka 3 kancing teratasnya. Matanya seperti menahan geram.

Lexi terduduk di tepi ranjangnya…

Bagas membuka gerendel pintu kamar Lexi. Dan sebelum dia benar-benar keluar dari kamarnya, pelan dia membuka suara…

“Lex, selama ini aku memendam rasa yang lain untukmu. Dan aku menikmati rasa yang kumiliki untukmu. Dan jujur, aku kecewa denganmu malam ini, Lex. Jika kau pikir aku hanya menginginkan tubuh indahmu itu, kau salah mengenalku, Lex. Aku pulang”, dan Bagas menutup pintu kamar. Meninggalkan Lexi tanpa menunggu jawaban atas omongannya yang memang tak butuh jawaban.

Lexi terpekur, duduk di tepian ranjangnya, memandangi punggung pintu yang sudah tertutup sempurna. Omongan Bagas barusan seperti sebuah tamparan maha dahsyat yang meluluh lantakkan seluruh keyakinan yang tadi dimilikinya, setengah jam yang lalu.

Punggung pintu itu seperti meneriakkan cemoohan pada Lexi yang masih shock. “Kau bodoh, Lex! Benar-benar bodoh!”, kalimat yang terus terngiang di benaknya, seolah muncul dari punggung pintu kamarnya itu.

Lexi roboh ke samping, tersungkur di ranjangnya dengan tangan yang mengepal di dada. Berbulir-bulir air mata seperti banjir bandang yang tiba-tiba datang.

Kecewa, kehilangan harapan dan malu, luruh menjadi satu.

Lexi menangis hampir semalaman…

Lexi patah arang…

 

*Bersambung


4 thoughts on “I Love [kema]You – Seri 5

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s