I Love [kema]You – Seri 6

Lexi seperti kehilangan semangat hidup semenjak perisitwa malam itu, ketika Bagas meninggalkannya dengan perasaan yang remuk redam. Bahkan kegiatan-kegiatan kecil yang dulu selalu menjadi sumber keceriannya tak bisa membuang segala gundah yang ada.

Lexi patah hati, dan malu.

Lexi seperti zombie. Pandangan matanya yang biasanya selalu ceria berubah kuyu dan tanpa semangat. Bahkan ketika teman-teman kerjanya mendekati dan menanyakan apa yang terjadi, Lexi lebih memilih menyingkir, hanya menjawab bahwa dia sedang ingin sendiri.

Lexi rindu SMS Bagas.

Lexi rindu ketika Bagas datang menjemputnya dan mengantarnya ke tempat kerja. Rindu kelakaran Bagas yang selalu saja terasa renyah di telinga.

Lexi rindu semua tentang Bagas.

Dan dia hanya bisa meratapi apa yang dia rasa. Sendiri.

—-*—-

Satu kesalahan fatal, berjudi dengan hati.

Entah berapa malam Lexi tertidur dengan mata sembab. Menggenggam handphone erat, meletakannya di dada. Berharap ada keajaiban sebuah suara penanda pesan teks datang membawa kabar gembira.

Namun senyap.

Meninggalkan luka bathin yang mendalam.

—-*—-

Tring…

Handphone-nya berbunyi sore itu, satu jam sebelum jam bubaran kantor.

Lexi terkesiap demi melihat satu nama yang terpampang di layar hapenya.

1 pesan teks diterima
Bagas Pramana

Oase ditengah keringnya hati yang sudah sekian hari menangisi keadaan!

“Lex, kita perlu bicara. Nanti malam jam 8, aku jemput kamu di kost”

Hati Lexi seperti mencelos. Antara kerinduan yang akhirnya menemukan muaranya, dan perasaan gundah bertanya-tanya, apa yang sekiranya akan terjadi nanti.

Lexi hanya bisa pasrah, dan berharap tentunya.

—-*—-

Jam 8 kurang 10 menit, Bagas datang.

Tidak membawa motor seperti biasanya, tapi membawa mobil, entah punya siapa.

“Mobil si boss. Kebetulan tadi minta diurus ini itunya dan katanya boleh kubawa dulu”, kata Bagas menjelaskan bahkan sebelum Lexi bertanya.

Mereka duduk dalam diam sepanjang perjalanan. Bahkan Lexi tidak ada minat bertanya ketika Bagas mengemudikan mobilnya meninggalkan jantung kota Jogja, menelusuri jalanan yang setahu Lexi akan berujung di Pantai Parangtritis. Kegelapan malam yang menyiksa, berpadu dengan keheningan yang membuahkan luka.

Bahkan ketika mereka akhirnya sampai di ujung jalan Pantai Parangtritis, dan Bagas mengambil tempat duduk di sebuah bangku kayu yang teronggok seadanya di hamparan pasir pantai itu, mereka masih tak saling bicara.

Lexi menyalakan rokoknya, sekedar untuk menghilangkan sedikit gundahnya yang sudah terlalu meraja lela. Bagas yang memang tak pernah merokok, tetap tak bergeming.

“Gas, please jangan siksa aku dengan kebungkamanmu seperti ini. Aku siap mendengar apapun darimu. Bahkan makian terdahsyat pun aku siap, berusaha siap”, kata Lexi akhirnya sembari mengubur puntung rokok dengan kakinya. Sesap terakhir dari rokok itu menguar.

Bagas menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan  sebelum akhirnya dia membuka semua uneg-uneg yang sedari tadi ditahannya.

“Lex, kalau kau bertanya padaku, moment apa yang paling mengecewakan yang pernah terjadi pada diriku, maka itu bukan cerita ketika aku tak jadi melanjutkan kuliahku seperti yang pernah kuceritakan. Tapi itu adalah moment ketika kau menyangka bahwa aku hanya menginginkan tubuhmu, sungguh, itu sangat melukaiku, Lex”.

Lexi tak kuasa menahan air matanya. Tangan kanannya hanya bisa menggenggam tangan kirinya yang terus gemetaran.

“Aku juga kecewa dengan pribadimu yang mulai berubah. Lexi yang kukenal ketika pertama dulu kita ketemu di tangga itu, hilang entah kemana. Sering aku tak sengaja melihatmu sedang bercanda dengan teman-temanmu. Tertawa riang seolah hidup adalah sebuah keceriaan tanpa akhir. Melambai dengan indah tak perduli pandangan orang terhadapmu. Tapi ketika kau sedang bersamaku, kau berubah total. Pendiam dan kaku. Sebegitunyakah aku dimatamu, Lex?!”

Air mata Lexi makin menganak sungai.

“Gas… aku… aku… aku putus asa dengan diriku sendiri, Gas. Apa yang ada di dirimu terlalu indah kurasa. Dan aku bimbang, Gas. Antara takut kehilanganmu dan kembali pada diriku, yang berusaha untuk tak pernah mencintai siapapun. Aku sadar diri, Gas. Dengan semua kengondekan dan kecentilan yang ada di diriku, aku sadar diri, Gas!! Karena itulah aku selalu berusaha sekuat tenaga untuk selalu menjaga sikap kalau aku sedang bersamamu. Aku terlalu takut kau menyingkir dari hidupku, Gas!”

Akhirnya keluar juga kata-kata yang selama ini Lexi tahan di hatinya.

Bagas merangkul Lexi dengan tangan kirinya.

“Lex… Lex… Perlu kau tahu, dari awal aku melihatmu, aku sudah menaruh ketertarikan padamu. Dengan semua tingkah manismu yang kalau aku tidak boleh bilang ngondek atau centil. Justru itu yang membuatku jatuh cinta padamu bahkan dari pandangan pertama kita di tangga itu. Kau masih tidak merasakannya??”, ucap Bagas.

“Bukannya aku tak merasakannya, Gas. Tapi aku takut untuk kecewa lagi dan lagi. Itulah kenapa aku gak mau terlalu menuruti harapan yang sebenarnya begitu besar di hatiku, Gas. Dan jika kau memang mencintaiku sebegitu rupa, kenapa tak pernah kau ucapkan???”, kata Lexi di sela isaknya.

“Malam ketika kau memintaku datang ke kost-mu, malam itu sebenarnya aku berniat untuk mengutarakan isi hati. Kau pasti lupa bahwa itu adalah hari ulang tahunku dan aku ingin mendapat kado istimewa di hari itu. Dan itu cintamu. Tapi peristiwa malam itu terlalu mengejutkanku, Lex”, Bagas mengucapkan dengan romantis kata-kata itu, sambil pelan mengusap bahu Lexi yang masih berada di tangan kirinya.

Dan isak Lexi makin menderu ketika mendengar ucapan terakhir Bagas tadi.

“Berarti aku sudah melukaimu begitu sempurna, Gas?”, tanya Lexi.

“Pada saat itu, mungkin iya. Tapi setelah aku berfikir dalam kediamanku selama beberapa hari ini, aku sadar, tidak ada yang salah antara kita. Itulah kenapa akhirnya aku mengajakmu bertemu hari ini. Karena aku pun tak kuasa menahan rinduku, padamu”, jawab Bagas.

“Jadi, Lex, maukah kau jadi kekasihku?”, tanya Bagas. Tangannya berpindah dari bahunya ke tangan Lexi yang masih saling menggengam.

“Tak perlu kau tanya jawabanku, Gas. Kau satu-satunya yang kuharapkan saat ini”, jawab Lexi disela isak tangisnya yang makin membuncah, antara lega, bahagia dan segala perasaan yang campur aduk.

Bagas memeluk Lexi, erat. Mencium leher Lexi, menikmati aroma tubuh dan aroma cinta yang menguar di antara mereka. Diciumnya telinga kanan Lexi, dan kemudian berbisik…

“Aku sayang sama kamu, Lex. Tetaplah jadi Lexi yang apa adanya kamu”.

Dan Lexi hanya bisa menjawa dengan anggukan kecil, sambil mempererat pelukannya di tubuh kokoh Bagas, yang kini telah menjadi lelakinya.

Malam itu mereka bahagia. Bercinta dengan segenap rasa, bukan hanya nafsu dan birahi yang bicara. Tapi asmara yang menguasai segalanya.  Mereka adalah dua insan yang paling berbahagia malam itu. Pantai Parangtritis, dan punggung pintu kamar Lexi yang menjadi saksi, kisah indah antara 2 lelaki ini.

 

—-*—-

5 tahun berselang setelah peristiwa itu

“Emang sinting Lo, Djoe. Muter-muter jawa naik motor, sendirian pula. Hahahahahaha”, kata Bagas sore itu ketika aku duduk santai di kamarnya. Baru beberapa menit mendarat di rumah kost itu setelah melanglang buana kesana kemari.

“Biasa, Gas. Mumpung ada waktu saja lah. Toh gak tiap tahun juga aku bisa bebas kayak gini. Gimana keadaan disini?”, tanyaku sambil melemaskan otot-otot tubuh yang sudah terlalu kaku diterpa angin jalanan.

“Ya masih begini-begini saja koq, Djoe. Teman-teman sepeninggal kamu juga udah mulai bubar dengan kesibukan masing-masing. Di kost itu malah sudah tidak ada anak-anak yang dulu. Sudah pada pindah masing-masing. Tapi tetep koq kadang masih ada pertemuan di tempat nongkrong yang dulu. Sekedar reuni kecil-kecilan, lah. Maklum, meski Jogja seiprit gini, gak banyak kesempatan buat kita yang udah sibuk masing-masing buat sering ketemu kumpul bareng”, cerita Bagas.

“Bagus deh. Kepisah kamar dan rumah bukan berarti kepisah persaudaraan juga lah, Gas”, senang juga mendengar cerita dari sahabat lama.

“Ya udah sana mandi dulu. Dekil banget kau. Trus abis itu istirahat aja sekalian. Bentar lagi aku juga musti jemput Lexi”, suruh Bagas.

“Ah iya, katanya Lexi sudah setahun ini di tempat kerja baru. Gimana kariernya disana? Ada peningkatan?”, tanyaku antusias.

“Hari ini dia pengangkatan jadi karyawan tetap. Dan aku juga sudah berjanji sama dia, kalau memang dia jadi karyawan tetap, aku hadiahi dia motor baru, DP-nya aja sih. Kreditannya tetap jadi tanggungannya dia sendiri. Hahahahahaha”, kelakar Bagas. Nadanya begitu bahagia menceritakan si Lexi.

“Weh mantap! Seneng dah dengernya. Jadi abis ini kau gak perlu antar jemput dia, donk?!”, tukasku.

“Hahahahaha… ya beginilah, Djoe. Soal jemput menjemput sih, aku minta ke Lexi untuk tetap berjalan seperti itu, kecuali memang waktunya tidak bisa. Gimana ya Djoe, menjemput Lexi itu sudah kebiasaan dan, yah… aku menikmatinya malah”, kata Bagas.

Damn! Emang pasangan ini dah!

“Eh, ntar jemput Lexi aku ikut deh. Biar sekalian kita makan malem bareng. Kebetulan aku juga belum makan koq. Dan lagi kangen si Lexi juga”, kataku.

“Ya udah, sana mandi”, jawab Bagas.

—-*—-

“Djoeeeeee…. kampret kenapa gak ngabar-ngabarin dulu deh ah kalau mau mampir! Aku khan belum dandan gini! Sial kau ah!”, sambut Lexi ketika dia melihatku datang bersama Bagas menjemputnya dari kerjaan. Tanpa canggung dia menghambur memelukku.

“Kalo ngasih tau namanya bukan surprise lah, Lex” jawabku seadanya.

“Dan kamu naik motor kemana-mana??? Sinting!!!”, tanyanya ketika dia melihat plat motorku.

“Aku? Sinting? Kayak baru kenal aja kau!”.

Lexi mendengus jenaka ke arahku sambil meletakkan telunjuk kanan dengan posisi miring di jidatnya. Kemudian dia melangkah ke arah Bagas, menyalami dan mencium tangan Bagas.

Sweet!

“Ntar aku cerita! Ntar aku cerita!”, ucap Lexi dengan nada riang dan centil, sungguh khas.

“Iya… ya udah yuk. Kasian tuh kayaknya Djoe udah lapar banget. Dia tadi kusuruh istirahat aja di kost tapi katanya pengen ikut jemput kamu”, kata Bagas kalem sambil menyuruh Lexi naik ke boncengan motornya.

Dan kami berangkat ke sebuah kedai kopi di area kampus. Aku menaiki motorku dengan santai, sengaja terus di belakang mereka. Mengamati tingkah mereka berdua yang sungguh kontras selalu saja menyenangkan. Bagas yang kalem dengan pembawaan yang berwibawa, dan Lexi dibelakangnya yang centil riang dan apa adanya. Sesekali mereka tergelak dan Lexi melambaikan tangannya dengan gemulai memperagakan sesuatu gerakan. Kadang kalau mereka tergelak heboh, aku nyalakan lampu dim, iseng. Yang dibalas dengan juluran lidah Lexi ke arahku.

Sungguh beruntung aku malam itu. Datang tepat pada saat perayaan kecil-kecilan atas berhasilnya Lexi menjadi karyawan tetap di perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Makanan ini itu terhidang di meja kami yang padahal Cuma terisi oleh tiga orang.

Dan tingkah Lexi sepanjang nongkrong itu, tak henti-hentinya membuatku tertawa terbahak-bahak. Tingkah manjanya ke Bagas membuatku tergelak tak henti-henti dan sesekali juga tak kuasa menahan diri untuk menoyor pelan kepalanya. Dan kalau sudah begitu, Lexi akan dengan manjanya berkata “Ihhh….. Gas… aku ditoyor Djoe nihhhhhh” sambil berpegangan ke lengan Bagas.

Menyenangkan.

Dan Bagas hanya bisa tergelak ketika Lexi sudah bertingkah semacam itu. Dia memang tak pernah peduli dengan pandangan orang-orang yang melihat Lexi dengan tatapan yang mungkin kurang lebihnya “ealamak banci bener tu cowok”. Dia tak pernah peduli apalagi malu.

Ah… sungguh pasangan yang… entahlah, tak mampu menerjemahkannya.

5 tahun yang lalu, 2 bulan setelah mereka mengikrarkan cinta mereka di sunyinya Pantai Parangtritis, mereka memutuskan untuk tinggal bersama. Berjuang melewati hari dalam kesederhanaan dan kebersamaan, dalam satu dinding, dan satu ranjang.

Dan dengan semua perjuangan bersama yang mereka lalui selama 5 tahun belakangan ini, dengan semua lika liku “rumah tangga tak sah” kecil milik mereka itu, aku hanya bisa mendoakan semoga mereka diberikan kelanggengan yang entah sampai kapan, mungkin hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Yang penting, selama mereka masih bisa bersatu, mereka masih menikmati kisah hidup yang indah penuh cinta kasih. Lainnya? Tak penting.

—-*—-

Inilah sekelumit kisah nyata tentang Lexi, pria kemayu yang menemukan cinta sejatinya. Sampai sekarang mereka masih tinggal bersama di Jogja, di sebuah rumah kost kecil sederhana namun menjadi surga bagi mereka.

 

Catatan tambahan:

*BBM*

“Lex… aku angkat ceritamu dan Bagas di blog ya?!”

“Eh!!!!! Trus adegan yang gue ditinggal Bagas malam itu juga lo angkat?”

“Ya iyalah, khan itu intrik utamanya!”

“Kampret lo cyin!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

“huauhahahahahahahahaha”

*tombol back*

*tombol delete*

End chat?? YES!!! *sambil ngakak*


8 thoughts on “I Love [kema]You – Seri 6

  1. Oooo jadi ini dia yg pernah aku denger dr kmu, n sempet baca juga dr salah 1 postingan kmu. 5 tahun..hmmm sweet bgt. Mudah2an mreka ga cuma setia hati aja,tp setia body juga. Soalnya banyak yg klo aku baca dr twitter,walo hati milik pasangan teuteup aja bodi n kenti milik semua. Jadi semacam yg….. Lah ini komen panjang bener da! (ˇ_ˇ’!l)

    1. Dear Fero,

      Rumah tangga tanpa ribut??? hmmm ragu.
      pun mereka, cemburu mengenai pihak ketiga dan sebagainya
      5 tahun bukan waktu yang singkat loh untuk tinggal bersama
      dan sejauh ini sih mereka masih bisa saling menjaga
      :)

  2. What a happy ending story, Love it (´⌣`ʃƪ)♡
    Makasiihh abang, uda mau angkat cerita lexi dan bagas…
    Gaya bercerita abang selalu bisa menghanyutkan pembacanya, bukan kalimat2 yg ringan, tp selalu mengalir dan enak utk dibaca. Ga heran selalu ketagihan sm tulisan2 abang.

    PS:
    Klo bisa pasang foto lexi sama bagasnya dong, biar nanti pas ke jogja aku hunting cari mereka, mwaaahahahahaha
    klo bisa juga nama bengkel t4 bagas kerja apa namanya, eiya alamat kost-nya aja deh bang?

    Bang?

  3. Akhirnya bisa juga, setelah liat ada tombol twitter yg nyempil *biasa pake blogger*
    Ok tarjo. Saya selalu kesal dengan tulisan mu. Kenapa bisa bagus begitu??? Hah?
    Dan si Bagas kenapa mau sama Lexi?
    Mendingan sama aku aja :p
    haha.. Tunggu ya jo, nanti aku mail :D

  4. Oh ini ya kisah temen abang yg sempet disinggung di beberapa post sebelumnya. So sweet banget sih. Jadi pengen ketemu sama Kak Lexi dan Kak Bagas juga. Hebat mereka berdua! Pembuktian kalo Gay ga melulu tentang kenti-kenti-kenti tapi juga menyoal tentang hati-hati-hati. (ˆ⌣ˆ)

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s