Kutepis 2 Kurengkuh 3 [End]

………..

Entah apa yang ada di benak orang ini. Selain kenyataan bahwa dia mengungkapkan dengan gampangnya di tempat seramai ini, juga fakta bahwa saling kenal saja baru 2 hari. Sekalipun mungkin aku memang nantinya cinta, apa juga iya secepat ini. Orang ini mungkin gila!

Tapi aku suka!

2

Dua

Ah, angka itu muncul. Angka genap yang sebisa mungkin selalu kuhindari ketika hendak melakukan sesuatu yang kuanggap istimewa, atau paling tidak, tak biasanya.

Apalagi soal ketemu jodoh!

Sekalut apapun, pertanyaan tetap sebuah tanya, ada jawaban yang harus diberikan.

Kubungkukkan badan, kubisikkan…

“Ton, aku tak akan pernah mau menerima cinta seseorang, di hari dimana tanggal itu adalah genap, apalagi dua. Mungkin konyol bagimu, tapi please jangan paksa aku. Kalau kau memang mencintaiku, meski dalam waktu sedekat ini, buktikan. Aku yakin kau bisa menunggu. Tembak aku sekali lagi, esok hari”, jawabku dengan (sebisa mungkin kubuat) santai, senyum terkembang dan mata yang menyorotkan arti semacam “aku juga cinta sama kamu, tapi tidak sekarang, sayang”.

Aku kembali duduk tegak, menyesap minuman blended yang sudah tak lagi dingin, terlalu lama dianggurkan. Mencuri pandang pada mata Anton yang masih saja melongo tak percaya dengan jawaban yang dia terima.

Malam itu, aku tidur dengan buaian mimpi indah, mengetahui bahwa orang yang kukagumi, ternyata memiliki rasa yang lebih dari yang kurasa di hati.

Sedangkan dia, aku yakin tidur dengan sejuta tanya, orang gila macam apa yang mondar mandir tak kenal lelah, di hati dan pikirannya, yang begitu takut dengan angka dua.

Dan aku tergelak membayangkan mimik mukanya.

—-*—-

Sejak dari jam 6 petang itu, aku menunggunya dengan gamang.

Anton meneleponku tadi siang, singkat saja. Mengatakan bahwa malam ini, dia akan datang jam 7, mungkin dating, atau sekedar jalan kemana mengosongkan piring.

Deal.

Sudah satu jam lebih dari jam yang dia janjikan. Dan dari percakapan yang sudah-sudah, aku tahu bahwa dia bukanlah orang yang gemar menyia-nyiakan waktu.

Di luar, gerimis mulai menderas, segera berganti nama menjadi hujan. Memberikan debaran yang makin tak karuan. Akan datangkah dia? Atau hanya sekedar harapan?

Sedikit menyesal juga kemarin telah menolaknya hanya karena tanggal. Tapi aku memang tak pernah nyaman dengan apa yang kuyakini itu. Sudahlah, aku tak mau tawar menawar pada keyakinanku sendiri.

Sudah hampir dua jam. Hujan sudah menguasai malam sedari tadi. Kumatikan televisi yang hanya malah memperburuk pemikiranku. Namun aku masih menunggu, dengan mata yang tiap menit makin sendu. Bolak balik melirik pintu.

Pesan singkat yang kukirimkan, belum ada pertanda sudah sampai. Bahkan kucoba telepon untuk memastikan keadaan pun, nomornya tidak aktif.

Aku makin kalut.

—-*—-

Suara deruman motor itu aku kenal betul. Motor bebek yang sudah sedikit diutak atik. Derumannya mendekat ditengah rinai gemericik hujan, sebelum akhirnya suaranya berhenti, tepat di depan kamarku.

“Maaf, hujan deras, dan kau tahu sendiri, jakarta selalu saja banjir dimana-mana hanya dengan hujan semacam ini. Jadi aku harus berputar ke lain arah. Hape kumatikan karena basah”,  terangnya tanpa kutanya.

Kuangsurkan sebuah handuk bersih untuk mengeringkan beberapa bagian tubuhnya yang tetap basah meski sudah menggunakan mantel hujan. Dengan sebuah senyuman aku membalas ucapannya. Kurasa cukup mewakili.

Tak terlalu lama, hujan perlahan berhenti.

“Jalan yuk, mumpung hujan sudah lumayan reda”, ajak Anton.

Aku mengiyakan dengan satu anggukan kecil. Mengikutinya yang mulai berkemas untuk mengelilingi malam entah kemana. Dengan segala kesingkatan kisah di antara kami, aku pun kagum pada diri sendiri. Bagaimana bisa aku percaya pada orang yang baru 3 hari kukenal dengan sedemikian rupa. Entahlah. Aku mempercayai saja kata hati. Toh biasanya dia benar, hatiku.

Sepanjang jalan, aku puaskan diri untuk mendekapnya. Inilah segi positif dari bepergian naik motor. Bisa mendekap tanpa harus cemas terlihat berlebihan. Dan aku sangat menikmatinya. Saking menikmatinya, aku bahkan hanya bisa terdiam setiap kali Anton melayangkan tanya, meski Cuma sekedar basa basi. Mulutku terlalu kaku untuk berucap meski Cuma sepatah kata. Tubuhku terlalu menikmati apa yang kudekap.

Anton mungkin khawatir.

Di satu ruas jalan, di bawah sebuah pohon lebat yang mampu melindungi kami dari terpahan gerimis sisa-sisa hujan tadi, dia menghentikan laju sepeda motornya.

Dia turun dan menggenggam tanganku.

“Kamu kenapa? Sakit?” tanyanya, khawatir.

Aku hanya menggeleng lemah, tapi dia pasti tahu bahwa aku berbinar.

“Ar, aku bisa dan berani bilang bahwa benar aku mencintaimu meski perkenalan fisik kita baru sebatas tiga hari. Aku hanya mengikuti apa yang hatiku rasa, dan aku serius dengannya. Jadi, seperti yang kau minta, sekali lagi aku tanya, maukah kah jadi kekasihku?” tanya Anton sembari menggenggam tanganku dengan dua tangannya.

Cahaya di tempat itu hanya remang-remang. Tapi aku bisa lihat ketulusan yang terpancar di matanya, dan kesungguhan dari tiap kata yang mengalun dalam suaranya. Iya, akhirnya dia mengatakannya, lagi, di hari yang kuinginkan juga.

Aku menciumnya, tanpa ragu. Menuruti rasa bahwa aku pun menginginkannya.

 

Malam itu kami memutari kota, nekat melawan dinginnya cuaca malam itu. Karena hanya hangatnya kasih yang kami rasa saat itu.

3

Angka ganjil dengan segenap keganjilannya, yang selalu kusuka. Dan aku mendekap angka itu, malam ini, dengan hati bergelimang cinta.

Love you, my man :)

 

Note:

This story is based on a real-story from @alan_ardian

Thanks for sharing, Arya :)


6 thoughts on “Kutepis 2 Kurengkuh 3 [End]

  1. Arghhhhh,,,
    So sweet bgt Jo,,,

    *suka bgt ma pilihan kata2mu yg mudah dipahami n ngalir aja gt

    Berharap bs memiliki kisah yg layak u/ dtuliskan oleh Jo jg

    :)

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s