Kertas Daur Ulang

.

From     : RahardianTjhandra@xxxxx.com

Subject : Tenant

Dear,

Berikut ini saya lampirkan beberapa tenant yang sudah bersedia untuk bergabung dalam event yang perusahaan tempat Bapak akan gelar minggu depan.

Mohon kabar tentang acc hal ini secepatnya.

Kalau berkenan, hubungi saya di 081237xxxxxx

Terima kasih.

Regard,

Rahardian Candra

Email itu masuk ketika aku sedang menikmati suapan kelima saat makan  siangku saat itu. Hufftt… kadang hidup memang lebih tenang tanpa blackberry di tangan. Tapi pekerjaan dibidang organizing memang tak memungkinkan untuk terlalu lama berpisah dengan smartphone.

Ku forward email itu ke boss besar. Itu bukan urusanku sebenarnya. Tapi boss besar yang memang kadang moodnya selabil upil, selalu memaksa aku untuk tahu segala hal yang terjadi di perusahaan. Jadi semua mail harus melalui aku. Damn!

Tring!

Sebuah BBM, dari si boss.

“Kamu atur meeting untuk lusa dengan Rahardian itu ya. Ada beberapa hal yang Bapak tidak suka dan harus dibenahi. Kalau bisa sekalian atur untuk diadakan di jam makan malam, jadi bisa sekalian dan sedikit santai”

Fine, selera makanku total hilang.

—*—

“Pak, Cuma mengingatkan bahwa nanti malam kita ada meeting mengenai tenant yang akan bapak acc untuk event minggu depan dengan orang StreamLine Organizer. Jam 8 malam seperti yang Bapak minta kemarin”, kataku ketika harus menyerahkan notulen perusahaan di meja boss.

“Waduh… Bapak lupa kasih tahu kamu kalau nanti malam Bapak harus dampingi istri kondangan ke kerabat. Kamu wakili saya ya nanti malam!”, tanpa dosa boss meminta.

“Tapi, Pak…”

“Sudah, Bapak percayakan sama kamu. Nanti Bapak kasih semua info tentang tenant yang bisa masuk dan yang tidak. Juga beberapa detail yang harus mereka sediakan untuk event itu. Toh kamu juga masih single khan?! Jadi tidak banyak urusan lah. Daripada bengong di rumah juga”, potong boss sebelum aku sempat mengucapkan penolakan.

Sialan!

Demi apa boss mengungkit kehidupan pribadiku dan membahas soal kesendirianku! Toh aku single bukan berarti aku hanya berdiam diri di rumah khan?! Busuk! Tapi memang malam nanti aku tidak punya acara, paling tidak yang bisa kujadikan alasan.

Sial!

Aku meninggalkan ruangan boss dengan langkah gontai.

—*—

“Kamu gak pulang, Ka? Sudah jam setengah enam ini, loh”, si boss bertanya ketika melewati mejaku. Hendak pulang.

“Pak, tempat tinggal saya dengan meeting point nanti malam itu terlalu jauh karena jatuhnya memutar arah. Yang ada waktu saya habis di jalan Cuma buat bolak-balik gak jelas. Jadi mending saya stay di kantor, sekalian kerjain kerjaan besok”, jawabku.

“Tapi itu gak dihitung lembur loh”, kelakar boss.

“Bapak lupa?? Sejak kapan kantor ini punya sistem lembur???”, sindirku.

“Hahahahahahahaha.. ya sudah. Bapak pulang duluan ya. Si nyonya sudah menunggu. Kamu hati-hati nanti”, dan dia ngeloyor, tanpa dosa.

Good!

Kututup semua aplikasi pekerjaan, berpindah ke safari. Jauh lebih mending aku luangkan waktu untuk online. Sekedar chit chat di twitter dan mempermak sedikit isi blog-ku. Kerjaan besok? Kenapa harus dikerjakan sekarang? Bitch!

—*—

“Selamat malam, aku Rahardian dari StreamLine Organizer. Koq sendiri? Mana pak boss?”, sapanya ketika menghampiri mejaku di meeting point yang telah kubuat. Seorang pria matang yang kutaksir berusia sekitar 29 tahun. Tegap berisi namun terlihat kencang, tatanan rambut belah pinggir yang entah dari model tahun kapan tapi kulihat pas dengan paras mukanya yang tidak terlalu tampan tapi terkesan gahar.

“Dia kebetulan ada kepentingan mendadak dengan keluarganya, jadi aku yang mendapat bagian untuk menggantikan keberadaannya dalam meeting kecil ini. Silakan duduk. Sendirian?”, jawabku sambil menyalaminya.

Sebenarnya bahasan tentang pekerjaan yang harus kami bahas, singkat saja. Tak lebih dari 45 menit juga sudah clear. Tapi jarak yang tidak dekat, membuatku malas untuk segera beranjak pulang. Jadi aku memutuskan untuk sekalian saja makan malam di tempat itu. Dan ternyata Rahardian pun mengiyakan.

Kalau kupikir, ternyata tak terlalu rugi juga menuruti kemauan semena-mena si boss. Rahardian yang meminta untuk dipanggil Ardi saja itu, ternyata pribadi yang menyenangkan untuk diajak ngobrol. Dia pintar memancing topik.

Dan penawaran dia untuk memberikan tumpangan bagiku pulang, kuanggap sebagai point tambahan untuknya.

—*—

Entah karena event yang perusahaan kami gelar ini, atau mungkin memang intensitas pertemuan kami yang makin banyak, kami jadi semakin akrab satu sama lain.

Bahkan setelah event itu kelar, dia masih tetap sering mengajakku sekedar hang out bareng. Dia yang berhasil membuatku sedikit beranjak dari kepompong kenyamanan yang selama ini kubangun dengan kesendirianku.

Ardi seperti sosok yang tak pernah punya masalah. Dari pertemanan yang kita jalani, hampir tak pernah ada kata keluhan keluar dari bibir merahnya. Sedikit aneh memang, kontras denganku yang selalu saja menginginkan semua serba sempurna.

—*—

“Ka, malam ini aku menginap di tempatmu, ya?! Aku malas pulang”, katanya suatu ketika, saat kami baru pulang dari menonton sebuah film di bioskop di pusat kota.

“Santai lah, monggo saja, koq”, jawabku memberinya ijin.

“Mandi dulu gih sana. Belum mandi khan kau setelah seharian aktifitas tadi”, suruhku sambil mengangsurkan handuk warna ungu tua.

Dia menerimanya dan melenggang ke kamar mandi. Guyuran air terdengar semrawut. Heboh benar orang itu mandi. Aku Cuma senyum-senyum kecil sambil mempersiapkan kasur untuk tidur kami. Ah, untung kasur kami cukup besar untuk ditiduri dua orang.

Ketika dia kelar mandi, aku melangkah ke kamar mandi, sekedar cuci muka dan bersih-bersih diri. Sore tadi aku sudah mandi, jadi kupikir tak perlu mandi lagi. Sedikit berdesir juga ketika harus berpapasan dengan Ardi yang hanya berlilit handuk, mengagumi dalam diam betapa sempurna pahatan otot yang dia miliki, setidaknya bagiku.

Otak! Demi apa aku mengamatinya terlalu dalam!

Seperti yang aku bilang, Ardi memang seperti tak pernah kehilangan topik pembicaraan. Bahkan ketika kami sudah berbaring di ranjang, dia masih saja berceloteh. Aku sendiri sibuk mengatur agar konsentrasiku fokus pada omongannya, tidak pada lekuk tubuhnya yang begitu dekat denganku.

Susah!

“Ka, kenapa kau betah banget dengan kesendirianmu? Kau tidak menginginkan seseorang yang bisa kau peluk?”, tanyanya.

“Hahahaha.. sendiri itu nikmat! Soal pelukan, aku punya guling, koq. Atau kau mau kupeluk?”, kelakarku.

Sungguh tak pernah kuduga. Dia menarik tanganku, dan meletakkan di dadanya sembari berkata “Kenapa tidak?!”.

Aku mati kutu! Tak sanggup lagi kutahan debaran yang sudah dari tadi kuatur sedemikian rupa agar tak berdetak terlalu cepat. Adrenalin dan nafsu?? Sungguh paduan sempurna!

Tekstur dadanya kurasa begitu sempurna di tanganku. Argh… dalam objek seindah itu, menahan hasrat untuk menggeser tanganku sekedar menyisir bagian lain adalah sangat susah. Dan wajahku yang otomatis menghadap ke tubuhnya, menghembuskan nafas yang antara menderu dan tercekat.

Dan bibirnya mendekat pada bibirku. Memagut lembut bibir bawahku dengan satu hisapan lembut yang terasa begitu sempurna.

Kami bercumbu dengan nafas menderu. Bercinta dengan nalar yang mengalir apa adanya. Entah siapa yang memulai. Kamar sempitku menjadi begitu hangat, atau gerah, entahlah. Tak ada bedanya.

Pengalaman indah, dan yang pertama bagiku.

Satu pelukan, berjuta rasa, menjadi awal cerita, kisah antara aku dan dia.

*Bersambung


2 thoughts on “Kertas Daur Ulang

    1. Dear cappucino,

      Ah.. Guess it’s nice to sip you on my mouth
      I love cappucino, the dark one
      #Eak
      #SalahFokus

      Eh eh eh
      Sabar ya
      Cinta pasti punya jalannya
      Cuma ya itu, musti siap dengan kemungkinannya
      Apakah dia punya jalan untuk bersatu?
      Ataukah jalan untuk menyudahi?
      But whatever, Love is beautifull, with all its story ;)
      #Pukpuk

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s