Obrolan Pantai

.

Hari ini makin penat saja. Niat untuk berkeliling ke beberapa tempat yang konon bisa membuat orang lupa dengan pikiran dan masalah hati, tak juga menarik untuk kusambangi.

Aku ambil ipod, beberapa buku, kumasukkan ke tas cangking lusuh warna biru muda. Dengan motor bebek sewaan, aku menuju pantai yang konon hanya ramai dikunjungi para peselancar. Aku Cuma ingin ketenangan saja.

Indah juga pantai ini. Hanya berisi satu kafe (entahlah, mereka menuliskan warung di papan nama mereka) dengan beberapa payung dan kursi rebah. Ah, masih ada satu payung kosong. Segera kududuki, malas saja kalau harus berebut kursi dengan orang lain.

Satu porsi sandwich, secangkir mocca latte dan sebotol air mineral. Aku tak terlalu lapar dan aku sedang tidak selera makan (berat) sama sekali. Sandwich itu saja hanya sekedar formalitas. Tak enak rasanya jika aku hanya memesan minuman, karena rencanaku mungkin bisa saja aku seharian berbaring di kursi malas ini.

Di meja sebelahku persis, 2 pria ngobrol santai. Yang satu sedang sibuk memoles papan surfingnya, sedangkan satunya sibuk mengobrak abrik tas cangklongnya, entah mencari apa. Sekejap melirik, dan tentu saja telinga ini tak sengaja mendengar obrolan mereka. Akrab sekali. Membuatku malas mengeluarkan ipod untuk mendengarkan musik kesukaanku. Nanti saja, pikirku.

“Kamu semalam ngapain aja sih Ay sama temen-temenmu? Sampai bisa pulang jam 2. Padahal khan kau tahu hari ini kita ada acara”, sambil memoles papan surfing dengan lilin kudengar dia bertanya”

“Hahahahaha… curiga deh! Salah sendiri aku ajak gak mau! Toh kamu khan udah kenal mereka, lah! Semalam kita itu karaoke, ya namanya rame-rame, ya lama pastinya. Abis itu ngelayab cari makan”, yang satunya menukas panjang tapi sambil tetap sibuk dengan tasnya.

“Bukan curiga, Ay. Kamu khan gak bilang bakal pulang selarut itu”

“Iye, maap. Cerewet. Nih, pake!”, sahutnya sambil menyorongkan botol warna kuning, sepertinya lotion sunblock.

“Kamu balurin punggungku dulu deh. Gak liat aku masih sibuk sama lilin?!”

“Kampret! Aku bukan pembantumu ya!”, protesnya, tapi tetap sambil beranjak, untuk kemudian membalurkan lotion itu di punggung si surfer, punggung yang lebar.

“Bukan pembantu, tapi kekasih”

“Gombal!”, tukasnya sambil meninju sedikit lengan kanan si surfer. Tapi sekilas bisa kulihat, rona bahagia di matanya.

Manis!

Aku makin malas untuk memasang headset di telingaku. Obrolan dan tingkah mereka lebih menarik minatku. Menghibur dalam artian positif. Bahkan buku yang kupegang tak pula beranjak dari halaman yang itu-itu saja. Tingkah mereka berdua, jenaka penuh cinta. Sampai agak sakit mata, aku bolak balik melirik mereka. Sedikit terselematkan dengan sunglass yang kupakai.

—*—

“sendirian aja, mas?” tanyanya sambil membalurkan sunblock di area lengannya.

Spontan aku menoleh. Tak menyangka akan diajak ngobrol begini. Curiga bahwa dia menyadari ketika aku mencuri pandang ke mereka dan menguping. Sial.

“Eh… iya, sendirian aja. Emang gi pengen menyendiri aja sih”, jawabku sekenanya. Jujur, khan?!

“Gi ada masalah ama cowoknya?”, super santai dia melempar pertanyaan itu.

Kalau aku bilang wajahku memerah karena sengatan matahari, maka aku berdusta. Toh payung ini membayangi tubuhku dengan sempurna. Pertanyaan itu, sungguh mengejutkan. Semudah itukah dia mengenali bahwa aku gay?? Sekeruh itukah wajahku saat ini hingga dia bisa dengan mudah membaca aura mendung yang terpancar dari raut wajahku?? Sumpah, malu!

“Santai lah, mas. Situ gak nunjukin gelagat gay sama sekali, koq. Sekedar feeling aja. Toh diperkuat demi lihat bacaan situ”, sedikit terkekeh sopan dia bicara sambil mengerling ke arah buku yang  kupegang.

Blah…

“Eh… e.e.e.enggak koq, Cuma sedang ribut kecil aja”, sukar dipercaya, justru aku menjawab dengan kejujuran yang tak terkira. Ah sudahlah, kepalang tanggung. Toh dia orang asing juga, mungkin penduduk sini. Jadi aku tak perlu khawatir. Lagipula memang mungkin aku perlu kawan bicara. Dan ngobrol dengan orang asing?? Patut dicoba. Aku berjudi.

“Oh… wajar lah dalam suatu hubungan. Pertengkaran kecil khan bumbu. Asal hati-hati aja. Salah-salah, jadi kebanyakan bumbu, jatuhnya malah ancur tu masakan, tak bisa dinikmati, hingga akhirnya basi”, katanya.

Dengan kekuatan yang entah bagaimana, aku makin tertarik dengan pembicaraan ini. Ini bukan aku, yang biasanya sangat menutup diri dari pembicaraan dengan orang asing. Tapi entahlah, orang ini seperti membuatku ingin bercerita banyak hal. Tentang alasanku minggat barang beberapa hari ke pulau ini.

“Kalian sendiri….” ragu melanjutkan kata-kataku, takut menyinggung. Tapi pandangnku jelas mengarah ke seseorang yang sedang sibuk dengan papan surfingnya di antara deburan ombak.

“Dia?? Iya. Dia kekasihku, koq. Gak usah canggung, toh gak ada yang peduli disini” potongnya.

“Masih baru ya?”, tanyaku iseng.

“Hahahahahaha… kalau lima tahun bareng masih bisa dianggap baru, ya berarti kita masih baru. Masih seumur jagung lah bisa dibilang”, tergelak terguncang-guncang dia sukses membuatku menganga, makin kagum.

“Salut, aku lihatnya kalian seperti pasangan baru yang sedang hangat-hangatnya”, tulus aku melempar pujian itu.

“Hahahaha… terima kasih terima kasih. Ada-ada saja”,

“Hebat, sudah selama itu. Dan adem ayem…”, bahkan aku sudah menggeser arah dudukku, menghadap dia.

“Yah, namanya juga hubungan lah, mas. Pasti ada ribut, begitu juga kita. Cuma kita memang dari awal berkomitmen, bahwa tidak ada rahasia di antara kita kalau itu memang menyangkut hubungan kami berdua, apalagi soal rasa, harus jujur-jujuran. Dan lagi, kami sama-sama memposisikan diri, kapan kami adalah kekasih, kapan kami adalah sahabat karib, bahkan kapan saat kami adalah saingan bagi satu sama lain, dalam hal positif tentunya”, sambil menyeruput lemon tea ice-nya dia panjang lebar menjawab.

“Kalian tak pernah bertengkar hebat?”, aku makin penasaran.

“Sampai salah satu pergi meninggalkan satunya?? Seperti mas sekarang ini? Tentu saja pernah.”, dia senyum, bukan menghina atau sinis, tapi mampu membuatku terpaku dan tertohok.

“Cuma ya itu, dalam masa pisah kami itu, kami masing-masing instropeksi diri, dan yah, di antara kami gak pernah ada gengsi untuk minta maaf, sih”, lanjutnya.

“Hebat ya”, kataku

“Hahahaha… kami saling belajar koq. Dulu, aku adalah orang yang paling tidak mampu mengutarakan apa yang kurasa. Sebaliknya dia, terlalu meledak-ledak orangnya. Jadi kami saling mengingatkan, dan saling belajar”.

Nancep!

 

“Woy… katanya mau renang??? Ntar keburu surut baru ngamuk2!!!”, teriak seseorang dari papan surfingnya, dengan suara keras sambil terapung-apung seksi di atas papan selancarnya.

“Iya gue turun sekarang!!! Hehehehehe… udah dulu ya. Pengen renang soalnya hari ini, mumpung gi dapet liburan bareng juga. Enjoy the beach ya…”, pamitnya sebelum dia berlari menyongsong ombak.

Seru sekali melihat mereka. Ada semacam rasa iri terselip di hati. Tapi rasa bahagia memandangi tingkah jenaka mereka lebih merajai. Lingkaran kecil yang manis.

Sejenak aku larut dalam lamunan manis, memandang mereka yang bercanda di tengah derai ombak, tapi pikiranku melayang entah kemana…

 

Tring….

Sebuah suara dari ponsel smartphoneku, sebuah email.

From     : Andi_87@xxxxx.com

Subject : Rindu

Body:

Dear,

Aku tahu kau masih marah, masih mengagungkan emosi yang memang telah aku picu. Masih memanjakan dendam atas ucapan dan tingkahku yang sudah kusadari, kenakan-kanakan.

Tapi kuharap kau juga tahu, bahwa itu adalah ungkapan spontan. Aku takut kehilanganmu!

Tolong…

Pulang…

Aku sudah lelah bercerita dengan bantal  yang hanya bisa memetakan air mataku…

Tolong… hanya untukmu aku berani merindu

 

Regard,

Masih-mencintaimu

 

Aku terpaku memandang email singkat itu. Kelebatan bayang tentang masa-masa indah kami yang kemudian melontarkanku pada pulau ini, sekarang ini, hanya karena pertengkaran hebat 4 hari lalu, pertengkaran yang muncul karena aku salah menafsikan keadaan, tak memahami bahwa dia begitu mencintaiku dan takut kehilangan.

Aku menyadari kebodohanku.

Aku menangis, menyesap sesal dan dijejali rindu.

Segera kukemasi semua barangku. Aku harus pulang saat itu juga. Cukup keegoisanku menyiksa kami berdua.

Aku sempatkan diri menyentuh ombak, berpamitan dengan sahabat baru itu.

“Hai, aku pulang sekarang. Terima kasih banyak untuk obrolan yang hangat tadi”, pamitku dengan seuntai senyum tulus yang bisa kuberikan pada dia yang sedang berenang-renang meningkahi ombak.

“Eh, mau pulang?? Beneran pulang maksudnya?”, tanyanya.

“Iya, barusan dapet email yang menyadarkan betapa egoisnya diriku”, jawabku.

Dan dia tersenyum, begitu tulus dan indah senyum itu. Berjalan melawan ombak yang menyeretnya ke laut, mendekat padaku.

“Gue yakin dia akan jadi manusia paling bahagia ketika nanti kau mengetuk pintu rumah kalian. Hati-hati ya, dan sampaikan salam kami padanya”, ucapnya tulus sambil menjabat tanganku.

“Terima kasih. Dan sampaikan salamku juga pada kekasihmu, begitu menyenangkan melihat kalian”, katakuk sambil mengerling ke arah lepas pantai, di antara ombak yang melebur dimana seseorang sedang begitu asyik bercinta dengan papan kesayangannya.

Kami berpisah dengan sesungging senyum.

Dan ketika aku sudah duduk nyaman di pesawat yang akan membawaku ke Bandung, aku baru menyesal, aku bahkan belum sempat menanyakan nama mereka! Ah, semoga suatu hari nanti kalau aku (dan kekasihku) punya kesempatan ke pulau ini lagi, aku bisa bertemu mereka, lagi.

Sayang, tunggu aku pulang. Tunggu aku dengan rindumu, dan rinduku.

Bali, 23 April 2012


6 thoughts on “Obrolan Pantai

  1. Jadi ini alasan kang tarjo sempat menghilang selama beberapa saat?

    Hampir saja saya minta bantuan tim Sar buat nyari.

    Paling suka bagian ini,

    “Eh, mau pulang?? Beneran pulang maksudnya?”

    Karena pulang sesungguhnya adalah kepada mereka yang sanggup menenangkan semua badai hidup.

    *peluks*

    1. Dear Cino,

      Bahahahaahahaha
      Gak semua kisah itu tentang Tarjo kali, ah
      :p

      Karena pulang sesungguhnya adalah kepada mereka yang sanggup menenangkan semua badai hidup
      << Anjir… Love that quote!!!!

      *peluk balik*

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s