Gili Fairy

.

Dan disinilah kami sekarang, penerbangan murah meriah hasil berburu tiket promo. Berangkat berdua menuju Lombok, rencana untuk bersantai di Gili trawangan. Nanti kami harus singgah di bandara Nugrah Rai, Bali.

Perjalanan sinting yang direncanakan sekenanya di obrolan makan siang hari Kamis minggu lalu. Percakapan dua pegawai satu gedung beda perusahaan yang sama-sama penat oleh bejibunnya invoice dan segala tetek bengek pekerjaan lainnya.

Aku duduk di window-seat, disampingku ada Ardi. Pria berusia matang berperawakan tak terlalu berotot tapi justru memiliki daya tarik yang luar biasa. Wajahnya yang serupa pria kebanyakan, sepintas tak menarik. Atau dipandang lama juga sama saja. Dan aku, Cuma pecundang yang berani menjadi pemuja rahasianya. Menjadi teman curhatnya, apapun itu. Karena mendengar suaranya saja sudah membuatku mabuk kepayang. Apapun topiknya!

Kali ini aku berharap dongeng yang sering kubaca bisa menjadi nyata. Pergi berdua dalam pertemanan, pulang dalam kasih percintaan.

Manis (khalayanku) nya…

—*—

Ardi mengeluarkan pocket camera-nya. Dengan gaya bocah yang baru saja naik pesawat di usia yang mungkin terlalu tua untuk mengetahui segalanya. Risi aku melihatnya.

“Oh my… terus begitu turun nanti kau bakal upload ke facebook atau twitter, mengumumkan pada seluruh dunia dimana kau sekarang ini”, kataku.

“Sinis mungkin memang sudah mendarah daging di lidahmu, ya, Yud. Jangan picik. Aku juga mencintai koq saat-saat orang hanya bisa menerka dimana aku berada. Lagipula, kapan terakhir aku upload foto?? 2 tahun lalu??”, sergahnya, sambil menggeser lengannya agar bisa menjangkau ekspresi kami berdua, dengan senyum sumringah ringan ke penumpang di sebelah kanannya yang kurang lebih berarti “Permisi, maaf ya, sedetik saja”.

“Pertanyaannya bukan kapan terakhir kau mengupload foto. Tapi, memang ada yang mau repot-repot menerka kau sedang dimana??”.

“Big thanks to remind me, Yud. You’re so kind honest guy!”, jawabnya jengah sambil memasukkan kamera itu ke kantongnya.

“Aku gak perlu mengingatkan tahun ini kau berulang tahun yang keberapa khan, untuk menghilangkan ngambekmu yang kayak anak SMP itu?”.

“Aku, ngambek sama kamu?? Boros energi!”.

“Hahahahahaha… pintar! So, OK. Apa tendensimu kalau begitu, Mr. SerbaNgeles??”, kelakarku.

“Sekedar memory saja, sih. Pun, kapan  sih kita jalan-jalan berdua kayak gini??? Aku aja heran kau bersedia minggat dari meja kerjamu yang super suci itu. Lagipula, bisa jadi cerita khan buat dia”, Ardi nyengir kuda, benar-benar kuda yang menyebalkan!

Aku menyesal sudah repot-repot bertanya. Jawabannya semua menimbulkan hasrat untuk melemparnya keluar pesawat. Bisa-bisanya dia menghina meja kerjaku. Dan cerita tentang dia???  Semoga liburanku tidak rusak dengan cerita cinta tentang “dia” yang entah siapa dan entah kapan endingnya.

“Serah kamu, lah! Aku mau tidur. Bangunkan aku hanya jika kita sudah mendarat di Bali!”, tanpa menunggu jawabannya, aku memasang headset. Telingaku berdenging bukan karena deru mesin pesawat, tapi karena jawaban Ardi.

—*—

Perjalanan dari Bandara International Lombok – Senggigi membuat kami sibuk membahas khayalan manis kalau jalanan di Jakarta bisa sedamai itu. Lebar dan lengang. Mukjizat yang terlalu tinggi. Malam itu kami memang akan menginap semalam dulu di Senggigi, karena penerbangan kami yang terlalu sore sehingga tidak mau memaksakan untuk langsung berguling-guling di pantai di Gili Trawangan.

Kami menginap di satu hotel kecil, yang ternyata membuat Ardi tak henti-hentinya mengomel tentang nyamuk yang seperti berpesta di kulit coklatnya. Untung aku membawa beberapa botol anti nyampuk spray, jaga-jaga.

—*—

Sore itu kami kami geleparan di pasir pantai. Mengeringkan badan sambil melemaskan persendian setelah snorkeling yang mengagumkan. Kamera Ardi yang ternyata waterproof sampai harus kedip-kedip kehabisan baterai saking maksimalnya bekerja. Dan aku gembira saja dipotret sana-sini. Pengalaman pertamaku melihat keindahan bawah laut!

“Huah… berbaring disini sambil memeluk dia yang sama-sama kelelahan sehabis snorkeling, romantis mungkin , ya”, kata Ardi sambil memejamkan mata. Entah membayangkan apa yang diucapkannya, atau menghindari cahaya matahari.

Ahhh… again this kind of conversation should be happen in the moments that i enjoy a lot! Please stop the shit story of your imagination about your-dreaming-lover! Bored! You kill me slowly!

“Telpon, suruh kesini. Ngayal sampai kau tenggelam di dasar laut Lombok sini juga gak bakal kesampaian!”, timpalku sekenanya. Aku sedang sangat tak ingin mendengarkan curhatannya sebenarnya, paling tidak untuk saat ini.

“Hahahahaha… entahlah. Sekarang saja aku merasa sangat dekat dengan dia”, dia makin senyum-senyum tak jelas.

I was think to go shinking to stop your holy story, Di!

“Ah… serah kamu lah”, dan aku beranjak, kembali ke air. Entah, pasir itu kurasa tak lagi nyaman untuk kududuki. Dengan obrolan khayal dari Ardi tadi, aku muak tanpa bisa bilang apa-apa.

“Kemana kau? Mau berenang lagi? Sinting!”, Ardi mendongakkan kepala ketika mendengar suara krasak-krusukku beranjak.

“Mendingan aku kecapekan berenang daripada panas kuping dengerin khayalan siang bolongmu!”, aku melangkah cuek, padahal bergemuruh.

“Ya ya ya, Mr. Sinis. Go on…”.

Dan ucapan itu tak bisa kuanggap candaan. Ada apa ini denganku. Sudah terlalu berharap lebih atau apa??? Sial! Kalau sampai hari terakhir Ardi tetap terus dengan khayalan cintanya dengan si dia, mungkin aku harus menyesali liburan kali ini.

Aku renang dengan kecipak tanpa aturan.

—*—

“Rapi sekali, mau kemana kau?” tanyaku menatap heran Ardi yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin.

“Cuma jalan-jalan malam sebentar. Jangan bilang kau takut kutinggal sendirian di kamar ini?!”.

“There’s nothing to do with fear! Atau jangan-jangan…” aku bangkit dari ranjang, duduk di meja samping cermin sambil mencomot satu cookie.

“Apa?”, sambil mencomot sisa cookie yang masih ada di tanganku.

“Jangan bilang si “dia”mu itu ada di pulau ini juga?!” tanyaku penuh selidik.

“Hahahahaha… selamat tidur, Yud. Gak usah  nunggu aku pulang ya. Nanti aku minta kunci kedua di resepsionis”, jawabnya sambil ngeloyor pergi. Bukan jawaban.

Dan bantal sofa yang ada di dekatku spontan melayang ke arah pintu begitu kudengar langkah dia menjauhi kamar.

Ardi brengsek!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sisa waktu, aku hanya bergulir-gulir gelisah, gonta ganti channel tanpa fokus, bolak balik ke kamar mandi yang berujung Cuma memandangi cermin, lalu balik lagi ke ranjang.

Antara sudah terlanjur menyesali liburan ini, menyadari tololnya aku untuk mencemburui Ardi yang bahkan Cuma sekedar teman. Dan berakhir dengan masturbasi dengan latar frustasi dan emosi. Sungguh tidak nikmat sama sekali, dengan membayangkan Ardi sekalipun!

—*—

Ardi menarik kakiku dengan kasar, kebiasaan.

“Bangun, pemalas!!! Kita ada jadwal ke Gili Meno hari ini!!!”.

Aku Cuma menyingsingkan mata sedikit, melihat dia yang sepertinya sudah siap melompat ke perahu yang akan membawanya ke pulau tetangga. Entahlah, aku sedang malas melihatnya.

“Aku gak ikut! Aku malas kemana-mana hari ini! Kamu aja deh, yang pergi!”, sambil menarik kembali selimut dan memeluk guling erat, meringkuk.

“Ah payah kau, ah. Liburan bareng ngapain perginya sendiri-sendiri gini?!”, dia menyibak selimutku, masih berusaha.

“Payah?? Pergi sendiri?? Terus apa kabar semalam?? Atau itu bukan “sendiri” bagi kamu, Di?”, aku sudah duduk, menatapnya.

“Astaga… perkara semalam kau jadikan masalah??”, dia terheran-heran dengan ekspresiku, mungkin.

“Kalau bukan masalah buat kamu, ya sudah lah sana, pergi saja. Aku sedang ingin berbaring saja di kamar ini, hari ini!”, aku menarik selimut sampai menutupi kepalaku.

“Serah kamu, lah. Aku pergi!”, dan dia benar-benar pergi. Menutup pintu dengan suara yang sedikit lebih keras dari biasanya. Dan kali ini bantal tidurku yang melayang ke arah pintu.

—*—

“Masih marah gara-gara semalam??”, Ardi duduk di hadapanku. Di teralis teras kamar setelah dia membersihkan diri.

“Sudahlah, gak usah dibahas. Gimana Gili Meno?”, kataku datar sambil meneguk sekaleng beer.

“Aku gak kesana, koq. Cuma berenang di pantai depan”, katanya ringan sambil meneguk beer dari kalengku.

“Heh… kenapa gak jadi?”.

“Kesana sendirian padahal rencananya kita pergi bareng?? Malas sekali!”, katanya sambil santai berpindah duduk ke kursi rotan disebelahku.

Oh my… baru terasa betapa konyolnya kemarahanku yang tak beralasan!

Dan aku tak bisa bicara lagi. Tak menjawabnya.

“Ntar malam kutraktir makan, ya. Anggap saja sebagai penebusan kesalahanku yang entah dimana letaknya, semalam”, kata Ardi.

“Emmmm…”, aku ingin menolak. Bukan karena tak ingin. Tapi dia tak perlu meminta maaf seperti itu, khan?! Justru aku yang dirundung perasaan bersalah.

“Halah sudahlah, gak usah nolak. Ntar jam 7 malam sudah siap cabut. Aku mau tidur sore. Bangunkan aku jam 6.30 nanti, ya” katanya sambil beranjak masuk ke kamar.

Oh Ardi… beruntungnya “dia” yang menjadi objek cerita cintamu…

Antara iri, masih mendendam dan kesal tanpa alasan, dan menyesali tindakan bodohku, sebagai temannya.

—*—

“Eh, kapan kamu nemu ada kafe asyik gini? Aku malah gak ngeh ada tempat ginian di pulau ini”, tanyaku ketika sampai di tempat yang ditunjuk Ardi.

“Makanya jangan kebanyakan ngelamun kalau gi jalan-jalan. Mata kemana otak kemana”, ledeknya.

“Hey… aku khan konsen dengan ceritamu. Setidaknya harus aku apresiasi dengan membayangkannya secara real khan biar aku dapat feel-nya”, kelakarku membalas ledekannya.

“Bisa aja kau!”, tukasnya.

Malam itu tak terlalu istimewa sebenarnya. Bulan yang bersinar tak sepenuhnya purnama saja masih ditambahi dengan beberapa mendung yang gerakannya cepat sekali. Awan rendah, sepertinya. Tapi masih selamat lah, bintang berkedip di beberapa bagian langit. Paling banyak di arah selatan, tepat di hadapanku, berarti.

Tapi membayangkan hanya menikmati malam bersama Ardi di kafe yang entah bagaimana bisa sesepi ini?? Aku tak berharap lebih. Semua kurasa cukup. Ironis? Sudahlah, aku terbiasa dengan keadaan dimana seolah-olah aku adalah makhluk paling ironis yang pernah ada.

Dan makan malam itu mendadak buram…

“Yud… kayaknya aku mau ngungkapin cintaku ke si dia, deh. Secepatnya kalau bisa”, ringan, Ardi membuka sesi curhat di sela-sela menikmati hidangan makan malamnya.

Aku, spontan menghentikan aktivitas makanku, 5 detik mungkin. Semoga Ardi tak menyadarinya. Aku tak menjawab, dan sedang tak ingin menanggapi. Kenapa dia harus merusak suasana malam ini dengan cerita cintanya yang entah pada siapa???????????

“Setelah dipikir-pikir. Benar juga yang kau bilang. Nyatakan, perkara terima atau tidak, itu urusan belakangan. Dan sudah kupelajari semua gerak gerik dia, semoga jadi ya, Yud”, Ardi melanjutkan kata-katanya, tetap tanpa melihat reaksiku, tetap asyik dengan piringnya yang sudah setengah kandas.

Tahan Yud, tahan! Bathinku sambil berusaha sebisa mungkin untuk tetap berusaha menikmati makananku, yang sudah tak menggoda lagi.

“Dan yah…”

“Di, cukup!! Kurasa memang ini saatnya aku bilang bahwa aku sudah muak dengan segala cerita cintamu yang bahkan siapa orangnya pun aku tak pernah tahu. Kalau kau menikmatinya, silakan nikmati sendiri! I’m quit! I’m done!”, tak kupercaya aku bisa mengucapkan kata seketus itu sambil menghempaskan pisau dan garpu di sebelah piringku. Kekuatan dari mana ini???

Semoga aku tidak gemetaran!

Ardi memandangiku dengan tatapan yang entahlah, tak bisa kuartikan. Dan peduli setan. Mau marah?? Aku siap!

Aku sudah hampir berdiri ketika Ardi memegang tanganku…

“Kenapa kau tak pernah menanyakan siapa “dia” yang kumaksud dalam tiap ceritaku, Yud?” tanyanya sambil mencegahku pergi.

Tapi aku sudah berdiri, enggan duduk lagi.

“Kurasa itu tak pernah penting bagiku, Di!”, jawabku sekenanya.

Dia berdiri, menapakkan kedua tangannya di meja.

“Masih tak penting jugakah kalau ternyata “dia” yang selama ini kumaksudkan adalah kamu? Yudi Indrawan??”

Aku terpaku. Mematung tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Apakah halusinasiku sudah terlalu kuat melampaui batas pikiranku menelaah mana yang nyata dan mana yang fana?

“Di…”

“Duduklah, Yud. Please…” Ardi berkata sambil menghenyakkan kembali badannya ke kursi.

Aku masih berdiri, bingung.

“Aku tak perlu memohon khan, Yud? Aku sudah mempersiapkan tempat ini dari semalam. Please…”.

Mendadak aku dihantam perasaan bersalah atas kemarahan konyolku seharian ini. Ternyata dia pergi semalam untuk mempersiapkan malam ini??? Damn you, Ardi!

Ragu, aku duduk kembali di kursiku. Masih tak percaya dengan apa yang barusan kudengar. Masih meraba-raba apa yang sekiranya akan terjadi. Malam ini.

Dia tersenyum, manis sekali. Tapi aku tak berani memandangnya terlalu lama.

“Tunggu disini!”, suruhnya sambil beranjak, menuju ke kasir. Membayar semua makanan malam ini, mungkin. Dia kembali dengan dua botol minuman, yang aku suka.

Dia membawaku, pergi meninggalkan kafe itu. Duduk di hamparan pasir yang agak terpencil, di sini kanan dari kafe tadi. Sorot lampu mercusuar sesekali menerangi kami. Tapi sinar bulan yang sudah bebas dari mendung lebih dominan menemani kami.

“Sekarang aku mengakui keadaan diriku, Yud. Ya, aku gay. Dan objek yang menjadi cerita-ceritaku selama ini, adalah kamu. Maafkan aku”, Ardi bicara tanpa menatapku. Pandangannya tertuju pada garis cakrawala yang beriak memantulkan cahaya bulan. Sama dengan yang kupandangi. Botol itu sesekali menyentuh bibir kami, lebih untuk menyirami hati daripada raga.

“Kenapa baru sekarang kau ucapkan semua ini, Di? Hanya untuk menyebut namaku dalam ceritamu saja harus membawaku ke pulau ini?”, tanyaku, masih tanpa memandangnya.

“Kau pikir mudah mengucapkan semua ini, Yud??? Aku nekat, aku bertaruh. Karena menahan diri untuk tak menyebutmu sebagai objek pembicaraanku pun setengah mati!”, jawabnya. Tanpa harus memalingkan muka, aku tahu dia sedang memandangku.

Aku menghela napas.

Kuubah posisi duduk menghadapnya

“Kalau kau mau tahu, kenapa aku bisa bersikap sekasar itu tadi, itu karena aku sudah tak tahan, Di. Bukan dengan ceritamu, tapi membayangkan ada orang lain yang begitu kau cintai sedemikian rupa. Dan itu bukan aku. Bukan namaku yang kau sebut-sebut dalam cerita khayalmu”.

Dia bangkit di kedua lututnya, tanpa permisi memelukku. Hangat, erat. Cerita-cerita Ardi tentang bagaimana dia jatuh cinta dengan sosok “dia” seakan berkelebat dikepalaku, hanya saja dengan komposisi yang berbeda. Kata “dia” berganti dengan namaku, di setiap cerita.

Hangat yang luar biasa.

Esoknya,Gili Meno terasa begitu luar biasa, seperti pulau bulan madu meski hanya jalan-jalan berkeliling pulau tanpa hal romantis sedikitpun. Dia sudah tak lagi bercerita tentang “dia”, tapi mengganti dengan namaku dalam setiap kalimat jenakanya.

Dan nanti, kami akan kembali ke Jakarta dengan kisah baru, kisah cinta yang akan kami rajut dalam diam. Karena toh rasa dan hangatnya, hanya kami yang merasakan.

Dan aku tak lagi membenci dongeng.

Gili Trawangan, 10 Mei 2012


4 thoughts on “Gili Fairy

  1. Gili Fairy… Mungkin seperti sudah diingatkan di judulnya klo ini cerita dongeng yang happy ending. Dipertengahan cerita sedikit uda bisa ditebak klo sosok dia itu yudi. Dan ya ternyata benar.
    Nice story but I think bukan yang terbaik.
    Keep writing abang…
    Tulisan mu selalu bikin adiksi…

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s