Status – Part 1

.

Aku meletakkan sendok dan garpu, mengelap sedikit area bibirku dengan tissue. Mengatur nafas dan emosi yang sedari tadi menggebu. Aku harus berbicara dengan mereka. Dan kupikir inilah waktu yang tepat. Kulihat ayah dan ibu juga sudah menyelesaikan makan malam mereka. Begitu juga Laras, adikku yang baru saja lulus SMA.

“Bagaimana kuliahmu, nak? Lancar??” tanpa diduga, ternyata Ayah yang memulai membuka obrolan.

Aku sedikit gelagapan, tak siap dengan pertanyaan ringan dari ayah barusan. Ini salah. Seharusnya aku yang membuka percakapan.

“Baik, Yah. Sejauh ini masih lancar. Berburu dosen pembimbing meski penuh perjuangan tapi masih bisa Adri takhlukkan”.

“Bagus deh kalau begitu. Ingat, harus terus bersemangat. Ayah selalu berdoa semoga bisa memandangimu dengan bangga berkostum toga, tahun ini”.

“Semoga, Yah”.

Hening sejenak. Aku membulatkan tekad.

“Ayah, ibu… juga Laras. Adri mau ngomong sesuatu”, sekuat tenaga aku mengucapkan kata-kata itu.

“Mau ngomong apa, Nak?! Ngomong aja”, sahut ibu, lembut seperti biasa.

“Sebelumnya maaf, jika Adri lancang. Tapi Adri sungguh tidak bisa menahan semua ini. Adri lelah berdiri pada tapak kebohongan”.

“Ayah dan Ibu masih ingat dengan Bono?”, sambungku sambil bertanya. Sekuat tenaga aku paksakan diri untuk tetap berbicara tanpa menundukkan kepala.

“Temen kamu yang sering dateng ke rumah itu?! Ada apa dengan dia?”, tanya ayah sambil menyeruput decaf coffee-nya.

“Adri benar-benar minta maaf, Ayah, Ibu juga Laras. Adri mau bilang terus terang semuanya kepada kalian tentang semua kebohongan yang selama ini Adri jaga. Adri mau mengakui bahwa kata-kata Adri bahwa Bono adalah sahabat Adri adalah bohong. Dia… pacar Adri”, aku menunduk, dalam.

“Apaaaa???????? Jadi… Jadi…”, kudengar ayahku berteriak. Kuberanikan diri untuk memandangnya, dan menyadari bahwa beliau sudah berdiri. Tegak dengan tangan mengepal. Ibu kulihat sudah mengambil ancang-ancang, antara ikut berdiri atau tetap duduk. Laras membekap mulutnya.

“Iya, Ayah. Bono adalah kekasih Adri. Adri sangat mencintainya, Ayah. Adri gay”, kataku, gemetar hebat.

Detik berikutnya aku melihat ayah terduduk memegangi dadanya. Wajahnya memetakan rasa sakit yang berjuta disana. Ibu menjerit histeris sambil mencoba menenangkan Ayah. Laras sudah menangis tak terkendali.

Semua mendadak buram. Semua mendadak kelam.

 

—*—

“Ayahhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!”

Aku bangun dengan tergeragap, gemetaran dengan posisi tangan seperti sedang menggapai sesuatu. Posisiku sudah terduduk sempurna. Jantungku berdegup hebat dan sekujur tubuhku berkeringat dingin padahal kulirik sepintas pendingin ruangan masih berkedip-kedip hijau. Bulu roma di tengkukku merinding kompak, reaksi tubuh dengan dingin yang menyengat.

Aku menangis tergugu.

“Mimpi buruk lagi?”, aku dengar Bono berbicara padaku, melingkarkan lengan kanannya pada pundak kananku, merengkuhku dalam pelukannya. Pasti dia terbangun oleh teriakanku tadi.

Kau yang memberiku semua mimpi buruk ini, Bon. Kau yang membuatku tiap malam harus dihantui perasaan bersalah yang tak berhenti menghunjam hatiku dalam mimpi. Kau yang menyiksaku, Bon!

Tapi suara-suara itu tak pernah keluar dari mulutku. Aku hanya terus terisak dengan tangan yang makin erat memeluk kedua lututku. Aku ingin pelukannya lepas dariku. Aku ingin sendiri.

“Masih tidak mau membicarakannya, sayang?? Kenapa harus kau pendam sendiri beban pikiranmu? Ada aku di sini”, katanya di sela-sela desahan nafasnya. Yang sepertinya letih dengan kediamanku beberapa hari ini. Atau mungki letih karena harus beberapa kali terbangun dengan teriakan nyaring dari seseorang yang terlelap disampingnya.

“Aku hanya butuh sendiri, Bon. Kau lanjutkan saja tidurmu, kau pasti lelah”.

Aku beranjak, tanpa menoleh sedikitpun pada Bono yang pasti terduduk bingung. Mencoba menerka-nerka apa yang sebenernya membebani pikiranku hingga harus selalu bangun tengah malam dengan teriakan yang sama, tiap malam.

Aku melamun di teras belakang kami hingga pagi. Menghabiskan entah berapa batang rokok. Memandang langit kelam tanpa ekspresi.

 

—*—

“Kupikir kau tidak ada janji temu dosen hari ini?!”, tanya Bono ketika dia melihatku menghampiri meja makan pagi itu, sudah rapi. Dia juga sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

“Aku Cuma ingin cari beberapa informasi di kampus”, jawabku sekenanya tanpa memandang dia. Kuambil 2 keping roti tawar dengan gerakan kasar, mengoleskan selai kacang yang sungguh tidak menarik sama sekali, padahal itu selai kesukaanku.

Tidak ada minuman hangat terhidang di meja makan kami pagi ini. Aku yang biasanya membuatnya.

“Oh… mau bawa mobil? Biar aku saja yang membawa motormu. Lagipula aku tidak ada tugas presentasi hari ini, jadi seharian bakal santai di kantor”, tawar Bono.

“Tidak usah. Aku juga nanti harus ke beberapa tempat untuk mengambil kerjaan design-ku. Mungkin akan terlambat pulang”, jawabku masih tanpa memandang Bono sedikitpun. Aku lebih menikmati memandang jendela dapur kecil kami, pada sebuah pot berisi tanaman sedap malam yang meranggas seadanya, menunggu mati.

Aku dengar dia meletakkan sendok dan garpunya. Disusul suara kursi terseret pelan menggerus lantai dan akhirnya tapak sepatu fantovel yang menderap pelan ke arahku.

Dia pindah ke kursi di sampingku.

Aku mengatur nafas di sela-sela kunyahanku yang makin tak beraturan. Meredam emosi.

“Kalau kau butuh bicara, kau tahu pada siapa bisa bicara. Aku disini, selalu disini”, kata Bono lembut sambil meremas pelan pundak kiriku.

Aku meledak.

“Aku sudah tak mampu membendung, Bon. Aku tak kuat lagi menahan teriakan ini. Kau tahu, aku bermimpi buruk selama ini karena siapa?? Karena kamu!! Kamu!! Kau yang terus membuatku berpikir tentang kemungkinan terburuk dalam hidupku, Bon. Yang tiap malam terus menghantuiku dengan mimpi-mimpi buruk busuk itu!”, kataku dengan nada tinggi, menimbulkan sedikit gaung yang menggema mengerikan di dapur selengang ini. Aku sudah berdiri angkuh menatap Bono yang bingung dengan reaksiku yang terlalu mendadak. Tanganku gemetaran.

“Hey… hey… pelan-pelan, Dri. Aku tak tahu kita sedang membicarakan apa”

“Ini tentang dongeng busukmu tentang pengakuan agung bahwa aku adalah gay. Bahwa kita adalah pasangan. Bahwa semua dunia pasti akan bertepuk tangan ketika tahu bahwa kita adalah sepasang kekasih!”, tumpah sudah.

“Dri… sungguh aku tidak mengerti. Apa yang sebenarnya kau bicarakan??”, Bono sudah berdiri. Berusaha menjangkau lenganku tapi tidak berhasil. Aku mundur selangkah darinya.

“Kau… kau…”

Aku tak sanggup lagi meneruskan kata-kataku. Melihat rupa di depanku yang sepertinya terlalu berbinar dengan cinta tak pernah mampu membuatku tega menyerangnya dengan kata-kata makian.

Kuraih tas yang tadi teronggok di samping kursiku. Aku berjalan meninggalkan Bono yang masih bingung menelaah keadaan yang serba mendadak ini, sepagi ini. Lamat-lamat aku masih dengar Bono memanggilku sebelum aku keluar dengan membanting pintu depan.

Aku melajukan sepeda motorku dengan brutal.

 

—*—

Aku letih luar biasa.

Entah sudah berapa puluh orang berlalu lalang di pantai ini, dari pagi hingga malam ketika aku duduk di bangku yang sama ini.

Aku harus pulang.

 

—*—

Aku mematikan sepeda motorku bahkan sebelum sampai di depan pintu gerbang. Jam segini pasti Bono sudah terlelap dan aku tidak ingin membangunkannya. Lebih kepada aku masih ingin sendiri daripada respekku padanya.

Semua gerakan dari membuka pintu gerbang hingga membuka pintu utama kulakukan dengan seminimal mungkin suara. Aku seperti seorang maling di rumahku sendiri.

Dan aku terkesiap, ketika membuka pintu utama dan Bono masih disana. Duduk di sofa warna biru tua, masih dengan pakaian kerja yang sudah awut-awutan dan gelas panjang di tangannya. Botol vodka dan 2 kaleng minuman tonic tergeletak di meja.

Ternyata dia menungguku pulang.

“Bagaimana kampus?”, tanyanya tanpa memandangku. Menuang sedikit vodka ke dalam gelasnya yang kemudian memenuhi dengan tonic.

Aku tahu itu bukan pertanyaan sebenarnya. 3 tahun hidup bersama sudah mengajariku banyak hal. Jadi aku tak menjawabnya, hanya duduk disampingnya. Menyalakan rokok mengambil gelas di tangannya. Meneguk sedikit dan mengembalikannya.

Kami hanya duduk dalam diam.

“Kemana seharian tadi?”, tanyanya sambil menghembuskan asap, hampir tanpa ekspresi. Kesumpekan yang sudah terlalu membuat aturan “no smoking inside” di rumah ini tertutup kabut. Sama-sama melanggarnya.

“Ke pantai”.

“Seharian?”

“Iya”.

Kemudian hening lagi.

Lama.

“Kamu sebenarnya kenapa, Dri? Kau membuatku tak bisa bekerja seharian ini. Dan mematikan handphone, bukankan itu sudah perjanjian kita bahwa semarah apapun kita tak akan pernah melakukannya?!”, akhirnya dia berkata setelah meneguk entah berapa kali gelasnya.

“Hapeku mati. Tadi pagi tidak dicharge”, aku menyilangkan telunjuk ke jari tengah.

Rupanya dia tahu.  Dia meraih tanganku dan memisahkannya.

“Lain kali lebih pintar kalau mau berbohong”, katanya.

Aku harus mengatur nafas. Aku harus mengatakan semuanya. Ini harus diakhiri.

“Bon…”

“Aku disini”

Aku menarik nafas panjang. Menyiapkan mentalku.

 

*Bersambung…

 


2 thoughts on “Status – Part 1

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s