Status – Part 2

.

Sejenak aku tercenung, memilah-milah mana sekiranya kata-kata yang bisa kukatakan tanpa menekan tombol peperangan. Aku sedang sangat tidak siap untuk pertengkaran sekecil apapun.

Kediamanku melempar pada pertemuan seminggu yang lalu dengan Mama Bono. Pertemuan yang membuat pikiranku semakin berkecamuk hingga seola-olah membuka gerbang datannya mimpi burukku akhir-akhir ini.

“Jadi, masih menyembunyikan hubungan kalian dari Bapak dan Ibu, Dri?”, tanya Mama saat aku sedang membantunya membereskan sisa-sisa makan malam kami. Bono sendiri sedang menikmati rokoknya di ruang tamu sambil melihat televisi.

“Aku belum dan mungkin tidak akan berani, Ma. Adri mengenal orang tua Adri bukan sebagai orang yang se-openminded Mama”, jawabku tak berani menoleh pada Mama, tak berani memandang matanya yang selalu memancarkan keteduhan seorang ibu.

“Tapi jangan salah, Adri. Perasaan orang tua itu sulit dibohongi oleh anaknya. Apalagi perasaan seorang ibu”.

Aku membersihkan tanganku dari sisa-sisa buih sabun yang masih tersisa, mengeringkan tanganku dengan handuk kecil yang tersampir manis tepat di atas wastafel, menengadahkan wajah dan membuang nafas, aku  membalik badan. Memandang Mama meski hanya tertunduk, memandangi kakinya.

“Adri juga ingin, Ma… merasakan kondisi seperti apa yang Adri miliki, bisa menunjukkan kasih sayang pada pasangan tanpa ragu di depan orang tua, bisa dengan santai memperkenalkan Bono sebagai kekasih, bukan hanya sebagai sahabat. Tapi Adri mengenal orang tua Adri, Ma. Dan Adri tidak bisa membayangkan apa sekiranya reaksi mereka. Adalah suatu keajaiban besar kalau mereka akan bereaksi sama seperti Mama ketika Bono mengatakan bahwa dia gay, Ma. Maafkan Adri, Ma. Tapi pertanyaan Mama yang seperti itu, jujur menohok Adri, Ma”.

Dan aku sudah menangis tanpa suara, dengan semua kata yang meluncur tanpa berani memandang Mama. Masih tertunduk dengan dua tangan terpaut, tangan kanan meremas jemari tangan kiri.

Detik berikutnya yang kurasakan adalah rengkuhan Mama yang menarikku ke pelukan beliau. Menyandarkan kepalaku pada dadanya, mengusap pelan rambutku dan berkata lirih “Mama tak pernah menuntut banyak dari kalian. Mama hanya bisa berharap kalian akan sama-sama bahagia. Dan kalau memang harus seperti itu keadaannya, Mama tidak pernah memaksa. Adri harus ingat itu”.

Usapan lembut tangan Bono di lengan kiriku mengembalikanku pada realita.

Aku menghembuskan nafas berat.

“Bon… masih ingat dengan pembicaraan kita sekitar sepuluh hari lalu dan beberapa hari sesudahnya? Pembicaan mengenai pengakuanmu yang berbuah manis dan kau terus menerus membicarakannya setelah itu? Itu membebaniku, Bon. Dalam”.

“Dri… tapi itu…”

“Aku tahu Bon, aku tahu. Mungkin bagimu itu hanya obrolan ringan. Tapi bagiku itu lebih seperti sebuah tuntutan. Terlebih ketika berulang kali kau mengatakan bahwa aku juga punya hasil yang sama jika aku melakukan sesuatu yang sama denganmu”, potongku.

“Dri… kalau memang perkataanku kemarin-kemarin ternyata membebanimu, bisakah kau lupakan saja? Anggap saja aku tak pernah membicarakan hal itu denganmu. Dan aku minta maaf untuk itu. Please…”

“Bon… kamu…”, aku kembali membuang nafas entah untuk yang keberapa kali. Mengubur dalam-dalam keinginanku untuk membicarakan obrolanku dengan Mama.

“Adri… bagaimana kau bisa menganggapnya sebagai sebuah tuntutan?? Padahal aku hanya sedang berbagi kisah hidup yang sudah kulalui”, tanya Bono sambil memegang lenganku, antara kokoh dan kelembutan yang mengayomi.

“Bagaimana aku tidak menganggapnya sebagai sebuah tuntutan jika berulang kali dan berulang kali kau bilang bahwa aku bisa saja berada dalam kondisi yang sama denganmu. Bon, kau memunculkan bayangan-bayangan terburuk yang pernah ada di mimpiku. It kills me!”, meledak sudah granat yang sedari tadi kugenggam erat. Pelatuknya sudah terangkat paksa dan menjadi berkeping tanpa sisa. Aku sudah berdiri, menepis genggaman tangan Bono di lenganku, memandanginya dengan tatapan permusuhan yang belum pernah sekalipun kupunya.

“Dri… Please calm. Kenapa kau harus buat masalah ini begitu runyam? Aku hanya menyampaikan pendapatku tentang dirimu. Itu saja, tanpa tendensi dan ekspektasi apapun darimu. Kau tahu aku khan, Dri?”, Bono berdiri, berusaha menenangkanku. Tangan kokohnya sudah menggenggam kedua bahuku dengan sedikit mengguncang, mungkin untuk membawaku kembali ke dunianya.

“If there’s somebody should be calm, that’s you, Bon. You! Not me! Kau terlalu naif untuk menilai seolah semua orang bisa memiliki kehidupan seindah yang kau punya. Bahwa kejujuran akan membuat segalanya indah. Kau naif, Bon. Kau naif!”, cecarku, tanganku terkepal erat mencoba menyeimbangkan emosi yang bergolak, air mata sudah dari tadi mengalir tanpa diminta. Tangan Bono terlepas dari pundakku, mungkin tersengat aliran emosi yang tiba-tiba menggelegak tanpa terduga.

“Trus maumu apa sekarang, Adri??? Katakan padaku??? Kalau memang bisa kutarik semua kata-kata yang pernah aku ucapkan padamu, sudah kutarik dari tadi pagi! Dari pertama kau mulai menghindariku  tanpa alasan yang jelas! Dari pertama kau membuatku terkesiap penuh khawatir ketika kau berteriak-teriak dalam mimpimu tanpa pernah sekalipun kau mau membicarakannya. Apa maumu sekarang, Dri??? Katakan padaku!”, aliran emosi sudah menular. Mungkin melalui udara yang sama-sama kami hirup. Udara yang membawa aura kelam.

“Aku juga tak tahu, Bon. Aku tak tahu apa yang kubutuhkan untuk mengusir semua pikiran dan mimpi-mimpi burukku tentang sebuah pengakuan pada orang tuaku. Pengakuan akan hubungan kita yang terus saja memberikan bayangan-bayangan buruk akan kematian orang tuaku karena kata-kataku. Aku tak tahu, Bon! Aku tak tahu!!!!!”, teriakku. Menatap matanya yang juga seperti memancarkan api.

“Baru kali ini aku melihatmu limbung seperti ini. Mana Adri kekasihku yang biasanya nalar dan terbuka akan dunia. Mana Adri kekasihku yang memiliki pemahaman maha luas yang membuatku senantiasa bangga sudah mampu memilikinya dalam pelukanku? Mana???”

“Aku tak tahu!!!!!!!!!!”, teriakku. Sekilas meraih wajah dengan kedua tanganku seolah ingin menyingkirkan kulit yang melapisinya. Dan membuangnya seperti membuang angin.

“Padahal jika kau sudi memikirkan kata-kataku, kau akan sadar bahwa aku hanya mengatakan apa yang kulihat dalam dirimu, Dri! Think!!!”.

“Kau egois, Bon. Kau egois!!!!!!!!!!”.

“Berhenti memojokkanku dengan kata-kata semacam itu, Dri. Katakan apa yang kau ingin aku lakukan untuk menghapus masalah kecil ini. Katakan, Dri!”, Bono kuat mengguncang bahuku.

“Oh, sekarang kau menganggap ini hanya masalah kecil??? Mimpi-mimpi burukku selama seminggu lebih ini kau anggap hanya angin lalu??? Teriak-teriakanku hanya kau anggap hiasan malam yang malah mengganggu tidurmu yang berharga???”.

“ADRI! BERHENTI MEMOJOKKANKU DENGAN TUDUHANMU! KATAKAN APA YANG KAU MAU!!!”, teriakan Bono membuatku tersentak, atau tersengat. Entahlah. Baru kali ini aku menghadapi kemarahannya yang semenggelegar ini.

Mendadak aku muak melihatnya.

Mendadak aku ingin menyingkir dari medan ini.

Kuraih tasku yang tergeletak, kusambar jaket dan kontak motor yang teronggok di kursi.

“Mau kemana kau, Dri???? Ini sudah terlalu malam! Selesaikan masalah ini sekarang juga. Aku tak suka membiarkan masalah ini berlarut-larut!”, cegatnya, mencengkeram kuat lengan kiriku, menahanku pergi.

Kukibas dengan sekali hentak. Aku bahkan tak mau menengoknya. Amarah sudah menguasaiku.

“ADRI PERMANA!!! Kau tak bisa pergi dengan keadaan seperti ini!!!”, menghadangku di pintu.

“Menyingkir, Bon. Aku ingin pergi!”

“SAMPAI KAPAN KAU AKAN MELARIKAN DIRI DARI BAYANGAN BURUKMU TANPA MAU MENYELESAIKANNYA, DRI???? SAMPAI KAPAN????”, itu teriakannya yang terakhir kudengar. Aku sudah tak peduli. Aku membuka pintu dan melangkah pergi.

Kudengar pintu berdebam keras di belakangku, seiring dengan langkahku yang makin mantap menuju garasi.

Dan suara pecahan entah botol entah gelas kudengar tepat ketika aku menyalakan mesin motorku.

Aku tak peduli.

Aku pergi dengan luka yang sama bunyinya dengan pecahan kaca dari dalam rumah sana.

 

*Bersambung…


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s