Status – Final Part

.

Aku berusaha mengatur diri untuk tak terlalu menarik gas sepeda motorku. Berusaha sekuat tenaga untuk tetap bertahan dalam kecepatan laju yang konstan, dan wajar.

Aku harus waras, aku harus waras, bathinku sepanjang jalan. Mengimbangi kecamuk-kecamuk perasaan lain yang sepertinya semakin menusuk seiring speedometer yang terus memutar jarak. Semakin jauh dari peraduanku dan Bono.

Satu jam perjalanan dengan pikiran kosong dan aku sampai di rumahku. Ibu sendiri yang membukakan pintu untukku ketika aku memencet bel. Menyapa tanpa berani memandangnya, aku pamit ke semua orang rumah untuk langsung menuju kamarku.

Aku butuh sendiri.

—*—

 

“Adri… Adri… bangun, nak”, suara ibuku begitu lembut terdengar setelah 3 kali ketukan sopan beliau di pintu kamar tidurku.

Beliau mengira aku belum bangun. Pastinya. Padahal sudah sejak subuh tadi aku di sini, duduk di jendela kamar seperti orang yang begitu tak sabar menanti pagi. Entah sudah berapa puntung rokok yang kulempar sekenanya ke balik tembok pagar rumah kami.

Ternyata aku sudah tak terbiasa untuk tidur tanpa pelukan Bono.

“Iya, Bu. Adri sudah bangun”, jawabku, lebih kepada pintu yang hanya kupandang dari tempatku duduk. Tak beranjak sedikitpun.

“Sarapan bareng yuk, nak. Yang lain sudah pada kumpul di meja makan”, ajak ibu.

Aku tak ingin keluar dari kamar ini. Tidak dengan keadaanku yang serba awut-awutan seperti anak gadis yang menangis semalaman ketika baru saja kehilangan keperawanan dengan pacarnya.

“Duluan saja, Bu. Adri sedang ingin bermalas-malasan”, sahutku.

“Perlu Ibu antar makanan ke kamar, nak?”.

“Tidak usah, Bu. Nanti Adri keluar, koq”.

Senyap. Sejurus kemudian kudengar langkah ibu menjauhi pintu kamarku.

Aku kembali menatap langit pagi di luar kamarku, tanpa semangat.

—*—

 

Bono seperti orang kebingungan. Tangan kanan menggerak-gerakan kursor komputer kantor tanpa arah, tangan kiri memutar-mutar smartphone-nya. Pikirannya sendiri sedang berkecamuk, lebih berputar-putar daripada gerakan kursornya yang seperti tanpa kendali.

Dia yang biasanya cekatan seperti kehilangan pegangan. Beruntung dia memiliki ruangan sendiri di kantornya. Kalau tidak, mungkin orang-orang sudah menganggapnya baru saja tertimpa sial yang begitu besar.

Dan memang begitu adanya, khan?!

Dipandanginya wallpaper smartphonenya, dipandanginya senyum Adri berlatar birunya laut di pantai Padang-Padang, Bali, di liburan mereka tahun lalu.

Dia menekan lama tombol L, speed dial.

“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Si…”, kalimat manis perempuan di telepon itu tertelan tombol merah.

Dri…. tega kau siksa aku dengan cara seperti ini, bathinnya.

“Dri, kamu dimana? Tolong jangan siksa aku seperti ini”

Pesan singkat yang dia ketik di layar smartphonenya. Menekan tombol enter, dan kembali merasakan miris begitu melihat sederet pesan dengan kata yang kurang lebih sama di atas kotak pesan yang barusan dia kirim. Miris memandang tanda centang tanpa huruf D tersembul di atasnya.

Telepon meja berdering nyaring. Reflek Bono mengangkatnya. Berharap ada suara Adri disana.

“Bon, udah jam makan siang, nih. Makan yuk. Gue traktir deh. Kebetulan gue gi dapet bonus dari bos besar gara-gara proyek kemarin lusa”, suara Dhani, rekan kerjanya, memberondong.

Bono membuang nafas, kembali menelan kekecewaan.

“Duluan aja, Dhan. Gue gi males”, tanpa menunggu respon Dhani, Bono meletekkan gagang teleponnya.

Dia menepuk dahi dengan tangan kirinya. Seperti baru ingat hal kecil yang sangat sederhana. Diangkatnya kembali gagang telepon tadi, dan menekan sederet angka…

—*—

 

“Halo, selamat siang”,  lamat-lamat kudengar suara ibu mengangkat telepon yang kebetulan memang bertempat tak jauh dari depan pintu kamarku.

“Oh, nak Bono. Apa kabar, nak? Sudah lama tidak pernah main ke rumah. Kayaknya sibuk banget sama pekerjaan ya?”.

Jantungku mencelos, Bono menelepon rumah??? Baru aku ingat bahwa handphoneku masih mati sejak kemarin.

Reflek aku menajamkan pendengaran.

“Oh, ada tuh. Tapi tidur lagi kayaknya. Dari tadi gak kedengeran suaranya dari kamar. Sebentar ya Ibu coba panggil”.

Kudengar langkah ibu mendekat ke arah kamarku.

“Dri, Bono telepon tuh. Katanya telepon hapemu tapi mati, makanya telepon rumah. Mau ngomong sesuatu katanya”, suara ibu di depan pintuku.

Betapa aku ingin segera membuka pintu dan menikmati suara yang kurindukan itu. Tapi yang keluar dari mulutku justru…

“Malas ah, Bu. Bilang aja sama Bono, nanti Adri telpon balik”.

“Bener?? Sepertinya ada hal penting tuh dari nada bicaranya”.

“Iya, Bu. Nanti Adri telepon balik, deh”.

Suara langkah kaki ibu menjauhi pintu kamarku. Aku sendiri membuang nafas, berat. Aku rindu, tapi juga masih memendam benci.

“Masih males-malesan anaknya dari tadi. Iya… … … … … Bono main lah ke rumah kalau sempat. Ibu masakin kare kesukaan Bono deh kalau main kesini”, aku masih mendengar suara ibuku sebelum akhirnya bunyi gagang telepon menyentuh tatakannya.

—*—

 

Ada perasaan kecewa ketika dia meletakkan gagang telepon itu. Sebegitu besarnya kemarahan Adri hingga untuk berbicara di telepon saja dia lebih menuruti keenggannya.

Tapi ada kelegaan di hati Bono juga. Paling tidak dia sudah mengetahui bahwa Adri baik-baik saja di sana.

Dia kembali dalam lamunan dengan wallpaper smartphone yang terus dipandanginya.

—*—

 

Adri makin mengurung diri…

—*—

 

“Adri….”, suara ibuku terdengar setelah ketukan sopannya yang ketiga. Hari kedua aku menghabiskan hari di rumahku, menghabiskan entah berapa batang rokok. Menyendiri. Sarapan tadi pagi pun sudah kulewatkan lagi.

“Iya, bu…”, sahutku malas-malasan, tanpa membuka pintu.

“Ibu masuk, ya”, kata beliau.

Tumben. Biasanya beliau akan menanyakan dulu apakah boleh masuk atau tidak. Di rumah ini yang namanya privacy memang sangat dihargai. Itulah mengapa aku tak pernah mengunci pintu kamarku.

Beliau masuk tanpa sempat kucegah. Tertegun sejenak di ambang pintu memandangi ranjangku yang berantakan. Lemari pakaian yang terbuka lebar dengan pakaian-pakaianku bertebaran dimana-mana. Hasil kemarahanku.

Aku tak berani memandang beliau. Hanya kupandang sekilas dan kembali membuang pandangan ke langit luar kamarku.

Kudengar pintu kamarku ditutup pelan.

“Sedang ada masalah?”, tanya beliau.

Kutengok beliau, sedang berjongkok memunguti beberapa kemeja di lantai sebelah kasur.

“Biarin aja, Bu. Nanti Adri rapikan sendiri”, aku jadi tak enak, turun dari posisi dudukku di jendela.

“Sudah lama merokok?”.

“Semenjak kerja, Bu. Kadang kerjaan design membuat ngantuk dan penat. Makanya Adri merokok biar tidak terlalu terasa”, sedikit tak nyaman juga mendapat pertanyaan semacam ini.

“Adri… ada masalah?”, beliau mengulang pertanyaan. Aku tak berhasil membelokkan percakapan.

Aku kembali menjejakkan pantatku ke kusen jendela, kembali memandang keluar.

“Cuma masalah di pekerjaan saja koq, Bu”.

Maaf, Bu. Aku berdusta dan entah dusta yang keberapa ratus kali kusampaikan. Tak mungkin aku bercerita secara terang-terangan, meski aku ingin.

“Bukan masalah dengan Bono, khan?!”.

Pertanyaan yang membuat jantungku sejenak berhenti berdetak. Apakah Bono mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya pada ibu??? Apakah dia melangkah terlalu jauh dari yang bisa kuperkirakan???

Aku bangun dari dudukku. Berdiri memandangi ibu, yang masih saja menyibukkan diri dengan beberapa pakaianku, yang kemudian duduk di tepi ranjang, melipat beberapa kaos yang tergeletak di situ.

“Maksud Ibu?”, tanyaku pelan. Aku tak siap dengan diskusi semacam ini.

“Tak perlu khawatir, Adri. Bono tidak mengatakan apapun tentang kalian pada Ibu. Telepon kemarin pun dia hanya mencari kamu, tidak lebih”.

Aku diam, menunggu kelanjutan kata-kata dari beliau. Keheningan yang menyiksa.

Ibu menghentikan aktifitas tangannya, memandang padaku. Bukan pandangan mengadili atau apa, tapi semata keteduhan yang kucerna.

“Kenapa kamu tak memberi tahu ibu, Adri?? Apa Ibu yang harus selalu bertanya ada apa sebenarnya dengan Adri?”, tanya beliau, dengan suara lembut tapi justru seakan menghunjam.

“Maksud Ibu? Adri gak ngerti arah pembicaraan ini”.

“Sini Nak, duduk dekat Ibu dan berhentilah bertingkah seolah ibu tak tahu apa-apa”, kata beliau berbalut senyum, sambil menyingkirkan beberapa kaos yang masih terhampar di depannya dalam sekali sapuan tangan.

Aku ragu. Pembicaraan ini terasa semakin janggal. Aku bahkan tak berani memikirkan kemungkinannya. Aku melangkahkan kaki dalam ragu, mendekat pada Ibu.

Duduk di hadapannya, tak bisa kupungkiri bahwa aku grogi setengah mati. Aku seperti hendak diadili meski kulihat tatapan ibu yang begitu teduh, ketenangan yang selalu menjadi ciri khas seorang ibu.

Beliau menggenggam tanganku yang sudah berkeringat dingin.

“Ibu ingin mendengar cerita tentangmu dan Bono, jujur dan tanpa perlu kebohongan lebih lanjut, Adri sayang”.

Yang aku tahu, detik berikutnya aku sudah menghambur ke pangkuan ibu. Dudukku melorot hingga aku bersimpuh, tersedu di pangkuannya. Tangan ibu terus membelai rambutku, menenangkanku tanpa kata.

Bayangan-bayangan kedekatanku dengan ibu mendadak seperti pita film melesat di otakku. Memberikan pemandangan tentang masa-masa yang kami lalui bersama. Yang mengingatkan betapa dekatnya aku dengan beliau, sehingga harusnya aku tahu bahwa dia pasti merasa, apalagi dalam kapasitasnya sebagai ibu.

Hingga pita film itu tertumbuk pada ingatan tentang Mama…

“Tapi jangan salah, Adri. Perasaan orang tua itu sulit dibohongi oleh anaknya. Apalagi perasaan seorang ibu”. Kata Mama saat itu.

Kami tak lagi memiliki tabir. Ibu telah menemuiku, dalam wujudku seutuhnya. Dan beliau menerimaku dengan sepenuh cinta.

—*—

 

Aku berbicara dengan ibuku, bicara sebagai Adri yang menyadari bahwa cinta itu universal. Dan yang lebih membahagiakan, aku berbicara sebagai seorang anak kepada ibunya, yang bisa memahami indahnya cinta tanpa harus peduli dengan kelamin anaknya.

Betapa aku telah mendangkalkan sosok ibu selama ini.

Aku ceritakan semua, tentang ada apa sebenarnya di antara aku dan Bono, sambil tak henti-hentinya melantunkan kalimat maaf yang hanya dijawab dengan senyuman tulus ibuku.

“Iya, Bu. Adri mencintai Bono sedalam itu. Dan pertengkaran yang membuat Adri pulang kemarin ini, entahlah. Mungkin kami yang memang harus tumbuh dewasa. Tapi Adri lega sekarang. Sangat lega dan bahagia bahwa Ibu adalah Ibu terhebat di dunia”, kataku menutup semua cerita.

Ibu memandaku dengan senyum, dan air mata yang menetes pelan dari ujung matanya. Beliau menghapusnya dengan tangan kanan, dan tangan kiri menggenggam tanganku.

“Boleh Ibu minta satu hal, Adri?”, tanya beliau.

“Apa itu, Bu?”

“Tetaplah jaga kondisi ini. Kondisi dimana cukup ibu yang tahu. Mengenai ayah dan adikmu, Ibu lebih mengenal sosok dan seperti apanya mereka. Dunia kalian akan sulit dipahami bagi sebagian orang, begitu juga ayahmu, jadi, Ibu harap Adri tidak pernah berusaha mencobanya. Ibu tidak ingin kemarahan seorang ayah akan memisahkan ibu dari anaknya”.

Aku memeluk beliau, takjub.

“Pasti, Bu. Akan Adri pegang kata-kata Ibu”, bisikku dalam pelukan.

“Ya sudah, mandi sana. Tampangmu berantakan sekali”, kata ibuku sambil melepas pelukanku. Masih kulihat selintasan beliau menyeka air matanya.

“Bu…”, panggilku ketika ibu beranjak membuka pintu kamarku.

“Maukah ibu ikut Adri pulang untuk memperkenalkan Bono sebagai seutuhnya dia?”, tanyaku, agak sedikit ragu juga.

Ibu memandangku sejenak, lalu tersenyum mengatakan “Kalau begitu kau harus bersiap-siap sekarang. Nanti malam Ayah ada rapat komite, jadi pasti pulang malam. Artinya Ibu punya waktu”, jawab beliau sambil berlalu dan menutup pintu kamarku.

Bon, tunggu aku. Aku punya kejutan untukmu, mungkin itu arti senyumku ketika pintu kamarku tertutup.

—*—

 

Aku sedikit terkejut melihat mobil hitam milik Bono masih terparkir rapi di garasi. Bukankah seharusnya jam 3 siang dia masih harus di kantornya?  Ada kecemasan yang menyelinap. Bahkan ibu juga merasakannya.

“Bono gak kerja?”, tanya ibu ketika aku memarkir mobil kami di depan pagar rumah. Kami memang berangkat membawa mobil keluarga, karena tak mungkin aku memboncengkan ibuku di jok belakang motor sportku.

“Seharusnya sih jam segini masih di kantornya, Bu”, jawabku sambil mematikan mesin mobil. Kami keluar beriringan.

Aku membuka pintu depan tanpa memencet bel.

Dan aku trenyuh dengan pemandangan di sana.

Di sofa yang sudah mulai awut-awutan tak jelas, Bono berbaring tak berdaya. Wajahnya pucat. Bahkan dia masih memakai setelan kerjanya, lengkap. Asbak di hadapannnya sudah lebih dari penuh. Bahkan beberapa puntung rokok sudah tidak berada pada tempat semestinya.

Mata kami bertumbukan. Mata yang kurindukan.

Aku berjalan tergesa, dan memeluknya, erat, diliputi rasa bersalah.

“Jangan tinggalin aku seperti ini, Dri. Please… jangan pernah ulangi ini. Aku tersiksa, Dri. Aku…”, Bono meracau.

Racauannya terhenti ketika dia melihat ibu juga berjalan masuk, dan tergesa melepas pelukanku. aku melihat sedikit rona ketakutan di matanya.

Aku mengerti.

Ibu juga berjalan tergesa, langsung menuju Bono. Menyentuh keningnya.

“Astaga, kamu kenapa, Bon?? Sampai demam seperti ini?? Dan apa ini semua di meja?? Kamu menyiksa diri!”, Ibu memberondong Bono dengan pertanyaan.

Bono sendiri terlihat terlalu lemah, atau panik hingga tak beringsut sedikitpun dari posisi berbaringnya.

Ibu duduk tepat di samping kepala Bono, mengelus kepalanya.

“Kamu itu seharusnya bisa membimbing Adri, Bon. Bukan malah menyiksa diri seperti ini. Minuman-minuman itu tidak menyelesaikan masalahmu, nak”, kata beliau lembut.

Bono tertegun, bergantian memandang ibu dan aku. Aku hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu artinya.

Seketika Bono bangkit, dan bersimpuh di kaki ibu.

Dan aku hanya bisa menangis tanpa suara, haru memandang semua itu.

Cinta kami sudah mendapat restu.


16 thoughts on “Status – Final Part

  1. “Kenapa kamu tak memberi tahu ibu, Adri?? Apa Ibu yang harus selalu bertanya ada apa sebenarnya dengan Adri?”, tanya beliau, ~

    Wahai priah priah, diam untuk berfikir yg terlalu lama itu kadang tidak menyelesaikan masalah, dan cenderung menyebalkan. jangan biarkan wanita2 istimewa dalam hidup kalian bertanya hal seperti diatas, karena ketahuilah sejujurnyah itu sangat membuat mereka tersiksa.

    Abang!! Ceritanya soooo kereeennnn sekaliiii!!!! Love iitt (´⌣`ʃƪ)♡

    Walopun endingnya agak kagok, kagok dalam artian pas di scrol kebawah lagi.. Eeehhh uda abiisss???

    :((((((((((

    1. Dear Dinda…
      wahhhhh…bingung juga ya nih nanggapinnya.
      tapi memang ada banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika mau mengakui pada orang tua tentang ke-gay-an kita.
      contoh, tengoklah kondisi Bono.
      di situ dia sudah seattle, sudah siap mengarungi kehidupan yang paling pahit seandainya yang tidak diharapkan justru yang terjadi.
      it’s not about how you say, but for what purpose you do :)

  2. :’)

    Seandainya,,
    Tapi tetap ada ketakutan dalam diri jikalau kejujuran yg ada malah menyakiti hati mulia seorang ibu,,
    Bakalan sgt berdosa,,,
    :'(

    1. lebih baik sakit hati, daripada gak berterus terang darling
      dan jangan salah, mental seorang ibu itu kuat kuat, tahan banting :)

      1. Somehow, saya tahu kalo ibu saya sudah bisa mengendus anaknya gay. Dalam sebuah percakapan, saya pernah bertanya sama beliau,

        “Ma, apa gak apa-apa anakmu belum ada yang menikah? Entar apa kata orang”

        “Lah, kenapa harus pikir apa kata orang? Kan kamu yang menjalani. Kalau mau kuliah lagi, sana kuliah dulu. Asalkan hidup kamu yang benar”

        Dan sejak itu saya cuma berniat untuk membahagiakan beliau :’)

      2. Wuih….
        ada diskusi panjang nih di sini
        *girang tanpa alasan*
        hmmmmmmm
        yang jelas sih masalah mengaku kepada orang tercinta itu harus dipikir masak-masak ya
        ini bukan soal jujur atau bohong, koq
        tidak mengungkapkan sesuatu bukan berarti bohong, khan?!

        dan Mr. Cino… wah, mari bersalaman
        kita sama2 punya sosok ibu (dimana di kondisi Tarjo, beliau adalah unbelieveable strong single parent) yang “merasakan” sesuatu yang berbeda dengan anaknya

        dan adtgh, mending fokus ningkatin mutu hidup deh daripada mikir soal ginian
        lets the time answer it by its way :)

    2. @ka Dind: masi sangsi Ka,, bneran. Spertiny masi bbrp tahun kedepan klo uda bnr2 state sendiri.

      @om Capp: wah, ortu-ny om Capp spertiny ud open-mind y,, lha ini ak masi dikejar2 “mana? Kok g pernah bawa cewe krmh bwt dkenalin ke mama?” #dhuarrrr
      Cmn bs diem n gbs njawab deh (⌣́_⌣̀)

  3. Kang Tarjooo! Kamu menyebalkan! Lama gak nulis, datang-datang bikin aku nangis pagi-pagi di kantor gegara baca tulisan ini. Beneran, apalagi membahas masalah ibu. Kang Tarjo harus tanggung jawab!! Ini mata saya bengkak karena nangis dan ini masih jam 8 pagi!!! Aku harus ngantor dengan mata bengkak, gitu?

    1. Adudududuh Mr. Cino
      maafkan kelancangan saya yang sudah membuatmu menangis tersedu
      apa yang bisa kuperbuat untuk membahagiakanmu???
      *terdengar janggal*
      *koq kayak ngajakin nikah ya*
      *bekep mulut sendiri*

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s