Mengapa Oh Mengapa…

“Kalau kamu masih mau bersantai di sini, aku duluan ke pantai, ya…”, kataku sambil menyampirkan satu kain pantai ke pundakku. Kuambil pemutar musikku yang sudah penuh ter-charge.

Aku menyusuri jalan setapak manis yang memang disediakan untuk menuju pantai kecil yang terletak persis di depan hotel kami.

Private beach.

Konsep menarik yang kusuka. Ah, memang tak salah dia memilih tempat ini.

Pantai itu sendiri masih sepi. Maklum masih terlalu pagi mungkin. Pantai yang diapit oleh dua bukit yang menjorok ke laut, mungkin hanya berjarak sekitar 150 meter antar bukitnya. Pasir putihnya menciptakan pantulan warna biru muda di air yang bening, bergradasi dengan warna biru tua yang memantulkan warna karang di dalamnya.

Tenang. Syahdu.

Aku menghamparkan kain pantai di satu bidang pasir landai yang tak terlalu jauh dari lidah ombak terjauh yang mencium pasir pantai.

Menghirup udara pantai sejenak,aku buat bantalan pasir di ujung hamparan kain pantaiku. Agar aku bisa berbaring sambil tetap memandang buih pantai yang riuh.

Aku larut dalam suasana.

—- * —-

Dia menyikutku, melepas satu headset yang masih bercokol di telinga kananku.

“Kupikir kita kesini untuk bersenang-senang, bulan madu kedua kita. Kau menangis?”, tanyanya.

Aku terkejut. Sejak kapan orang ini duduk disini? Apakah aku terlalu larut pada satu lagu cengeng dari Mahadewi yang ternyata ku-stel dengan mode repeat one.

Buru-buru aku duduk, menghapus air mataku.

“Eh,,, gak, koq. Sejak kapan kau disini?”, tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Kau menangis?”, ulangnya.

Aku tak menjawabnya. Dia diam menungguku bicara.

“Emmm… OK, mungkin ini terlalu berlebihan, dan mungkin musik ini sangat tidak sesuai dengan selera musikmu. Mau coba dengerin? Gak usah peduliin musiknya kalo emang gak suka. Cermatin aja liriknya”, kataku sambil memberikan kedua headsetku.

Ragu, dia menerimanya dan memasang di telinganya.

 

Aku tak pernah tahu mengapa kamu selalu ada di hidupku
Sepertinya tak bisa lari dari kamu
Apakah bisa saling mencinta tapi tak pernah saling memiliki
Kita pun tidak punya satu ikatan cinta
Mengapa oh mengapa kita tak bisa menjadi sepasang kekasih hati selamanya
Padahal kita kan saling mencintai satu sama lain
Tetapi mengapa oh mengapa..

 

Dia mengangsurkan balik headsetku.

“Eh… udah? Gimana menurutmu?”, tanyaku, sedikit tersipu untuk menanyakan reaksinya dari sebuah lagu. Konyol.

“Kadang aku heran. Orang seserius kamu bisa suka dengan lagu picisan seperti itu”, katanya santai, sambil melemparkan satu batu pipih ke deburan ombak yang sudah terlanjur pecah, membuat pantulan tiga kali sebelum tenggelam.

“See?! Benar aku tadi tak menanyakanmu soal itu!”, kataku sambil mematikan pemutar musikku, kemudian berdiri, lebih memilih untuk berenang daripada melanjutkan obrolan ini.

Dia menarik tanganku, memintaku duduk kembali di sampingnya dengan pandangan mata  dan senyum yang selalu kupuja.

Ah, aku benci jika egoku sudah luluh lantak oleh senyum itu. Senyum yang dulu membuatku tak pernah berani memandanginya terlalu lama. Itu sebelum dia memintaku menjadi kekasihnya.

Aku duduk kembali di tempatku tadi, memandang laut.

“Kau belum merasa sepasang denganku?”, tanyanya. Aku yakin dia pun tak memandangku.

“Bukan itu maksudku, Ri. Jangan pojokkan aku dengan pertanyaan konyol seperti itu”, aku mengubah posisi dudukku, sedikit menyamping ke arahnya yang masih bergeming memandang buih.

“Jika tidak, kenapa kau harus menangisi keadaan hanya karena satu lagu konyol seperti itu? Apa sebuah ikatan bagimu harus diucapkan dengan gegap gempita? Harus semua orang tahu? Padahal bukankah urusan cinta cukup kita saja yang merasakannya?! Lebih banyak orang yang tak bisa mengerti rasa di antara kita, Ra”.

Aku hanya bisa tertunduk. Tak tahu harus berkata apa.

“Kau menginginkan sebuah status dipikiran orang-orang sekitar kita? Hanya jika memang itu membawa sesuatu yang positif untuk kita, aku bisa kalau kau memang menginginkannya, Ra”, cecarnya.

“Atau kau menitikberatkan pada kata –selamanya- dalam lagu itu? Kalau memang iya, kenapa tak kau katakan padaku?”, lanjutnya.

“Aku… aku…”.

Dia menggenngam tanganku, erat. Kuat.

“Aku tak bisa menjanjikan kata –selamanya- itu jika kau sendiri masih terjebak pada pikiran seperti ini.  Tapi jika saja kau berani memintanya, mungkin aku akan menyanggupinya. Karena aku sendiri sudah yakin, bahwa jika cinta itu memang nyata, maka itu adalah kamu adanya”, dia menatapku, dalam keseriusan yang dipenuhi binar cinta.

“Aku percaya, Ri. Aku percaya”, kataku sambil menghambur ke dalam pelukannya.

Dia memelukku, erat. Kesunyian pantai ini menjadi saksi, bahwa cinta kami memang sejatinya hakiki.

 

Nanti, lagu cengeng tadi akan lenyap dari pemutar musikku.ImageImage


5 thoughts on “Mengapa Oh Mengapa…

  1. #aakkkk alan juga pernah merasa begini nih, “diakui” entah deh gimana rasanya. Tapi kalau ngomong soal lagu. Keith Martin yang Because Of you lah yang membawa alan saat audisi dan bertemu dia. :’) What a beautiful life!

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s