Pulang – Gerbong 1

.

Wisnu begitu bersemangat menyelesaikan proyek terakhir yang harus ditanganinya ini. Dia bekerja seolah tiada hari esok yang tersisa.

“Selesai proyek ini, aku akan pulang ke rumah penuh cinta ayah dan ibuku. Rumah yang begitu mendamaikan dan begitu kurindukan selama 2 tahun ini”, pikir Wisnu yang membuat semangatnya terus berkobar untuk terus berusaha menyelesaikan proyek design yang sudah dipesan untuk pembangunan sebuah villa di area Surabaya timur.

“Kerjaan tidak bisa ditinggal? Kamu juga butuh istirahat, sayang”, sebuah pesan singkat yang muncul di layar handphonenya.

“Iya, Prast. Sebentar lagi ini selesai. Aku langsung pulang kalau ini sudah kelar. Kamu tidur aja dulu, gak usah nunggu aku”, balasnya.

Tepat pukul 23.00 akhirnya kelar juga design itu. Agung dalam cetakan kertas biru penuh kotak. Dengan perhitungan rinci yang entah darimana saja rumusnya berasal. Rapi, dia menggulung kertas cetak biru, design yang tinggal menunggu untuk dikirimkan pada sang pemesan, esok harinya.

Langkah seriang merpati dan seringan angin, Wisnu melangkah ke rumah kontrakannya yang memang tidak terlalu jauh dari kantor tempat kerjanya. 1 km saja. Dan Wisnu selalu lebih memilih untuk berjalan kaki daripada harus duduk manis sambil memainkan gas di tangan kanannya. “Sekalian olahraga, toh aku selalu saja kerja di balik meja dan kursi. Kurang gerak”, ucap Wisnu ketika ditanya rekan kerjanya, pun saat ditawari untuk diantar jemput oleh Prast, kekasihnya.

Terdengar suara kunci pintu di putar ketika Wisnu menutup gerbang rumah kontrakannya. Prast membukakan pintu, mengambil tas jinjing kulit warna coklat yang selalu setia menemani Wisnu kerja.

“Kamu belum tidur?!”, tanya Wisnu.

“Belum. Belum terlalu ngantuk. Lagian juga sedang tanggung lihat acara tivi. Kubuatkan teh, ya?!”, kata Prast, yang tanpa menunggu jawaban langsung melangkahkan kaki menuju dapur.

Melihat acara yang sedang berlangsung di televisi, Wisnu tersenyum. Dia tahu bahwa Prast bohong. Dia memang sengaja menunggunya pulang. Ah lelaki itu, selalu saja manis dengan hal-hal kecil seperti itu.

Pandangan Wisnu beralih dari kotak kaca ke kotak kardus yang terletak tak jauh dari meja televisi di hadapannya. Kotak kardus itu sudah rapi dengan tutup atas terjalin, mungkin tinggal menunggu di selotip saja.

“Semua barang yang mau dikirim buat rumah sudah aku tata, tadi. Kebetulan aku pulang kerja lebih awal jadi aku punya banyak waktu untuk mengepaknya”, kata Prast tanpa ditanya, sambil meletakkan cangkir teh dan setoples cookies kesukaan Wisnu.

“Makasih, ya. You’re the sweetest thing i ever have”, Wisnu menarik tangan Prast, mendudukannya di samping dan menarik badannya, merebah di bahu.

Wisnu memang merencanakan secara matang acara kepulangannya setelah 2 tahun dia meninggalkan kampung halamannya dan bekerja sebagai seorang arsitektur di kota Surabaya. Bahkan tiket kereta yang akan dia tumpangi lusa sudah dipesan jauh-jauh hari. Dia tak mau ada, acara kepulangannya harus tertunda hanya karena kesalahan kecil dia lupa mempersiapkan tiket kereta, dan menunda kepulangan hanya karena kehabisan tiket kereta adalah hal yang menyakitkan. Lebih menyakitkan daripada pemotongan gaji karena bon duluan di awal bulan.

Selama beberapa kali kunjungan ke tempat-tempat perbelanjaan di hari-hari sebelumnya, Wisnu sibuk memilih dan mengumpulkan barang-barang yang sekiranya akan pantas untuk dipersembahkan pada orang tua dan adik-adiknya dan pastinya akan mereka sukai.

Wisnu masih ingat betul kegemaran ibunya untuk memadukan berbagai warna kerudung dengan selendang yang akan menambah cantik tampilannya ketika harus mengikuti kegiatan pengajian rutin yang diadakan secara bergilir di kampungnya. Untuk beliau, Wisnu sudah membelikan beberapa stelan terbaik yang bisa dia temui, tentu atas saran Prast.

Untuk ayahnya, Wisnu sudah membeli batik terbaik dengan bahan katun sehalus sutra, berwarna coklat keemasan yang dia rasa akan sangat elegan dipakai oleh ayahnya yang berpostur tinggi besar, yang masih terlihat dengan jelas sisa-sisa keperkasaan peninggalan dari kepurnawirawan-annya. Lengkap dengan songkok terbaik. Dan tak lupa jam tangan rantai. Ya, ayahnya yang dia kenal sebagai pribadi yang sangat disiplin itu pasti akan sangat senang menerima sebuah jam tangan rantai gagah dihiasi sepuhan emas.

Untuk adik-adiknya, dia belikan masing-masing sepasang sepatu. Yang mungkin paling trendi yang dia temui.

Dan kotak-kotak kecil itu kini, malam ini, sudah tertata rapi, dalam satu kardus besar bekas kulkas ukuran kecil. Tinggal di plester dan dikirim esok hari.

“Kamu yakin gak mau ikut?”, tanya Wisnu sambil mengecup lembut kening kiri Prast.

“Kerjaanku sedang tidak bisa ditinggalkan, Mas. Dan lagi aku gak mau ganggu waktumu dengan keluarga. 2 tahun khan butuh waktu yang lama untuk melepas rindu. Cukup titip salam saja sama ayah dan ibu, ya”, jawab Prast.

“Ya sudah. Tenang saja, Mas pergi gak bakal lama”.

Prast tak menjawab. Hanya sedikit menggerakan kepala, mempernyaman bantalannya di bahu Wisnu yang masih merengkuhnya erat. Rengkuhan yang terasa begitu lain malam ini, hangat namun berbeda.

 

*Bersambung…


4 thoughts on “Pulang – Gerbong 1

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s