Pulang – Gerbong 2

.

“Prast… bangun, Prast. Sudah pagi…”, lembut Wisnu membangunkan Prast sambil mengelus lembut lengannya yang mendekap erat bantal guling kesayangan.

Prast mengulet, merentangkan kedua lengannya lebar, sedikit memicingkan mata memandang Wisnu yang bercelana sport panjang tanpa atasan. Prast menarik tangan Wisnu hingga terhempas di atas badannya.

“Jam berapa sih, ini?”, tanya Prast.

“Jam 6, sayang. Bangun yuk, kita ngopi bareng”, jawab Wisnu yang disusul kecupan kecil nan manis di bibir Prast.

“Tumben bangun pagi bener. Sudah keringetan gitu pula”.

“Bukannya kamu paling suka kalau aku sedang berkeringat seperti ini?!”, kelakar Wisnu.

“Bahas, mas! Bahas! Ya sudah sana mandi dulu, aku siapin kopinya”, Prast menggulingkan badan Wisnu yang masih tertawa-tawa kecil ke tempat kosong di sampingnya.

***

Wisnu keluar dari kamar dalam setelah rapi dan langsung meluncur ke teras belakang ketika Prast sedang meletakkan dua cangkir dan sepiring kecil kue. Prast yang melihat kedatangannya, bersedekap sambil memandang Wisnu. Rapi dalam balutan celana bright green structure trouser, dipadu dengan kemeja lengan panjang motif kotak dengan warna sepadan yang lengannya dilipat rapi. Sepatu black label zara blucher makin menambah kharismanya.

“Kenapa? Ada yang salah?”, tanya Wisnu sambil menghempaskan badannya ke kursi.

Prast maju selangkah, sedikit membungkukkan badannya sambil membetulkan kerah kemeja Wisnu yang padahal sudah rapi.

“Ganteng!”.

“Bisa gak kasih kabar baru? Jangan kabar lama kamu ceritakan terus”, kelakar Wisnu.

“Odemhelya!”, balas Prast sambil sedikit meninju lengan Wisnu, yang tiba-tiba saja duduk di paha kanan Wisnu.

Wisnu mengangkat sedikit tubuh Prast yang tidak lebih besar darinya, mendudukannya di sebelahnya.

“Duduk sendiri aja, ntar celanaku kusut”.

“Wow… romantis sangat kamu!!!!”, sinis Prast berkata sambil mengambil sebongkah kue dari piring.

“Romantisnya ntar malem aja ya, sayang. Ntar malam mas gantengmu ini punya banyak waktu, koq”, seloroh Wisnu.

“Whatever! Oh iya, yakin nih gak mau bawa motor? Kamu khan nanti perlu kesana kemari? Kalau misal emang mau bawa aja, aku berangkat kerja naik taksi”, kata Prast.

“Gak usah. Abis ini kamu antar aku aja ke kerjaan. Soalnya gak mungkin khan aku bawa kardus sebesar itu sendirian, bahaya. Aku sudah minta tolong sopir kantor buat antar aku kemana-mana hari ini, koq”, terang Wisnu.

“Oh ya sudah kalau begitu. Buruan minum kopimu. Udah deket jam kerjamu, tuh. Aku mandi dulu sama siap-siap biar bisa sekalian berangkat kerja abis antar kamu”, jawab Prast sambil ngeloyor ke kamar.

***

Dengan diantar Prast, Wisnu berangkat ke kantor membawa dus yang sudah tersegel rapi itu. Kokoh memangku kardus besar itu di paha kirinya sementara Prast konsentrasi mengemudikan laju sepeda motornya.

Kelar urusan dengan pemesan design yang memang sudah menunggu karena memang hari ini deadline-nya, Wisnu minta tolong untuk diantarkan ke bank. Wisnu bermaksud untuk memutasi saldo tabungannya ke rekening ibunya. Dia pikir agar gampang nanti di kampung dan dia tak perlu bawa banyak uang cash di perjalanan, mengingat tak ada mesin ATM untuk kartu bank yang dia miliki di kampung asalnya.

Kebetulan kantor pengiriman barang juga terletak dekat dengan bank dimana dia memiliki tabungan. Sehingga bisa satu kali parkir. Dan dia paham benar, tak semudah itu berkendara di kota Surabaya dengan ruas jalan yang sempit dan kendaraan yang tumpah ruah. Kebetulan yang menguntungkan. Tak lupa dia menyampaikan untuk menggunakan jasa pengiriman paling kilat pada petugas kurirnya karena dia ingin agar paket itu datang di hari yang sama dengan kepulangannya lusa.

Sebelum pulang ke kantor, Wisnu mengajak sopir kantornya untuk makan bersama di sebuah restoran tak jauh dari kantor jasa pengiriman barang itu. “Anggap ini ucapan terima kasih saya Pak, sudah diantar kesana kemari hari ini”, rayu Wisnu pada sopir kantornya sebelumnya yang berulang kali atas nama sungkan.

Dan Wisnu pun menyempatkan diri untuk merapikan kantornya sebelum esok dia meninggalkan ruang kosong yang mungkin entah untuk berapa hari. Kebiasaan rapi yang diajarkan ibunya dan kebiasaan disiplin yang menurun dari didikan ayahnya inilah yang membawa Wisnu pada kesuksesan yang telah ia raih saat ini. Dan dia selalu merasa bangga dan bahagia mendapati kenyataan itu. Senantiasa bersyukur memiliki orang tua yang hebat seperti mereka.

***

“Gimana semuanya hari ini? Sudah beres?”, tanya Prast ketika mereka sedang makan bersama di teras belakang. Wisnu sudah mengatakan tidak ingin pergi kemana-mana, hanya ingin menghabiskan malam di rumah saja. Karena itulah Prast mempersiapkan makan malam di rumah.

“Sudah. Klien juga senang sekali dengan hasil yang kuberikan tadi. Paket sudah kumasukkan perusahaan kurir jadi lusa bisa sampai di rumah pas aku sampai juga”, terang Wisnu sambil menyuapkan nasi terakhirnya.

“Syukurlah kalau begitu. Jadi besok kamu bisa bersantai tinggal nunggu malam berangkat”.

Hening sejenak.

Prast memandangi wajah Wisnu yang sedang berkutat dengan piringnya makannya yang sudah sangat bersih tanpa dicuci. Wajah kokoh yang sudah setahun ini menjaganya. Lama-lama Wisnu menyadari juga bahwa Prast sedang memandanginya.

“Ada apa?”, tanya Wisnu.

“Eh, gak koq. Cuma mau bilang… i love you”, setengah gelagapan setengah tersipu Prast menjawab.

“Oh… brati dessertnya mau pindah ke kamar nih?!”, tanya Wisnu sambil berdiri, menghampiri Prast dan mengecup lembut keningnya.

“Aku tak perlu menjawab, khan?!”, Prast ikut berdiri, menggandeng lengan Wisnu. Beriringan memasuki kamar dengan nafas yang makin menderu di tiap langkahnya.

Rumah kontrakan kecil itu bertabur banyak cinta malam itu.

***

Akhirnya hari yang dinanti tiba juga. Nanti, jam 8 malam Wisnu akan berangkat dari stasiun Pasar Turi. Tak terlalu banyak yang harus dia bawa lagi karena kebanyakan sudah dia sertakan dalam paketan yang dia kirimkan tempo hari. Jadi tak terlalu repot.

Wisnu menghabiskan pagi dengan lari pagi seperti biasanya keliling komplek perumahan tempat kontrakannya. Dan jogging kali ini dia begitu menikmati karena memang tidak ada kewajiban ngantor hari ini. Sudah resmi cuti. Dia jadi lebih bisa santai bertutur sapa dan berbincang dengan tetangga yang kebetulan juga sering lari pagi. Dia biarkan Prast tidur ketika dia berangkat jogging tadi.

Dan ketika matahari sudah terlalu menyengat, pun jalan sudah terlalu ramai dengan kendaraan yang mulai sibuk lalu lalang menuju segala arah, Wisnu memutuskan untuk kembali ke kontrakannya. Dia tak mau urusan jogging pagi malah jadi acara menghirup polusi secara massal. Hari ini dia tak ingin kemana-mana. Rasanya kontrakannya menahan semua hasrat untuk sekedar keluar mencari makan siang. Toh Wisnu juga ingin bersantai saja menikmati suasana kontrakannya bersama Prast yang sengaja minta cuti juga satu hari ini.

 Siang dihabiskan Wisnu dengan santai menonton televisi ditemani beberapa camilan dan Prast yang betah sekali rebahan di dadanya sepanjang menonton. Sesekali mereka bercinta ketika tayangan televisi tidak ada yang menarik lagi.

Sore, Wisnu mandi dan bersiap untuk kepulangannya kali ini. Niatnya memang dia akan sekalian mampir ke kantornya untuk berpamitan dengan teman-temannya, tepat sebelum jam tutup kantor.

Kelar dengan semua persiapannya, Wisnu berangkat menuju kantornya terlebih dahulu. Prast akan menyusul ke kantornya nanti untuk mengantar ke stasiun jika obrolan dengan teman kerjanya sudah kelar.

Langkah kaki Wisnu ketika menuju kantornya terhenti oleh keberadaan seorang ibu tua, yang memandanginya dengan tatapan teduh. Di tangan kanannya tergantung sebuah tas kresek hitam penuh benjolan yang dia duga berisi beberapa kilo jeruk. Dan wajahnya… wajahnya seperti begitu dikenal oleh Wisnu. Entah siapa, tak ada ide di benaknya. Tapi entah deja vu darimana, dia merasa sangat mengenal sosok wanita itu.

Santun, dia menghampiri ibu itu.

“Mau nyebrang nek, sekalian sama saya saja. Kebetulan saya juga mau nyebrang”, sapa Wisnu ramah.

“Iya nak. Makasih”, sahut ibu itu.

Santun, Wisnu menggandeng tangan kiri ibu itu, menyeberang dengan tangan kiri melambai ke atas minta sejenak waktu bagi pengemudi yang lalu lalang.

“Makasih banyak nak, sudah sangat sopan membantu ibu”, ucapnya.

“Sama- sama ibu. Toh kita juga memang satu jalur. Kebetulan saja saya berada disini ketika ibu butuh menyeberang jalan ini”, balas Wisnu.

“Tak ada yang kebetulan dalam dunia ini nak. Apalagi dalam kehidupan kita. Ibu Cuma mau pesan, anak hati-hati dalam setiap langkah yang diambil ya. Ingat bahwa dunia tak hanya diisi oleh orang-orang baik seperti kamu”, petuah ibu.

Entah, ada perasaan mendalam yang merayapi hati Wisnu mendengar nasihat wanita itu. Ada sesuatu yang lain, tapi tak dimengertinya. Bahkan dia sempat menyisakan waktunya untuk memandangi wanita itu melangkah, hingga menghilang di kelokan jalan depan sana.

*Bersambung…


5 thoughts on “Pulang – Gerbong 2

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s