Pulang – Gerbong 3

.

Kantor tempat kerjanya masih hiruk pikuk ketika Wisnu sampai disana. Kebetulan mereka sedang bersiap-siap untuk bubaran kerja sehingga tak ada satupun orang yang merasa terganggu. Bahkan akhirnya mereka sempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi sore di kantin kantor yang teduh.

Mereka bercengkerama akrab. Membicarakan hal-hal di luar pekerjaan yang terkadang memang sangat jarang untuk mereka lakukan mengingat kantor mereka yang sepertinya selalu penuh dengan order. Order yang diikuti dengan deadline yang mampu melunturkan sejumput senyum ketika tenggat waktunya hanya sepanjang bulu mata mereka.

Saking asyiknya, masing-masing dari mereka sepertinya rela telat sampai di rumah dan telat untuk menindih sofa empuk di kontrakan masing-masing, telat satu episode sinetron Korea yang mungkin salah satu dari mereka ikuti dari awal. “Sekali-sekali dan belum tentu setengah tahun sekali berkumpul penuh seperti ini”, pikir mereka, mungkin.

Yang paling berbahagia dengan sore ini tentu saja ibu pemilik kantin kecil itu. Omset kopinya mendadak banyak karena masing-masing sepertinya tak cukup dengan 1 atau 2 cangkir kopi. Manajer produksi di kantor itu malah sudah pesan cangkir ketiga.

Sudah satu jam mereka meramaikan kantin kecil itu ketika Prast datang. Dia langsung gabung karena memang beberapa dari mereka sudah dia kenal sehingga tidak canggung. Pun Prast memang pribadi yang supel.

Mendekati jam menjelang maghrib, sesekali Prast mengingatkan Wisnu bahwa sebaiknya mereka segera berangkat, mengingat lalu lintas kota Surabaya yang tak pernah bisa ditebak. Wisnu Cuma bisa membalas dengan senyum dan lirikan yang kurang lebih mungkin hendak mengatakan “sebentar lagi ya, sayang”.

Bahkan Wisnu pun tak bisa menyalahkan ketika teriakan “Ntar lagi lah. Gak telat gak!! Percaya deh ama gue! Khan gue doain Lo” berulang kali terlontar ketika Wisnu terlihat seperti hendak pamitan dan mengakhiri sesi kopi sore itu.

Hingga satu moment, Wisnu sudah tidak bisa menunda lagi. Kecuali dia siap untuk berkejar-kejaran dengan kereta yang akan ditumpanginya. Atau bahkan harus menginap di stasiun dan menumpang kereta esok harinya, dengan ketentuan tiket hangus tentunya.

Teman-temannya pun memahami. Kopi sore itu diakhiri dengan pelukan akrab dari semua orang dan ucapan doa selamat untuk Wisnu. Tak lupa pastinya oleh-oleh yang dipesan seperti daftar belanjaan rumah tangga yang berderet panjang. Sungguh keluarga kecil yang membahagiakan, pikir Wisnu.

Dibonceng Prast, Wisnu berangkat ke Stasiun Pasar Turi.

“Sorry ya, tadi kupotong. Tapi aku lapar, dan kamu juga pasti lapar. Kalau kita cepat berangkat khan bisa sempet makan dulu”, kata Prast sambil tetap konsentrasi mengendari sepeda motornya.

“Gapapa, koq. Aku paham dan aku juga lapar. Hehehehehe. Mau makan dimana emang?”, tanyanya.

“Di stasiunnya aja, deh. Khan ada lounge disana”, jawab Prast.

“OK”.

Mereka sampai di Stasiun Turi jam 18.30. masih banyak waktu untuk mereka sebelum kereta yang membawa Wisnu datang. Memarkirkan motornya rapi, mereka melangkahkan kaki menuju sebuah lounge yang terletak di sayap kiri bangunan stasiun itu.

“Lama ya, liburanmu kali ini…”, Prast membuka obrolan setelah mereka selesai makan. Duduk santai menikmati secangkir kopi sambil menunggu kereta datang.

“Cuma 10 hari, koq. Itupun udah kepotong sehari kemarin, khan?!”, kata Wisnu, santai sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Entahlah, aku khan belum pernah gak bareng kamu lebih dari seminggu”.

“Hahahahahaha… tumben kamu seromantis ini?!”, seloroh Wisnu.

“Dan kau butuh keajaiban besar untuk menjadi sedikit saja romantis”, tukas Prast.

Wisnu hanya tertawa terbahak-bahak menanggapinya. Heran dengan pemikiran orang yang sudah setahun lebih mengisi hari-harinya itu.

Hening sejenak setelah tawa Wisnu yang membahana.

“Mas… sepertinya aku makin mantap untuk membicarakan hubungan kita dengan ibu”,

kalimat pemecah sunyi dari Prast ini membuat Wisnu harus membetulkan posisi duduknya. Wisnu memandangi wajah Prast dengan seksama, menghembuskan nafas berat sebelum menjawab.

“Kenapa harus kau ungkit lagi bahasan semacam ini, Prast? OK, aku terima penjelasan bahwa ibu adalah orang yang terbuka terhadap hal-hal baru. Tapi belum tentu beliau bisa menerima hal semacam ini. Toh di antara kita belum ada paksaan untuk segera menikah atau apapun itu. Jadi, kenapa tak kita nikmati saja dulu apa yang kita punya sekarang? Simpan dulu lah pikiran-pikiran semacam itu”.

“Dariku mungkin tidak ada pertanyaan seputar itu. Yang aku takutkan, kepulanganmu kali ini akan menimbulkan pertanyaan itu dari orang tuamu, Mas”, kata Prast, yang tak berani memandang Wisnu dan lebih memilih membuang pandangan ke jendela kaca lounge itu.

“Itu hanya ketakutanmu, Prast…”.

“Wajar jika aku takut, Mas. Aku belum siap kehilanganmu. Mas sudah dewasa, mapan, tampan. Tak mungkin pertanyaan semacam itu akan terlewat dalam dialog kalian nanti-nantinya”, berat Prast mengucapkan kalimat itu.

Wisnu tak menjawabnya. Bukan karena tak ingin, tapi lebih karena tak mampu. Hening kembali menyelimuti mereka saat itu.

***

Jam 8 kurang 10 menit, kereta yang mereka tunggu datang. Membayar makanan yang telah mereka habiskan, mereka langsung menuju ke kereta.

Ada haru yang menyelinap di hati Prast ketika mereka makin mendekati gerbong tempat duduk Wisnu. Seakan ingin ikut saja kemana Wisnu pergi. Perasaan ditinggalkan yang ganjil.

Prast menghentikan langkah, menarik lengan Wisnu.

“Kamu pasti pulang, khan?!”, tanya Prast, serius.

“Prast, apa yang kamu pikirkan?? Kehidupanku semuanya disini. Kamu, pekerjaanku, pergaulanku. Jadi aku pasti pulang”, jawab Wisnu, memegang kedua bahu Prast yang ternyata tak bisa menyembunyikan wajah sendunya.

“Iya… aku percaya kamu pasti pulang”.

“Titipkan saja salamku untuk ayah, ibu dan adik-adikmu. Terus kabari aku, ya!”, sambung Prast.

“Pasti, kamu ati-ati di rumah, ya”, jawab Wisnu sambil memeluk Prast.

Prast membalas rengkuhan itu, membiarkan degup jantungnya mengalir ke tubuh Wisnu. Tak mempedulikan pandangan orang-orang yang mungkin berjengit penuh tanda tanya melihat mereka. Belum berpisah saja dia sudah begitu rindunya. Dia memandang Wisnu melangkah memasuki gerbong, membalas lambaian tangannya dengan senyum yang dipaksakan ada.

Bahkan dia tak ingin beranjak sampai kereta itu pergi.

Ternyata, tepat sebelum kereta itu bergerak, Wisnu setengah berlari mendekati Prast.

“Kutitipkan ini padamu”, kata Wisnu, sambil menggenggamkan sebuah kalung dengan bandul cincin emas ke dalam genggaman Prast.

“Tapi… ini khan harta paling berhargamu??”, tanya Prast, bingung.

“Iya… dan kau 10 kali lebih berharga dari benda itu. Untukmu dan untuk benda itu aku akan kembali”, jawab Wisnu dalam senyumannya. Tangannya mengelus pelan pipi Prast, kemudian berbalik dan berlari menggapai pintu kereta yang sudah mulai bergerak pelan.

Prast trenyuh memandangi kereta itu. Separuh hatinya ada di dalam tautan gerbong-gerbong besi yang bergerak makin cepat itu…

 

*Bersambung…


2 thoughts on “Pulang – Gerbong 3

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s