Pulang – Gerbong Restorasi

Gerbong yang ditempatinya cukup ramai. Ketika kereta berangkat, Wisnu lihat masih ada sekitar 8 bangku yang kosong. Mungkin karena memang ini bukan musimnya orang pulang ke kampung halaman.

Di sampingnya, duduk seorang lelaki paruh baya yang kalau dicermati mungkin umurnya tak jauh berbeda dengannya, sedang membaca sebuah novel. Sebelum duduk, Wisnu melontarkan senyum ramah, permisi.

“Permisi…”, sapa Wisnu sambil menyingirkan bantal kecil warna hijau yang teronggok di kursi tempat duduknya.

“Oh silakan…”, jawab pria itu ramah menjawab sambil sejekap menutup buku yang sedang dibacanya.

Sekilas Wisnu melirik sampul buku itu. The Undeniable Longing karya Mark Tedesco. Buku yang selama ini dia cari-cari tapi tak pernah kunjung ketemu. Ingin menanyakan dimana dia beli, tapi ragu. Diliriknya lagi sekilas, lebih kepada pembatas buku yang tinggal sedikit lagi menuju akhir.

“Ah, semoga perjalanan orang ini panjang dan bisa rampung baca buku itu, biar bisa kutawar untuk kubeli”, bathin Wisnu.

Duduklah dia, nyaman di kursi yang telah jauh-jauh hari dipesannya.

***

Jam 2 dini hari. Wisnu terbangun ketika seseorang di deretan bangku seberang batuk agak terlalu keras. Mengerjapkan mata beberapa detik, Wisnu ingat bahwa dia sedang di kereta. Mencoba untuk kembali memejamkan mata, ternyata tak bisa. Diteguknya air mineral yang terselip rapi di kantong kursi depannya. Nyawa sudah 100% terkumpul. Tak mungkin untuk dipaksakan tidur lagi.

Bangku disebelahnya sudah kosong tanpa penghuni. Ah, keinginan Wisnu untuk memiliki buku itu lenyap. Orang itu mungkin sudah turun entah di kota mana. Kecewa tidak bisa mendapatkan barang yang sudah di depan mata memang rasanya terlalu keparat.

“Ah, secangkir kopi dan sebatang rokok sepertinya akan nikmat sekali di suasana yang seperti ini”, pikir Wisnu, mengalihkan perhatiannya.

Kebetulan, ada petugas kereta yang lewat.

“Permisi Pak, mau tanya, gerbong restorasi dimana ya?”, tanya Wisnu sopan.

“Oh, di gerbong keempat mas, berbatasan dengan gerbong kereta bisnis”, jawab sopan si petugas yang terlihat begitu letih dan mengantuk.

“Terima kasih pak”, sahut Wisnu yang segera meluncur menuju gerbong restorasi.

Di sambungan gerbong, dia sempat tak sengaja menabrak seorang pria yang baru keluar dari toilet.

“Oh maaf pak. Maaf sekali. Saya tidak lihat bapak keluar dari toilet tadi”, ucap Wisnu gugup, merasa bersalah melihat bapak itu sedikit sempoyongan.

“Oh ndak apa-apa nak. Toh bapak ndak jatuh. Ya gini lah nak, namanya orang tua. Kesenggol angin sedikit aja limbung apalagi kesenggol badan kamu. Ya sudah, monggo, bapak mau balik ke kursi bapak dulu”, ucap bapak itu.

“Silakan pak., hati-hati”, tukas Wisnu.

***

Gerbong restorasi terlihat penuh ketika Wisnu sampai. Ah, ternyata bukan hanya dia yang masih terbangun pada jam segitu. Kepulan asap terlihat sekilas berkumpul, sebelum akhirnya tertelan aliran udara dari beberapa jendela kereta yang sengaja dibiarkan terbuka. Beberapa sibuk berbincang sambil menikmati secangkir kopi, sisanya hening menikmati kopi mereka masing-masing, sendiri.

Dan orang itu di sana, duduk di pojokan gerbong sedang menikmati sepiring nasi goreng dengan lahapnya. Beruntung masih ada satu kursi yang tersisa, yang bisa diduduki Wisnu, tepat di depan orang itu.

Tanpa tunda, Wisnu segera menghenyakkan pantatnya ke kursi plastik itu. Menghindari kejadian ada yang tiba-tiba masuk dan mengambil kursi terakhir itu. Dipesannya secangkir kopi hitam dan dua potong pisang goreng untuk menemaninya menikmati batang remahan tembakau.

Pesanannya datang ketika kereta berhenti. Entah di stasiun mana, Wisnu tak mempedulikannya.

Di gerbong restorasi ini jauh lebih hangat daripada di gerbong tempatnya duduk meski jendela kecil di dinding kereta dibiarkan terbuka dan mempersilakan angin malam merebut setiap kepulan yang ada di dalam kereta. Pendingin ruangan di gerbong kereta eksektutif memang selalu dipasang pada suhu paling minimum. Membuat menggigil bagi orang yang tak terbiasa dengan pendingin ruangan. Dan hangatnya gerbong restorasi membuat Wisnu malas beranjak kembali ke gerbong dimana dia duduk. Aroma kopi yang terhidang seperti candu, membuat betah. Bahkan orang-orang yang tak dikenalnya, terdengar seperti alunan lagu yang tak menjemukan. Ah absurd.

Merasa sudah cukup bersantai dan sedikit melepas penat, Wisnu menghabiskan tegukan terakhir kopinya yang sudah mulai mendingin. Menyisakan selapis ampas kopi pekat yang aromanya tetap harum.

“Berapa semuanya,  Pak?”, tanya Wisnu pada salah seorang pelayan yang kebetulan sedang mengambil gelas-gelas kosong yang berada di meja tempatnya duduk tadi.

“Kopi hitam sama pisang goreng dua, ya?? Lima belas ribu, Mas”, tukas waiter.

Tangan kanan Wisnu meraba saku belakangnya, bermaksud mengambil dompetnya. Dan Wisnu terkesiap. Dompet kulitnya yang berwarna hitam sudah tak ada lagi di saku celananya. Handphone yang berada di saku sampingnya juga tak ada disana. Raib. Celingukan, Wisnu sampai menengok di bawah kursi. Tidak ada.

Dia rogoh saku depan kemejanya, ada uang dua puluh ribuan, dia angsurkan dulu pada waiter agar dia tak terlalu menunggu sementara dia kebingungan mencari dompetnya.

“Kenapa mas?? Koq sepertinya bingung banget??”, penasaran, waiter bertanya pada Wisnu yang tetap sibuk raba semua bagian celananya dan sibuk celingak celinguk di bawah kursi.

“Ini Pak, dompet saya ndak ada. Padahal saya ingat betul dompet itu tidak pernah keluar dari celana saya dari mulai berangkat sampai pengecekan tiket tadi. Saya ingat koq abis pengecekan dompet saya masukkan kembali ke saku. Dan perlu keajaiban besar untuk kemungkinan dompet itu jatuh secara tak sengaca dari kantong saya mas. Saku celana saya lumayan dalam soalnya. Ya paling tidak masuk semua lah untuk dompet saya. Hape saja juga hilang”, jawab Wisnu panjang lebar menjelaskan, tapi matanya tetap fokus mencari seolah-olah dompet itu akan ada di area bawah kursi dan meja tempatnya duduk menikmati kopi.

“Wah… jangan-jangan Mas ini kecopetan. Coba diingat-ingat lagi, mungkin di stasiun atau dimana gitu ada Mas tabrakan secara tak sengaja dengan orang?”, pria yang dari tadi juga bertahan di gerbong restorasi itu ikut menukas.

Deg…

 

*Bersambung…


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s