Pulang – Gerbong Lokomotif

.

Semua yang sedang Wisnu lakukan seketika terhenti. Ingatannya sibuk membuka kenangan singkat dari saat dia masih berasa di stasiun. Dan ingatannya terhenti saat dia berada pada adegan ketika dia menubruk orang paruh baya yang keluar dari toilet tadi, tepat sebelum dia masuk ke gerbang restorasi ini. Dan entah bagaimana ingatannya langsung tertuju pada pesan wanita tua yang menyeberang bersamanya siang tadi, sebelum pamitan di kantornya.

“Ah…”, Wisnu hanya bisa mendesah, tak berani mengutarakan apa yang dia pikirkan. Tidak mau mengotori memorinya sendiri tentang orang tua paruh baya tadi yang terlihat begitu sopan, ketika dia menyadari bahwa dia begitu naif untuk tidak mengakuinya.

“Saya permisi dulu, mas”, pamit Wisnu sopan pada orang di hadapannya yang masih menunggu aksinya. Dengan sedikit tergesa Wisnu berjalan menuju deret akhir kereta itu. Mencoba mencari orang yang tadi secara tak sengaja menabraknya.

***

Dari gerbong bisnis yang tersambung di bagian belakang rangkaian kereta itu, hingga gerbong eksekutif pertama Wisnu lalui, mencari laki-laki yang bertubrukan dengannya tadi. Berjalan dengan pelan sambil memandangi wajah penumpang satu persatu meski secara sepintas agar tetap sopan, pun sambil berusaha keras mengingat paras pasti laki-laki itu.

Nihil.

Lunglai, Wisnu berjalan ke gerbong dimana tempat duduknya berada. Sambil mengurutkan hal-hal yang harus segera dilakukannya dalam keterbatasannya ini. Menutup akun tabungannya, mengabari Prast dan orang tuanya akan kejadian ini, dan lain sebagainya. Tapi buntu. Bagaimana caranya? Sedangkan handphonenya juga ikut raib dicopet. Tas yang dari tadi ada di punggungnya pun tak membantu karena Cuma berisi beberapa lembar pakain ganti.

Wisnu duduk tanpa daya. Pasrah dengan nasib yang akan membawanya entah kemana.

“Gak ketemu orang tadi?”, sapa pria di sebelahnya, memecah kebengongan Wisnu yang masih berusaha berfikir.

“Gak, Mas. Seluruh gerbong sudah kutelusuri dengan teliti, tidak nampak satupun orang yang paling tidak mirip dengan orang yang menabrakku tadi”, jawab Wisnu lemah.

“Mungkin gak kalau orang itu turun di stasiun pemberhentian tadi?”, tanyanya.

Deg… Wisnu hanya memandang orang itu tanpa kata, seperti mendapat jawaban dari semuanya. Dan dia hanya bisa meraup wajah dengan tangan kanannya, mencoba menyabarkan diri.

“Tiket perjalananmu juga di dompet, ya?!”, lagi dia bertanya.

“Iya, Mas. Di dompet yang hilang itu”.

“Aku hanya khawatir petugas peron akan memintamu turun jika nanti saat pemeriksaan kamu tidak bisa menunjukkan tiketmu”, katanya.

Oh tidak, Wisnu baru kepikiran hal itu. Dia benar, butuh keajaiban besar bagi Wisnu untuk meyakinkan petugas peron bahwa dia kecopetan. Dan peraturan kereta selalu sama, bayar 2 kali harga tiket jika kedapatan tidak membawa tiket. Otak Wisnu kembali berputar, berpikir, dan hanya berdesing tanpa jawaban.

***

Kali ini Wisnu menyerah. Sudah berpuluh kemungkinan cara yang bisa dia lakukan untuk mengatasi masalah ini namun buntu, tidak ada satupun jalan yang bisa dipikirkannya. Padahal perjalanannya masih lumayan jauh.

Dipandanginya jam tangannya yang selalu tersemat di tangan kirinya. Jam tangan Victorinox peninggalan ayahnya yang telah membuat dirinya sendiri berjanji untuk tak akan mengalihtangankan benda kenangan itu. Trenyuh. Tapi tak ada jalan lain. Segala gengsi juga harus dia buang jauh-jauh jika tak mau diturunkan oleh petugas kereta nanti.

Ragu…

“Permisi, Mas. Sebelumnya minta maaf sekali jika saya mengganggu. Tapi, ini saya sangat terpaksa sekali. Bolehkah saya minta tolong sesuatu?”, tanya Wisnu pada pria di sebelahnya.

“Jika memang saya bisa membantu, Mas”, jawabnya.

“Sebelumnya perkenalkan, saya Wisnu”, katanya sambil mengulurkan tangan, mengajak bersalaman pria itu.

“Arya”, katanya ramah sambil menerima uluran tangan Wisnu.

“Begini mas Arya. Saya tahu ini kedengaran konyol sekali dan mungkin mas Arya sudah banyak mendengar cerita penipuan semacam ini. Tapi saya sudah benar-benar buntu. Tidak tahu lagi bagaimana menyelesaikan masalah ini. Sedangkan tas saya hanya berisi beberapa lembar pakaian yang tidak ada harganya. Jadi yang saya punya hanya jam tangan Victorinox ini. Hanya ini benda yang saya miliki dan yang masih memiliki harga, meski sebenarnya saya ingin mempertahankannya. Tapi daripada saya harus diturunkan di suatu tempat nantinya, Jadi, maukah mas Arya menolong saya?”.

Arya tak langsung menjawabnya. Dia hanya mengambil nafas, dan membuangnya pelan. Ditatapnya mata Wisnu, mencari kejujuran.

“Aku tahu mungkin ini terdengar biasa. Banyak kejadian seperti ini, mas. Tapi memang hanya ini yang bisa saya lakukan. Selebihnya saya kembalikan sepenuhnya ke Mas karena saya juga tidak tahu harus meyakinkan dengan apa”, lanjut Wisnu.

“Hmmm… boleh saya melihat jam tanganmu?!”, tanya Arya sopan.

“Silakan, Mas”, jawab Wisnu sambil kemudian melepaskan jam tangannya. Ada rasa nyeri di hati ketika jam tangan itu lolos melewati jari-jarinya. Tapi dia harus tega.

“Kebetulan saya tahu sedikit hal tentang jam. Dan saya tahu jam ini original”, kata Arya setelah mengamati jam tangan itu dengan seksama. Lalu dia mengangkat lengan panjangnya, memperlihatkan pergelangan tangan kirinya. Disana bertengger jam tangan yang sama persis dengan yang dimiliki Wisnu.

Wisnu tergeragap. Tak tahu harus berkata apa.

“Jadi, mau Mas Wisnu jual berapa?”, tantang Arya.

Kening Wisnu berdenyut. Antara bingung dengan harga yang dia minta, dan perasaan tak tega untuk memberi label harga atas barang pemberian ayahnya yang selama ini dia jaga.

“Berapa mas Arya kira-kira mau membelinya? Maaf, saya tidak sanggup memberi label harga untuk benda itu”, akhirnya jawaban Wisnu.

“Hmmm… jangan begitu. Sebut satu angka, sehingga saya bisa kira-kira kalau harus menawar”, kata Arya.

“Sungguh, Mas. Saya tidak tahu. Berapapun saya terima sepanjang itu masih cukup untuk membayar dua kali harga tiket yang saya perlukan. Itu saja yang saya pikirkan sekarang”.

“Hm…. di dompet saya sekarang hanya ada uang cash kurang dari 2 juta. Saya tahu itu jauh dari harga seharusnya jam tangan itu. Tapi hanya itu yang saya punya. Bagaimana?!”, kata Arya.

“Serius Mas bersedia membeli jam tangan itu?”, tanya Wisnu untuk sekedar meyakinkan masing-masing.

“Itu kalau kamu masih berniat untuk menjual jam tangan itu”, kata Arya, kalem.

Wisnu memejamkan mata sejenak. Mencoba menguatkan diri sebelum mengambil keputusan yang akan terus membuatnya merasa bersalah.

“Iya, Mas. Saya berniat menjual benda itu”, kata Wisnu, berusaha dimantap-mantapkan.

“Berarti kita deal dengan harga yang sangat tidak wajar itu?”, tanya Arya.

“Saya yakin benda itu berada pada tangan yang benar. Itu saja sudah cukup buat saya saat ini”, jawab Wisnu, masih berusaha untuk tak menampakkan nada getir dalam tiap kata-katanya.

“Sepertinya jam tangan ini bermakna sesuatu bagimu selain sebagai penanda waktu. Benarkah?”, tanya Arya hati-hati.

“Tidak perlu dijelaskan, mas. Saya tidak mau transaksi kita sekarang diimbuhi dengan drama-drama yang tidak perlu”.

“OK. Berarti kita sepakat”, kata Arya sambil mengangsurkan tangan kanannya, mengajak bersalaman.

Wisnu menyambutnya, tegar.

Arya mengambil dompet yang berada di tas pinggang kecil yang sedari tadi dipangkunya. Wisnu tak sengaja mengamatinya ketika Arya membuka dompetnya. Dan dia terkesiap. Nafasnya terhenti satu ketukan.

“Entahlah. Justru saya yang merasa tidak enak menyerahkan uang hanya segini untuk jam tangan sebagus yang kamu tawarkan ini”, kata Arya sambil menyerahkan uangnya kepada Wisnu.

Ucapan Arya membuyarkan keterkejutannya. Dia tergeragap, berusaha kembali ke dunia sadarnya,  menerima uang itu dengan senyum dan ucapan terima kasih.

“Ah, itu hanya perasaanku saja!”, bathinnya berulang-ulang.

“So, ada lagi yang bisa saya bantu, Mas Wisnu?”, lagi-lagi pertanyaan Arya membuyarkan lamunannya. Uang yang diterimanya masih ada di genggamannya.

“Hmmm… untuk saat ini belum ada, Mas”, jawabnya.

“Yakin kamu tidak perlu menghubungi siapa? Saudara mungkin? Atau pasangan mungkin? Mengabari mereka?”.

“Nomor mereka semuanya di handphone saya yang hilang, Mas. Kalau memang boleh minta pulsanya, saya perlu menelepon customer service bank saya untuk memblokir ATM mengingat ATM saya juga ikut hilang di dompet tadi”.

“Oh, OK. Tuh untung kamu ingat”, kata Arya sambil mengangsurkan handphonenya pada Wisnu.

Wisnu menerima handphone itu.

Dan Wisnu makin terkesiap. Ucapan bathin yang sedari tadi terus menerus diucapkannya dalam hati seketika itu juga runtuh. “Tuhan… cobaan apa lagi ini?”, bathin Wisnu, tertegun dalam diam. Lupa pada apa yang seharusnya dia lakukan.

Wisnu letih…

 

*Bersambung…


2 thoughts on “Pulang – Gerbong Lokomotif

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s