Pulang – Stasiun Akhir

.

Gamang, dengan tangan yang masih gemetaran, Wisnu mencoba berkonsentrasi untuk menekan tombol 14000, menghubungi call centre bank dimana dia memiliki rekening. Bahkan ketika tersambung dan Wisnu mengutarakan maksudnya, jelas tergambar bahwa dia terguncang, suaranya terbata-bata dan sering hilang fokus.

Arya menyadari hal itu.

“Kamu baik-baik saja, Mas? Maaf, tapi sepertinya kamu seperti mendapatkan sesuatu yang jauh lebih buruk daripada perihal kehilangan tadi”, hati-hati Arya bertanya ketika Wisnu mengembalikan ponselnya.

Wisnu bahkan tak sanggup menjawabnya. Dia hanya bisa mengambil nafas banyak-banyak, kemudian menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dihembuskannya nafasnya pelan, dan berat. Seolah badai keletihan sudah menyerang fisiknya.

Arya menepuk pundak Wisnu pelan, mencoba mentransfer ketabahan yang mungkin ia miliki.

“Sabar, Mas. Kalau memang segala sesuatu itu hak-mu, dia akan kembali, koq”, kata Arya.

Wisnu membuka tangkupan tangannya. Menghela nafas sekali-kali dan akhirnya memberanikan diri.

“Maaf, Mas. Kalau boleh saya lancang, bolehkah saya bertanya tentang hal yang sedikit pribadi?”, Wisnu menghaturkan permisi dulu.

“Kalau memang bisa saya jawab, silakan”.

“Foto yang terpampang di wallpaper di ponsel sampean itu, siapa?”, tanya Wisnu.

Mimik muka Arya langsung berubah. Seperti orang yang baru saja terbongkar sebuah rahasia besar yang selama ini dia jaga.

“Kalau memang Mas Wisnu ini mau mendengarkan, saya bisa berkisah tentang itu…”, jawab Arya akhirnya setelah hening untuk beberapa saat.

……………….

***

Arya berkisah, panjang.

Seluruh persendian di tubuh Wisnu seperti mendadak luruh. Ingin rasanya dia menjadi rel kereta yang dilaluinya, hening dilindas benda hitam yang melaju cepat itu. Dunia rasanya sedang berjaya mencemoohnya, mendadak menjadi begitu sempit. Bahkan gerbong kereta yang masih temaram, dingin dan berdesing itu terasa jauh lebih luas dari dunia yang selama ini dia jalani. Dia menangis dalam diam. Membiarkan Arya yang kini bingung melihat pemandangan di hadapannya. Tak mengerti apa yang terjadi.

……………….

***

“Mungkin ini gila. Tapi kalau Mas percaya akan kekuatan nasib, di stasiun pemberhentian selanjutnya, sudikah kalau kita turun dan ikut saya ke Surabaya, Mas”, kata Wisnu tanpa basa basi di sela air mata yang masih meluncur tanpa suara.

Arya tertegun. Masih tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Namun dia melihat cahaya ketulusan yang terpancar begitu kuat di mata Wisnu. Entah dari mana, tapi rasa percaya pada orang yang baru dikenalnya itu begitu besar. Dan perasaan semacam ini hanya pernah dimilikinya dulu, di masa lalunya.

Ada begitu banyak luka yang terasa begitu segar dari tiap kata yang terucap dari bibir kelu Wisnu. Arya seperti tak punya kekuatan untuk tak mempercayainya.

***

Dan disanalah mereka sekarang. Turun di Stasiun Kroya dan langsung menuju loket pemesanan tiket, tujuan Surabaya yang paling cepat mereka bisa.

***

Kereta tujuan Surabaya yang mereka tunggu akan tiba pukul 5 pagi. Masih ada waktu sekitar satu jam untuk menunggu. Arya mengajak Wisnu untuk duduk di sebuah warung kecil yang terletak di samping persis gerbang keluar peron itu. Wisnu mengiyakannya tanpa kata. Dia sudah kehilangan kata semenjak dari dalam kereta, saat Arya mengiyakan ajakannya untuk mengikutinya.

“Ngomong-ngomong, aku penasaran dengan jam tanganmu, Mas Wisnu. Sepertinya ada beban yang begitu dahsyat ketika tadi diberikan ke aku”, tanya Arya, lebih kepada membuka perbincangan untuk menghentikan keheningan yang ada. Tangan kanannya menggenggam cangkir kopi untuk mengusir dingin, sedang di jari tangan kiri terselip sebatang rokok.

Wisnu mendesah. Dia juga lelah dengan keheningan yang justru malah semakin menyiksanya saat ini.

“Tolong cerita ini jangan sampai mengubah transaksi yang sudah terjadi antara kita, Mas Arya. Tapi sejujurnya, itu adalah hadiah pemberian ayah saya, dulu ketika saya hendak pergi merantau. Dulu saya pernah berjanji pada diri sendiri untuk tak akan menjualnya dalam keadaan semelarat apapun. Tapi saya yakin, benda itu mungkin memang berjodoh dengan Mar Arya”.

“Ohhh…”, hanya itu yang bisa Arya ucapkan. Sekarang dia mengerti kenapa Wisnu selalu menyebut jam tangan itu dengan “benda”, karena memang dia berharga lebih dari sekedar jam tangan. Trenyuh, tapi dia juga tak mau mengkhianati kata Wisnu barusan.

Tepat jam 5 ketika kereta mereka tiba. Mereka berangkat dengan pertaruhan masing-masing. Wisnu bertaruh untuk dirinya sendiri, Arya bertaruh dengan nasibnya dengan pergi bersama orang yang belum lama dikenalnya.

***

Mereka tiba di stasiun Gubeng, Surabaya sekitar jam 5 sore. Ada sedikit gangguan ketika kereta baru mencapai Solo sehingga perjalanan menjadi sedikit terhambat. Wisnu langsung mencari taksi, diikuti dengan Arya yang pasrah kemana Wisnu akan membawanya. Bathinnya sendiri berperang, antara logika dan rasa percaya.

***

Terdengar lamat-lamat suara televisi dari dalam rumah itu ketika Wisnu hendak menekan tombol bel. Getarannya tangannya makin hebat ketika tangannya makin dekat dengan tombol itu.

“Sebentar…”, terdengar suara itu dari dalam rumah ketika suara bel bergema di seantero rumah. Wisnu memejamkan mata, membiarkan Arya yang masih sibuk dengan sejuta tanda tanya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan hidupnya saat ini. Berdiri di belakang Wisnu, memandangi punggungnya yang bahkan jelas tergambar bahwa dia sedang berjuang dengan jantung dan paru-parunya.

Pintu itu terbuka…

“Mas Wisnu, koq udah pulang, Mas? Ada apa?”, Prast langsung memberangus dengan panik ketika tahu siapa yang berdiri di depan pintunya.

Wisnu hanya terdiam, memandangi Prast dengan mata berkaca-kaca. Prast yang makin bingung dengan keadaan itu.

Wisnu mengambil satu langkah ke sisi kanan.

Prast pucat. Nafasnya tercekat, dan Wisnu yakin jantungnya saat ini pasti sudah loncat.

Arya tak jauh berbeda. Tertegun memandang satu titik yang tadinya adalah punggung Wisnu.

Tangis tanpa suara menetes di pipi masing-masing.

****

“Apa ini maksudnya, Mas?????”, tanya Prast membabi buta, setelah Wisnu menggandengnya masuk ke rumah dan mempersilakan Arya masuk. Mereka berbicara 3 pasang mata di ruang tengah. Dalam suasana yang entah seperti apa gambarannya.

“Mas yakin, Mas Arya ini perlu bicara dengan kamu, Prast”, jawab Wisnu lirih penuh kasih, menggenggam erat tangan Prast, untuk kemudian menyingkirkan diri ke teras belakang, menenangkan dirinya ditemani berpuntung-puntung rokok yang entah sudah habis berapa

***

“Prast, kenapa kau tak memberiku satupun kesempatan atau paling tidak waktu untukku berbicara sebelum meninggalkanku?”, Arya membuka suara, menahan semua gejolak rindu yang dari tadi meronta ingin dikeluarkan. Sungguh, jika ada keinginan kuat yang dia miliki sepanjang hidupnya, itu hanyalah untuk merengkuh pria di hadapannya saat itu.

“Aku… aku…”, Prast tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Ternyata cinta yang selama ini dia simpan rapat-rapat dalam kotak rahasianya kini muncul kembali di hadapannya. Bersama dengan cinta baru yang coba dia rajut setelah berusaha setengah mati menyegel kotak yang masih membara oleh cinta lamanya.

“Dulu, tepat sehari setelah kita bertengkar hebat, Mas dipindahtugaskan sementara ke kota lain. Hanya satu bulan. Mas memang tak mengabari secara langsung ketika itu, karena Mas berpikir mungkin Prast butuh waktu untuk berdamai dengan hatimu. Dan Prast tahu?!, sebulan itu adalah sebulan penuh siksa bagiku. Mas merindukanmu seperti seekor anak itik yang kehilangan induknya. Mas kehilangan arah, Prast. Saat itulah aku sadar, bahwa memang Prast cinta sejatiku. Dan meyakini bahwa permintaanmu untuk membuka hubungan kita bukan permintaan besar. Bukan hanya pada ibumu, tapi juga orang tuaku. Aku sudah membulatkan tekad ketika aku dipulangkan ke kota kita.”.

“Dan Prast tahu, begitu pulang ke rumah, Mas bicara pada ayah dan ibu, tentang hubungan kita. Tentang seberapa besar arti Prast dalam hidup Mas. Dan aku sudah siap ketika ayah begitu murka, mengusir Mas saat itu juga sedangkan ibu hanya bisa menangis tak berdaya. Hanya doa yang bisa beliau sampaikan sebelum Mas pergi dari rumah itu, mungkin untuk selamanya. Dan satu tujuan pertama yang Mas tuju, adalah rumahmu. Yang sudah kosong tanpa penghuni. Mas tak bisa menggambarkan betapa lumpuhnya hati Mas saat itu. Dari tetanggamu Mas tahu bahwa kalian pindah sudah hampir 2 minggu. Dan Mas begitu terluka karena kau tak meninggalkan satupun detail untuk bisa Mas jadikan patokan untuk mencarimu. Bahkan nomor teleponmu pun tak pernah sekalipun bisa dihubungi. Kau tahu?! Hanya ini yang menjadi kekuatan Mas untuk

bertahan hidup selama ini, yang masih memberi keyakinan padaku bahwa akan ada masa dimana semua langkah berani itu membawa hasil bahagia”, tutur Arya sambil menyerahkan ponsel dan dompetnya, dimana terpampang foto dirinya dan Arya sedang tersenyum bahagia berlatar air terjun TawangMangu.

“Mas… aku…”, Prast menangis sejadi-jadinya.

“Mas begitu bahagia melihatmu saat ini. Meski sudah ada hati yang membahagianmu saat ini…”

“Itu… Mas…”.

“Kamu yang paling bisa membahagiakannya, Mas Arya”, potong Wisnu.

Mereka berdua menoleh ke arah Wisnu, yang meski matanya merah dan lebam, tapi menunjukkan senyum yang tulus mendalam. Dia mendekat ke arah mereka, duduk di antara mereka berdua.

Wisnu menggenggam tangan Prast, yang begitu dingin saat itu, pun berkeringat.

“Prast, Mas memang mencintaimu saat ini. Dan tak perlu kalian pertanyakan seberapa besar cinta Mas ke kamu. Tapi… tidak ada yang bisa menjamin akan seberapa lama cinta kita bisa bertahan dengan kondisi kita. Sedangkan di Mas Arya ini, disanalah seharusnya cinta kalian bermuara. Bukan hanya bahagia tapi tak bersama. Mas akan sangat merasa berdosa jika dengan egois tetap memaksakan berada di antara kalian sedangkan Mas sendiri tidak bisa menjanjiikan masa depan yang pasti buat kamu”, setegar-tegarnya Wisnu menuntaskan kata-katanya itu. Meski tak ayal air mata juga berleleran tanpa henti.

Prast hanya bisa menghambur ke pelukan Wisnu, yang disambut dengan pelukan erat.

“Mas sayang sama kamu, Prast. Jangan pernah ragukan itu. Sangat. Sangat”, bisik Wisnu tergagap sambil mencium rambut Prast. Detak jantungnya tak lagi kokoh.

“Tapi… disanalah seharusnya kamu berlabuh”, lanjut Wisnu sambil melepaskan pelukan Prast, menggenggam tangan Prast dan memberikannya pada Arya.

3 anak manusia larut dalam tangis yang kesemuanya berbeda makna.

***

………………………………..

***

“Aku harus langsung pulang dengan kereta hari ini juga. Karena memang ada banyak hal yang harus kuurus, apalagi dengan peristiwa kehilangan ini”, kata Wisnu. Mereka sedang duduk bertiga di teras belakang ketika suasana sudah sedikit tenang. Masih ada kecanggungan di antara mereka bertiga.

“Mas Arya disini saja, sampai saya kembali lagi kesini, mungkin minggu depan. Biar kita bisa ngobrol gimana sebaiknya kita ke depannya”, sambung Wisnu.

Arya mengeluarkan jam tangan Victorinox dari dalam tas-nya.

“Sekarang aku tahu, siapa sebenarnya manusia arif yang paling pantas memakai “benda” ini, Mas”, katanya sambil mengangsurkan jam tangan itu.

“Tapi…”

“Sudahlah, Mas. Kalau tidak karena “benda” itu, tak mungkin saya berada di tempat yang penuh cinta ini, sekarang. Bahkan rasanya itu sangat jauh lebih dari cukup yang bisa saya serahkan ke Mas Wisnu”, potong Arya.

“Dan uangya?”

“Anggap saja Tuhan memang sengaja menitipkan pada saya  untuk diberikan kepada Mas Wisnu ini”.

Ada setitik rasa masygul di hati Wisnu. Tapi kebahagiaan cinta yang dia pilih saat ini, sebegitu besarnya hingga menutupi tangis yang ada.

Wisnu telah mantap dengan pilihannya.

***

3 tahun berselang setelah peristiwa itu…

***

“Lengkap sudah kebahagiaanku malam ini, akhirnya kalian berdua datang juga”, sambut Wisnu hangat. Dipeluknya hangat Prast yang terlihat semakin berisi.

Prast mati-matian menahan haru ketika memeluk Wisnu.

“Tak boleh ada rasa getir malam ini. Hanya ada bahagia, di hati kita masing-masing”, bisik Wisnu pelan dalam pelukannya.

“Halo saudara!! Selamat ya untuk perkawinanmu! Dan tak mungkin kami melewatkan perkawinan orang yang paling penting dalam hidup “kami” ini”, kata Arya tulus ketika memeluk Wisnu. Ada penekanan tersendiri ketika dia menyebut kata “kami” dalam ucapannya.

“Hahahaha… bisa saja. Kenalkan, ini istriku. Ayunda”.

 

3 anak manusia itu berbagi bahagia malam itu. Meresapi semua keindahan cinta yang memang pada akhirnya bermuara pada tempat yang seharusnya.

Ayunda tak perlu tahu kisah yang pernah terjadi antara mereka bertiga.

 

Karena cinta bukanlah pilihan. Dia sendiri yang akan menemukan jalan untuk mencapai hati yang dipilihnya.


13 thoughts on “Pulang – Stasiun Akhir

  1. Dear Abang,

    Apa karena Wisnu merasa cintanya sudah berakhir di Prast dan dia merasa tidak aka menemukan cinta yang sama seperti saat dia dengan Prast.
    Makanya hatinya memilih Ayunda?

  2. Dear Dinda,
    Cinta Wisnu pada Prast memang besar, dan mungkin tidak akan hilang. Tapi cinta bisa bertransisi.
    Dan Wisnu memilih Ayunda, karena dia memantapkan hati, untuk mencoba kembali mencintai wanita (semenjak merelakan Prast). Butuh 2 tahun untuknya memantapkan hati pada Ayunda itu, bukan perjuangan mudah juga.
    :)

    1. Dear Ryu,
      Langka bukan berarti tak ada
      Jarang bukan berati sudah hilang
      Memang sulit menemukannya, tertutupi oleh kisah2 picik yang banyak bertebaran.
      Percaya saja, ada koq. :)

  3. Jadi siapa yang sudi menyeka air mata alan setelah membaca kisah yang haru biru ini. Jangan kan menyeka air mata, menyeka hati pun.. *ah sudahlah*
    Terima kasih yang disana telah berbagi cerita. What a beautiful story. T^T

      1. Terus yang meluk Nayev, siapa?? Masak meluk onta lagi, onta lagi :P

        Hmmm… Siapakah gerangan tokoh dibalik cerita aslinya?? Mas Tarjo kah?? Atau Mas Alan??

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s