Kopi Pahit

.

Dia beranjak dari tempat duduknya di depan televisi. Sofa manis berwarna coklat yang permukaannya ditutupi bulu-bulu imitasi tebal, hadiah ulang tahunku sebulan lalu. Mengambil sebungkus rokok dan sebuah korek dari tas jinjing kerjanya yang berwarna coklat tua beralih ke kursi di teras atas rumah kontrakanku.

“Angin disini terlalu kencang. Sebaiknya kau memakai paling tidak kaosmu kalau memang ingin duduk-duduk disini”, kataku sambil meletakkan baki berisi 1 teko kopi hitam, 2 cangkir mungil berwarna merah hati , sebotol creamer dan segepok gula sachetan. Aku sendiri ikut duduk di kursi sebelahnya.

“Aku sudah terbiasa dengan alam. Angin seperti ini saja tidak akan sanggup menyakitiku. Jadi, untuk apa kuhalangi dia menyentuh kulitku?”, tanyanya. Retoris. Dia memandangku sejenak dan menuangkan kopi di cangkir kami masing-masing. Menyorongkan sejengkal lebih dekat kepadaku.

Aku memandangi gerak-geriknya, yang selalu saja seolah tanpa beban.

“Kadang kamu memang terlalu sarkastik, ya. Tak heran jika teman yang kau punya tak lebih banyak daripada jumlah baju di lemarimu”, kataku sambil menyendokkan creamer, mengaduknya dengan satu sachet gula pasir dalam kopiku.

“Kau tak mengenalku sedalam itu!”, kecamnya dalam suara lirih, dan dalam.

“Kau terlalu misterius. Dan aku bukan orang yang selalu mau tahu kecuali kau memang ingin menceritakannya”, jawabku ringan, menyesapkan bibir cangkir di bibirku.

“Forget it!”

“As you wish. Kerjaan gimana? Lancar?”, tanyaku santai, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

“Membosankan, seperti biasanya”.

“Sepertinya kau perlu mengubah cara minum kopimu, Nji. Creamer itu aku beli juga untukmu, potongku, sengaja.

“Dan merusak rasa kopi yang kusuka? Terima kasih!”, katanya sambil melirik ke arah cangkir kopiku, yang kini tak lagi berisi cairan hitam pekat melainkan buram coklat.

“Klise. Kau berulang kali mengeluhkan kelamnya rasa, tapi kau sendiri tak pernah mau mencoba hal baru yang jelas-jelas itu adalah padanannya”, kataku.

“Kau sedang berbincang tentang kopiku? Atau hidupku?”

“Ada bedanya?”, sergahku santai.

Dia tak menjawab. Beranjak dari kursinya, berdiri di ambang pagar besi yang melingkari bidang teras balkony lantai dua rumah mungil ini. Memandang bulan yang sedang tampak separuh, sambil sesekali menghembuskan asap rokoknya.

“Kau tidak punya gebetan? Atau orang yang sedang kau taksir untuk menjalin sebuah hubungan? Atau apalah itu namanya”.

“Hahahahaha… buat apa? Aku merasa cukup dengan apa yang kupunya sekarang. Satu sudah cukup lah bagiku”, jawabku, hampir sekenanya.

“Tapi yang kau miliki sekarang khan… semu. Sebuah bayangan yang bahkan mungkin buram”.

“Itu khan menurutmu, Nji. Di kacamataku, lain perkara, khan?!”.

“Kadang aku prihatin denganmu. You deserve to get better than what you have, now”.

“Better than what?”, pancingku.

“Ya dari semua ini. Semua yang kau anggap punya. Yang sebenarnya… ah sudahlah”.

Hening.

Masing-masing dari kami sepertinya sudah malas bicara.

Suara benda bergetar bergema dari meja kamarku. Ponselnya. Aku ambil dan kuberikan padanya. Dia sedikit lama menatapku sebelum akhirnya berkata…

“Should i?”

“Yes, you should!”, jawabku dalam senyum.

Dia menerimanya, terkesan enggan. Ditekannya tombol hijau dan berbalik membelakangiku sebelum akhirnya bicara.

“Ya sayang? Iya maaf… pekerjaan kantor hari ini terlalu banyak dan harus segera diselesaikan. Iya, aku pulang sekarang, ya”.

Dia berbalik, menatapku tanpa bicara. Aku hanya membalas dengan sebuah senyum. Untuk kemudian beranjak ke dalam kamarku, membantu membereskan tas kerjanya.

“Maaf, aku harus pulang”, katanya sambil mengancingkan kancing terakhir kemeja putihnya. Dasinya sudah kulipat rapi dan kumasukkan ke dalam tas kerjanya.

“You’re not supposed to ask a forgive for that”, kataku enteng, memberikan tas kerjanya dan mengikutinya turun ke pintu utama di depan.

“Good nite, and have a nice sleep”, pamitnya di depan pintu.

“And you, too”, jawabku sambil bersandar pada pintu yang tak kubuka sepenuhnya. Memandanginya berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di depan gerbang. Memandangi mobil hitam itu berjalan menjauh hingga akhirnya hilang di ujung gang.

Aku menutup pintu dalam duka. Menghela napas dengan berat sambil berfikir, entah sampai kapan aku hanya bisa menjadi selingkuhannya. Menjadi kekasih yang tak perlu semua orang tahu bahwa kami berdekapan mesra dalam cinta.

Aku beranjak ke dapur, membuat satu cangkir kopi baru. Yang kali ini pekat, tanpa tambahan rasa sama sekali. Dalam diam.


4 thoughts on “Kopi Pahit

  1. “Klise. Kau berulang kali mengeluhkan kelamnya rasa, tapi kau sendiri tak pernah mau mencoba hal baru yang jelas-jelas itu adalah padanannya”, kataku.

    “Kau sedang berbincang tentang kopiku? Atau hidupku?”

    “Ada bedanya?”, sergahku santai

    ===============================

    entah sampai kapan aku hanya bisa menjadi selingkuhannya. Menjadi kekasih yang tak perlu semua orang tahu bahwa kami berdekapan mesra dalam cinta.

    Aku beranjak ke dapur, membuat satu cangkir kopi baru. Yang kali ini pekat, tanpa tambahan rasa sama sekali. Dalam diam.

    ==============================

    Aku : “Ada bedanya?”

    Ini cerita tentang rasa.

    Seperti halnya dalam membuat kopi.
    Kita yang buat kita yang rasa, kita yang telan se-pahit ato se-manis apapun itu.

    Impressive.

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s