Ruang

.

Entah sudah berapa ratus domba yang kuhitung, hanya untuk membantuku menggapai alam mimpi. Malam yang sudah terlalu sunyi, tak sedikitpun mampu menghentikan otakku yang terus berlari. Pendingin ruangan sudah ku-stel pada suhu paling rendah, biasanya itu yang membantuku untuk bisa terlelap.

Aku balikkan badan, sedikit memicingkan mata untuk memandang dalam keremangan cahaya sosoknya. Yang tertidur pulas dengan nafas teratur tanpa dengkur. Dadanya turun naik, menyatu dengan irama hembusan nafasnya. Bahkan dalam siluet pun dia tampak sempurna.

Seuntai senyum mampir di bibir. Betapa aku beruntung bisa bersanding dengan sosok di sampingku ini. Dunia boleh mencela, tapi aku tak pernah peduli. Toh mereka hanya bisa berbisik, enggan bicara dengan tatap mata. Karena aku tahu, dalam diam mereka mengagumi kami. Sepasang kekasih yang sama-sama lelaki.

Mataku mulai sayu, mungkin dibawa keromantisan pikiranku sendiri…

——*

Sedikit menarik selimut agar sampai menutupi batas leherku, aku mengubah posisi tidurku ke samping kanan. Pendingin ruangan ini sejatinya terlalu dingin bagiku, membuat aku enggan untuk tidur dengan posisi lurus yang bisa membantu mengenakkan punggungku. Tapi biarlah, dia tak suka tidur dalam keadaan pengap apalagi gerah.

Sekejap aku memicingkan mata, memandang dia yang juga sedang memandangiku. Aku tahu sudah berapa hari dia sulit untuk tidur. Insomnianya kumat lagi, mungkin. Aku ingin saja menemaninya, ngobrol mungkin. Tapi belakangan pekerjaanku sendiri tidak mengijinkan badanku untuk begadang terlalu lama. Dia memaksaku untuk terus bergumul dengan bantal dan selimut hangat ini.

Aku membelainya sepintas, lalu kembali tidur.

——*

Aku bangun agak terlalu cepat pagi ini, entah apa lagi ini. Padahal aku tak punya pikiran yang menganggu sama sekali. Untuk mengkonsumsi obat tidur sendiri adalah pilihan terakhir bagiku. Kekasihku menganjurkan untuk tak mengkonsumsinya dulu selama aku masih bisa memaksa badanku untuk tak bergantung padanya.

Aku turuti saja.

Ya sudahlah. Pelan agar tidak membangunkan dia, aku beranjak dari kasur. Daripada aku berdiam diri, mending aku siapkan keperluan kerjanya agar nanti dia tak tergopoh-gopoh saat mau berangkat kerja.

Kemeja putih bersih, celana kain warna biru gelap dan dasi dengan warna senada. Aku taruh di sofa sudut kamar. Bersebelahan dengan tas kerja dan kunci mobil. Sepatu juga sudah kusiapkan di sebelah pintu ruang tamu kecil, bagian depan rumah kontrakan kecil kami.

Pesanan makanan rutinku dari warung depan rumah datang, akhirnya.

——*

Sinar matahari pertama menembus jendela tepat ke mataku yang masih terpejam. Sedikit memicingkan mata, ngulet panjang dan menggosok muka, aku sepenuhnya bangun. Sebelahku sudah kosong, lagi-lagi dia terbangun lebih awal.

Kupandangi sofa di sudut kamar, semuanya sudah rapi disana.  Perlengkapan kerjaku. Pagi memang selalu membuatku bersyukur, bahwa aku adalah lelaki yang benar-benar beruntung.

Aku beranjak ke kamar mandi, mempersiapkan diri.

——*

Aku sedang sibuk menata makanan di meja ketika suara guyuran air terdengar dari dalam kamar mandi. Sudah bangun rupanya dia. Baguslah, mumpung kopi yang baru saja kubuat masih panas.

——*

Aku langsung menuju tempat makan ketika sudah rapi jali. Tinggal memakai sepatu saja nanti kalau sudah benar-benar mau berangkat. Kuseruput sedikit kopiku, lalu mengecup kening kekasihku. Ritual pagi.

“Kamu makan saja. Aku temani dengan ngopi, ya?! Makananku nanti bungkus saja, langsung aku makan sesampainya di kantor”, kataku. Duduk di hadapannya, memandangi dia yang sekejap memanyunkan bibir manisnya tapi lalu disambung dengan senyum yang selalu kupuja.

——*

Lagi-lagi dia minta makanannya dibungkus. Padahal kalau untuk sekedar sarapan dia masih punya waktu. Tapi biarlah, mungkin dia memang tak mau terlalu terburu-buru di jalan. Mengingat pagi memang identik dengan macet.

Dan dia masih saja memandangi aktifitas sarapanku.

—–*

“Aku berangkat, sayang. I love you”, pamitku sebelum membuka pintu. Kukecup lembut bibirnya, sedikit hisapan ketika bibir bawahnya tertata sempurna di antara bibirku.

—–*

Aku selalu mencintai pagi. Mencintai cara dia mencium bibirku, lembut.

—–*

“Mba, Fendi masih begitu, loh. Hampir tak pernah mau makan bersamaku. Kalau aku sedang makan, dia hanya memandangi. Sambil senyam senyum penuh arti. Nanti ketika aku kelar makan, baru dia makan. Kenapa, ya?!”, curhatku pada mba Marni, pemilik warung depan kontrakan yang sudah setahun ini menjadi langganan cateringku. Dia sedang mengambil piring-piring yang tadi dipakainya menghantar makanan kami. Dan aku memang sudah bercerita semua hal kepadanya. Toh, untuk apa kututup-tutupi.

“Kemarin mba sempet nanya perihal itu pas Fendi mampir ke warung beli rokok. Katanya, dia memang suka saja melihat kamu makan, Dika. Dia suka dengan tingkahmu yang katanya masih saja bisa cerewet padahal mulut sedang sibuk mengunyah”, jawab mba Marni sambil menumpukkan piring-piring yang sudah bersih kucuci ke dalam bakinya. Senyum tulus tersungging dari bibirnya.

“Hahahahahaha… dasar orang itu. Makasih ya, mba. Nanti sekalian tolong tutup gerbang, donk. Setrikaanku di belakang lagi nanggung”, kataku sambil membukakan pintu depan untuk mba Marni yang sudah mau kembali ke warung.

“Sama-sama, Dika. Iya, nanti mba tutup sekalian”.

Aku kembali sibuk dengan setrikaan baju kerja Fendi.

 

——*——*——*——*——*——*——*

Suster Ana mengunci bilik kecil itu dengan trenyuh. Di tangan kirinya terpapah baki berisi perlengkapan makan untuk dua orang meski penghuni bilik itu hanya satu.

Dia menghela napas, miris memikirkan nasib orang yang masih saja menganggap dia mba Marni. Entah sampai kapan pemuda gagah itu harus bertahan di bilik kecil yang bahkan menurut Suster Ana sendiri tak lebih dari sekedar bilik penampungan, bukan bilik penyembuhan.


14 thoughts on “Ruang

  1. Jadi akibat trauma masa lalu yg bikin dika Schizophrene???

    Buat cerita waktu Fendinya masih hiduuppp baaaaaanngggggggggggg

    Puhleeeaaassseeeeeeeeeeeeeeeeeee

    *siapin tisu se-ember*

  2. Oke. udah aku baca pelan pelan. cuma masih ga ngerti itu dengan “Dia menghela napas, miris memikirkan nasib orang yang masih saja menganggap dia mba Marni. Entah sampai kapan pemuda gagah itu harus bertahan di bilik kecil yang bahkan menurut Suster Ana sendiri tak lebih dari sekedar bilik penampungan, bukan bilik penyembuhan.”

    :|

    1. ihkkkk si alan dong dong dech,,,,,itu latarnya kalo gak salah di RS Jiwa ya mas tarjo???? jdi hanya bayangan si fendi aja yg selalu di ceritakan si dika ke suster ana yg di anggap dika mba marni,,,,*ngibritttt

  3. 10 september 2012, and this is the most the saddest story you ever wrote. I hate it so much. Ketika kau memaksa dirimu untuk mempercayai sesuatu yang sebenarnya tidak ada, ataukah hanya sebagai pembenaran bahwa sesuatu sebenarnya berjalan salah dan kau masih mau mempercayainya.

    i’m crying now. damn.

  4. Mas Jo, ini sedih loh Mas. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

    Pagi2 baca beginian langsung bikin perasaan gundah gulana. Bagi kita yang “sadar” pasti menyakitkan melihatnya. Tapi bagi Dika yang mempercayainya itu pasti sangat membahagiakan. Karena ia percaya maka sosok Fendi akan selalu ada baginya. (-̩̩̩-͡˛–̩̩̩͡)

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s