Kisah Senja

.

Nanti sore ketemu di kafe pantai tempat biasa itu, ya?! Sudah lama khan kita gak pernah nyunset?! Sekalian aku pengen cerita

WhatsApp dari Lukman baru kubuka di jam istirahat kedua, jam setengah tiga. Di sela makan siangku yang hanya berupa roti murahan isi pisang dan selai coklat. Aku sedang tidak terlalu bernafsu.

OK

Jawabku singkat. Kuiyakan saja, mungkin sunset sore nanti juga bisa membantu mengembalikan semangat kerjaku yang mungkin juga hanyut terbawa suasana akhir bulan.

“Bu, kopiku aku bawa ke kantor saja, ya. Nanti pulangnya aku antar gelasnya”, tanpa menunggu jawaban, aku membawa cangkir kopi hitamku setelah menyerahkan dua lembar uang lusuh bergambar Imam Bonjol yang nampak terlalu murung. Salah satunya malah sudah kehilangan pojokannya. Ah, yang penting nomor seri uang itu masih utuh.

–*–

Kafe yang dimaksud Lukman adalah kafe kecil yang terletak di ujung pantai sepi itu. Terlalu muluk sebenarnya kalau disebut kafe karena tempat itu hanya berupa bedeng kecil tempat mereka meracik minuman sederhana yang selalu terasa nikmat, dan beberapa set meja kursi berkaki rendah yang ditata seadanya menghadap ke barat. Bantal tipis di setiap kursi sudah sangat pudar warnanya. Jika kau angkat dan kau balik, akan sangat terasa kontrasnya. Mungkin itu ulah matahari.

Sebelah kanan tempat itu, berupa rimbunan perdu pantai yang menjulur liar, diselingi beberapa bungkalan pandan duri. Di balik itu, ada muara sungai kecil berarus tidak terlalu deras. Beruntung Pemda setempat memasang teralis sampah di bibir muara sehingga pantai sunyi ini tidak perlu mendapat berkah sampah dari kota.

Aku memarkirkan motorku di ujung parkiran. Yang kumaksud dengan parkiran sebenarnya hanyalah berupa tanah landai dengan rumput tak beraturan yang berada di sisi kanan jalan, berseberangan dengan pantai. Jalan kecil yang menuju tempat ini saja belum beraspal. Sungai hitam keras itu hanya sampai pada percabangan jalan besar tadi. Ke kanan menuju tempat ini, ke kiri menuju tempat pemancingan yang setauku tak pernah ramai.

Aku tidak melihat motor Lukman terparkir disana. Awas saja kalau sampai dia terlambat terlalu lama. Dia yang membuat janji sore ini!

“Lama amat?”, sambutnya ketika aku menghenyakkan diri di kursi pojokan dekat perdu. Tempat kami selalu duduk jika ke tempat ini.

“Aku sendiri fikir kau belum sampai disini. Aku tidak lihat motormu di parkiran”, kilahku.

“Motorku masuk bengkel. Sudah waktunya tungganganku turun mesin. Dan kau barusan berjalan dengan kecepatan 50 km/jam?”, tanyanya lagi.

“Tak perlu sinis! Taruhan seratus ribu kalau aku bisa sampai disini kurang dari 20 menit dengan kondisi jam pulang kerja seperti tadi! Tahu sendiri jalan Pandawa selalu macet jam bubar kantor seperti ini”, jawabku.

“Hahahaha okelah. Aku sudah pesankan kopi Toraja buatmu. Mereka sedang kehabisan kopi Wamena, katanya. Mungkin minggu depan baru dikirim. Padahal aku tanya pun tidak”.

“Tanpa gula?”, tanyaku.

“Dan dua sachet brown sugar”, sambungnya.

“Kau sudah sedikit lebih handal mengenalku”, pujiku.

“Jangan terlalu pongah. Aku Cuma bosan kau jitak hanya karena aku melupakan detail kecil yang kadang malah jadi sumber kerumitan hidupmu”, kilahnya.

Aku hanya menanggapinya dengan tawa. Terlalu mengada-ada. Jitakanku tak pernah bisa menyakiti kepalanya yang aku yakin di dalamnya ada selapis aluminium murni yang melapisi tengkoraknya. Mungkin karena itu dia bebal.

“Eh, tadi…”

“Ssttt… pesanan kopiku sudah datang. Dan aku sedang tidak mood mendengar suaramu berkisah tentang hal yang sama. Senja ini terlalu sayang untuk kulewatkan. Ini masih ajakan nyunset, khan?! Jadi diam sajalah dulu”, potongku.

“Bangke memang tidak pernah bisa hilang dari mulutmu, ya?! Kalau saja yang ada di depan kita layar tancap, mungkin sudah kugulung dan kubakar!”, amuknya.

Aku tak menggubrisnya. Sejenak memejamkan mata dan menikmati aroma kopi Toraja yang masih mengepul, menyesap sedikit, lalu menghembuskan nafas seolah ingin bersaing hangat dengan senja. Warna kuning keemasannya tak pernah bisa ditandingi.

Dia juga ikut diam. Bagus.

Senja di kota ini memang selalu terlambat. Delapan belas lewat sekian puluh menit. Bahkan waktu temaram pun bisa terucap seksi, khan?!

Sejujurnya saja, menemui Lukman sore ini juga bukan pilihan tepat kalau memang aku mencari ketenangan. Aku sudah hafal cerita macam apa yang ingin dia bagi. If I don’s push myself to be nice, been many days ago i would say “Shut the fucked up and swallow your own damned romantic story”, tapi bungkam memang kadang menjadi keahlianku.

“Kopimu sudah habis. Kita makan malam sekalian disini saja, ya?! Aku lihat tadi siomay mereka masih banyak”, tanya.

Sungguh aku ingin menjitaknya keras-keras kali ini.

“Bisakah kau menghargai senja paling tidak sepuluh menit saja setelah matahari itu benar-benar pergi?”, tanyaku, kesal.

“Hati-hati darah tinggi, tuan. Dan aku anggap itu sebagai iya. Aku pesan sekarang, deh”, jawabnya sambil ngeloyor pergi. Dengan raut muka yang sungguh sepertinya sangat layak untuk dibenamkan dalam pasir yang kuinjak sekarang ini, hidup-hidup.

Kasihan, siomay tak berdosa itu menjadi pelampiasan kekesalanku.

“Hey… tadi siang aku baru saja dikabari, Heru akan datang ke kota ini minggu depan. Untung aku pernah bilang bahwa aku tak suka kejutan. Daripada aku harus pingsan berdiri melihat dia tiba-tiba nongol di depan pintu kamarku minggu depan. Guess next week, this little island will be truly paradise island as its alter name”, katanya sambil mencaplok satu besar gulungan kol tanpa mencacahnya sama sekali.

See?? This kind of conversation will never be out from the name of holly-shit Heru, the man from nowhere. From the deepest hell, i wish!

“Nice…”, jawabku ogah-ogahan. Ambigu sebenarnya. Bisa jadi khan kalau aku sebenarnya sedang memuji bulatan siomay yang sedang kulahap dengan ogah-ogahan juga.

Hihihihi… silly me. But i can not imagine what’s it gonna be. I mean, the moment that we will be together, after so long our relationship just actually depends on internet connection. Even it’s only for a while”, dia tak peduli tanggapanku. Masih melanjutkan kisahnya.

“Hmmm…”, aku angguk-anggukkan saja kepalaku. Lebih memilih mengunyah kentang rebus dengan bumbu kacang ini daripada fokus pada celotehannya.

Menit selanjutnya adalah seperti aku mendengarkan radio yang sedang menyiarkan acara wayang kulit semalam suntuk dengan dibebani pikiran bahwa besok kami harus mendiskusikannya. Mau tak mau harus kudengarkan.

Oh man… darimana kata “harus” itu muncul??

Setengah jam berlalu dan dia masih saja berceloteh tentang hal yang sama. Hal yang bahkan aku sudah hapal alurnya. Aku muak. Dengan ceritanya, dengan rona bahagianya yang meski samar tapi masih bisa kulihat. Dengan sakit yang kurasa dari sudut hatiku.

Aku kesetanan.

Kuambil dua lembar uang biru dari dompetku, menjatuhkan seadanya disamping cangkir kopi kedua yang kunikmati tadi. Sepintas aku lihat Lukman bingung dengan tingkahku.

“Luk, maaf. Mungkin ini kasar. Tapi sepertinya aku sudah sampai pada gerbang dimana aku harus bilang bahwa aku muak dengan cerita romantismu itu. Kau bahkan tak pernah melihat bagaimana romanku ketika mendengar kau ceritakan semuanya. Peka sedikit, kau akan tahu bagaimana aku bisa berbicara seperti ini, sekarang ini. Aku pulang. Kau, naik taksi saja lagi”, kataku. Sebisa mungkin menatap matanya meskipun sejatinya aku tak tega. Karena justru mata itu yang kerap kali melemahkanku.

Aku berjalan menuju parkiran dengan hati bergemuruh. Tumpah sudah rasa yang selalu berusaha kubendung. Tapi aku tak sedikitpun menyalahkan diri sendiri. Bendungan sebesar apapun memiliki kapasitasnya masing-masing. Dan dalam kasusku, ini sudah mencapai batasnya.

“Kau akan pergi sebagai pecundang seperti ini?”, kata suara di belakangku, ketika aku baru saja hendak memakai helm. Menghentikan gerakanku. Rupanya dia mengejarku.

“Terserah kau mau menilaiku seperti apa”, jawabku tanpa menengoknya. Pun sambil melanjutkan gerakanku mengenakan helm itu.

“Beri aku sepuluh menit saja untuk bicara. Sepuluh menit saja. Setelah itu, terserah kamu”, kata Lukman sambil mengambil kunci motor yang sudah terpasang di tatakannya.

“Silakan…”, aku duduk di jok motor. Menyedekapkan kedua tanganku di depan dada. Menunggu dia bicara.

“Tidak disini”, katanya. Berbalik menuju satu dataran rendah tak jauh dari garis air. Lalu duduk disana. Dalam gelap.

Aku membuang nafas panjang. Apalagi maunya makhluk satu ini. Belum cukupkah dia membuatku remuk redam?

Akan kuikuti alur ceritamu.

Aku menyusulnya, ikut duduk disebelahnya.

Diam.

Bungkam.

“Sejak kapan?”, hanya itu yang terucap darinya setelah sekian lama sama-sama terdiam.

“Aku rasa seandainya kau tahu pun tidak akan mengubah segalanya, khan?! Jadi buat apa?”, sahutku.

“Tentu saja mengubah. Jika aku tahu ternyata apa yang aku harapkan darimu tidak terasa bertepuk sebelah tangan, tak mungkin khan aku sampai sedesperate ini membuat tokoh fiktif seperti sekarang ini?”.

Deg.

Sampai disini segalanya menjadi terasa janggal. Aku mendadak bodoh, tak mengerti cerita yang sedang terjadi. Atau aku membohongi diri?

“Kau pikir, dari mana aku bisa mendapatkan nama ‘Heru’? Mungkin kau akan merasa familiar jika namanya kusebut sebagai Hermawan Utama?”, sambungnya.

Bahkan untuk berreaksi semacam “Ohhh” atau “What???” atau sejenisnya pun aku tak mampu. Antara kelu dan gagu ketika dia menyebut nama lengkapku.

“Masih berfikir itu tak akan mengubah semuanya?”, tanyanya, mungkin geram pada kediamanku.

Aku tak menjawabnya. Diam. Hanya kemudian merengkuhkan tangan kiriku ke pundaknya, yang dia balas rengkuh jemariku dengan tangan kanannya.

“Seharusnya senja tadi kita berpelukan seperti ini”, bisikku, pelan.

“Kau sebut ini pelukan?? Cupid must be stupid that i can be falling in love with this kind of guy”, tukasnya.

“Mungkin setelah ini memang kau sebaiknya pulang naik taksi, ya?!”, kataku. Terlalu ketahuan bahwa aku pura-pura ketus.

“Iya, lalu kau ngambek-ngambek geje melangkah ke parkiran kayak tadi?!”, tanyanya sambil menegakkan kepalanya yang tadi dia rebahkan di lenganku.

Aku berdiri. Mengibaskan tanganku di pantat untuk membersihkan pasir pantai yang menempel.

“Pulang, yuk!”, ajakku.

“Ke kost-mu atau kost-ku?”, tanyanya sambil berdiri juga, mengikuti gerakanku.

“Ke kost-ku yang mulai sekarang sudah sah menjadi istanamu”, jawabku mantap.

“Memang kita udah jadian? Koq Pede?”, selorohnya.

Sungguh. Untung ini remang-remang. Konyol kalau dia harus melihat raut wajahku yang sudah panas ini. Kampret memang.

“DEAL. KAMU PULANG NAIK TAKSI!”, desisku sambil meninggalkan dia, yang tertawa tanpa berusaha menahannya. Terbungkuk-bungkuk lalu berlari kecil mengejarku, melemparkan badannya ke punggungku dan bergelantungan disana.

Aku menjitaknya kecil. Dia masih saja tergelak dalam gendonganku, hingga parkiran.

 

Sepertinya aku sudah menemukan kembali semangatku untuk esok hari.


4 thoughts on “Kisah Senja

  1. inti ceritanya bisa diterka, sajiannya ringan, deskripnya condong ke latar padahal mau tahu juga mereka tampak seperti apa, ada penulisan yang kurang tepat seperti “fikir”, “disini”, garnishnya kurang smart padahal banyak menggunakan bahasa asing, tapi saya suka tulisan kamu ini, dari pahit sampai legit, saya kasih manis deh untuk Kisah Senja :)

    1. Makasih, Bung Endang untuk apresiasinya
      Kalau untuk “Kisah Senja” ini, memang dimaksudkan sebagai karya ringan, untuk sedikit mengimbangi 3 postingan terakhir yang mungkin perlu sedikit lebih waktu ketika membacanya.

      Sedangkan untuk penggambaran tokoh, saya memang cenderung lebih suka membuat pembaca menggunakan imajinasi mereka sendiri untuk menggambarkannya. Bukankah itu lebih “menggigit”?! :D

      Dan terima kasih untuk koreksi kata-katanya.

  2. Yah, lagi lagi kau Meng-usel hati ku, Jo. seiring banyaknya orang yang jadian hanya dengan pertama kali bertemu, kemudian langsung bercinta, jadian, dan beberapa bulan kemudian putus karena ternyata blm siap menerima sifat buruk masing masing.
    Tapi..
    Kamu bisa nyuguhin cerita yang sama romantic nya bahkan menurut ku lebih romantic cerita begini ketimbang cerita pasangan orang normal lain nya.
    Indah banget, Jo.
    Banyak cara dan kisah memang untuk sebuah kata “Cinta” ☺

    1. Dear Alan,
      Karena sebuah “penerimaan” memang sejatinya adalah ketika menetapkan komitmen lebih kepada diri kita, bukan pada pasangan kita.
      komitmen untuk siap dengan apapun yang pasangan kita akan tunjukkan di kemudian hari.
      apalagi ketika kita memberikan komitmen itu pada orang yang tahap pengenalannya singkat, harus lebih siap lagi :)

      Romantis memang tak pernah mengenal kelamin ;)

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s