Intuisi – Cangkir Pertama

.

Penerbangan pagi, sabtu weekend kedua bulan September tahun ini.

Masih ingat obrolan tempo hari bersama teman sejawat ketika makan siang di kantin kantor yang terletak di lantai dasar kantor kami. Masing-masing kepala menganggapku gila.

Bagaimana tidak?! Hari ini, aku terbang ke Bali hanya demi sebuah Festival Kopi.

Dan di sinilah aku sekarang, Bali. Cukup bermodal satu tas punggung kecil berisi beberapa lembar kaos dan celana dalam, perlengkapan mandi seperlunya. Toh rencananya memang singkat. Berangkat  sabtu pagi biar bisa puas, pulang senin pagi langsung menuju kantor. Baju kerja sudah kubawa, kutaruh di tumpukan paling bawah. Beres.

Aku masih harus melakukan perjalanan darat kurang lebih satu setengah jam menuju Ubud, tempat diselenggarakannya festival kopi yang akan kuhadiri. Aku sudah mendapatkan deal harga transport dengan salah satu calo yang dengan sigap menawarkan jasa begitu aku menginjak ubin luar pertama terminal kedatangan.

Perjalanan darat yang sangat kunikmati. Langit biru sempurna. Penjor (bambu melengkung yang dihiasi janur dan sesembahan dari umat Hindu) masih nampak berderet rapi, sisa perayaan Galungan dan Kuningan yang belum terlalu lama berselang. Indah dan begitu khas Bali.

Perjalanan yang lumayan panjang namun menyenangkan. Aku minta di antar hanya sampai Lapangan Ubud yang terletak di belakang Pasar Seni. Sisa perjalanan aku tempuh dengan jalan kaki. Toh, tempatnya memang tidak terlalu jauh. Lagipun Ubud memang selalu menyenangkan untuk dinikmati dengan jalan kaki, bukan?!

Aku memang berencana untuk langsung saja ke tempat festival tanpa perlu menyambangi dulu guesthouse yang sudah kupesan di Jalan Suweta. Nanti saja, pikirku. Toh aku sudah memesan kamar dari tempo hari ketika pertama tercetus ide untuk kesini.

15 menit berjalan santai sambil melihat-lihat etalase dari deretan toko yang memamerkan souvenir khas bali dan beberapa di antaranya juga galeri lukisan, sampai juga aku di depan Museum Puri Lukisan Ubud, tempat diadakannya festival itu. Aku mampir ke sebuah minimarket kecil yang terletak di depannya. Aku lupa tak membawa rokok ketika berangkat tadi. Pun aku juga haus.

Sambil menunggu seorang bule yang sedang menyelesaikan transaksinya di kasir, aku mengeluarkan kamera dari tas punggungku. Persiapan. Agar aku bisa langsung beraksi bahkan dari gerbang pertama nanti.

—*—

Di depan museum, di depan gerbang megah, berjejer rapi dan begitu indah beberapa penjor yang melengkung seksi. Empat batang di masing-masing gerbang. Kain warna putih yang menghubungkan penjor satu sama lain memberi kesan agung gerbang yang gagah itu.

Melintasi gerbang utama, aku dibuat makin tercengang. Halaman utama areal itu sudah disulap menjadi tempat pagelaran busana. Setapak kecil membujur di ujung halaman, dan dari tengah bujur itu, melintang satu jalur catwalk selebar 2 meteran, membelah halaman menjadi dua. Megah berbalut kain putih. Deretan kursi yang berderet rapi di sini kanan dan kirinya juga indah. Berbalut kain putih dengan hiasan seikat kecil bunga di masing-masing punggung kursi.

Melintasi halaman utama yang masih sepi itu (pementasannya berlangsung malam nanti), sampailah aku di gerbang dalam, yang berukuran lebih kecil dari gerbang utama tadi, dan tangga yang meliuk untuk menggapainya. Gapura-gapura kecil dari bambu dengan hiasan janur yang dibiarkan menjuntai membentuk tirai dan lilitan bunga, dipasang rapi sepanjang tangga menuju gerbang tadi. Rapat dan rapi. Aku melintasinya dengan gagah, seolah aku adalah tamu istimewa. Padahal punya undangan saja aku tidak.

Sampailah aku di tempat festival yang dimaksud.yang ternyata adalah sebuat taman asri dengan rumput yang terhampar rapi. Petak-petak bedeng dari bambu beratap alang-alang yang digunakan sebagai tempat pameran para pengusaha kopi, berjajar rapi dengan nama stand masing-masing terpampang di depan bedeng.

Aroma kopi yang disangrai menguar dari berbagai penjuru. Diiringi suara gamelan Bali dari panggung di sayap kiri areal.

Surga!

Langkahku terhenti pada sebuah stand yang memamerkan aksesoris untuk membuat secangkir kopi. Dari mesin modern dengan berbagai tombol, hingga alat klasik nak seksi yang bahkan untuk penggunaannya harus menggunakan spirtus sebagai pemanasnya. Petugas dari stand itu sedang memperagakan pembuatan kopi menggunakan alat klasik yang cara kerjanya berdasarkan proses distilasi.

What a sexy way to make a cup of coffee. Isn’t it?!”, kata seorang bule yang juga sedang mengamati peragaan itu. Setelah kuperhatikan, ternyata bule yang sama yang kutemui di minimarket tadi.

Oh yeah, it is”, jawabku gelagapan setelah meyakinkan diri bahwa yang dia tanya adalah memang aku.

Aku memandanginya sejenak. Lebih tinggi dari aku sekitar 15 cm, kulitnya coklat dengan tanda terbakar yang masih baru. Mungkin dia baru saja berjemur kemarin harinya. Rambut pirang gelap dengan mata yang biru bening. Dengan kaos yang pas tubuh berwarna biru tua itu, otot lengan dan otot dadanya begitu…. damn… i’m going too far!

Hey look. ‘Free coffee + goodies only if you can guess all the ingredients used perfectly. Hmmm… interesting. Dare to try?”, tantang orang itu.

Kalau boleh sih mending aku nebak sex role-mu saja, bathinku ngawur.

Hmmm.. because this is a challenge from you, so, what i’m gonna get if i can do that?”, aku mencoba memberanikan diri.

Hey… you gonna get that goodies and free coffee”, kilahnya.

That’s from them. You’re the one who defianced me”, tepisku.

Hahahaha… what a greedy. OK then. Just like this. If you can make it right, i will accompany you to walk around in this festival. But if you lose, then you have to accompany me today”, katanya.

Lah… apa bedanya? Pikirku.

Although i don’t see any different, but OK. Deal. And bby the way, my name is Johanes. You can call me Djoe”, kataku sambil menjulurkan tangan.

Of course it’s different. If you win, you can drag me anywhere you want to walk. But if I win, than you have to follow my rule. Alex”, sahutnya sambil menerima uluran tanganku. Bersalaman. Tangan yang… kokoh.

Dia bicara pada pemilik stand itu. Bahwa aku mau mengikuti tantangan yang tertulis dalam pamflet besar yang digantung di meja stand-nya. Yang kemudian disambut dengan kesibukan sang pemilik meracik minuman. Hmmm… aku diuji. Pertanyaannya, oleh kopi nanti itu atau oleh bule itu?

“Eh, permisi. Mau ikut tantangan itu?”, sela seseorang berkalung tali kamera SLR. Sebuah nametag wartawan juga tergantung disana.

“Iya”, jawabku singkat.

“Kalau boleh, kupotret ya?! Biasa, liputan…”, tanyanya.

“Kopinya? Silakan”, jawabku.

“Entah kopi entah orangnya, itu kameraku nanti yang menentukan”, katanya sambil mempersiapkan kamera.

Wartawan aneh.

Minuman yang harus kutebak akhirnya jadi. Segelas kopi panas berlayer empat lapis. Barista tadi pasti harus bekerja ekstra hati-hati agar jangan sampai lapisan cairan ini tercampur satu sama lain. Putih bersih paling bawah setebal 1 ruas jari, kuning bening selapis tipis di atasnya, disusul coklat pekat setinggi satu ruas jari di atasnya, lalu menjulang tinggi cairan coklat muda seperti warna atasan pada seragam pramuka. Sebagai pemanis, lapisan foam mengambang di atas bertabur bubuk cinnamon dan sebiji kopi sangrai.

I only need to guess only the ingredients. Don’t I?”, tanyaku pada Alex, meyakinkan diri.

Sure”, jawabnya.

Aku biarkan si wartawan mengambil foto dulu gelas kopi itu sebelum aku mengaduk dan merusak layer-layer cairan yang indah itu. Aku mengaduk isi gelas itu baru setelah si wartawan mengacungkan jempol padaku, tanda dia sudah selesai dengan kesibukannya.

Kuhirup dulu aroma kopi itu. Aroma manis, wangi dan pekat. Kupejamkan mata, dan kusesap.

Sesapan pertama, terbayang rasa dari kopi arabika yang kuat dengan sedikit asam, diperhalus dengan susu tanpa lemak, pasti cairan putih di bawah tadi.

Sesapan kedua, terasa aroma-aroma dari rum antara lembut dan kasar, pasti cairan kuning bening tadi.

Sesapan ketika, aku terbayang…. Alex. Tanpa atasan, dengan bulu yang tumbuh seksi di lengan dan sekitar dada, dan warna kulit yang coklat kemerahan.

Damn

**Bersambung…


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s