Langkah

Ah… mati listrik tadi memang merepotkan. Aku yang seharusnya bisa pulang dari tadi, jadi harus menunggu listrik menyala agar rekapan pekerjaanku bisa disetorkan. Dikerjakan besok pagi? Ah, aku sangat tidak ingin beradu pendapat dengan bos yang lebih sering tidak mau tahu dengan alasan dari karyawannya.

Kelar merapikan laporan singkat hasil kerja 1 shift, uang juga terhitung pas, kumasukkan semuanya ke dalam satu amplop yang memang disediakan khusus untuk laporan itu, simpan di kotak laporan. Saatnya pulang. Lapar, kantuk dan rindu dengan kekasihku, bercampur jadi satu.

Kost-an mungilku memang terletak tak terlalu jauh dari tempat kerjaku. Aku cukup berjalan kaki tidak lebih dari 15 menit. Mungkin orang berfikir ini agar sehat. Padahal tujuan utamaku sih untuk menghemat uang bensin. Lumayan.

Kamar kost-ku masih gelap ketika aku sampai. Tumben. Biasanya dia sudah di rumah, menungguku pulang, mempersiapkan makan malam sambil menonton tayangan sinetron dari televisi lokal. Saluran televisi kabel kami sudah lama dicabut, nunggak 3 bulan. Tak apalah, toh kami juga sama-sama jarang di rumah. Menghibur dirikah? Sepertinya begitu.

Kuputar kenop pintu. Terkunci. Untung aku membawa kunci motor.

Aku menyalakan lampu kamar. Satu-satunya lampu neon 30 watt yang kami rasa cukup untuk menyinari aktifitas kami dalam kamar kecil berukuran 4 x 5 itu. Di atas meja dapur dan dalam kamar mandi kami beri lampu neon kuning 5 watt saja. Cukup.

Sepi juga rasanya kalau tak ada dia.

Kukirim sebuah pesan singkat dari ponselku.

“Tumben belum pulang?!”.

——————-*

 

“Lagi sumpek di rumah. Ini di rumah temen. Gak usah ditunggu”.

Balasku.

“Masih BT sama pacar lo? Kayak anak kecil deh. Berantem pake acara minggat, bukannya diselesaikan dengan kepala dingin”, tanyanya sambil mengangkat gelas kopi kami yang sudah kosong, tinggal ampas.

“Gak ada masalah, koq sebenarnya. Cuma kadang merasa bosan aja dengan rutinitas yang ada. Dia gak pernah mau hangout kayak yang lain. Ya sibuk lah. Ya hemat lah. Hey… i want to enjoy my life also kayak yang lain”, kilahku.

“Sudah diomongin ama dia?”, timpalnya dari arah dapur, setengah berteriak biar terdengar olehku.

“Seharusnya dia paham, donk!!! Berulang kali gue ngajak dia jalan, tapi hampir gak pernah mau!”, jawabku.

“Sudah diomongin ke dia?”, tanyanya lagi.

“Gak perlu, deh!”, cetusku.

“Setahu gue sih pacar lo itu mahasiswa ekonomi, bukan mahasiswa jurusan perdukunan”, katanya enteng sambil menyalakan layar netbooknya.

——————-*

 

Tumben sekali. Ada apa gerangan dengan kekasihku? Aku mencoba mengingat kemungkinan ada masalah di antara kami, dan aku tidak menemukannya.

Mungkin dia memang sedang butuh waktu dengan teman-temannya. Aku mencoba berfikir positif. Sejenak merehatkan diri, aku duduk selonjoran di lantai, membuka file foto ketika kami sedang berlibur berdua ke Tidung, 5 bulan yang lalu.

Rindu membuatku semakin lapar.

Aku beranjak mandi. Tubuhku lengket karena beraktifitas dari pagi. Kuliah dan lanjut kerja. Setelah ini aku harus mencari warung untuk mengganjal perutku. Malas sekali rasanya membuat mie instan malam-malam begini.

Sebelum aku masuk kamar mandi, aku sempatkan mengirim pesan singkat lagi.

“Perlu kujemput?”.

——————-*

 

“Gak usah”.

Balasku singkat, sesingkat pertanyaannya.

“Gue menginap disini malam ini, ya? Males pulang”, kataku pada temanku yang masih sibuk dengan netbooknya.

Dia berbalik sejenak, memutar leherya, menatapku.

“Sejatinya gue tidak setuju dengan cara lo. Tapi, gue juga gak punya alasan untuk melarang lo”, jawabnya, lalu kembali ke keyboard netbooknya.

“Lo gi ngapain sih sebenernya? Masih betah aja sibuk sama blog cerpen stensilanmu itu?”.

Aktifitasnya terhenti. Kemudian dia memutar posisi duduknya, menghadapku.

“Lo orang sastra, khan?! Gak seharusnya lo ngomong kayak gitu. Meski bacaanmu elit macam Pramoedya, atau Moammar Emka, atau bahkan Stephen Hawkins bukan berarti bisa dengan enaknya merendahkan karya orang lain, khan?! Orang baca dan menilai, khan memang lebih mudah daripada menulis itu sendiri. Dan hey… it’s a blog. I don’t even ask somebody to read it. You like it, you read it. You don’t, then you know where’s the exit”, cerocosnya.

“Ya gak gitu juga kali…”, kataku, gagu.

“You have blog?”, potongnya.

“Emmm.. nggak”

“Then shame you to blame my writing”, katanya sambil membalikkan badan, kembali berkutat dengan keyboardnya. Membiarkan aku menikmati rasa canggung yang mendadak muncul ini.

“Kalau mau tidur, duluan aja. Gue masih pengen nglanjutin tulisan yang lo bilang stensilan ini”, katanya sambil terus mengetik, tanpa mengalihkan pandangannya.

Sial, aku menyesal sudah mengatakan hal tadi.

——————-*

 

Bahkan sampai berita tengah malah berakhir, dia belum pulang. Ada apa sebenarnya?

Sebenarnya aku mengantuk sekali, tapi aku memutuskan untuk menunggunya pulang. Siapa tahu dia minta dijemput. Paling tidak itu keputusan yang kuambil lima menit yang lalu.

Kantuk yang mendera sudah tak bisa kutahan.

Kukirimkan sebuah pesan singkat lagi sebelum aku tidur.

“Miss you here”.

 

Pesan singkat yang tak berbalas bahkan hingga keesokan paginya ketika aku bangun.

 

*Bersambung…


4 thoughts on “Langkah

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s