Langkah – 2

Biasanya aku bangun karena aroma kopi yang dia hidangkan bahkan sebelum aku bangun. Tapi pagi ini aku dibangunkan oleh raungan anak kecil di luar sana. Aku yakin itu anak si ibu kost yang masih 5 tahun, merengek-rengek entah minta apa.

Dia tak pulang, ternyata.

Sampai jam 9 pagi, dia belum juga pulang. Tak biasanya dia seperti ini. Seandainya pulsanya habis hingga tak bisa mengabariku, bukankah seharusnya dia bisa meminjam ponsel temannya untuk sekedar mengabariku bahwa dia akan menginap? Bahwa dia tak akan pulang tadi malam. Lagipula anak itu tidak akan mungkin berada dalam kondisi tidak punya pulsa.

Antara kecewa dan kesal. Kecewa karena aku sendiri bahkan tak tahu apa sebenarnya duduk masalah yang kami miliki. Kesal karena dia seperti sengaja membuatku cemas seperti ini. Dia tahu bahwa aku selalu gugup melakukan apapun ketika cemas.

Aku tak bisa menunggu lagi. Setengah jam lagi ada kelas penting yang tidak bisa kutinggalkan. Mata kuliah pokok.

Dengan berat hati aku berkemas.

Sempat kutuliskan memo sebelum berangkat

“Aku tahu kita sama-sama dewasa. Tapi bukan berarti orang dewasa pun tidak perlu dicemaskan, khan?! Setidaknya kabari aku. Semalaman aku menunggumu”.

——————-*

 

Aku sengaja pulang ke kost agak siangan. Sengaja agar aku tak perlu bertemu dengannya. Entahlah, keegoisankukah? Atau kemalasanku untuk sekedar bertukar pikiran dengannya? Akupun tak tahu. Yang aku tahu hanyalah sekarang aku sedang tidak ingin bertemu dengannya, apalagi berbicara.

Konyol ketika aku seperti mengendap-endap untuk masuk ke dalam kamar kost-ku sendiri!

Pintu kamarku terkunci. Itu berarti dia sudah berangkat. Aman.

Aku langsung menuju kamar mandi, kurang dari sejam lagi aku harus sudah berada di ruang kuliah dengan dosen yang tidak bisa menerima keterlambatan dengan alasan apapun.

Ketika aku hendak mengambil beberapa buku yang perlu kubawa. Aku melihatnya. Sebuah memo darinya.

Alih-alih aku mengabari melalui ponselku, aku malah membalas note itu. Satu garis lebih bawah dari memo singkat itu.

“Gak usah cemas. Aku Cuma sedang ingin sendiri. Nanti malam aku tak pulang lagi. Menginap lagi di tempat Rudi. Jangan susul aku.”

——————-*

 

Hari ini lancar menyenangkan. Tugas presentasi yang harus kubawakan di depan kelas mendapat nilai A- dari dosen. Tidak sia-sia juga aku mati-matian mengerjakannya. Tidak sia-sia juga aku berusaha sejenak menyingkirkan pemikiran tentangnya dari otakku.

Di tempat kerja pun, semuanya lancar tanpa hambatan meski beberapa kali rekan kerja mengingatkanku yang kedapatan sedang bengong, berfikir tepatnya. Bahkan kami satu team mendapat tipping yang lumayan besar, jauh dari biasanya.

Aku cengar-cengir bahagia sepanjang jalan pulang. Aku bisa mentraktir steak kesukaannya malam ini.

Cahaya samar terlihat dari kamarku ketika aku sampai di depan pintu. Paling lampu dapur yang tidak dimatikan. Itu kebiasaan kami kalau tidur. Agar tidak gelap gulita sama sekali.

Tapi masa dia sudah tidur jam segini? Lagi-lagi tumben.

Aku temukan jawabannya ketika aku masuk dan menyalakan lampu utama di kamar kami. Mengecewakan.

Kamar itu masih saja kosong.

Sebuah note di bawah memo yang kutinggalkan tadi pagi.

Memo yang akhirnya hanya bisa kuremas dengan kecewa, dan kulemparkan sekenanya ke sudut kamar.

——————-*

 

Kenapa aku tak membawa baju paling tidak untuk sekalian 3 hari ke depan, ya?! Bathinku dalam paduan antara kesal dan sesal. Kesal akan keteledoran diri sendiri, sesal karena berarti besok aku harus kembali mengendap-endap di area kost seperti maling kesiangan.

Crap!

——————-*

……………………..

——————-*

 

“Rud, gak perlu disampaikan apalagi ditanyakan sama anaknya. Gue Cuma mau nanya, pacar gue disitu baik-baik saja, khan?!”

Pesan yang baru saja kukirimkan ke Rudi. Sudah tiga malam aku tidak bertemu dengannya. Pun aku tidak tahu dia sebenarnya pulang atau memang sengaja menghindariku. Pengamatan dan perasaanku lebih condong pada kemungkinan kedua, melihat kondisi kost setiap kali aku pulang mendapati kamar kost kami kosong, hening, namun ada sedikit perubahan dibandingkan keadaan ketika kutinggalkan. Pun dengan adanya beberapa lembar baju kotor miliknya, dan raibnya beberapa potong pakaiannya.

“Dia di sini. Perkara baik atau tidaknya, gue gak tahu. Gue udah pernah nyoba nyuruh dia pulang tapi yang ada Cuma manyun trus cuekin gue”.

Pesan balasan dari Rudi yang akhirnya hanya kubalas dengan ucapan terima kasih.

Berarti memang ada masalah di antara kami.

Dan malam ini berarti aku akan tidur sendiri lagi.

——————-*

 

Jam sepuluh siang, mengingat jadwal yang kuingat, seharusnya dia sudah berangkat dari sejam yang lalu. Santai aku pulang dengan diantar ojek. Rudi ada perlu jadi tidak bisa mengantarku.

“Koq gak pernah kelihatan kayaknya, dek?”, sapa ibu kost yang kebetulan sedang menunggui anaknya yang masih berumur 5 tahun bermain sepeda mini di halaman kost-an kami.

“Iya nih, Bu. Dari kemarin kegiatan kampus sedang sibuk-sibuknya. Sampai harus menginap di tempat teman untuk menyelesaikan tugas-tugas”, dustaku, dilanjut dengan permisi. Aku sedang tidak ingin basa-basi.

Kumasukkan kunci, kuputar dan kubuka pintu kamarku.

Aku kaget, sekaligus kalut dengan apa yang kulihat di depan mataku. Haruskah aku berbalik dan lari meninggalkan tempat ini?

 

*Bersambung…


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s