Langkah – 3

“Welcome home”, sambutku ketika dia membuka pintu. Berusaha tak mengindahkan ekspresi wajahnya yang menggambarkan perpaduan antara kaget dan bingung.

“Eh….. kamu… bukannya…”, jawabnya, bahkan tanpa menjawab sambutanku.

“Iya. Sepertinya penyelinapanmu kali ini gagal, ya?! Maafkan aku kalau begitu”, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan intonasi sinis dalam setiap kata-kata yang kuucapkan, karena memang aku tidak punya niat untuk itu.

——————-*

 

Dia beranjak dari tempat duduknya semula. Pinggiran kasur kami yang sudah 4 malam tak pernah menerima sentuhan kulitku. Ranjang kami.

Dia bergerak santai seolah tak pernah ada masalah, berjalan melewatiku, menuju pintu yang ternyata masih kubiarkan terbuka saking kagetnya, menutupnya.

Dia beralih ke kursi kerja yang terletak berseberangan dengan tempat tidur kami. Membalikannya hingga menatap ke arah ranjang, lalu beranjak, duduk kembali di tepi ranjang, tempat dia duduk tadi.

“Lebih enak kalau ngobrolnya sambil duduk”, katanya, dengan senyum yang padahal tulus tapi justru malah kurasa menyesakkan. Gerakan kepalanya mempersilakan aku duduk di kursi yang digesernya tadi.

Sialan. Kursi pengadilan?!

——————-*

 

“Kamu kalau ada masalah, kenapa tidak berusaha untuk membicarakannya denganku? Menghindariku seperti ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah, asal kau tahu. Lagipula mau sampai kapan?!”, kataku begitu dia menghenyakkan pantat di kursi yang kusiapkan tadi.

“Lagipula, aku bukan dukun. Bagaimana aku tahu kalau kamu punya masalah denganku kalau kau tidak ngomong? Karena sejatinya aku sendiri bingung sebenarnya ada masalah apa antara kita? Kupikir kita adem ayem saja selama ini”, sambungku.

“Ada masalah?!”, tanyaku sambil menyorongkan badan, bertumpu pada siku yang kusandarkan di kedua pahaku.

Dan dia hanya diam. Terlihat sedang berfikir untuk melayani pembicaraan ini, atau untuk kabur, sepertinya.

“Aku siap mendengarkan. Dan aku tidak mau bolosku hari ini tidak membawa penyelesaian apapun dalam masalah kita. Kalau memang ada masalah”, lanjutku.

——————-*

 

It’s a crap entrapment. Aku bahkan tak siap untuk diskusi semacam ini.

Tapi memang mungkin ini saat yang tepat untuk kutumpahkan apa yang selama ini aku pendam dan membuatku kembali jerawatan.

Aku menghela napas panjang…

——————-*

 

“Kamu berubah. Dan aku tidak menyukai perubahan itu”, kalimat pertama yang muncul dari mulutnya, setelah sekian lama hening dengan aku yang sabar menunggu, terus memandanginya dengan syahdu dan rindu.

“Berubah? Aku benar-benar tidak paham”, jawabku, kernyitan di atas alis kanan tak bisa kutahan.

“Iya! Kamu berubah”, ketusnya.

“Berubah dalam hal apa yang sebenarnya kau maksud?”, tanyaku, benar-benar tidak mengerti kemana sebenarnya arah pembicaraan ini.

——————-*

 

“Kamu berubah semenjak kamu kerja di restoran itu! Kamu gak pernah punya waktu sama aku. Kamu selalu sibuk dengan kuliah dan kerjaanmu. Aku? Membusuk bosan di kamar kecil ini. Menunggumu pulang untuk sekedar berbagi kasih, yang ternyata harus menelan kekecewaan karena kau terlalu capek. Ya dari kuliahmu, ya dari kerjaanmu. Aku bukan manekin di kamar ini! Itu kalau kau masih menganggap aku ini orang, kekasihmu!”, meluap sudah rasa yang kutahan dari sebulan lebih ini.

Tatapan heran dan bingung makin kentara di wajahnya.

“Dulu kamu begitu asyik. Sering hangout bareng. Sering ajak aku ngobrol meski hanya sambil memandangi lampu kota di balkon lantai tiga. Antar jemput aku ke kampus. Sekarang? Kita Cuma dua badan yang benar-benar terpisah dalam kamar ini!”, bendungan hatiku benar-benar jebol.

——————-*

 

“Jadi ini masalahnya?”, tanyaku. Sejuta nada keheranan dalam suaraku kalau memang bisa dihitung.

“Fine bagi kamu mungkin masalah ini sepele. Tapi gak bagiku. Buat apa kita tinggal bareng kayak sekarang tapi nyatanya kita hidup masing-masing?! Ini bahkan lebih tidak mengenakkan daripada benar-benar hidup sendiri!”, semburnya.

“Tapi… bukankah dari awal kau juga setuju ketika aku hendak mengambil tawaran kerja ini? Dan kamu tahu bahwa kuliahku sekarang memang sedang sibuk-sibuknya. Kamu pun mahasiswa, seharusnya pasti tahu, khan bagaimana sibuknya mahasiswa di tingkat akhir?!”, tanyaku masih dalam nada kebingungan.

“Tapi seharusnya tidak sebegininya juga. Sekarang buatmu lebih penting mata kuliah busuk itu daripada ceritaku. Lebih penting slip gaji tak seberapamu itu daripada sekedar ngopi bareng sama aku!”.

Seperti sebuah granat yang ditarik pemicunya, emosiku langsung meledak. Merah padam aku menahan mulut untuk tidak terlalu banyak bicara yang menyakitkan satu sama lain.

“Oh… jadi sekarang masalahnya merambah pada siapa lebih penting daripada siapa? Apa lebih prioritas dari apa? Begitu maksudmu?”, aku masih berusaha meredam emosi.

“Iya!”, jawabnya ketus.

“Oh… haruskan kuingatkan lagi sama kamu kalau apa yang sedang kuusahakan sekarang dalam perkuliahanku adalah demi kita juga juga?? Dan apakah aku harus mengingatkan juga bahwa kondisiku sekarang memang tidak bisa seperti dulu? Apakah memang aku harus mengingatkan bahwa semenjak ayahku tiada, aku tidak lagi bisa sepenuhnya bergantung  ke orangtuaku? Haruskah?”, rentetku dalam emosi, dan sakit hati yang luar biasa. Kata memang tajam.

“Aku tak peduli!”, teriaknya, yang terlihat berusaha ia redam mengingat ini hanyalah rumah kost. Bukan rumah kontrakan yang sudah dia tinggalkan ketika memilih untuk berbagi ruang dengannku, 2 tahun yang lalu.

“Kamu… jangan sampai penilaianku terhadapmu bermanuver menjadi pemikiran-pemikiran buruk, ya!”.

“Kita sekarang harus sudah mulai sama-sama berfikir. Mau jadi apa kita nanti kalau kita terus-terus saja santai menjalani hidup. Ingat, aku bukan dalam posisimu yang masih bisa enak menikmati bangku perkuliahan tanpa memikirkan biaya hidup dan lainnya. Kita sekarang sudah jauh berbeda, dek. Dan jika kau memaksaku untuk tetap bertahan dengan gaya hidup kita dulu, kamu sudah tahu bahwa aku tak mampu, tanpa aku perlu memberitahukannya padamu”, cecarku. Gemeretakan gigiku ketika mengucapkannya, menahan agar volumeku tetap dalam keadaan tenang, tak naik.

“Toh itu juga tidak berpengaruh pada keadaan kita!”, kilahnya.

Hening kembali menyiksa di antara kami. Sama-sama mengendalikan emosi, sama-sama berkutat dengan pikiran masing-masing yang entah kemana, tak kunjung bertemu titik point-nya.

“Oh, OK. Jadi begini. OK. Fine. Maumu apa sekarang?”, tantangku, berusaha sebisa mungkin untuk kalem.

——————-*

 

Emosi benar-benar menyergapku saat ini. Entahlah, semua pembelaan yang dia lontarkan rasanya tak bisa kuterima. Seperti ada puluhan setan yang terus memanasiku.

“Kurasa sudah saatnya kita berpisah”, jawabku. Lebih memilih menujukan pandanganku pada televisi yang hening mati daripada menatapnya.

Hening yang menusuk di antara kami.

Aku tak sanggup untuk melihatnya, wajahnya.

You, please say something!

——————-*

 

Sakit yang kurasa makin menghunjam. Rasanya bambu-bambu yang kupancangkan sebagai landasan bagi rumah cinta kami, mendadak runtuk dan menusukku dari berbagai arah. Menghadiahiku ratusan nyeri, di ulu hati.

Aku masih mencerna kata-katanya yang sungguh diluar dugaanku. Di luar harapan yang pernah sama-sama kami tabur, dan berharap untuk dituai bersama.

Aku sibuk dengan hatiku sendiri, berusaha mendamaikannya.

“Aku… atau kamu yang harus pergi dari sini?”, satu kalimat sumbang terlontar dari mulutku. Memecah keheningan dengan suaraku yang bergetar, paduan antara emosi dan patah hati.

 

*Bersambung…


6 thoughts on “Langkah – 3

  1. “Keep holding on,,” Lagu yang sedang aku dengerin ketika me-reply tulisan mu ini, Jo. Aku teringat, ketika film American pie 5 Reunion. Ada adegan dimana tokoh karakter yg aku lupa namanya, sudah berumah tangga. Meski dalam posisi “normal” rumah tangga, ketika sang suami menghadapi keadaan dimana dia dipojokkan atas kesalahan yang tidak dia lakukan. Si istri kecewa dan dia memutuskan untuk pulang kerumah orang tua nya.
    Alhasil, mereka masing masing dong. tidak dalam satu ranjang untuk beberapa malam. You know what? Yah, dari mereka sendiri pun memikirkan satu sama lain. Merindukan ucapan selamat malam sebelum tidur, atau sedikit kecupan dikening untuk menutup lelah.
    Inti nya sih yang aku dapet, yah.. bener banget .. klo ada masalah apapun sama pasangan yg mungkin sudah tinggal bareng. Lebih baik diselesaikan.
    Jangan salah satu nya kabur sana sini, its hurt. Kedua belah pihak pasti sakit, yah klo sama sama sayang sih gitu.
    Rasanya bener bener gak enak,,, :)

    NB: *TABOK TARJO!* Kenapa? ya kenapa pake dibuat sampe part 4 gitu deh. errghhh padahal itu udah di final kan???? Awas kamu yahhh,,,, xD

    1. Dear Alan,
      Cinta memang menimbulkan adiksi, ya?! ;)

      Btw, Tarjo malah belum sejauh itu nonton American Pie, karena kurang tertarik mungkin, ya?!
      #Digetok

      Kita lihat saja nanti di Langkah terakhir mereka, ya…

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s