Surat

Dear,

 

Hai Ayah… apa kabar? Sepertinya sudah lama sekali kita tidak pernah bicara. Iya, jika ada waktu yang paling kurindukan, itu adalah saat kita bisa menjadi sepasang teman, di luar konteks peran ayah dan anak. Dan celotehan tentang “kita adalah dua lelaki yang sanggup mengguncang dunia” masih aku pegang sampai sekarang, Ayah.

Sayang ya, Yah. Impian kita untuk membangun sebuah rumah panggung di tepi danau dekat kota kita tak bisa terwujud. Padahal itu (dalam rencana kita) akan menjadi markas keluarga yang paling ranum akan cinta dan kasih. Tak apa, aku masih bisa membayangkannya dengan sempurna, koq.

Bukan tak bisa, mungkin belum. Semoga.

 

Eh iya, Ayah. Aku betul-betul bahagia di sini. Kemarin Ibu menyambutku dengan gegap gempita (meski aku tahu beliau juga di rundung duka dan sedikit kecewa karena aku sudah tega memilih tinggal bersama ibu, daripada menikmati waktu bersama Ayah yang seharusnya kelak akan kujaga ketika tua).

Iya, beliau sempat heran karena aku bisa mengambil keputusan seperti sekarang. Tentu saja. Semua orang tahu persis bahwa aku memang selalu dekat dengan Ayah, lebih daripada ke ibu. Tapi setelah aku bercerita panjang lebar, beliau hanya tersenyum, lalu memelukku, erat.

Beliau mengerti, kurasa.

Ibu titip salam buat Ayah, juga untuk Mama.

 

Ayah tentu masih ingat dengan Ridwan, anak ujung gang yang pernah Ayah gunjingkan karena menurut ayah dia kehilangan sosok lelakinya. Terkubur dalam keluwesan dan kearifannya dalam menilai hidup.

Kasihan ya, Yah. Dia bahkan tak pernah mengenal sosok ayahnya seperti apa. Dia tak seberuntung aku yang memiliki sosok Ayah yang bisa kubanggakan pada siapa saja. Ayah yang memahami betul bahwa dunia tak pernah ramah bagi orang-orang yang tak punya keberanian untuk mengakrabinya.

Keadaan hidup seperti itulah yang membuat dia seperti itu, Yah. Dia tak pernah punya panutan bagaimana menjadi sosok lelaki yang menurut orang-orang adalah sewajarnya lelaki.

Eh, dia pernah loh Yah, begitu terkesima dengan hubungan yang kita punya. Dia merasa melihat keseluruhan isi dunia (lelaki) dari hanya memandangi kita yang sering berbincang di teras membicarakan pertandingan bola yang berlangsung semalam. (Bahkan terakhir kali aku bicara dengan dia, dia akan tetap menganggap bahwa kita adalah Ayah dan anak yang paling menginspirasi dalam hidupnya).

Dia pernah mengatakan bahwa aku adalah anak lelaki yang paling beruntung dengan keberadaan Ayah, dan aku kontan mengiyakan, tentunya.

Apa kabar dia sekarang, ya Yah?!

 

Tentu saja Ayah tidak akan bertanya-tanya bagaimana bisa aku begitu mengenal sosol si Ridwan ini, khan?!

Masih tergambar jelas rona murka Ayah ketika menemukan tulisanku yang seharusnya dibaca oleh mata sendu Ridwan, bukan mata tegar Ayah. Bahkan moment ketika dengan kekuatan yang entah darimana Ayah sudah membalikkan kursi, yang aku duduki saat itu.

Dan aku ingat betul….

Dari situlah keadaan kita berubah. Ayah mulai menganggap bahwa aku adalah kegagalan terbesar yang pernah Ayah lakukan.

 

Ayah, jangan menangis. Aku tak pernah membawa dendam sekecil apapun. Aku hanya tak ingin hal-hal manis yang masih bisa kukenang harus luntur dengan kesalahpahaman kita akhir-akhir ini. Kesalahpahaman yang kupikir memang tidak akan pernah menemukan titik temu dari pemikiran kita masing-masing.

Bahkan luka bekas cambuk dan tinju yang masih biru, tak sanggup menepis pemikiran bahwa kau Ayah terhebat, paling tidak bagiku.

Do’akan aku, Ayah.

 

Regards,

(i wish i still) Your son.

————*

 

Kertas itu sudah buram, terlalu banyak kubaca, kuremas, lalu kubaca lagi dengan berlinang air mata. Sesal. Kebencian akan masa lalu telah membunuh anakku. Darah dagingku.


6 thoughts on “Surat

  1. daaammmnnnn
    baru satu cerita ini yang bikin ga dong..

    jadi bunuh diri…

    film prayer for bobby juga akhirnya gak kuat trus dia bunuh diri..

    so sad… :'(

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s