Peran

Nyonya…

Akhirnya suamiku berangkat juga ke kantornya. Suami yang dulu kuanggap sebagai lelaki yang begitu ideal. Kaya raya di usia muda dan penampakan yang gagah, siapa yang tak menginginkannya?!

Itu anggapanku di bulan-bulan pertama perkawinan kami.

Sekarang?

Aku malah lega luar biasa kalau dia sudah berada di luar rumah. Persetan apa yang dilakukannya di luaran sana. Toh dia hanya bisa mencukupi kebutuhan duniaku. Sekedar menanyakan hal-hal kecil dalam obrolan ringan pun jarang. Hanya ketika dia baru saja mentransfer sejumlah uang dengan minimal 8 digit ke rekeningku. Uang belanja, katanya.

Tapi tak pernah dia sekalipun bertanya “puaskah kamu, sayang?”, ketika bercinta.

Lelaki!

Bahkan entah sudah berapa lama dia tak menjamahku sama sekali. Padahal akhir-akhir ini birahiku sedang besar-besarnya.

Sialan!

Derum halus mobil mercy suamiku terdengar memasuki pelataran. Sopir suamiku sudah pulang dari mengantar ke kantor, rupanya.

Entah dari mana datangnya, aku mengintip dari balik tirai jaring jendela kamar. Memperhatikan tindak laku sopir yang baru sekitar 2 bulan ini bekerja, menggantikan sopir lama yang mengundurkan diri karena lebih memilih mengurus sawah dan istrinya yang sedang hamil tua.

Selangkanganku mendadak ngilu.

 

Wanto…

Ibu memanggilku ketika baru saja aku mengunci mobil yang sudah kuparkir rapi di depan pintu garasi. Sengaja tak kumasukkan mengingat biasanya si ibu minta diantar entah ke mall mana siang hari nanti.

“Saya, Bu…”, sahutku dengan kepala tertunduk ketika menemuinya di depan pintu kamarnya. Menunduk antara segan, dan antara tak berani memandangi belahan dadanya yang terlihat begitu nyata di balik daster dengan belahan rendah itu.

Sekuat tenaga aku menahan laju jakunku.

“Tolong ambilkan saya koper yang ada di atas lemari”, kata si ibu sambil membukakan pintu kamarnya lebih lebar agar aku bisa masuk.

Aroma parfum yang entah memang gunanya mengundang libido atau memang fikiranku yang terlalu kotor, tercium begitu wangi. Aku bahkan tak berani menengok ke belakang ketika kudengar suara pintu yang tertutup.

“Naik ini, lemarinya tinggi, soalnya”, kata ibu sambil menyorongkan sebuah kursi kayu antik ke depan lemarinya.

Sungkan aku menaikinya.

“Yang mana, Bu?”, tanyaku. Mengingat ada 4 koper di atas sana dengan warna yang berbeda. Aku bahkan tak berani memandang ke bawah, yang pastinya belahannya akan tampak lebih jelas dari sini.

Aku tak mendengar jawaban si ibu. Aku hanya merasakan tangannya memegangi pinggangku, di bawah kemejaku. Jakunku naik turun makin hebat. Sebenarnya dia sedang memegangiku karena takut aku jatuh, atau memang merabaku?, pikirku.

Aku beringsut turun karena merasakan satu tarikan di celah sabuk celanaku. Mau tak mau aku menatap ke bawah, mencari tahu. Di sana, dia tersenyum dengan arti yang tak bisa kutemukan.

Aku tak bisa berfikir.

Yang aku tahu dia sudah menggigit lembut bibir atasku.

Yang aku tahu kemejaku sudah tak lagi ada di badanku.

Yang aku tahu tanganku sudah melucuti dasternya.

Yang aku tahu hawa AC kamar itu tak lagi terasa.

Yang aku tahu, lekuk tubuhnya ternyata memang sempurna.

Yang aku tahu, kami sedang bercinta.

Sejak itu ibu tak pernah lagi bermasalah dengan birahinya.

Dan beberapa lembar uang merah sudah tertekuk rapi di saku kemejaku.

 

Tuan…

“Salam buat Mama sama Papa, ya. Sampaikan salamku belum bisa ikut kesana. Pekerjaan sedang benar-benar tidak bisa ditinggalkan”, kataku sambil mengantar istri ke mobil yang sudah siap mengantarnya ke Soekarno Hatta, untuk selanjutnya terbang menuju Surabaya.

“Jaga diri, sayang. Kabari aku kalau ada apa-apa. Aku Cuma seminggu di rumah, koq”, jawabnya setelah menutup pintu, menjulurkan kepalanya di jendela yang kacanya sudah diturunkan.

Kudaratkan sebuah ciuman, di keningnya.

“Wanto… tak perlu terburu-buru, ya. Nanti saya ke kantor naik taksi saja”, pesanku pada sopir, yang dijawab hanya dengan anggukan sopan.

Ada kelegaan yang luar biasa ketika mobil itu keluar dari gerbang rumah ini. Yang seharusnya tidak kumiliki ketika istri meninggalkan seorang suami.

Persetan. Kalau bukan karena tuntutan ayahku yang ingin aku buru-buru kawin juga mana mau aku hidup serumah dengan orang yang baru kukenal kurang dari dua bulan. Wanita pula.

Bukankah gara-gara itu Fendi lebih memilih hengkang dari kehidupanku? Dan gara-gara perkara itu pula perkara seksualku sekarang lebih puas dengan tangan kanan. Aku harus benar-benar memaksakan diri untuk menyetubuhi istriku sendiri.

Sial!

Hari ini aku tak berminat sama sekali untuk ke kantor. Toh pekerjaan memang sudah kurampungkan dari kemarin lusa. Nanti sore saja aku berangkat kalau meeting regional sudah mau dimulai.

Aku rindu Fendi. Aku rindu lelaki.

 

Wanto…

“Loh, Bapak belum berangkat, ternyata? Kalau begitu saya siapkan mobil sekarang ya, Pak?”, aku kaget mendapati atasanku masih berada di rumah. Karena kalau tidak salah tadi dia bilang agar aku tak perlu buru-buru karena dia akan naik taksi saja. Aku jadi merasa tak enak tadi sudah mampir ke warung tegal untuk mengisi perut.

“Gak usah, Wan. Nanti sore saja kamu antar saya ke kantor kalau sudah dekat dengan jam meeting”, jawab nya sambil mematikan televisi yang tadi sedang ditontonnya. Bahkan dia sudah menanggalkan atasannya. Hanya mengenakan celana kerja berwarna hitam.

“Oh… kalau begitu saya pamit ke kamar saya, Pak”, pamitku.

“Eh, sebentar, Wan. Kamu bisa mijit?”, tanyanya.

“Kalau sekedar mijit ala kadarnya, bisa, Pak”, jawabku.

“Kalau begitu, tolong pijit saya bentar, ya. Badan saya pegal sekali”, katanya. Tanpa menunggu jawabanku langsung melangkah ke kamar. Aku mengikutinya, pun tanpa mengiyakan.

Dia melepas celana kerjanya, hanya mengenakan celana boxer-nya. Aku mengucapkan “permisi” dulu sebelum mulai memijatnya.

Atasanku ini punya badan yang bagus begini, tapi kenapa ibu malah bernafsu sama aku?!, bathinku sambil memijat punggungnya. Meski aku juga heran. Bagaimana bisa orang ini memiliki tubuh berotot seperti itu padahal kerjanya hanya duduk-duduk di depan meja kerja. Entahlah.

“Maaf ya, Wan. AC tidak bapak nyalakan. Soalnya kalau sedang telanjang seperti ini bisa masuk angin saya”, katanya. Padahal kupikir dia sudah tidur.

“Tidak apa-apa, Pak”, jawabku.

“Kamu kalau kepanasan, kalau memang mau buka baju juga tidak apa-apa, koq”, lanjutnya.

“Tidak perlu koq, Pak. Ndak apa-apa”.

Kemudian dia membalikkan badan. Minta dipijat bagian dada dan perutnya.

“Tuh khan, kamu sampai keringetan begitu. Sudah, buka saja kemejamu”, katanya, sambil membuka bajuku.

“Tidak usah, Pak. Gak apa-apa, koq”, jawabku sambil tetap melanjutkan pijatan. Entahlah, aku tak berani menghentikan tangannya yang masih membuka kancing bajuku.

Entah demi apa aku malah jadi salah tingkah begini. Memijat atasanku tanpa baju. Apalagi dia memandangiku terus.

Dan tiba-tiba saja dia menarik tubuhku, yang karena tak siap akhirnya terjerembab di atas badannya. Bahkan tanpa memberi jeda, dia langsung mendaratkan bibirnya di bibirku.

Dan aku tak kuasa berontak ketika dia memainkan lidahnya dalam mulutku. Antara bingung, jijik dan menikmati.

Dan aku tak kuasa menolak ketika dia mulai menjalari leherku sambil tangannya sibuk membuka sabuk dan celanaku.

Dan aku tak kuasa menahan lenguhan ketika bahkan seorang atasanku mendaratkan ciuman dan berbagai atraksi lainnya di area sakralku, di bawah pusarku. Kenikmatan yang benar-benar baru.

Dan aku tak tahu harus berkata apa ketika dia membalikkan tubuhku, mengolesi daerah bawahku dengan entah cairan apa aku tak tahu. Cairan dingin.

Dan bahkan aku hanya bisa menggigit bantal keras-keras untuk menahan sakit yang luar biasa ketika kurasa ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhku.

Aku tak lagi penasaran kenapa ibu menggarapku kemarin lusa.

Sejak itu atasanku tak pernah lagi bermasalah dengan birahinya.

Dan beberapa lembar uang merah sudah tertekuk rapi di saku kemejaku.

 

Di gedung sebuah bank…

“Selamat siang, Bapak. Ada yang bisa dibantu?”, sambut seorang security sambil membukakan pintu. Dengan bahasa yang terlampau sopan untuk seorang juru keamanan, malah lebih terkesan seperti bellboy di hotel-hotel besar yang pintunya bisa membuka sendiri.

“Saya mau mengirim uang, Pak”, jawab Wanto, sopan.

“Silakan ambil antriannya, Bapak. Lalu silakan tunggu di kursi-kursi itu”, security itu memberikan instruksi.

“Saya berdiri di sini saja ya, Pak. Capek duduk terus”, kata Wanto setelah mengambil tiket antrian, yang kemudian diiyakan oleh si security dengan seulas senyuman.

Wanto menghindari kursi. Selangkangannya masih terasa nyeri akibat hantaman palu godam sang atasan tadi pagi.

 

Di sebuah kampung kecil di antara tandusnya tanah Gunung Kidul…

“Bu, wau enjing Bapak SMS. Ngendikanipun sampun kirim arto. Ibu saget mundhut dinten niki. Bapak mangsuli kagem tumbas tivi kalih lemari”.

=- Bu, tadi pagi Bapak SMS. Katanya sudah kirim uang. Ibu bisa ambil hari ini. Bapak nyuruh untuk beli televisi dan lemari -=

Kaswan girang luar biasa. Anak yang masih baru kelas 6 SD itu akhirnya bisa punya televisi sendiri. Tak perlu hijrah ke tempat tetangga untuk sekedar menonton berita dalam dan luar negri, acara kesukaannya. Dia berharap ibunya juga bisa membelikannya buku cerita kalau memang masih ada uang sisa.

“Alhamdulillah yo, Le’. Dongakno ae bapakmu neng Jakarta gaweane gemi lan lancar terus rejekine. Ben awakmu iso sekolah sing duwur, dadi cah pinter, iso gawe seneng wong tua”, jawab ibunya. Seorang wanita desa yang meski tampak lusuh tapi masih bisa memancarkan aura cantiknya.

=- Alhamdulillah ya, Nak, doakan saja semoga bapakmu di Jakarta pekerjaanya rajin dan lancar terus rejekinya. Biar kamu bisa sekolah tinggi, jadi anak pintar, bisa buat orang tua senang -=

Keluarga kecil itu bahagia. Nanti sore, akan ada televisi dan lemari baru di rumah mereka, hasil “keringat” sang bapak di Jakarta…


6 thoughts on “Peran

      1. kalo sama si nyonya, wanto udah berpengalaman Lan,,
        tapi kalo sama tuan kan itu pengalaman pertama wanto.
        Jadi belum tau kan enak ato enggak-nya, hanya untuk memuaskan dahaga aja. #dibahas

        satu lagi :

        “Sejak itu ibu tak pernah lagi bermasalah dengan birahinya.”
        ————————————————————————————–
        “Sejak itu atasanku tak pernah lagi bermasalah dengan birahinya.”

        itu kunci pendapatan tambahan wanto, saya sebagai pembaca merasa tenang akan masa depan keluarga kecil di kampung sana. *Laaahhh

  1. suka sama ceritanya..bahasanya bagus..paling suka sama bagian ini:
    “Dan beberapa lembar uang merah sudah tertekuk rapi di saku kemejaku.” pengulangannya keren..hehe..

  2. Realita kehidupan… yang bisa begini orang yang jauh dari kemunafikan.. jujur pada dunia dan kebutuhan… saling mengisi..

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s