KelaMalam

Erwin membawa nampan terakhir dari dapur. Berisi satu bongkah ayam panggang utuh yang warnanya berkilat merah gula jawa, dari kecap manis tentunya. Menggoda. Senyum tak lupa tersungging di bibirnya yang merah tirus.

Diletakkannya nampan terakhir itu ditengah persis meja makan putar berukuran besar itu. Beberapa penganan pendamping dia letakkan mengitari masakan masterpiece tadi. Lengkap dengan beberapa lilin yang ditata dalam tatakan bergaya kolosal. Cocok dengan lampu temaram yang dia nyalakan di tiap sudut ruangan.

Satu ember berisi balokan es dia letakkan di samping kanan kursi duduknya. Sebotol anggur merah buatan chile tergeletak agak miring di dalam ember itu. Leher botolnya terlihat berembun, terlihat segar meski sebenarnya menghangatkan.

Tiga kursi sudah dia persiapkan untuk acara dinner malam ini. Untuknya, ayah dan ibunya. Masing-masing tempat sudah dia tata rapi. Dari piring lebar diapit beberapa jenis sendok, garpu dan pisau, juga dua jenis gelas. Untuk wine dan untuk air mineral. Serbet kaku putih dia letakkan dalam bentuk segitiga di atas piring yang sudah dia atur menengadah.

Dia begitu sumringah. Tentu saja. Jarang sekali dia bisa menyatukan orang tuanya dalam moment yang bersamaan untuk dinner bersama semacam ini. Dinner yang utuh, meski dengan cara paksa. Ibunya yang memang sudah dari keturunan entah keberapa sudah terkodrat sebagai wanita kaya raya, dan ayahnya yang mendompleng membuat usaha kecil menengah, hasil meminta modal dari ibunya.

Keduanya kelewat sibuk, untuk didudukkan dalam waktu yang sama, di meja yang sama pula.

Memang harus dipaksa.

Di hadapannya, serong ke kanan, duduk ayahnya, yang tak henti memandangi Erwin dengan tatapan yang belum bisa dia terjemahkan. Di hadapannya, serong ke kiri, duduk ibunya, yang kerap kali memandang Erwin dengan beragam arti pandangan. Entah.

Erwin mendentingkan gelas wine kristalnya dengan sendok kecil. Memulai acara makan malam itu. Sedikit bunyi “plukk” elegan ketika dia membuka botol wine-nya, sebelum akhirnya menuangkannya di tiga gelas yang telah dia siapkan.

Erwin terlihat begitu bahagia selama prosesi makan malam itu. Begitu lepas. Membicarakan banyak hal sambil sesekali menyuap irisan ayam panggang buatannya. Di sela mengiriskan sepotong besar bagian dada untuk ayahnya. Di sela mengambilkan salad kesukaan ibunya. Di sela menuangkan lagi wine ke gelas kosong milikinya.

Dia begitu banyak bercerita. Cerita-cerita kecil dalam hidup yang sudah begitu lama dia ingin ceritakan. Karena orang tuanya terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.

Ayah dan ibunya hanya mendengarkan. Hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan satu pun kata. Sesekali ibunya menitikkan air mata di bagian cerita Erwin yang meski santai tapi mengharukan. Sesekali ayahnya membelalak ketika cerita Erwin mencapai pada bagian-bagian yang mendebarkan.

Hangat. Sehangat wine yang tersaji dingin.

Renyah. Serenyah gorengan kulit ikan yang dia buat.

Dingin. Sedingin malam.

Melap bibir setelah suapan terakhirnya, Erwin berdehem. Diteguknya dulu gelas wine-nya sebelum menghela napas, panjang.

“Ayah… Terutama Ibu… Aku mau bercerita. Cerita yang sedikit rumit dan panjang. Bisa jadi ini juga sebuah pengakuan, dan pembukaan. Simak saja. Aku tak menerima pertanyaan dalam bentuk apapun kali ini”, buka Erwin. Sambil membenarkan posisi duduknya. Menegakkan punggungnya agar segaris dengan punggung kursi, untuk kemudian menuangkan lagi wine ke dalam gelas cembungnya.

“Cerita bermula dari Ibu, ketika menikahi Ayah, 7 tahun lalu. Berapa usiaku waktu itu, Bu? 15 tahun ya, Bu. Yah… sekitar segitu, lah”, mulai Erwin. Tanpa menunggu jawaban ibunya. Yang mengangguk lemah meski sebenarnya tak diperlukan Erwin.

“Gak tau ya, Bu. Insting Erwin dari dulu khan memang kuat. Sama kuatnya dengan ketika Erwin mengucapkan pada Ibu bahwa Erwin merasa ada sesuatu yang salah dengan Ayah ini, yang waktu itu masih calon bagi Ibu. Tapi, yah… watak keras Ibu memang susah ya diajak kompromi. Sekarang Erwin tak heran ketika akhirnya Ayah meninggalkan Ibu, mati karena penyakit hati, dan terkutuk meninggalkan Erwin juga di tempat besar tapi sepi ini”, tutur Erwin. Ibunya hanya memandanginya dengan tatapan sedih, dan letih.

“Dan Erwin benci mengatakan ini. Ketika insting Erwin akhirnya benar-benar terjadi. Iya, Bu. Ayah menggagahi Erwin, untuk pertama kalinya”.

Ibunya terkesiap. Matanya yang bolak-balik mengedar pandang antar putra dan suaminya, tak hentinya menganak sungai. Sedangkan Ayahnya hanya melotot, paduan antara keterkejutan, mengancam dan memohon.

Erwin tak menggubris mereka sama sekali.

“Padahal dari awal khan sudah aku bilang, Bu. Tatapan lelaki ini lebih bergairah melihat pantatku yang saat itu padahal tumbuh saja masih baru, daripada melihat payudara Ibu. Tapi ibu malah Cuma menganggapnya omongan anak kecil yang tidak mau mendapat bapak baru. Erwin bisa apa, saat itu?!”, lanjutnya.

Disesapnya wine. Menyalakan sebatang rokok sebelum melanjutkan cerita.

“Sejak saat itulah, Bu, deritaku di mulai. Baik derita bathin, maupun fisik. Ayah luar biasa brengsek binal dalam urusan seks. Ah, aku tak perlu menceritakannya pada Ibu betapa beringasnya Ayah, khan? Dia melaksanakan tugas sebagai suami, khan?!”, tanya Erwin, yang hanya dijawab anggukan lemah berkawan air mata dari ibunya.

“Akhirnya aku mulai terbiasa, bukan karena suka, tapi karena bisa apa. Ayah ini brengsek yang pintar mengancam, Bu. Mungkin juga karena aku terlalu pengecut juga, jadi dipakai sebagai senjata olehnya. 6 bulan, Bu, Erwin rutin digagahi pria ini, suami Ibu. Entah karena apa dia jadi jarang menggagahiku. Mungkin karena ibu yang sudah lihai mengimbanginya, atau jangan-jangan malah dia sudah menemukan bocah lain. Yang kedua ya, Yah?”, tanya Erwin, sambil menghembuskan kepulan asap, hanya melirik sedikit ke arah Ayahnya. Dia tak butuh jawaban.

“Akhirnya aku mendapat kebahagiaan kecil di rumah ini, Bu. Iya, kebahagiaan kecil yang sebenarnya salah. Ah, tak perlu membicarakan benar salah di rumah ini. Tak bermutu”, lanjut Erwin. Lagi meneguk sisa wine dalam gelasnya, lalu mengisinya penuh hingga tetes terakhir dari botol yang sudah separuh tenggelam dalam air es yang sudah mencair.

“Kebahagiaan kecil itu bermula ketika Ibu mempekerjakan Joko. Iya. Tukang kebun kita  itu, Bu. Pemuda yang gagah ya, Bu. Ah, dari awal melihatnya saja aku sudah bisa merasakan ketenangan kalau berada di pelukannya. Aku jadi melow seperti ini ya, Bu? Jadi berhasrat dengan lelaki ya, Bu? Salahkan saja pria di hadapan ibu sekarang ini”, tutur Erwin.

“Dan entah bagaimana, Bu. Dekapan Joko memang menenangkan. Kupancing sedikit sudah bisa diajak bermain ranjang. Tahukah, Bu, saat itu aku bahkan berfikir bahwa Joko inilah jodohku. Aku bahagia. Bahagia sekali. Rumah ini terasa hidup kembali. Meski Ibu tak pernah ada di sini”, kata Erwin. Sekilat cahaya riang menyusup di matanya, yang limat detik kemudian kembali dingin.

“Tapi bahagia sepertinya memang bukan hak-ku ya, Bu. Kemarin, tepat sebulan sebelum ini, neraka datang lagi. Dan lagi-lagi pria brengsek suami ibu ini yang membawanya”.

Erwin meneguk satu tegukan besar dari gelas wine-nya. Mungkin untuk menenangkan gemuruh di dadanya. Ayahnya sibuk juga menenangkan diri. Terlihat dari gerak matanya yang sibuk memohon kepada Erwin untuk menghentikan semuanya. Ibunya hanya sesenggukan, sambil sesekali menggelengkan kepala.

“Fiuh… bulan lalu, pulang dari sekolah rampung ujian akhir, neraka itu nampak di depan mata, Bu. Bayangkan perasaan Erwin ketika melihat pria ini melenguh ditindih Joko, di ranjang Joko yang padahal itu bagai istana bagi Erwin. Bayangkan, Bu!”.

Erwin menyelesekkan puntung dengan emosi ke asbak di sebelah kanannya.

“Belum cukup pria brengsek ini merenggut kewarasan Erwin hingga tak mampu lagi berdiri melihat perempuan, sekarang masih bisa memakan juga Joko, yang sudah menjadi obat bagi sakitnya Erwin. Dahsyat… pria pilihan ibu ini memang brengsek luar biasa”.

“Maaf ya, Bu. Erwin sudah tidak lagi bisa berfikir bagaimana baiknya. Karena memang bagi Erwin sudah tidak ada baiknya”.

“Ibu pasti heran, sudah seminggu ini Joko tidak terlihat di rumah. Ah… paling ibu juga tidak pernah menyadari bahwa Joko ada di rumah ini, dulu. Pembantu kita mengundurkan diri saja ibu tak pernah tahu”.

Erwin beranjak dari kursinya. Menuju satu sudut di belakang kanannya. Menarik satu kelambu, lalu menjentik saklar di atasnya. Menyalakan lampu sorot kecil pada tubuh yang terduduk di kursi di hadapannya.

“Joko ada koq, Bu. Mungkin dia juga mendengarkan seluruh pembicaraan kita malam ini”, terang Erwin, sambil berjalan kembali menuju kursinya.

Ibunya menjerit tertahan melihat sosok yang duduk di kursi yang baru saja ditunjukkan Erwin. Sedangkan ayahnya makin pias dengan keadaan itu.

“Bu, Erwin membunuh Joko bukan karena tak lagi mencintainya. Justru karena aku cinta sama Joko, aku tak mau dia semakin rusak dengan oleh pria keparat ini. Kupikir ini jalan satu-satunya. Semoga”, lanjut Erwin, datar dan kelam. Dibuka serbet yang tertata rapi di atas sebuah piring ukuran tanggung di sebelah kiri set makannya.

Benda berlaras kecil terlihat mengkilat ditimpa cahaya lilin.

Ibunya makin sesenggukan. Ayahnya sudah pontang panting berusaha berdiri, meski tahu itu sia-sia.

“Fiuh… Ya sudah. Erwin pamit, ya Bu. Bukan, bukan untuk menyusul Joko. Toh Erwin yakin setelah ini pria ini duluan yang menggasak Joko. Bukan, Bu. Erwin mau ke tempat Ayah saja. Ayah yang meski brengsek juga karena sudah meninggalkan Erwin duluan, tapi semoga di sana dia sudah berubah, selayaknya seorang Ayah”.

“Anda…”, kali ini Erwin tak menggunakan kata ayah lagi kepada pria di hadapannya.

“Silakan susul Joko. Gagahi dia, lagi”, lanjutnya.

Dua dentuman kecil meletup dengan suara terkedap. Dua bulir besi panas bersarang di jidat pria itu. Sejenak tegak, lalu kepalanya menunduk. Tertahan oleh ikatan kuat tali tambang yang mengikat tubuhnya ke punggung kursi.

“Ibu tak perlu khawatir. Borgol di tangan Ibu sudah Erwin pilihkan yang berkualitas wahid, menggunakan timer. Ibu sudah terlalu angkuh dengan kehidupan luar Ibu, juga tetangga kita. Jadi aku tak mau Ibu mati membusuk di sini karena Erwin yakin meski Ibu tak muncul sebulan pun tidak akan ada tetangga yang merasa curiga dan kehilangan. Ada untungnya juga Ibu menjatahku nominal besar-besaran setiap bulan. Jadi Erwin bisa membeli semua ini”.

“Erwin pamit ya, Bu. Semoga watak Ibu masih cukup keras untuk terus menjalani hidup setelah ini”, pamit Erwin.

Meneguk sekaligus wine yang tersisa di gelasnya, lalu dia beranjak. Mendekati ibunya, mencium kening sebagai tanda takzim terakhir.

Ibunya sesenggukan luar biasa, tanpa daya.

Satu letupan terakhir mengakhiri kelam malam itu.


7 thoughts on “KelaMalam

  1. Bangun tidur, cek hape, ada notifikasi mail, ternyata postingan dari colourgay, brb buka, baca.

    *petik gitar*
    *dehem*
    *nyanyi Andra n the back bone*

    Kelam Malam is.. Sem pur naa…

    Keren pisan bang, love it..

  2. Salut, hebat, pas, sanggup mengobrak abrik rasa& memaksa utk menghayal cerita diotak secara rill!! Cuma itu yg ingin ♡̷̴̬̩̃̊S̤̈̊ά̲̣̣̣̥Ɣ♡̷̴̬̩̃̊ sampaikan. к̣̣̥Ω̶̣̣̥̇̊м̣̣̥̇̊υ̲̣̥ penuliskah??? Klo bkn к̣̣̥Ω̶̣̣̥̇̊м̣̣̥̇̊υ̲̣̥. Habat!!!

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s