Gay Marriage di Indonesia, dan Topik Pembicaraannya

Sebenernya tulisan tentang pernikahan ini disiapkan untuk diposting nanti, pas pertanyaan “Kapan kawin?” sedang santer-santernya dilontarkan oleh orang tua, anggota keluarga besar sampai tetangga yang padahal sebenernya gak punya kepentingan sama sekali sama kita.
Ternyata ada fenomena #LoveWins dan, maaf kata, menjadi sedikit jengah dengan segala bahasan tentang Gay marriage ini. Dari yang dilontarkan oleh para straight dan bahkan dari kalangan gay itu sendiri.

oh please note, I am fully hearted happy with #LoveWins
Sedikit heran kenapa masyarakat Indonesia menaruh sedemikian besar respon mengenai legalisasi pernikahan sejenis ini. Justru kalau mau dibikin heboh, seharusnya kemarin ketika kalangan gay di Irlandia akhirnya memenangkan voting untuk legalisasi pernikahan sejenis, mengingat Irlandia merupakan negara dengan konstitusi agama yang kuat bahkan cencerung fundamental.

Kenapa justru malah heran ketika Amerika yang dari awal memang sudah melegalkan di beberapa negara bagiannya?

Apa karena ini “Amerika”?

lebih bingung lagi sama yang menghubung-hubungkan ini dengan Jokowi
Aku pribadi bukan orang yang menaruh antusiasme dalam perkawinan, baik dalam hubungan heteroseksual, apalagi homoseksual.

Go on, judge me.

Apalagi kalau membicarakan ini dalam konteks Indonesia.

Dear Indonesia (dan aparat-aparatnya),

Urusan legalisasi ini belum terlalu urgent buat kami (atau mungkin saya saja?).

Alih-alih mengangkat isu yang masih sangat kontradiktif itu, kami lebih butuh perlindungan hukum sebagai warga negara, sebagai manusia.

AKUI KAMI.

Masih banyak kasus kejahatan yang menimpa kaum gay dan mereka tidak bisa berbuat banyak karena orientasi seksual mereka membuat mereka dikucilkan hukum (bahkan kadang dilecehkan).

Dear para straight,

yang mendadak heboh dan mendadak (merasa) berkompeten dalam isu-isu semacam ini, harap diketahui, tidak semua gay ingin menikah. Tidak semua gay ingin mendapatkan paraf di buku nikah dengan pasangannya. Kenapa repot?

Dan akhirnya,

Dear para gay,

Kalem.

Tenang.

Mari kita ngopi, dan obrolin baik-baik.
Kalau boleh aku bilang,

“Untuk bisa lari, makhluk hidup perlu belajar jalan dulu”.

Maksudnya,

Ngomongin pernikahan sejenis di negara kita itu, maaf kata, kejauhan. Sungguh.

Alih-alih ngomongin legalisasi ini, yang bahkan di negara yang komunitas gay-nya sudah dilindungi saja masih jadi isu berat, kenapa kita tidak menurunkan ekspektasi kita barang sedikit?
Bukankah lebih baik kalau kita fokus untuk mengusahakan penerimaan terhadap kalangan gay di Indonesia?

Baik penerimaan secara sosial, terlebih penerimaan secara hukum.

Diterima di masyarakat saja belum, koq ya tahu-tahu heboh angkat isu pernikahan. Tidak masuk akal, bagi aku pribadi.
Jadi, ayo!

Kontribusi! Jangan cuma protes sana-sini!



Buat kalangan kita diterima masyarakat. Kalau memang tidak bisa berkontribusi secara besar, mulai sajalah dari hal-hal kecil, dari diri kita sendiri.

Semisal,

Bersosialisasilah sebagai MANUSIA.

Sebagai orang. Sebagai warga. Tinggalkan patokan top dan bottom (atau vers) di kamar kita. Be good, finish your job well. Tidak perlu semua orang tahu orientasi dan posisi seksual kita apa. Bahkan “coming out” pun tidak berarti kamu koar-koar kesana kemari bahwa kamu gay. Toh, buat apa?

Stop being rude!

Ngurus selangkangan itu silakan. Itu kebutuhan. Tapi tolong, beretika. Ini sudah jaman canggih. Silakan instal Grindr dan atau aplikasi semacamnya untuk mencari. Jangan main lahap lelaki sana sini. Ini sudah 2015, dimana gay-friendly makin banyak. Jangan hanya karena seseorang tetap respek setelah tahu kamu gay, kamu asumsikan sebagai gay juga.

Stop being shallow!

Jangan sampai yang sudah gay-friendly juga jadi jengah karena kelakuan kita sendiri.

Contribute on something good.

Lakukan kegiatn positif. Gak harus tergabung dalam wadah organisasi berbasis LGBT kalau memang kamu belum siap untuk “seterbuka” itu. Apa saja. Banyak sekarang. Mulai dari Indonesia Menanam, Indonesia Mengajar, Gerakan Peduli Anak Bangsa dan masih banyak gerakan postif lainnya.

Tunjukkan pada orang-orang bahwa kita itu ya orang biasa, sama seperti mereka. Tanpa perlu memandang kita dari sisi urusan ranjang.

Tunjukkan bahwa kita gay, kita masih manusia seperti wajarnya. Kita masih bisa berbuat sesuatu yang postifi, dan menghasilkan sesuatu yang positif.

Learn to NOT discriminate other.

Serius. Dalam banyak hal, justru diskriminasi di kalangan gay itu kita sendiri yang menciptakan. Kita sibuk koar-koar untuk disamakan dengan straight, tapi di sisi lain juga sibuk mencari pembeda, membangun sekat. Bahkan antar gay itu sendiri.

Bukan tidak mendukung pernikahan sejenis hanya karena aku tidak terlalu antusias dalam hal pernikahan.

Bukan.

Belum.

Hanya saja, aku pribadi merasa masih ada hal lain yang perlu diprioritaskan.

Bahkan Amerika dan negara-negara lain yang kita anggap sudah semaju itu, memulai dengan perjuangan panjang dan bertahap, koq.

Kenapa kita tahu-tahu ingin berada di garis final?


One thought on “Gay Marriage di Indonesia, dan Topik Pembicaraannya

Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s