Bukan Fakta, Apalagi Berita

Dari dulu, di akun ini, selalu berusaha untuk bersikap netral mengenai suatu hal khususnya yang berhubungan dengan SARA. Hanya berusaha untuk menempatkan diri senetral mungkin tanpa memihak pihak manapun, agama manapun dan orientasi seksual apapun.

(Juga urusan politik jika memang point itu perlu ditambahkan).

Tapi hari ini bubar jalan.

Dimulai dari tadi pagi, dimana media sosial heboh mengenai (yang menurut mereka) pernikahan sejenis di Bali.

I mean like, come on, guys! 

Wajar aja koq berekspektasi, tapi jangan sampai delusi.

Berita murahan semacam itu ya jangan lantas dipercaya, dan disebarluarkan, donk. Bagaimanapun, Bali masih ada di wilayah Indonesia, yang berarti secara garis besar juga masih bernaung di aturan yang sama meskipun ada beberapa aturan tambahan yang berbeda sesuai dengan otonomi daerah masing-masing. Aturan yang kumaksud ditulis ini tidak hanya terpaku pada urusan pernikahan. Segala aspek.

On my opinion, that’s way too riddiculous to be believed.

Memang banyak, koq, kawan-kawan (dari manapun) yang mengusahakan untuk melegalkan hubungan mereka ke agreement yang lebih serius. Tapi itupun DI LUAR NEGERI. Bukan di negara kita tercinta, Indonesia.

Bisa jadi yang terjadi adalah, mereka ingin berbagi kebahagiaan dan rasa syukur atas segala perjuangan yang telah mereka tempuh, dengan mengadakan pesta, yang KEBETULAN dihelat di Bali. Yang kebetulan tema pestanya memang dibuat ala-ala pernikahan.

Tukang bikin beritanya yang bikin masalah pesta ini jadi bahan gunjingan.

Oh my…

Wajar lah mereka ingin merayakan. Wajar lah mereka ingin berbagi kesukacitaan dan kabar gembira dengan orang-orang yang mereka anggap dekat dengan mengadakan pesta. Wajar! Mengingat bahwa perjuangan mereka untuk bisa sampai ke tahap itu memang tidak mudah.

Dan tolong digarisbawahi dan jangan disalahpahami.

Urusan pernikahan ini bukan melulu soal cinta dan romantisme. Tapi ada banyak hal yang jauh lebih penting dari itu. Mengenai hak, kewajiban dan tanggung jawab masing-masing terhadap pasangan, misalnya. Itu hanya satu point kecil dalam urusan pernikahan ini.

Too shallow if you think this SERIOUS thing is just about love or romance.

Lebih ngenes lagi banyak gay yang tanpa babibu dan kroscek, lalu percaya, lalu terpana dan berending repost  atau re-share artikel tersebut.

Gays, repost dan re-share memang semudah menekan tombol (atau menyentuh layar kalau devicemu layar sentuh). Tapi, sadar gak, sih? Once you repost or re-share an article, you’ve just took a responsible too, weather that item is a fact or just a hoax!

So be wise with yourself. Stay smart and keep logic!

Tingkat kemasygulan pun makin bertambah sore tadi, ketika sedang makan di warung nasi campur dekat rumah.

The reason that this account (as possible as it can be) always avoid to talk about religion, is… because I realize very well that this kind of matter, in any kind of religion is still a big issue and mostly are suspected as BIG SIN.

Kenikmatan makan semur jengkol kesukaanku akhirnya kandas ketika televisi yang sedang dinyalakan di warung itu menayangkan sebuah program religius yang tagline sesinya sungguh mencengangkan.

“CARA MENGHINDARI LGBT”.

OH. MY. GOD!

—Padahal kalau mau dibahas, ada buanyakkkkkk sisi LGBT yag justru bersarang di balik tabir agama, BUT I’M NOT GOING TO TALK ABOUT THAT, HERE—

Sungguh.

Bagaimana bisa sebuah televisi yang ditayangkan secara nasional justru mengajarkan cara membenci???

Kalau memang mereka tidak berpikir dan berpendapat secara netral, tidak bisakah mereka untuk tidak membicarakannya???

Kadang negaraku tercinta ini memang terlalu epik!

Di saat orang di belahan dunia lain sibuk memikirkan bagaimana cara hidup dan Mars dan bagaimana cara membantu orang-orang ungsian Siria, televisi sini malah sibuk menayangkan bahasan bagaimana caranya MEMBENCI.

taik. kucing!

Semoga ini jadi bahan renungan banyak gay. Bahwa apapun yang mereka lakukan, tidak semata-mata berdampak hanya pada mereka. Karena apabila ada sesuatu yang janggal, masyarakat tidak akan menilai secara individu, tapi jamak. JAMAK.

Masih ingat jargon “Ryan Jombang”?

Itu salah satunya.

So please, gays…

If you are not able yet to be good or do something good, at least, don’t go bad.

Do it for yourself, our people and the peaceful of this world.

Seriously.


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s