Idealisme dan Personal Privillege

Semua orang pernah idealis pada masanya. Atau, seseorang akan menemui masa menjadi idealisnya masing-masing jika memang belum mengalaminya. Pun aku. Pun pasti kamu. Masa dimana menurut kita yang benar hanya A. Hal lain selain A meskipun hanya A- atau A+ bisa jadi hal yang sangat mengganggu bagi kita.

Lebaykah ini?Sesederhana kalimat “kamu sudah makan belum?” ke pasangan saja bisa jadi omongan.

Dulu, berfikir bahwa kalimat itu terlalu lebay. Terlalu mengada-ada untuk dipertanyakan. Berfikir bahwa orang bakal makan kalau memang sudah lapar. Dan kerap memandang sinis kepada orang yang katanya sedang ditanya pasangannya perihal “sudah makan belum?” ini.

Later on, baru menyadari bahwa banyak orang yang memiliki kondisi masing-masing. Apa salahnya menanyakan makan?

Wajar kalau seseorang sedang makan, lalu kepikiran pasangannya, dan menanyakan “sudah makan belum?”.

Wajar kalau seseorang paham bahwa pasangannya mungkin workaholik yang sering lupa makan bukan karena perutnya tidak memberikan sinyal lapar tapi lebih karena kecenderungannya untuk mengabaikan perasaan lapar ini.

Yang ternyata ada banyak sekali alasan logis untuk menggugurkan predikat “sudah makan belum?” sebagai kalimat lebay.

Go on, idealis people, if you still want to stand in your idealism. Take your time #Wink

Sedikit lebih rumit perihal bilang “I love you”.

Dulu, berfikir bahwa “I love you”, adalah kata yang super sakral dan membutuhkan waktu yang sangat spesifik untuk mengucapkannya. Menganggap bahwa kalimat tersebut jika diucapkan terlalu sering justru malah akan menghilangkan makna magisnya.

Later on, bukan lantas bisa sembarang bilang “I love you” ke orang atau bukan pula mengurangi kesakralan kalimat tersebut, tapi menjadi lebih toleran dalam kondisi dan intensitas pengucapan kalimat tersebut.

Lebih ke pola pikir bahwa kalimat tersebut tidak harus kehilangan kesakralan meski diucapkan berulang kali.

Malahan, bisa jadi kalimat kecil itu bisa jadi sumber senyum satu-satunya ketika pasangan sedang mengalami hal yang berat, menjadi penyemangat ketika dia sedang lesu, menjadi pengingat bahwa ada kita yang senantiasa berdiri disampingnya.

And seriously, you will get the happiness too by saying how much you love your significant other.

Hal yang lebih rumit lagi, soal bercinta dan mencinta.

Dulu, berprinsip tidak akan mau get laid  kalau belum dalam term jadian. Menganggap bahwa sex di luar konteks dengan pasangan yang sudah komit sebagai sesuatu yang … (maaf), jalang.

Yup. I was that naive.

Later on, Bukan! Bukan berarti bebas umbar kelamin kesana-sini. Tapi lebih menghargai jika memang ada orang yang melakukan kegiatan seks tanpa mau berkomitmen, atau belum.

Lebih memahami bahwa seks memang bisa dijadikan faktor tambahan untuk akhirnya membulatkan tekad menjalani sebuah komitmen.

Justru lebih tidak setuju dengan gay yang terlalu strick untuk tidak melakukan seks sebelum komitmen, lalu akhirnya kecewa dengan kehidupan seks karena ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi atau fetishnya, dan menjadi seenaknya dalam menjalani komitmen yang sudah disepakati.

Bukankah itu lebih menyakiti?

But don’t ever forget. Do sex because you want to. Not only because somebody want to. And always do it responsibly. For you and for other. Stop being selfish on a thing that require two person to make it happen.

Garis besarnya, sekarang lebih (dan masih terus belajar untuk) memahami bahwa hampir segala sesuatu ternyata adalah personal privillege. Orang bebas menentukan caranya menjalani hidup, sepanjang tidak mengganggu orang lain.

Bukankah benar dan salah juga tergantung dimana kita berpijak?

Wajar tak wajar, memang, kalau kita mudah mengejawantahkan sesuatu, karena kita memang dari kecil dibiasakan untuk MENGHAPALKAN norma yang berlaku di masyarakat. Bukan dibiasakan untuk mendiskusikan kenapa dan untuk apanya.

So,

Go on, young man (or old man, some still), go ahead be strong on holding your idealism. That’s the step of life that you need to take to achieve your life. At least, it teachs you how to be strong (in holding your principe). Because I’m personally pretty sure, later you will learn more and more things in life those open your eyes and lead you to be wiser person who able to tolerate more. Slow down, time will come to you with its open arms.

Let’s learn to not easily judge other just because they have different life style.


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s