Sekelumit Stereotype dan Penalarannya

Stereotype memang (kebanyakan) menyebalkan. Apalagi kalau kita dalam kondisi yang dianggap “lower class” dari apa yang jadi objek stereotyping itu tadi.

Apa yang lebih menyebalkan dari stereotype?

Adalah orang yang bentar-bentar melontarkan sesuatu yang dia anggap stereotype hanya karena dia mungkin tidak bisa berada dalam kondisi yang dia maksudkan.

Blibet?

Gini aja, deh.

Kita bandingin (yang menurut beberapa orang adalah) stereotype dengan penalaran lain. Siapa tau justru masih dalam batas ambang batas wajar, atau bahkan malah sangat wajar kalau dirasionalkan.

Stereotype 1

Gay yang rajin exercise, yang badannya terbentuk dan terpahat nyari pasangannya ya yang sama-sama badan terpahat, perut kotak-kotak dan otot yang lean.

Padahal…

Sebenernya itu cuma masalah selera aja, sih.

Kebetulan aja kamu belum ketemu temen muscular yang punya pasangan dengan tubuh tidak muscular.

Kebetulan aja gebetanmu muscular dan gak menganggap kamu lebih dari teman (dan kebetulan mungkin badanmu emang gak muscular [no offense]).

Gini, deh. Yuk kita bandingin mereka dengan kita sendiri. Mereka buat punya badan bagus itu perjuangannya gak mudah, loh. Ya waktu, ya tenaga, dan asal tahu aja, tempat fitness yang bagus itu gak murah!

Ibaratnya, kamu udah udah kerja di suatu perusahaan dengan sangat sangat giat, memenuhi semua jobdesk yang ada atau bahkan sampai dibela-belain lembur, trus dapet gaji yang tak seberapa.

Kecuali kamu miliarder yang bekerja emang cuma buat buang waktu, kamu pasti bakal protes. Bakal cari perusahaan lain yang mampu membayar kamu sesuai kapasitas kamu.

Simpel.

Stereotype 2

Yang badannya digedein, otaknya lupa dipinterin.

Padahal…

Serius. Banyak sekali manusia di dunia yang indah ini, yang badannya atletis dan berotak taktis. Orang atletis yang bisa ngomongin segala hal dari politik sampai problema ekonomi dalam perusahaan batik, yang paham betul apa bedanya monokotil dan dikotil, yang bisa diajak ngobrol panjang lebar soal buku dan segala kitab sastra, yang mumpuni untuk diajak berargumen tentang perlu tidaknya UU perlindungan gay di Indonesia.

Gak cuma bisa bedain protein dan kreatin.

Gak cuma bisa pamer body buat dapetin follower.

What you need to do is simply mingle more and find them alive.  If your closet is narrow, doesn’t mean other have it, too.

Stereotype 3

Gadun mengayomi, brondong ongkang-ongkang kaki menikmati.

Padahal…

Gak semua gadun itu kaya raya bergelimang harta.

Gak semua gadun itu less-drama.

Gak semua brondong masih dalam taraf ekonomi seadanya.

Gak semua brondong hobinya menye-menye macam telenovela.

Jaman sudah berganti, coy!

Pun seandainya ada gadun yang emang super kaya raya, menjalin hubungan dengan brondong, trus modalin brondongnya biar bisa usaha, biar bisa meningkatkan taraf hidupnya, lah ya apa salahnya? Masalahnya dimana?

Stereotype 4

Ngondek = Bottom.

Padahal…

Pernah liat bokep shemale yang mempenetrasi pasangan maskulinnya?

Itu cuma segelintir contoh. Karena nyatanya memang karakter seseorang tidak terlalu berhubungan dengan sex role-nya.

And seriously, being a bottom is not a sin! Stop degrading them. Without them, top is only a person who can play with his hand!

Di luar sana amat sangat banyak sekali pria maskulin yang menikmati ketika prostatnya disetubuhi.

Ngondek itu jiwa. Bottom itu raga.

Gitu.

Stereotype 5

Bule!

Padahal…

Ini lumayan parah. Gak yang straight gak yang gay. Banyak yang masih berfikir hidup bersama bule adalah keselamatan finansial. Mata biru rambut pirang sama dengan pohon uang.

Gays, kebanyakan bule yang bermukim di wilayah Asia, alasan kedamaian hidup itu nomor sekian. Alasan pertama mereka adalah karena MURAH.

Mereka, dengan kondisi ekonomi mereka, bukan siapa-siapa di negaranya sendiri. Gak heran mereka lebih memilih untuk hidup di daerah Asia, bisa bernafas lebih lega.

Jadi kalo masih mikir hidup dengan bule udah tinggal ongkang-ongkang kaki nunggu jatah tiap bulan, pikir ulang, deh.

It’s us who degrading our peoples those live with foreigner.

Itu cuma beberapa stereotype. Masih banyak yang lain yang beredar di banyak kalangan. Mungkin lain kali kalau kita denger sesuatu, ada baiknya coba dikulik lagi, dinalar dari sisi yang lain.

Mungkin benar itu stereotype, mungkin kita saja yang naif.


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s