Mereka Kaya Raya dan Bahagia

Kita cenderung menganggap salah segala sesuatu yang tidak atau kurang bisa diterapkan dalam kehidupan kita sendiri.

Mari membicarakan “harta” dan kebahagiaan. Dan gunjingan.

Banyak sekali kita denger ungkapan semacam

“Biasanya yang udah kaya raya justru malah humble, down to earth, gak sombong dan gak nunjukkin”.

Eummmm….

OK.

Seakan yang sumber kebahagiaannya terpampang, bukanlah kebahagiaan hakiki.

Seakan yang {kita anggap} gak humble, {kita anggap} gak down to earth, {kita anggap} sombong dan terlalu nunjukkin biasanya miskin papa atau seadanya.

Amboi~…

Tau apa kita sama isi hati orang?

Tau apa kita sama harta orang (dan utang-utangnya)?

Bisa jadi si orang kaya tadi memang jenis kebahagiaannya berbeda. Mengumpulkan harta benda yang lebih berupa aset daripada penampilan, misalnya. Atau bahagia dengan merasa aman karena sudah punya simpanan harta di bank dan aset, misalnya.

[Lagian kita taunya dari mana sih kalo seseorang itu kaya raya atau miskin papa?]

Karena tiap orang memiliki TITIK PENCAPAIAN masing-masing.

Bisa jadi yang terlihat selalu necis dan rapi dan wangi, memang cukup itu yang bikin dia bahagia. Sesederhana menghargai diri sendiri dengan berpenampilan yang menurut dia “wah”. Menumbuhkan kepercayaan diri yang lebih.

Bisa jadi yang berbinar-binar dengan gadget barunya, itu adalah hasil ngumpulin duit dari sekian lama. Dan buat dia, itu sebuah life-goal.

Bisa jadi seseorang menemukan kebahagiaan sejati dengan melakukan banyak traveling tanpa perduli dengan segala perkara “harta untuk masa depan” dan semacamnya.

Bisa jadi seorang penjual cilok keliling lebih bahagia dengan segala penghasilan hariannya karena dia sadar diri tidak memiliki kapasitas untuk menjadi seorang boss besar dengan segala kerumitan perusahaan dan kerumitan sosialnya.

People has their own style to enjoy their present time! 

Ada teman lama, yang menurutku sudah memiliki kehidupan yang cukup mapan (secara finansial, dari pengamatan semata). Lama tak pernah bertukar kabar, sampai akhirnya dengar dari teman lain bahwa dia sekarang bertugas jadi pengajar di daerah terluar Indonesia, DEMI MEMEGANG GELAR PEGAWAI NEGERI mesti dengan perjanjian tidak akan pernah bisa mengajukan mutasi.

Dan, ya.

Reaksi pertama yang muncul adalah….

BUSYET… SEGITUNYA AMAT!

But then I slapped my own mouth for spelling that rude line.

Bisa jadi sekedar menjadi pegawai negeri adalah memang pencapaian terbesar yang selalu dia usahakan sepanjang hidup. Bisa jadi NIP buat dia adalah kebahagiaan terbesar yang bisa dia raih. Dan dia sudah mengambil kesempatan itu dengan segala konsekuensinya.

Apa salahnya?

Having different angle of happiness is fine. Human. As long as you don’t blame other who take different one with yours.

Mereka bahagia dan merasa kaya raya dengan cara mereka sendiri.

Mungkin justru kita yang lantas terlalu “miskin” sampai merasa perlu untuk menelaah jenis kebahagiaan hidup orang?!

In the end, people will always judge. Jadi, itu yang sering dianggap pamer dan show off dan sebagainya, go on with your happiness. Don’t bother yourself by taking too much shit from other who don’t know you (or from peoples who can’t stand to see other people happy).

Stay happy. Stay Fabulous. You are the only one who know how to enjoy your very own life.


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s