Empati, kemakan empet-i

Danu, Dedi, Dilham dan Darman sudah berkumpul di sudut langganan yang sudah jadi basecamp tak resmi mereka, di warung kopi langganan yang tak pernah terlalu ramai meski tak pernah benar-benar sepi. Darto terlihat baru saja memarkir motornya dan bersiap gabung dengan mereka.

Dedi baru saja hendak membuka mulut sambil mengambil ponsel baru dari kantongnya ketika Darto tanpa salam tanpa awalan langsung menghenyakkan diri di tengah kursi yang diduduki Dilham dan Darman dan meluncurkan curhatan.

“Gue bete banget sama laki gue! Sukanya ribetin hal-hal gak penting, deh. Padahal khan udah gue bilangin dari kapan tau kalo malam ini kita bakal ngumpul”, cerocos Darto tanpa tedeng aling-aling.

“Yaelah…”, tukas Danu dan Darman hampir bersamaan.

“GUYSSSS… AKHIRNYA GUE DAPETIN BARANG INIIIII!!! Nih liat nih liat gue buka kuncinya pake Iris Scanner, nih!”, sela Dilham sambil langsung memperagakan apa yang dia sampaikan mengenai ponsel barunya.

“Wowww… akhirnyaaaa”, Danu dan Darman menanggapi secara antusias hampir bersamaan. Satu persatu minta gantian memegang ponsel itu.

“Hiiihhh!!!! kalian ini gak berempati banget sih sama curhatan gue!”, sungut Darto sambil memonyongkan bibirnya. Tak tertarik sedikitpun dengan ponsel anyar yang sedang mereka ributkan.

Danu dan Darman menghentikan kegiatan mereka mengutak-atik ponsel.

Dedi menghirup napas panjang lalu menghembuskan dengan keras.

“To… kami perlu ngomong sama Lo. Tentang apa yang Lo bilang empati tadi”, kata Dilham sambil membetulkan posisi duduknya.

“Gak usah deh, Dil”, kata Danu lirih. Sudah menduga akan ke arah mana omongan Dilham. Sedangkan Darman hanya diam. Canggung.

“Gak, Dan. Kalo kita nganggep Darto temen, justru harus kita bilangin”, jawab Dilham teguh.

“Eh, apaan nih?”, tanya Darto demi melihat gelagat tidak enak dari teman-temannya.

“Gini ya, To. Sebelumnya gue, atau kami lebih tepatnya, minta maaf kalo kata-kata gue ini bakal bikin Lo tersinggung. Tapi… Kalo Lo mau ngomongin Empati, kami sudah capek dengan cerita-cerita Lo”, kata Dilham.

“Kami udah berusaha banget buat selalu berempati dengan cerita-cerita Lo. Bahkan kami juga ikut kelimpungan ketika Lo ada masalah sama pacar Lo itu. Berkali-kali. Tapi masalah kalian selalu sama. Berulang-ulang meski kami sudah berusaha selalu memberikan solusi. Yang gak pernah Lo Lakuin atau bahkan mungkin gak pernah Lo pikirin”, berondong Dilham.

Danu dan Darman hanya diam menyimak, tak sanggup menghentikan Dilham tapi ada pancaran rasa lega di mata mereka.

“Kalo Lo ngomongin soal empati, dimana empati Lo ketika kami-kami ini sedang merayakan kebahagiaan kecil kami? Kami juga punya masalah masing-masing, To. Tapi kadangkala kami harus tahan dulu demi tidak merusak kebahagiaan kita masing-masing. Meski lebih sering kami tahan karena tanpa tedeng aling-aling Lo selalu memberondong kami dengan masalah Lo yang… maaf kata, itu-itu saja”.

“Kalo Lo mau ngomongin empati, Lo yang gak ada empati dengan kami. Lo inget betapa gembiranya Danu pas sidang skripsinya ternyata lancar jaya? Tentu saja nggak. Waktu itu Lo dateng dan langsung curhat gak pake liat suasana. Lo inget betapa senengnya Darman waktu dia akhirnya dijenguk orang tuanya karena selama ini dia ngerasa hubungannya dengan orang tuanya gak pernah bisa akur??? Tentu saja nggak. Waktu itu Lo dateng dan langsung ribut dengan masalah Lo yang sama dan sama terus. Dan sekarang, Lo tau khan gimana gue nabung gaji gue dari jaman taun kapan demi bisa beli ponsel impian gue ini dan gak pake nanya kabar gak pake apa langsung main curhat???”.

“Kami capek, To. Maaf. Jadi untuk malam ini aja, terserah Lo. Lo mau tetep curhat tapi gue pergi. Atau Lo sesekali ikut gembira sama kami dan lupain dulu masalah pacar Lo yang gak penting itu!”, cecar Dilham akhirnya.

Darto terdiam. Tertohok. Tertampar. Sadar akan betapa egoisnya dia selama ini.

“Gue minta maaf, guys. Sungguh minta maaf. Makasih, Ham. Sekarang gue sadar kalo gue selama ini emang egois banget. Sorry ya Dan, Dar dan Lo, Ham. Kalian mau maafin gue, khan?”, hiba Darto.

“Kami semua dah lama maafin dan maklumin Lo, koq. Sudahlah”, kata Danu sambil menepuk pundak Darto.

“Yup. Sure“, jawab Dilham juga.

“Iye. Udah, ah. Gak enak kalo mendadak akward gini. Mau minum apa, Lo? Biar sekalian gue pesenin. Sekalian mumpung gue mau ke toilet, nih”, sambung Darman.

Malam itu, sudut warung kopi itu riuh dengan tawa akrab lima sahabat.

 

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Empati (dari Bahasa Yunani εμπάθεια yang berarti “ketertarikan fisik”) didefinisikan sebagai respons afektif dan kognitif yang kompleks pada distres emosional orang lain. Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Kata empati dalam bahasa inggris (Empathy) ditemukan pada tahun 1909 oleh E.B. Titchener sebagai usaha dari menerjemahkan kata bahasa Jerman “Einfühlungsvermögen”, fenomena baru yang dieksplorasi oleh Theodor Lipps pada akhir abad 19. Setelah itu, diterjemahkan kembali ke dalam Bahasa Jerman sebagai “Empathie” dan digunakan di sana.

Karena empati juga gak melulu tentang ikut merasakan kesedihan orang lain. Tapi juga kebahagiaan mereka.

Stop ruining your friend’s happiness. There’s a moment when you need to suck your problem down and be happy for them. Put a big, wide and generous smile for them. Later on, you always have time to lay on their shoulder and cry over your problem.


Wanna say something??? Don't be hesitated, please :)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s