KelaMalam

Erwin membawa nampan terakhir dari dapur. Berisi satu bongkah ayam panggang utuh yang warnanya berkilat merah gula jawa, dari kecap manis tentunya. Menggoda. Senyum tak lupa tersungging di bibirnya yang merah tirus. Diletakkannya nampan terakhir itu ditengah persis meja makan putar berukuran besar itu. Beberapa penganan pendamping dia letakkan mengitari masakan masterpiece tadi. Lengkap dengan… More KelaMalam

Peran

Nyonya… Akhirnya suamiku berangkat juga ke kantornya. Suami yang dulu kuanggap sebagai lelaki yang begitu ideal. Kaya raya di usia muda dan penampakan yang gagah, siapa yang tak menginginkannya?! Itu anggapanku di bulan-bulan pertama perkawinan kami. Sekarang? Aku malah lega luar biasa kalau dia sudah berada di luar rumah. Persetan apa yang dilakukannya di luaran… More Peran

Surat

Dear,   Hai Ayah… apa kabar? Sepertinya sudah lama sekali kita tidak pernah bicara. Iya, jika ada waktu yang paling kurindukan, itu adalah saat kita bisa menjadi sepasang teman, di luar konteks peran ayah dan anak. Dan celotehan tentang “kita adalah dua lelaki yang sanggup mengguncang dunia” masih aku pegang sampai sekarang, Ayah. Sayang ya,… More Surat

Langkah Akhir

Pernyataan dan pertanyaan sederhana, tapi terasa menamparku bolak-balik. Brengsek! Bukan pertanyaan semacam itu yang kuharapkan. Semudah itukah kau menyerah pada hubungan yang sudah kita bina? Pada sifatku yang ternyata memang kekanak-kanakkan. Iya, baru kusadari itu sepuluh menit yang lalu. Sepuluh menit yang membawa kami dalam keheningan yang memuakkan. Setengah dari diriku ingin mendekatinya, lalu mendaratkan… More Langkah Akhir

Langkah – 3

“Welcome home”, sambutku ketika dia membuka pintu. Berusaha tak mengindahkan ekspresi wajahnya yang menggambarkan perpaduan antara kaget dan bingung. “Eh….. kamu… bukannya…”, jawabnya, bahkan tanpa menjawab sambutanku. “Iya. Sepertinya penyelinapanmu kali ini gagal, ya?! Maafkan aku kalau begitu”, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menggunakan intonasi sinis dalam setiap kata-kata yang kuucapkan, karena memang aku… More Langkah – 3

Langkah – 2

Biasanya aku bangun karena aroma kopi yang dia hidangkan bahkan sebelum aku bangun. Tapi pagi ini aku dibangunkan oleh raungan anak kecil di luar sana. Aku yakin itu anak si ibu kost yang masih 5 tahun, merengek-rengek entah minta apa. Dia tak pulang, ternyata. Sampai jam 9 pagi, dia belum juga pulang. Tak biasanya dia… More Langkah – 2

Langkah

Ah… mati listrik tadi memang merepotkan. Aku yang seharusnya bisa pulang dari tadi, jadi harus menunggu listrik menyala agar rekapan pekerjaanku bisa disetorkan. Dikerjakan besok pagi? Ah, aku sangat tidak ingin beradu pendapat dengan bos yang lebih sering tidak mau tahu dengan alasan dari karyawannya. Kelar merapikan laporan singkat hasil kerja 1 shift, uang juga… More Langkah

Tapal Batas

“Andi, kalau memang tidak ada yang sangat urgent untuk dikerjakan, kurangi jam lembur, ya”, tegur Pak Herman, kepala HRD yang lewat ruangan kantorku ketika hendak pulang. “Tenang, Pak. Kelebihan waktu kerja yang saya jalani tidak saya masukkan di jam kerja, koq. Saya juga sudah absen pulang, 2 jam yang lalu”, jawabku, berusaha sekuat tenaga agar… More Tapal Batas